
Dewi kembali ke kamarnya dan berganti pakaian tidur seperti biasanya.Dewi naik ke atas ranjangnya dan menarik selimut untuk segera tidur. Namun dirinya justru tidak bisa tertidur karena memikirkan kata-kata Nanda tadi bersama Ayahnya.
Malam semakin larut namun Dewi masih tetap belum bisa tertidur. Lagi-lagi Ia termenung memikirkan masa-masa SMA dulu, masa-masa seorang remaja menuju tahap seorang yang dewasa.
Setelah mengingat lebih tepat, Dewi diantar pulang oleh Nanda bukan saat acara reuni melainkan PENSI SMA. Pada waktu itu, Dewi merupakan adik kelasnya hanya berbeda dua tahun.
Flashback on
Dewi dan Nanda selama ini belajar di sekolah yang sama mulai dari zaman SMP hingga SMA, di saat Dewi kelas VII sedangkan Nanda kelas IX. Dan kebetulan saat pendidikan SMA keduanya masih berada di satu sekolah, di mana Dewi kelas X sementara Nanda kelas XII.
Pada zaman Dewi SMA, saat itu sedang trending dengan adanya warnet atau warung internet. Sebenarnya keduanya sempat saling melihat satu sama lainnya di warnet yang berada di dekat sekolah mereka. Namun karena tidak tahu, Dewi hanya mengira bahwa Nanda adalah salah satu siswa dari sekolah lain sedangkan Nanda? (Author sendiri tidak tau 😂😂😂🤣🤣🤭🙏✌✌).
Nanda telah lulus SMA sementara Dewi masih kelas XI, kebetulan saat itu diadakan acara PENSI SMA yang selesai hingga malam hari tepatnya tengah malam.
“Dewi, Lo pulangnya bareng Gue sama gebetan Gue aja! Ntar dia bawa mobil soalnya.Nggak usah nelpon Ayah Lo,” ucap Lesti yang merupakan teman SMA Dewi dulu.
Dewi yang memang ingin menghubungi Ayahnya langsung membatalkan niatnya dan bertanya pada Lesti, “beneran gebetan Lo bawa mobil?”
“Ya iyalah masa bohongan, jadi nggak usah minta jemput sama Ayah Lo.” Jawab Lesti dan kembali melanjutkan perkataannya, “gebetan Gue sultan kok nggak bawa mobil! nggak ada sejarahnya ferguso”
“Eleh, ketek Lo tuh bau asem. Sombong banget punya gebetan! Gue aja yang punya mantan 16, biasa aja!” sinis Dewi dengan candaannya.
“Biarin ketek Gue bau asem gini-gini udah punya gebetan hahaha… . Lagipun punya mantan kok bangga, pacar dong! ck…” ejek Lesti.
Nanda saat itu datang bersama Zidan yang merupakan gebetan Lesti teman Dewi. Nanda adalah teman Zidan, oleh sebab itu Ia ikut pergi bersama Zidan untuk bertemu dengan gebetan temannya yang tak lain Lestia.
Selain alasan itu, Nanda merupakan alumni sekolah Dewi sehingga Ia memang harus hadir di acara PENSI ini.
Di saat bertemu, Nanda menatap Dewi yang memang mengenakan dress panjang namun tampak elegan dan terlihat cocok di tubuh Dewi yang ideal.
Setelah pengenalan dan perbincangan yang dilakukan, akhirnya acara PENSI selesai pukul 00.00 tepat tengah malam. Di perjalanan menuju parkiran Lesti mulai bertanya pada Zidan, “Kak! Kamu bawa mobil kan? temenku soalnya mau ikut bareng Kita bisa kan?!”
“Waduh, Kakak lagi nggak bawa mobil tapi motor. Kakak pikir cuma Kita berdua aja makanya nggak bawa mobil,” jawab Zidan sembari melihat Dewi yang mulai kebingungan untuk pulang ke rumahnya begitu juga dengan Lesti yang merasa malu sebab gebetannya tidak membawa mobil padahal dirinya sudah mengatakan pada Dewi.
Dewi berkata kebingungan, “lah Saya gimana pulangnya? udah malam juga‘an mana ada taksi atau ojek malam begini. Ada sih ada, tapi susah nyarinya.”
__ADS_1
“Emangnya rumah Kanu di daerah mana?” tanya Zidan pada Dewi yang tengah mengerucutkan bibirnya bingung bercampur kesal sebab ulah Lesti.
“Alamat rumahku di kompleks perumahan Anggrek!” Jawab Dewi masih dengan ekspresi yang sama.
“Nah, kebetulan itu teman Kakak yang ini alamatnya sama kayak Kamu.” Sorak Zidan yang akhirnya bisa bernafas lega kini Ia bertanya pada Nanda, “Lo maukan nganter alias pulang bareng sama Dewi?!”
“Terserah Dianya mau atau nggak pulang bareng sama Gue, ” balas Nanda datar seraya memainkan ponselnya padahal yang sebenarnya Ia terus menatap Dewi secara diam-diam agar tidak ketahuan.
“Eh tapi masa Aku pulangnya sama Dia sih... ,” ucap Dewi yang sedikit keberatan untuk pulang bersama Nanda yang sama sekali tidak dikenalnya.
Lestia yang memang mengetahui bahwa Dewi sedikit keberatan tentang hal itu langsung membujuknya, “mau lah Dew! Kalo nggak mau ntar Lo pulang sama siapa coba? Nggak ada toh,” seru Lestia dan mulai berbisik di telinga Dewi. “Jarang-jarang Lo ada tumpangan gratis biasanya bayar kan? Bisa loh uangnya untuk jajan Lo besok! Emm yummii... .”
“Iya Gue tau tapikan Aku malu duduk berdua boncengan pula,” ucap Dewi tanpa sadar dengan tidak berbisik balik pada Lesti sehingga membuat ketiga orang tersebut tertawa termasuk Nanda.
“Eleh, nggak usah malu-malu kambing deh Lo–Dew! Tipe-tipe Lo kok punya malu, kiamat dunia bisa-bisa.” Zidan dan Nanda yang mendengar perkataan Lesti hanya menggelengkan kepalanya, sementara Dewi dibuat semakin malu olehnya.
“Gimana mau ikut Aku atau nggak? udah malam soalnya! Aku juga mau pulang ke rumahku,” tanya Nanda pada Dewi seraya melihat jam di ponselnya yang menunjukkan waktu yang semakin larut malam.
“Iya deh, Aku ikut!”
Akhirnya Dewi pulang bersama Nanda berdua menuju rumahnya, sementara Lesti dan Zidan menuju rumah Lesti untuk mengantarkannya.
Di jalan Dewi tidak berkata banyak hal, hanya sesekali menjawab pertanyaan dari Nanda tentang hal yang tidak terlalu penting.
“Eh, Aku lupa nama Kakak tadi siapa?” Tanya Dewi yang melupakan nama Nanda. “Maaf kebanyakan makan micin jadinya pikun alias pelupa,hehehe... .”
“Hahaha… , ada aja Kamu. Mana ada orang makan micin jadi pelupa!” Nanda tertawa mendengar candaan Dewi.
“Lah terus gegara apa?” Tanya Dewi serius alasan yang membuatnya menjadi sosok yang pelupa.
“Emang dasarnya aja udah dari gen hahaha… ,” jawab Nanda yang mulai mengerjai Dewi.
“Ih, ya udah kalau gitu!” ketus Dewi yang berpura-pura merajuk.
“Dasar baperan, jadi ingat ya nama Kakak itu–,” ucap Nanda yang segera menyambungkan kalimatnya. “Pasangannya Adinda Dewi! Hahaha…”
__ADS_1
“Ih Kak,Aku serius jangan bercanda Ih!” Dewi mulai kesal karena Nanda tidak serius dalam menjawab pertanyaan darinya.
“Kakak serius ‘yah, Dewi harus ingat nama Kakak ya! Nanda Abhigael dipanggil Nanda, oke!” Jawab Nanda pada akhirnya.
“Oke Kak! Aku inget selalu dalam lubuk hatiku yang terdalam sampai ke samudra atlantik bahkan kedalaman laut yang paling-ling terdalam,” goda Dewi yang bercanda namun hal itu membuat Nanda tertawa senang hingga sampai di rumah Dewi.
“Makasih Kak udah nganter Dewi pulang, mampir dulu Kak!” Ajak Dewi setelah turun dari motor Nanda.
“Nggak deh, kapan-kapan aja. Udah malam soalnya, Kakak pulang dulu ya!” Dewi menganggukkan kepalanya dan melambaikan tangannya saat Nanda pergi meninggalkannya.
Sejak hari itu, Dewi sering melihat Nanda dari teras rumahnya lari pagi di area jalanan yang memang sepi itu.
Benar-benar sangat menyenangkan hingga keduanya sampai bertukar nomor untuk saling menghubungi satu sama lainnya setiap malam, ‘yah walaupun hanya sekadar.
Flashback off
Renungan Dewi berakhir walaupun Ia masih belum mengerti kenapa sifat Nanda kini tidak sama seperti yang dulu di mana tidak pernah berkata sedingin es. Dewi tidak sanggup untuk memikirkannya, Ia memilih tidur karena merasa mengantuk.
Dari ingatannya itu, ada satu hal yang tertinggal karena terlupa.
Nanda pernah memberi tahu Dewi tentang nama akun medsosnya, benar-benar terlupa olehnya.
To Be Continued... .
...----------------...
Halo ada yang kangen Authoreo nggak? Kangenlah masa enggak sih!
Kepo ngga, apa nama akun medsosnya Kakak Nanda? Kalo iya, terus baca atau hadir di novel Author ya!
Minta dukungan Kalian melalui like, vote, gift, rame, semua-mua tau...
Salam sayang
Author ~😘😘😘.
__ADS_1