
Mobil berhenti di depan rumah Dewi lebih tepatnya di depan gerbang rumahnya. Dewi turun dari mobil Nanda masih dengan raut wajah kesalnya karena terus diejek oleh Nanda.
“Makasih tumpangannya!” ucap Dewi jutek pada Nanda.
“Hmm,” balas Nanda dengan deheman. Dewi melangkah masuk ke rumahnya tanpa menoleh ke belakang di mana Nanda mengikutinya. Dewi berhenti mendadak karena pintu rumahnya ditutup dari dalam dan karena itu juga dada bidang Nanda yang tertutup jasnya menyentuh Dewi membuatnya menoleh.
“Loh, kok malah Mas Nanda ikut ke sini sih?” tanya Dewi terkejut begitu melihat Nanda di belakangnya. “Pulang aja sana,nggak usah mampir. Lagipula Aku mau langsung tidur!” Dewi yang masih merasa kesal tidak ambil ba-bi-bu langsung mengusir Nanda dari rumahnya.
“Terserah Saya dong mau mampir atau nggak!” Balas Nanda tidak mempedulikan tolakan Dewi. “Lagian Kamunya aja yang kege’eran, Saya itu mau ketemu mertua, bukan Kamu!”
“Calon, bukan mertua!” Kritik Dewi saat mendengar Nanda menyebut orang tuanya sebagai mertua.
“Terserah! ujung-ujungnya juga jadi mertua. Sama aja,” ucap Nanda yang tidak peduli dengan perkataan Dewi.
“Ya nggak, jelas-jelas itu beda!” kokoh Dewi yang masih tidak terima dengan tanggapan Nanda. Nanda yang mendengar perkataan Dewi langsung bertanya, “di mana perbedaannya?”
“Jelas-jelas udah beda dari tulisan, itu pun nggak ngerti.” Jawab Dewi sembari mulai mengeja tulisan calon mertua dan mertua.“ Nih dengerin Aku ngeja bacaan calon mertua sama mertua! C-A-L-O-N M-E-R-T-U-A dibaca calon mertua,sedangkan mertua dieja M-E-R-T–––”
“Aduhh!,” ucapan Dewi terpotong karena rambutnya ditarik oleh Nanda. Dewi melotot ke arah Nanda yang telah menarik rambutnya kencang. “Maksud Mas Nanda apa,hah?! Nggak senang Aku—Kau tarek rambut Aku seenaknya!” Dewi sangat marah karena ulah Nanda yang tanpa diduga,Ia merapikan rambutnya yang berantakan dan rontok beserta kulit kepalanya yang terasa sakit.
“Alay! cuma ditarik sedikit aja sampai teriak-teriak,” timpal Nanda tanpa bersalah. Dewi yang semakin dibuat kesal dan marah langsung membalas Nanda dengan cara yang sama.
“Sh*it!, apa yang Kamu lakukan?!” Bentak Nanda saat Dewi menarik rambutnya berkali-kali, “Kamu nggak mikir ini sakit, hah?!”
“Maaf, Aku lupa mikir! Jadi keinget tadi siapa yang ngomong tidak sakit ditarik rambutnya,” balas Dewi dengan seringai di bibirnya. Ia sangat puas begitu melihat reaksi atau ekspresi Nanda yang sangat kesal karena tidak mampu membalas perkataan Dewi.
Perdebatan masih berlanjut dengan saling mengejek satu sama lainnya, baik itu Nanda dan Dewi sama-sama tidak mau mengalah dalam hal ini.
Ayah Dewi yang sejak tadi seperti mendengar suara di luar pintu rumahnya memutuskan untuk membuka pintu. Alangkah terkejutnya Ia begitu melihat putri dan calon menantunya berdiri saling berhadapan dengan perdebatan yang memekakkan telinga.
“Hai, apa yang Kalian lakukan di sana sejak tadi?” Tanya Ayah Farhan yang membuat Dewi dan Nanda refleks menoleh ke arah sumber suara.
“Itu ana-anu,Om. Aih mau ngomong apa juga!” Jawab Nanda kebingungan karena calon mertuanya yang datang secara tiba-tiba.
__ADS_1
“Ona-anu! ngomong tuh yang jelas.” Ejek Dewi, “di kantor aja gayanya cool,pendiem sok cuek. Mentang-mentang CEO,sok ganteng taunya aja di rumah calon bini mulut kek burung beo. Ck!”
“Dewi!,” Ayah Farhan menatap tajam sehingga membuat Dewi seketika langsung terdiam. Berbeda dengan Nanda yang tersenyum simpul begitu mendengar perkataan Dewi yang mengatakan ‘calon bini’ itu artinya Dewi mengakui bahwa Ia adalah calon suaminya.
“Nak Nanda mari silakan masuk! pasti sudah lelah karena berdiri sejak tadi di luar pintu,” ajak Ayah Farhan kepada Nanda sembari melirik sebentar ke arah Dewi.
“Nggak kok Om! Baru sebentar Saya di sini, ” bohong Nanda pada Ayah Farhan. “Ya sudah, ayo masuk!” Ajak Ayah Farhan lagi dan langsung dituruti oleh Nanda.
Nanda duduk di sofa sembari melihat isi rumah Dewi yang memang ada beberapa foto Dewi sewaktu kecil,bahkan di sana ada beberapa foto Dewi sewaktu SMA.
“Itu foto Dewi sewaktu SMA kelas 3 kalau nggak salah,ada acara reunian kakak-kakak kelasnya.” Ujar Ayah Farhan yang ikut melihat foto Dewi bersama teman-temannya, “kalau nggak salah sih kakak-kakak kelasnya itu sepantaran Kamu!”
“Iya Om, emang itu angkatan Saya—Saya kan emang salah satu kakak kelasnya Dewi dulu!” Ungkap Nanda pada Ayah Farhan, “bahkan waktu acaranya selesai, Saya yang ngantar Dewi pulang!”
“Owalah, jadi Kamu yang nganter Dewi waktu itu?! Pantes, Saya kayak pernah lihat wajah Kamu sewaktu melamar Dewi.”
Terukir senyuman manis dari wajah, lebih tepatnya bibir Nanda begitu mendengar ucapan Ayahnya eh calon mertua ( maaf Author rada-rada suka lupa hehehe… .)
Dewi yang memang mendengar di tangga, perbincangan antara Nanda dan Ayahnya langsung memikirkan hal itu beberapa tahun yang lalu. Namun belum sempat Ia flashback ke sana, Bundanya datang menghampiri Nanda dan Ayah Farhan.
Bunda terus bertanya banyak hal pada Nanda dan anehnya dirinya sendiri yang menjawab pertanyaannya, seperti contoh:
“Nak Nanda tadi yang antar Dewi ‘yah?” Tanya Bunda yang tidak lama dirinya berkata sebelum Nanda menjawab, “eh, tapi emang iya lah ya! orang satu tempat kerja masak nggak pulang bareng ‘kan.”
“Tapi kenapa pulangnya cepat? hanya lama gegara dari tadi di luar pintu nggak masuk-masuk,” tanya Bunda lagi dan lagi-lagi Ia menjawab sendiri. “Eh, Bunda lupa Kamu itu kan Coe nya!”
Nanda dan Ayah Farhan sampai geleng-geleng kepala karena sifat dan sikap Bunda Elita yang unik bin ajaib seperti Dewi, benar-benar copy paste dari Bunda.
Dewi hanya menggerutu sendiri di balik tangga karena Bundanya itu.
“Bunda dari pada nanya-jawab sendiri, mending buatkan kopi atau teh buat calon mantu Kita!” Titah Ayah Farhan pada Bunda yang disambut cemberut Bunda. Untunglah Nanda menghentikannya karena dirinya akan pulang kembali ke rumahnya, “eh nggak usah repot-repot Tante lagipula Aku mau pulang sekarang dah malam soalnya!”
“Loh kok udah pulang sih! padahal baru sebentar ke sini,” ucap Bunda Elita.
__ADS_1
“Iya Tante, maaf ‘yah. Insya allah besok-besok main ke sini lagi!” ujar Nanda.
“Oke deh, tapi ada satu syarat Kamu panggil Tante sama Om—Bunda sama Ayah! biar sama‘an kayak Dewi manggil Kami,” tawar Bunda El.
“Iya Tante eh B–bunda,” ucap Nanda malu bercampur rasa canggungnya namun hal itu membuat senyum tersemat di dalam diri kedua calon mertuanya.
Dewi yang bersembunyi di tangga tanpa sengaja mengalami bersin-bersin yang merupakan hal biasa bagi manusia.
“Dewi dari pada sembunyi sambil nguping mending ke sini aja Nak, antar calon suamimu!” Panggil Ayah Farhan yang membuat Dewi keluar dari persembunyiannya.
Dewi menyerah karena walau bagaimana pun, Dia akan tetap ketahuan juga. Dewi mengantar Nanda sampai ke depan gerbang rumahnya.
“Aku pulang!,” pamit Nanda yang telah kembali pada nada dinginnya.
“Hmm,” balas Dewi yang tidak kalah dinginnya.
Sebelum Nanda memasuki mobilnya Ia berkata pada Dewi, “dasar lemes!” ucapnya dan langsung bergegas masuk ke mobil dan melesat pergi.
“Heh! nyebelin.Sebel-sebel!”
Dewi mengumpat dalam hatinya karena Nanda dan Nanda, Ia harus menguatkan dirinya karena keesokan harinya Ia akan tetap bertemu di tempat kerjanya.
To be continued... .
...----------------...
Halo teman Author tercinta luv u 😘😘😘kangen nggak sama Author? pastilah kangen.. hehehe
Minta dukungan Kalian yah
like.. komen..vote.. gift.. rate.. semua-muanya bwahahaha... Author nya serakah guys.
Terima kasih bagi yang sudah dukung okehhh, peyuk, ciyum online dari Author.
__ADS_1
Salam Sayang.
Author~😘😘😘.