Mawar

Mawar
Bab 15 Gangguan Melisa dan temannya


__ADS_3

Bahagia itu tidak harus mahal kok. Cukup yang sederhana saja dan belajar mensyukuri segala sesuatu yang kamu miliki. Hal tersebut sudah bisa memberikanmu kebahagiaan. Bahkan mampu membuatmu menjadi orang yang lebih menghargai.


'Aku bersyukur karena sekarang aku dan ibu terlepas dari bayang-bayang nenek Asih ataupun tante Priska, serta anak-anaknya mereka tidak pernah menganggap kami ada dan selalu merendahkan aku.'


Jadi, janganlah kamu menunggu orang lain untuk memberikan kebahagiaan pada dirimu. Kamu bisa menemukan kebahagiaan itu di segala momen. Misalnya dengan meluangkan waktu untuk bersantai, jalan-jalan sendiri, menghabiskan waktu bersama sahabat atau orang tercinta, dan bisa juga dengan menciptakan kebahagiaan untuk orang lain yang hal itu turut membuatmu bahagia. Dengan menciptakan momen bahagia sendiri, suatu saat kamu bisa mengingatnya kembali untuk mendorong semangatmu.


'kini saatnya aku bangkit dari keterpurukan ini, menjadi pengendali diri dan menentang mereka yang merendahkan aku, ya aku harus belajar agar bisa melakukannya dan jangan mau di tindas.'


Hanya diri sendirilah yang paling mengerti tentang apa saja yang bisa membuat bahagia. Oleh karena itu, pilihlah caramu sendiri untuk bisa merasakan kebehagiaan itu. Karena di saat kamu sudah menemukan kebahagiaan, di situlah kamu akan merasakan kenyamanan yang tak terkira.


'semangat Mawar, yakinlah kau pasti bisa, perjuangkan semua yang kamu rasa benar dan perangi mereka yang merendahkan kamu karena kamu tidak salah, siapapun tak bisa memilih terlahir dengan cara bagaimana dan dari siapa, semua sudah takdir dan menjadi ketentuan yang maha kuasa, jadi bersabarlah.'


Setelah menyusun semua barang pada tempatnya, Mawar menemui tantenya yang sedang berbaring di kamar. Rumah itu ada dua kamar, satu untuk Keyla satu lagi buat Mawar dan ibunya.


"Tante...," panggilnya. Keyla menatap ke arah pintu dimana Mawar sedang berdiri.


"Mau makan apa? Biar Mawar masakin!"


"Baik bener sih keponakan tante... Masak apapun kalau kamu yang buat pasti tante makan,"


"Hehehe bener ya, ya udah Mawar masak dulu,"


'doa tante yang terbaik untukmu sayang. semoga setelah kita pindah ini kamu mendapatkan kebahagiaan, jika di dunia ini tidak ada lagi orang yang mau menyayangimu tante yang akan menyayangimu.'


Setelah Mawar selesai masak dia meminta tantenya untuk makan, lalu Mawar menyuapi ibunya pelan-pelan baru dia makan setelahnya.


Malam semakin larut Mereka pun akhirnya tidur di kamar masing-masing.


Untuk pertama kalinya Mawar tidur bersama dengan ibunya, Maya telah dibaringkan terlebih dahulu dan terpejam kemudian Mawar menyusul naik ke atas ranjang dan memiringkan tubuhnya.


Dilihatnya wajah ibunya yang telah tertidur untuk pertama kali Mawar menatap ibunya dengan intens, tangannya terulur memeluk tubuh Maya lalu dia menyandarkan kepalanya tepat di bahu Maya.


Hangat, nyaman itu yang Mawar rasakan.


"Andai ibu sadar apakah ibu akan memeluk aku seperti ini, seperti aku memeluk ibu, rasanya begitu nyaman dan damai."


Lama-kelamaan Mawar terpejam di dalam pelukan ibunya Maya membuka matanya cairan bening mengalir dari ujung matanya.


Keesokan paginya Mawar sudah bersiap-siap, hari ini dia harus bersekolah dan berangkat lebih pagi sebab jarak sekolah dan rumahnya yang sekarang begitu jauh.


Saat sarapan Mawar memperhatikan tantenya.


"Tante jika Mawar belum pulang dan tante sudah pergi bekerja lalu ibu tinggal dengan siapa?" tanya Mawar gelisah.

__ADS_1


"Nggak usah khawatir kamu tenang saja tante masuk malam kok,"


Mawar bernafas lega kegelisahannya menjadi pudar sebab tantenya tidak bekerja di siang hari melainkan malam hari.


"Ya sudah kalau begitu Mawar pamit ya tante," salimnya pada Keyla.


"Hati-hati di jalan ya,"


"Ya tante."


Mawar melambaikan tangannya.


Keyla jongkok di hadapan kakaknya, di pegangnya tangan Maya lalu dia menatapnya.


"Mbak sampai kapan mbak begini kumohon sadarlah mbak, kasihan anakmu yang terus berjuang menghadapi kerasnya kehidupan ini, cobalah ikhlas menerima semua takdir ini mbak, aku yakin akan ada hikmahnya dibalik semua ini."


Mata Maya hanya berkedip-kedip kosong ke arah depan. Semua usahanya selama ini sia-sia untuk menyadarkan kakaknya kembali.


Didorongnya kursi roda itu menuju ke kamar dan Keyla mengangkatnya ke atas ranjang,


Keyla membantu kakaknya itu untuk mandi dibukanya satu persatu pakaian Maya sembari melihat kulit Maya yang semakin kurus tubuh Maya tinggal tulang dan kulit yang membungkusnya.


Andai dia tahu siapa lelaki yang sudah menodai kakaknya dan meninggalkannya begitu saja dia pasti akan menghajarnya dan memakinya lalu mengutuk keras lelaki itu.


Selesai mandi, Keyla memakaikan pakaian baru untuk Maya, lalu di sisirnya rambutnya dan di poles sedikit wajah Maya.


Sekolah


Mawar baru aja sampai, dia terburu-buru menuju kelas hingga tak sadar jika akan ada bahaya yang mengintainya.


Bruk


Aaaah


Mawar merasakan sakit pada telapak tangannya karena menjadi tumpuan bagi tubuhnya.


Kakinya tersandung sesuatu, saat Mawar melihat ke belakang, dia melihat Melisa berdiri dengan satu tangan di pinggang.


"Mau cium kodok Mawar?" ejek salah seorang siswa.


Mereka tertawa di atas luka yang di alami oleh Mawar barusan.


Mawar menghembuskan nafas dengan mulutnya.

__ADS_1


"Kenapa kau terus mengganggu aku Melisa?"


"Apa kalian dengar suara kucing bicara?" tanyanya pada semua murid di kelas.


Huuuh


"Kami tak melihatnya," sahut mereka.


Mawar bangkit dia hanya melihat komplotan orang itu lalu memilih duduk dari pada membalas mereka, sebab dia harus mengerjakan tugas yang baru saja di tinggalkan guru aslinya. asistennya Menitipkan tugas pada Mawar untuk mencatat di papan tulis agar murid yang lain bisa menyalinnya dan mengerjakan tugasnya.


Bel sudah berbunyi, guru lain masuk untuk memberi kabar pada anak-anak di kelas ibu Indri.


"Anak-anak berhubung ibu Indri tidak masuk dan hanya meninggalkan pesan untuk mengerjakan tugas nya. Mawar akan mencatat di papan tulis dan kalian akan menjawabnya lalu di kumpulkan ya," seru pak Ilham guru bahasa Indonesia.


"Baik pak,"


"Mawar buruan di catat, saya keluar ya dan kalian semua saya harap tidak ribut,"


"Baik pak."


Begitu pak Ilham keluar dan sudah tak terlihat lagi, mereka bersorak senang.


Mawar mencatat tugas yang di berikan oleh ibu Indri.


Komplotan Melisa saling memberi kode mereka hendak mengganggu Mawar yang sedang menulis di depan.


Puk


Puk


Puk


Remasan kertas mengenai punggung Mawar, di hentikannya menulis lalu dia berbalik, Melisa dan teman-temannya tersenyum mengejek ke arahnya.


"Bisa kalian tidak menggangu aku, agar tugas ini segera selesai aku tulis?" seru Mawar.


"Uuuuh tatut...!!"


Hahaha...


Hahaha...


"Guys kalian dengar dia mengancam Lo,"

__ADS_1


"Biarin nggak takut sama dia," pekik Melisa.


__ADS_2