Marriage With Neighbour

Marriage With Neighbour
Minggu Itu Dua Hari Lagi


__ADS_3

Masih terlihat sinar mentari yang menyapu dedaunan di pepohonan yang akan tenggelam di bagian barat, udara yang nyaris berganti dingin masuk ke jendela kantor yang terbuka dan sesekali menerpa wajah Dewi yang saat ini merapikan berkas pekerjaannya.


“Dewi? Aku sama Sasa cabut duluan ‘yah! Kamu juga sudah mau pulang kan?” pamit dan tanya Lea sembari menggenggam tangan Sasa.


“Huum, bentar lagi juga pulang. Kalian duluan aja, hati-hati di jalan!” Balas Dewi tersenyum dan kembali merapikan berkas yang telah diselesaikannya.


“Ouh oke, Kami duluan ‘yah Dew!” Ucap Lea lagi.


“Ish Lo tu kebanyakan pamitan, ntar Kita sampe rumah jam sepuluh nungguin mulut Lo cape!” Cibir Sasa yang kesal karena Lea yang terus bicara.


Akhirnya baik Lea maupun Sasa kini pergi untuk kembali ke rumah keluarganya. Dewi kembali merapikan berkas-berkas yang tadinya sempat tertunda.


Lima menit kemudian datang Nanda yang di dampingi oleh sekretarisnya, Elvin. Dewi yang menyadari kedatangan keduanya seketika menundukkan kepalanya layaknya seorang bawahan.


“Nggak usah terlalu formal,” ucap Nanda yang mengira Dewi bersikap seperti itu padanya karena Ia adalah Bosnya.


“Ehh, siapa yang formal! Aku itu malu,” sahut Dewi tersenyum malu.


“Malu? Dengan apa–siapa?” Tanya Nanda yang kebingungan begitu pula yang saat ini dirasakan Elvin yang hanya bisa melirik ke sana kemari.


“Aish, Aku itu malu sama sekretarisnya Mas Nanda! Aaaa handsome bangett,” celetuk Dewi jujur yang langsung menutup mulutnya.


Mendengar perkataan Dewi yang tulus Elvin hanya bersikap datar, namun di dalam hatinya saat ini hidungnya sudah terbang entah ke mana karena sangat bangga dengan kenyataan yang diucapkan tunangan Bosnya. Sementara itu, Nanda yang sudah sangat kesal langsung menarik rambut panjang Dewi dengan kencang.


“Aduh!! Lepasin nggak!” Dewi mengaduh karena merasa sakit rambutnya ditarik oleh Nanda. Kali ini Ia sudah sangat kesal dan sangat marah dengan ulah Nanda yang semena-mena pada rambutnya yang indah.


Dewi membalas menarik rambut Nanda sama kencangnya, alhasil terjadilah tarik-menarik antara Dewi dan Nanda. Elvin yang baru pertama kali melihat hal ini langsung mengeluarkan ponselnya untuk merekam sebentar adegan action ini tanpa sepengetahuan keduanya.


Tidak lama Ia membantu melerai pertengkaran keduanya. Baik Nanda ataupun Dewi hanya melegos seraya merapikan rambut mereka yang sangat berantakan. Antara menahan kesal, amarah, dan sakit keduanya berjalan saling mendahului.


Dewi yang lelah akhirnya memutuskan untuk mengalah, Ia memilih berjalan di belakang dan berjauhan agar tak dicurigai oleh karyawan lain yang masih bekerja.


Nanda dan Elvin sudah berjalan di depan dan menunggu Dewi di dalam mobilnya. Di lobi kantor, Dewi berpapasan dengan petugas resepsionis yang dulu pernah ditanyai olehnya.


Dewi tersenyum dan berkata, “Mba!” Sapanya tersenyum dan menundukkan kepalanya sopan. Kalian tau apa jawaban dari sapaan Dewi? Heh petugas itu hanya melengos pergi dengan sinisnya.


“Oh my god, itu orang bikin gedek banget! Awas aja kalau Aku sudah jadi atasannya, kutandai Kau!” Geram Dewi di dalam hatinya karena kesombongan resepsionis padanya.


Dewi keluar dari perusahaan Nanda dan berjalan mendekat ke arah mobilnya. Baru beberapa saat, Ia kembali melanjutkan langkahnya karena sadar bahwa mobil Nanda berada masih terlalu dekat dengan perusahaannya.

__ADS_1


Nanda yang melihat Dewi berjalan melewati mobil miliknya langsung memerintahkan Elvin agar mengikuti langkah Dewi.


Dewi berhenti tepat di bawah pohon beringin karena tempat ini sudah lumayan jauh dari perusahaan Nanda. Mobil Nanda berhenti, Nanda membukakan pintu mobilnya untuk Dewi masuk.


Dewi memasukinya dan duduk di kursi penumpang berdampingan dengan Nanda yang meliriknya sebentar kemudian beralih ke laptopnya. Elvin yang menyaksikan interaksi keduanya melalui spion hanya menggelengkan kepala.


Di perjalanan menuju ke rumah Dewi, lampu merah menyala yang menandakan bahwa semua kendaraan yang berada di sekitarnya wajib berhenti.


Disela-sela lampu merah, seorang anak perempuan membawa bunga mawar berwarna merah dan putih berjalan mendekat ke arah mobil Nanda.


Anak perempuan itu mengetuk kaca mobil yang berada di samping Dewi. Dewi yang melihatnya langsung menurunkan kaca mobil untuk bisa berbicara dengan anak itu.


“Halo kakak, tolong beli bunga ini dong!” Pinta anak tadi pada Dewi yang tersenyum.


“Halo juga cantik, berapa harga bunganya?” Tanya Dewi seraya tersenyum manis.


“Satu tangkai lima ribu aja Kak,” jawabnya.


Dewi meraih tasnya untuk mengambil uang di dalam dompetnya. Belum sempat Ia membayar, Nanda sudah lebih dulu memberikan uangnya pada anak perempuan itu.


“Kakak beli semuanya, ini uangnya ‘yah!” Ucap Nanda seraya menyerahkan lima lembar uang berwarna merah.


“Wah Kak itu banyak banget, harga bunganya nggak sampai segitu... ” tolak anak ini.


Anak perempuan itu berterimakasih pada keduanya seraya memberikan bunga-bunga mawar yang tampak segar dan harum. Kemudian anak tersebut pergi meninggalkan keduanya dengan hati gembira. Tak lama setelahnya, lampu merah berganti menjadi warna hijau yang menandakan semua kendaraan boleh melaju dengan perlahan.


“Nih bunga Kamu,” ucap Nanda memberikan semua bunga mawar dan langsung diterima Dewi sedikit heran tetapi Ia senang mendapatkan perlakuan seperti ini.


Dewi menatap wajah Nanda yang nampak tak menghiraukannya. Dewi menyentuh dahi Nanda yang mengerut setelahnya.


“Ngapain?” Tanya Nanda mengernyitkan dahinya dengan ulah Dewi.


“Nggak demam! Tapi kok aneh ‘yah,” gumam Dewi heran dengan perubahan sikap Nanda.


“Maksudnya?” Tanya Nanda lagi yang akhirnya mengalihkan pandangannya dari laptop ke arah Dewi.


“Nggak kok ... nggak jadi Aku pikir tadi demam,” jawab Dewi tersenyum kaku.


“Nggak jelas!” Kesal Nanda dan kembali berkata, “Dewi! Umh, Bunda minggu ini ada di rumah nggak? Nggak ada rencana kemana-mana kan?”

__ADS_1


“Nggak ada kok,” jawab Dewi yang mulai penasaran. Sedangkan Elvin hanya menguping melalui telinganya sembari menyupir mobil Bosnya.


“Oh ya sudah kalau begitu, pas berarti. Tungguin di rumah ‘yah! Mamiku mau datang,” terang Nanda yang semakin membuat Dewi penasaran.


“Hah, Mami mau datang? Ngapain?” Tanya Dewi lagi pada calon suaminya ini.


“Mau nanya kira-kira buat acaranya bisa kapan,” jawab Nanda sabar seraya menatap Dewi.


“Hah acara apa? Syukuran? Tujuh bulanan? Memangnya ada yang hamil?” Tanya Dewi lagi dan berkata asal.


“Ekhem-ekhem ... , nikahan. Kamu ma Aku,” jawab Nanda menunjuk Dewi dan dirinya agak sedikit canggung dan malu.


Dewi dan Elvin kompak tersedak karena terkejut dengan ucapan Nanda. Dewi bertambah terkejut karena Mami El akan ke rumahnya hari minggu, dan sekarang adalah hari jumat. Itu berarti dua hari lagi, dua hari lagi akan ditentukan kapan acara pernikahan Ia dan Nanda dilakukan.


Setelah interaksi antara dua orang tersebut, keduanya sama-sama terdiam sampai dengan tiba di rumah Dewi. Nanda tidak mampir karena Ia lebih memilih pulang ke rumahnya, Dewi masuk ke rumahnya dan langsung mencari keberadaan Bunda dan Ayahnya.


Dewi yang tidak bisa berkata banyak, hanya mampu menyampaikan pesan dari Mami El atau Nanda. Bunda yang terkejut bercampur rasa tak percaya saat Dewi mengatakannya, langsung heboh tak karuan karena belum ada persiapan dalam menyambut kedatangan calon besannya untuk membicarakan tanggal pernikahan Dewi.


Bunda mondar mandir bingung memikirkan hal ini, itu juga yang ikut dirasakan Dewi. Ayah Farhan dan Kak Bagas hanya geleng-geleng melihat kedua orang yang saat ini tengah kebingungan.


“Dua hari lagi, ya ampun. Kenapa mesti dadakan sih!” Ucap Bunda pada Dewi masih dengan ekspresi yang sama.


“Ya mana Dewi tau,” gerutu Dewi kesal dengan Bundanya.


Bagas dan Ayah Farhan langsung sibuk untuk memesan makanan yang akan dihidangkan saat acara penentuan ini. Mereka membiarkan anak dan ibu itu yang terus kebingungan, sedangkan mereka yang terpaksa harus mempersiapkan hal ini.


Memang benar kata orang, suatu hal yang dilakukan secara tiba-tiba akan membuat banyak orang sibuk dan kalut dalam menghadapinya.


To be continued ... .


...----------------...


Halo jumpa lagi sama Author yang imut ini! Bagaimana puasanya? ( Eh Authornya perasaan nanya ini terus ‘yah? Bosen ih!) Gini ‘yah readers tercinta, selagi puasa Author akan selalu tanya-tanya tentang puasanya ... hahaha...


Oke guys! Acara nikahan Mas Nanda sama Mba Dewi mau mulai Ih, ayo dong kasih wedding gift atau apalah itu bahasa inggris nya Author nggak bisa...


Intinya nih, kasih like, gift, komentar, favorit, rate, vote pokoknya semua deh.


Puasa-puasaaaaa

__ADS_1


Salam sayang


Authoreo~😘😘😘.


__ADS_2