
Dua bulan kemudian
Mungkin ini sudah waktunya jika rahasia ini harus terbongkar sekarang. Aku memejamkan mata sesaat, untuk menghalau rasa cemas yang tiba-tiba hadir.
Tak hanya itu, jemari tanganku juga mengepal kuat. Berharap, hawa dingin di sekitar telapak tangan bisa sedikit menghangat.
''Ngapain sih Dika, berhentiin mereka?''
Kali ini rahangku mengeras, ketika wanita itu berucap dengan manja.
''Nggak usah ngurusin orang yang nggak punya sopan santun kayak dia Mas. Nggak guna!''
Nggak punya sopan santun dia bilang?
''Mila! Tas kamu ketinggalan!''
Aku dengar perkataan Mas Dika, tapi entah kenapa, ragaku enggan merespon. Aku tetap berdiri membelakangi mereka, tanpa bisa balik badan.
Sepersekian detik kemudian, aku balik badan, lalu beranjak menghampiri mereka, Entah apa yang aku lakukan? Hingga, di satu titik aku kembali dan langsung menggelandang, menampar wanita bernama Mila.
Aku hanya bisa mengikuti keinginan tanganku. Meski, dengan langkah yang terseok. Aku maju dan menuntut keadilan untuk janinku.
Ya kini aku tengah hamil, tapi mas Dika tak mau bertanggung jawab, padahal ini adalah anaknya dia justru ku temukan sedang bersama wanita lain.
Setelah sadar apa yang aku lakukan, aku panik dan melihat mas Dika yang menatap aku tajam sekali, dia mulai mencengkeram lenganku dengan kuat.
"Apa yang kamu lakukan pada wanitaku!!!" Ucapnya marah.
"Mas...," cicitku. "Dia wanita yang sudah lancang merayumu, aku hanya menyingkirkannya darimu, sebab dia harus tau jika aku mengandung anakmu," ucapku dengan berlinang air mata.
''Jauhi mas Dika, dia adalah ayah calon anakku!'' Aku menarik tangannya dengan kasar dan sekuat yang aku bisa.
"Aduh... Mas tolong aku dari wanita gila ini," rengeknya manja pada mas Dika.
Lelaki itu menghentikan pergerakanku dengan pola Napas yang terembus kasar. Bahkan, helaan napasnya sungguh bisa aku dengar dari sini.
Apa yang terjadi pada mas Dika? Kenapa dia menyeretku pergi dari hadapan wanita selingkuhannya itu, dia membelanya.
''Lo kenapa, Juwita?!" bentaknya. "Kita ngelakuinnya atas dasar sama-sama mau, kamu tau itukan!"
Aku mengusap pergelangan tanganku yang merah karena cengkeramannya.
Aku tak merespon. Raga ini hanya diam mematung dengan posisi badan yang susah ku gerakkan, rasanya aku ingin mati saja kalau mas Dika nggak mau bertanggungjawab atas janin ini.
Sebenarnya, apa yang dia lakukan? Dia meninggalkan aku dan memilih menghampiri jal*ng itu.
Rasaku kian memanas karena mas Dika bersikap acuh tak acuh. Sejalan dengan itu, sorot mataku beralih pada wanita yang sekarang bergelanyut manja di lengan mas Dika.
__ADS_1
Dengan cepat aku melangkah menghampiri mereka lagi, lalu menarik wanita itu kembali dan menjatuhkannya ke lantai.
''Gue peringatkan sama elo, jauhi mas Dika, dan kamu mas kamu harus tanggung jawab kalau tidak aku akan laporkan kamu ke polisi!'' ancamku padanya.
"Juwita... Kamu itu udah nggak perawan lagi saat aku sentuh, bisa aja kamu hamil anak lelaki lain," ucapnya.
Ucapannya bagai pisau mengiris jantungku, ya mas Dika memang bukan yang pertama tapi aku yakin jika ini adalah anaknya.
''Ta tapi mas...!'' rengekku, dan dia tak mau ambil peduli.
Mas Dika menyeret wanita itu bersamanya dan meninggalkan aku sendiri.
Langkahku terus terayun menuju jalan besar. Hingga, sebuah suara dari arah belakang menghentikan langkah dan membuatku syok.
''Kamu hamil Juwita?" ucap sebuah suara yang amat aku kenal.
Aku melebarkan mata mendengar suara itu. "Beneran kamu sedang hamil Juwita?" ulangnya lagi.
Aku tergugu, bingung. Bisa-bisanya aku lupa jika ini tempat umum, apa yang harus aku lakukan. Kuedarkan pandangan ke segala arah guna memastikan keadaan sebelum menjawabnya.
''Buat apa Lo ada disini, apa Lo sengaja menguntit dan akan memberitahukan semuanya pada nenek?"
''Ini tempat umum siapapun berhak ada disini, untuk apa aku menguntitmu, nggak guna!'' sahutnya.
'Dadaku sesak apa yang harus aku lakukan sekarang jika sampai dia mengatakan yang sebenarnya pada nenek, apa aku akan mengalami apa yang sudah di alami Tante Maya, apa nenek juga akan mengabaikan aku dan mengurungku karena menyebabkan aib ini di keluarga, tidak itu tidak boleh terjadi, aku harus melakukan sesuatu.' ucap batin Juwita.
''Nggak ada urusannya sama loe, mending loe pergi dan jangan katakan apapun pada orang-orang!''
"Mungkin ini karma, karma yang harus kamu rasakan, dan sebentar lagi aku akan menikmati pertunjukan." ucapnya dan pergi meninggalkan aku.
Lagi-lagi mataku terpejam rapat. Tanganku mengepal kuat, Mawar... Apa dia mengancam aku, akan mengatakan semua ini pada nenek, ini tidak boleh terjadi, aku harus membungkam mulut Mawar dengan cara apapun, bila perlu aku akan menyingkirkannya.
"Mawar...," panggilku saat dia mulai jauh dari posisiku berdiri. Ku langkahkan kaki mendekatinya.
Kali ini, Mawar menatap aku dengan mengejek, dia seolah senang dengan apa yang akan terjadi nanti, tapi aku takkan membiarkan dia melakukan kesenangannya.
Ku cengkeraman tangan Mawar kuat, dia tak bereaksi sama sekali, padahal kuku ku menancap di pergelangan tangannya.
"Apa kamu sudah puas? Kamu kira ini sakit... Luka ini tak seberapa di banding rasa sakit yang selama ini aku dan ibu derita." ucapnya membuat aku mundur dan melepaskan tangan Mawar.
"Kenapa Juwita, apa kamu takut kalau aku mengadu pada nenekmu, nenek kesayangan mu yang begitu memanjakanmu?" ucapnya dengan nada mengejek.
"Kasihan sekali kamu, sedang hamil dan sekarang di tinggalkan oleh lelaki yang kamu cintai," ucapnya sembari tersenyum sinis kepadaku.
"Diam kamu Mawar, atau aku akan melakukan sesuatu padamu!!" ancamku akhirnya.
Mawar benar jika aku takut nenek tau, karena dia adalah orang yang paling menyayangi aku, jika dengan mama aku tak peduli.
__ADS_1
Selang beberapa menit, potret lama dalam ingatan kembali terbuka dan aku langsung melebarkan mata.
Bayangan cerita masa silam yang di ceritakan mama membayang di ingatanku, aku takut hal itu terjadi padaku. Apa yang harus aku lakukan untuk membungkam Mawar.
"Mungkin aku takkan memberitahukannya pada nenekmu, tapi perutmu ini tidak akan bisa kamu tutupi, semakin hari dia akan semakin besar dan dengan sendirinya nenekmu itu akan tau jika cucu kesayangannya ini telah memberinya aib." ucapnya mengejek.
"Diam kamu, ingatlah Mawar kalau sampai nenek tau, aku akan pastikan kamu menyesal!" ancamku lagi padanya.
"Aku nggak takut, sudah banyak penderitaan yang aku alami selama ini, mau apa kamu hah!" tanyanya padaku.
Kali ini, air mataku tumpah tanpa bisa aku tahan. Dua bulan lamanya aku tahan, akhirnya tumpah juga. Sekian lama aku merasa kuat, tapi ternyata aku rapuh.
Aku langsung menghapus air mata, menatap Mawar yang terus melihatku dengan tatapan yang ntah...
Lalu, mengedarkan pandangan ke sekeliling.
''Jangan bermain api lagi Juwita, jika tak ingin terbakar?''
Detak jantungku terhenti sesaat, saat Mawar berucap demikian.
Seketika bibirku bergetar, dan air mataku kembali mengalir. Ingin rasanya menimpali ucapannya, tapi aku takut kalau Mawar akan membeberkan semuanya.
''Mawar! Sebenarnya apa yang lo mau?"
Mataku terpejam rapat, saat kalimat yang terkesan merendahkan diriku sendiri.
''Gue nggak butuh apa-apa dari lo?'' ucapnya ketus.
''Kalau lo nggak butuh apa-apa, kenapa lo …."
''Nggak usah banyak bicara Juwita, waktu gue begitu berharga,'' potongnya.
''Ngapain lo main api, Juwita? Buat apa? Cuman senang-senang tapi hasilnya...''
''Gue bilang, itu bukan urusan lo, Mawar!''
''Itu akan jadi urusan gue, karena gue...''
Aku mendongak, melihat sosok Mawar yang tengah menoleh ke arah samping.
"Saudara elo,"
Pernyataan Mawar makin membuat dadaku kian sesak.
''Buat apa lo lakuin semua itu Juwita?''
''Aku cinta sama dia,'' ucapku lirih sembari menatap pada Mawar.
__ADS_1
''Itu bukan cinta, tapi nafsu. Kalau lo cinta, lo nggak akan kayak gini!''
''Buat apa loe ngurusin hidup gue."