
Setelah mengucapkan terimakasih dan berpamitan pada Getra juga Elvin, pria tersebut kembali ke ruangan nya untuk kembali bekerja.
Elvin yang kacamatanya diberikan pada salahsatu karyawan perusahaan, hanya pasrah melepaskan salahsatu barang mahal nya.
“Tekor-tekor ... nasib punya adik bos yang super duper keren!” Gerutu Elvin yang masih didengar Getra.
“Om Elin lagi ngomongin Getla ‘yah?” Tanya Getra yang menyipitkan kedua matanya ke arah Elvin yang menjawab terbata.
...“T–tidak, Tuan kecil. Ma–mana mungkin Saya berani membicarakan anda, hahaha ... .” Jawab Elvin yang diiringi tawa garingnya. ...
“Ouh, ya sudah kalau begitu lebih baik Kita ke luangan kakak tantik kelja. Bitakah Om Elin antel Aku?” Pinta Getra yang tidak lagi bertanya apa yang digerutukan oleh Elvin.
“Haah ... , baiklah. Mari Saya antar,” balas Elvin lega dan mengantar Getra menuju ruangan divisi keuangan di mana Dewi berada.
Begitu tiba di depan ruangan Dewi berada, Elvin menghentikan langkah Getra yang ingin masuk menemui Dewi.
“Eh, tunggu dulu Tuan kecil!” Seru Elvin yang menghentikan langkah Getra dengan menarik tangannya.
“Hih, ada apa lagi tih? Aku mau ketemu kakak tantik nggak jadi-jadi!” Kesal Getra yang tidak suka langkahnya dihentikan oleh Elvin.
“Begini Dek,” ujar Elvin yang menggunakan panggilan 'dek' pada Getra yang langsung menyipitkan matanya kembali.
“Tadi Om Elin panggil Aku Tuan, sekalang manggil dek! Sebenelnya panggilan Aku dali Om Elin itu ada belapa?!” Tanya Getra yang lagi-lagi dibuat kesal oleh Elvin.
“Eh, maafkan Saya Tuan! Bukan begitu maksudnya,” Elvin kebingungan sampai menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
“Hait, udahlah panggil Aku Getla aja! Aku mau matuk ke dalem,” ucap Getra pada Elvin dan kembali ingin melangkahkan kakinya menuju ruangan Dewi berada.
“Eh tunggu dulu Tuan, eh Getra! Om mau kasih tau dulu sebelum Kamu masuk ke ruangan kakak cantik.” Seru Elvin lagi yang kembali menghentikan langkah Getra.
“Hih, ya udah apaan Om? Getla ketel!” Geram Getra yang mendelikkan matanya pada Elvin. “Kalo ada bu Megawati, pati dia bakal bilang "lama-lama taya ketel!" ...”
“Om jangan bikin Getla ketel lagi!” Lanjut Getra yang mengancam Elvin.
“I–iya Getra,” jawab Elvin menunduk. “Dasar bocil, bisanye cuma ngancem kek abangnya. Huh!”
“Ya udah Om mau ngomong apa?” Tanya Getra yang mengalihkan pembicaraan ke topik semula.
“Begini, Tuan Nanda bilang–jika Getra mau bertemu dengan kakak Dewi maka bersikaplah seperti orang yang tidak kenal kare—”
“Loh kenapa Om?” Tanya Getra yang memotong perkataan Elvin padanya.
__ADS_1
“Itu karena—”
“Eh, kenapa Saya lupa? Oh my god,” lanjut Elvin yang ternyata melupakan apa yang dipesankan oleh bos nya.
“Hih, Om udah tua ‘yah! Telut ma–matku ngomong apa?!” Kesal Getra pada sekretaris kakaknya.
“Saya benar-benar lupa, pokoknya Getra tidak boleh terlalu dekat dengan kakak Dewi. Nanti jikalau Kita masuk dan ada yang bertanya, bilang saja Getra sedang keliling kantor dan sekedar mencuci mata.” Jelas Elvin yang tidak ingin menjelaskan panjang lebar.
“Ouh baiklah Om, ntal Getla bilang gitu. Emh, sekalang Getla mau masuk.” Balas Getra yang mengerti dan setelahnya ia lamgsung membuka pintu ruangan kerja Dewi. Tentu saja ia membukanya dengan cara geser, bukan seperti Elvin.
*Elvin: Haish Thor, kenapa kau masih bicara tentang hal itu!
Author: Bodo! Akan selalu Author ingat, siapa suruh kau menikah dengan merebut kekasih kakak bagas kesayangan Aku! Author akan balas perbuatanmu, jiwa pendendam Author langsung menyala ... 🏃♀🏃♀
Elvin: Sudahlah Thor! Jangan kau ungkit masa lalu, bukankah Author juga menyukai kakaknya mba Dewi? Sudahlah kita sama-sama impas.
Author // 🙄🙄 ... Au ah gelap*!
Elvin mengikuti langkah Getra yang memasuki ruangan Dewi. Ternyata begitu ia dan Getra masuk, semua yang berada di dalam ruangan tersebut terkejut akan kedatangan adik dan sekretaris dari CEO mereka.
Lain halnya dengan Dewi yang merasa heran apa yang dilakukan keduanya di ruangan kerjanya.
Semua berdiri dan menunduk memberi hormat pada atasan mereka. Pak Hendri mendekati Elvin dan Getra dengan senyum ramahnya, “pagi Tuan Elvin dan ... . ”
“Getra?” Pak Hendri tampak berpikir seakan mengingat-ingat, “eh ini adik dari pak Nanda ‘yah? Yang waktu itu pernah ke sini, wah sudah besar ya? Tampan lagi, seperti kakaknya.”
“Iyah dong Kakek, Getla memang tampan. Bahkan lebih ganteng Getla dali pada mat Nanda.” Balas Getra yang langsung mengusap rambutnya ke belakang.
“Ih amit-amit!” kompak Dewi dan Elvin saat melihat kenarsisan Getra.
“Ouh ya, ada perlu apa ke mari ‘yah, apakah ada tugas atau pekerjaan yang harus Kami lakukan?” Tanya Pak Hendri.
“Anu Kek, Kami lagi maen ama tuti mata.” Jawab Getra yang menyebut Pak Hendri, Kakek.
Dewi dan yang lainnya sampai dibuat tak percaya akan perkataan Getra yang menurut mereka tak bisa dijabarkan untuk anak sekecilnya.
Silpi yang mengetahui bahwa adik dari Nanda tengah berada di ruangannya, langsung mendekatinya dan mulai berakting demi merebut perhatian Getra. Tentu saja semua itu demi tujuannya untuk mendapatkan CEO terkaya dan juga tampan.
“Wah, ini adik pak Nanda tampan sekali.” Puji Silpi yang menghampiri Getra dan mencubit pipi gemoynya. Getra yang tidak suka saat Silpi mencubit pipinya langsung menghempaskan tangan Silpi dari pipinya.
Silpi yang mendapatkan perlakuan seperti ini dari Getra, berusaha menahan kesal dan amarah dalam hatinya. “Dasar anak nakal! Awas saja, anak ini bakal gue susahin kalau gue dah berkuasa di keluarganya!”
__ADS_1
Batin Silpi yang berjanji akan membuat Getra melakukan apa yang diinginkannya.
Pak Hendri yang melihat tangan putrinya dihempaskan oleh Getra, sama halnya yakni menahan kesal serta amarah dalam dirinya.
“Adik pak Nanda sekarang sudah besar ‘yah! Dulu masih sangat kecil dan tingginya baru segini,” ujar pak Hendri seraya mempraktekkan tangannya seperti mengukur tinggi seseorang.
“Ya iya dong Pak, kan adeknya pak Nanda makan nasi, kalau makan angin mah kagak gede-gede badannya, yang ada masuk angin. Hahaha, ...” celetuk Sasa yang langsung mendapatkan tatapan tajam dari Pak Hendri dan Silpi. Sementara yang lain, hanya menahan tawa mereka akan pengakuan Sasa.
“Hahaha, ... Kakak ini namanya tiapa?” Tawa Getra dan menanyakan nama Sasa.
“Nama Saya, Kakak Sasa. Kalau nama adek yang tampan dan imut ini siapa?” Jawab dan balik tanya Sasa pada Getra di samping meja kerjanya.
“Ouh nama Kak Tata indah tekali,” puji Getra. “Pelkenalkan namaku Getla, Kak! Talam kenal ‘yah.”
“Wah anda bisa saja, nama Getra juga indah seperti namanya.” Balas Sasa yang memuji Getra balik.
“Iya Kak, Getla tau itu. Oleh kalna itu, Kak Tata mau jadi pacal Getla ‘yah?”
“Uhuk ... uhuk, ...” semua yang berada di dalam ruangan tersebut kecuali Dewi, langsung tersedak dan terbatuk karena mendengar ucapan Getra.
“Hadeh, Getra beraksi lagi!” Batin Dewi yang geleng kepala, “dasar bocil-bocil, ada aja dahh!”
To be continued ... .
...----------------...
Holaaa jumpa lagi sama Author TinA, terimakasih karena tetap setia menunggu Mba Dewi update ‘yah! ... 🙏🙏😚😍😘
Minta like, komen, rate, gift, vote, dan dukungan lainnya! ... 🙏🙏🙏
Novel ini akan update kurang lebih pukul 22.00 malam! Jadi tunggu dan tetap setia ‘yah! Jangan pernah unfavoritkan okeh?! ... 😘
Novel ini akan update selang seling dengan novel Author yang satunya, dikarenakan otak Author yang ngelag jadi hanya bisa update 1 bab satu hari pull! ... 🤧🤧🤧🙏✌
Agar tidak ketinggalan informasi, novel ini mesti dimasukkan ke list menjadi salah satu novel favorit kalian ‘yah! ...
💖... Thanks All! ... 💖
See you later guys ... .
Salam sayang
__ADS_1
Authoreo~😚😚😘😘😘.