
“Apakah para saksi sah?!”
“SAH!!” balas semua orang yang berada di ruangan ini serempak membalas ucapan pak penghulu.
Siapa yang menyangka saat ini seorang Dewi telah sah menjadi seorang istri dari Nanda Abhigael. Nama dan status Dewi kini telah berubah 180° menjadi Dewi Nanda Abhigael, menjadi milik seorang Nanda.
“Ayo Dewi tunjukkan baktimu pada suamimu!” titah Bunda Fania pada anaknya, “patuhlah pada suamimu, Nak.”
Dewi meraih tangan Nanda dan meletakkan di dahinya kemudian mencium punggung tangan suaminya. Begitu pula sebaliknya, Nanda meraih pucuk kepala Dewi dan menciumnya lembut. Ini adalah ciuman pertama yang dirasakan Dewi, tak lain dengan suaminya. Dejavu di antara keduanya semakin terasa, kini langkah kehidupan keduanya telah dimulai dengan genggaman tangan yang saling bertautan.
...---...
Dinginnya malam semakin dirasakan oleh Dewi yang kini tengah berada di balkon. Ia termenung menatap ke arah barat seraya memikirkan beberapa hari lalu sebelum pernikahannya. Lebih tepatnya ketika ia dan suaminya berada di taman hari itu.
__ADS_1
Flash back on
Dewi hanya menatap tidak percaya, “j-jadi selama ini kamu itu—”
“Iyaaaa, ...” Nanda menjawab cepat dan meyakinkan Dewi.
Dewi sangat tak menyangka akan semua kenyataan yang baru diketahuinya, ia setengah percaya dan tidak akan kebenaran yang kini diketahuinya. Haruskah ia bahagia? Ataukah dirinya merasa menyesal karena Nanda merupakan kekasih online yang selama ini tidak ia ketahui bentuk dan rupanya?
“Dew, Aku udah lama suka sama kamu! Sejak masa SMA saya sudah suka ke kamu, saya selalu perhatikan kamu dari dulu!”
“Are you seriously?” Dewi tak percaya.
“Mas ... saya ngga tau mau ngerespon apa ke kamu. Tapi dari mana saya tau kalau situ suka ke saya? Saya aja kagak kenal sama sekali sama Mas, la kok bisa suka ke saya?!” Dewi lagi-lagi tak percaya akan semua yang dikatakan Nanda padanya.
__ADS_1
“Kita pacaran 2009, Dewi. Saya inget semuanya. Kita satu sekolah dari SMP hingga SMA. Kamu kelas 1 aku kelas 3 begitu seterusnya, Mas masih ingat semuanya. Waktu kita setahun pacaran dan gak lama kamu minta putus karena cowok pindahan dari Jakarta tak lain si Guna. Saya ingat betul, dari acara PENSI sekolah sampai larut malam. Saya antar kamu pulang karena sahabat dan teman main saya ga bawa mobil. Saya ingat semuanya, dari alasan saya beli pulsa hp di rumah kamu biar bisa ketemu kamu—tapi kamu ngga ada di rumah karena lagi main. Saya tahankan untuk tidak beri tau kamu bahwa saya pacar online kamu, karena saya sangat takut kehilangan kamu begitu kamu tau bahwa pacar online kamu tak lain adalah saya!”
“Saya ingat betul, di saat kamu dan Guna main di belakang saya disaat saya lengah—saya tetap bela-belain kamu di depan teman yang juga merupakan sepupu dari si Guna itu. Saya ingat betul saya selalu bercerita tentang kamu di depan keluarga saya, bagaimana kamu, kepribadianmu, seperti apa kamu? Saya selalu ceritakan itu ke keluarga saya tanpa sepengetahuanmu, saya selalu memujamu tanpa kau ketahui. Dan saya ingat betul bahwa hanya beberapa orang yang mengetahui bahwa kamu milik saya, bahkan keluarga saya sejak dulu tau bahwa kamu pacar saya—dan dengan permintaan saya mereka selalu memantau kamu! Saya tidak tau harus berkata apalagi agar kamu percaya dan tau seberapa besarnya perasaan saya di sini!”
“Saya hanya ingin kamu tau bahwa orang yang mencintai kamu adalah saya! Hanya itu,” ucap Nanda menarik napasnya pasrah dan lega akan semua bebannya selama ini pada Dewi.
“Terus gimana dengan masalah perjodohan—itu benaran dijodohkan atau—”
“Tanpa saya jawab, saya yakin kamu tau jawaban pertanyaan kamu sendiri.”
Flash back off
To be continued ...
__ADS_1