
Steven menuju ke tempat laundry dimana Mawar sedang bekerja disana, dia hendak mengambil baju laundry mamanya yang kemarin itu dia letak di sana.
Saat dia baru tiba di tempat laundry seorang pelanggan memarahi Mawar karena bajunya rusak, pelanggan tersebut tetap kekeuh jika laundry itu bekerja dengan tidak baik, Mawar sudah mengatakan jika dia sudah bekerja dengan baik tetapi pelanggan itu sepertinya menginginkan Mawar keluar dari pekerjaan itu.
Steven hanya diam menyaksikan drama yang terjadi di depan matanya, pemilik laundry akhirnya pun datang.
"Maaf ibu apa yang sebenarnya terjadi, bisa ceritakan kepada saya agar saya memiliki solusi untuk masalah ibu," ucap pemilik loundry.
"Lihat pakaian saya rusak seperti ini karyawan anda bekerja dengan tidak bejus mereka tidak layak di pekerjakan disini bisa-bisa usaha kamu bangkrut," tunjuknya pada baju yang dia pegangnya.
"Apa benar baju ini di laundry disini, ibu bisa menunjukkan buktinya?"
"Ibu... apa maksud anda! saya adalah pelanggan tetap di sini dan untuk pertama kalinya saya kecewa, saya memang tidak membawa kuitansi yang diberikan oleh pegawai anda tapi seharusnya anda berpikir karena saya adalah pelanggan di tempat anda,"
"Apapun ceritanya semua itu membutuhkan bukti, bisa saja baju ini di loundry di tempat lain tetapi anda justru mengkambing hitam laundry saya,"
"Sudahlah kalau begitu, saya kecewa dan saya tidak akan pernah mau laundry di sini lagi," ucap ibu pelanggan lalu pergi melongos bahkan dia menabrak pemilik laundry.
"Maafkan kami ibu, karena kami anda menjadi dimarahi oleh pelanggan," ucap Mawar menunduk takut dan tak enak hati.
"Nggak apa-apa dia tidak bisa menunjukkan bukti saya yakin dia tidak melaundry disini, tapi karena rusak dia menuduh kita yang tidak bejus bekerja"
"Tapi bagaimana jika dia mempengaruhi orang lain dan pelanggan kita semakin berkurang," seru Mawar.
"Jangan dipikirkan apa yang belum terjadi sudah sana kembali bekerja,"
"Adik apa kamu ingin mengambil laundry-an?" tanya si pemilik loundry pada Steven.
Mawar yang mendengar pemilik laundry berbicara dengan seseorang menghentikan langkah dan membalik tubuhnya. Dia melihat Steven sudah berdiri di depan pemilik laundry, pandangan Steven sebentar menatap ke arah Mawar begitupun sebaliknya.
"Saya memang mau mengambil loundry yang kemarin saya antar kesini, tapi... Bolehkah saya bertemu dengan pegawai anda tadi, kebetulan dia teman satu kelas saya," ucap Steven meminta ijin.
"Maksud kamu Mawar ya? Boleh tapi jangan lama ya, dia masih banyak pekerjaan,"
"Baik Bu, terima kasih,"
"Ningsih... Panggilkan Mawar di dalam, bilang ada yang ingin ketemu, kalau begitu saya pulang ya, kalau ada apa-apa kalian kabari saya,"
"Baik Bu." sahut Ningsih.
__ADS_1
"Sebentar ya mas, saya panggilkan Mawar dulu."
Ningsih masuk ke dalam, tak lama Mawar keluar dia melihat Steven yang menunggunya.
"Ada apa mencari aku," tanya Mawar.
"Bisa bicara sebentar ada yang ingin aku katakan padamu," ujar Steven.
"Disana saja," tunjuk Mawar pada kursi tunggu.
Steven mengekor di belakang Mawar, Mawar duduk begitupun juga dengan Steven yang ikut duduk.
"Mau bicara apa, tumben sekali kamu ingin berbicara, setahuku beberapa hari kita bertemu di sekolah kamu cenderung pendiam dan tidak ingin berbicara dengan murid yang ada di kelas," ujar Mawar dingin.
"Apa karena aku diam makanya kamu tak ingin bicara denganku,"
"Langsung saja apa yang ingin kamu bicarakan?" tanya Mawar lagi.
"Begini... Aku menawarkan pekerjaan padamu, mamaku sedang mencari orang dengan gaji yang lumayan, itupun jika kamu mau, ini alamat aku. kamu bisa datang jika kamu mau, tapi bila tak mau buang saja," ujar Steven memberikan secarik kertas berisi alamat tempatnya tinggal.
Mawar meraihnya dan melihat tulisan tersebut.
"Oh ya, aku mau mengambil pakaian yang kemarin aku loundry apa sudah selesai?" tanya Steven.
"Ini," Mawar memberikan pakaian loundry Steven dan mengambil kembali kertas yang di sodorkan oleh Steven.
"Ambil saja kembaliannya, datanglah jika kamu berminat tapi jika tidak juga tidak apa-apa," ucap Steven lalu pergi meninggalkan loundry.
Mawar menatap pada kertas yang diberikan Steven tadi, dia tidak bisa menerima pekerjaan begitu saja. akan dia pikirkan nanti, disimpannya kertas tersebut ke dalam satu celananya. Lalu Mawar melanjutkan pekerjaannya.
Steven memacu laju motor besarnya menuju ke rumahnya dia berharap Mawar mau menerima tawarannya.
Meski dia dan Mawar tidak saling berbicara entah mengapa insting Steven ingin melindungi gadis itu.
Sampai di rumah diberikannya laundry-an itu kepada mamanya.
"Makasih ya sayang baik bener sih anak mama,"
Steven tersenyum dan meninggalkan mamanya yang duduk di ruang keluarga.
__ADS_1
****
Di sekolah
Steven mendorong tubuh Mawar agar menjauh dari tubuhnya. Ia rebahkan tubuh Mawar di atas lantai tepat berbaring di sampingnya. Steven pun bangkit untuk duduk dan membenarkan posisi kursi untuk bisa berdiri lagi.
Kursi yang di duduki Mawar rusak dan pasti ulah Melisa dan kawan-kawan, karena hendak menolong Mawar akhirnya Steven pun jatuh dengan posisi Steven di bawah.
Steven memegang tempurung kepalanya yang terasa sakit, lanjut menoleh pada Mawar. Ia melihat ada hal yang aneh, mata Mawar terpejam dan membuat Steven mendekatkan wajahnya, namun tiba-tiba mata Mawar terbuka membuat Steven mundur seketika.
"Mawar, kamu nggak apa-apa kan? Apa mereka sering melakukan ini padamu?" Steven mencolek pipi Mawar.
Namun anehnya, tetap tak kernyitan sedikitpun dari wajah Mawar, gadis itu masih bergeming menatap Steven.
Juna pun menghentak nafas sebal, dia cemburu Mawar dekat dengan Steven! Aku ingin sekali memukul wajah sok tampan Steven itu! Mawar ingin kamu memperhatikan aku tapi apa, sedikit pun kamu tak pernah melirikku, kan?
"Kenapa kamu tak bergerak apa kamu pingsan Mawar," ujar Steven datar.
"Ya Allah, beneran pingsan ini, mah," Steven geleng-geleng kepala, "Ya Allah, apes banget nasibku ini. Nolongin gadis kok yang kaya begini. Untung aku suka. Ya ... walaupun cantik, sih ...." Steven memelankan kalimat 'cantik' karena jaim.
Dengan hentakan nafas kesal, Steven pun mengangkat tubuh pingsan Mawar untuk di bawa ke UKS. UKS ada bagian ujung sebelah kanan, tapi steven tak merasa sulit sedikitpun ketika mengangkat tubuh Mawar.
"Ya Allah, capek! Ngenes banget nasibku. Kok bisa nolongin ni bocah tapi malah harus ngurusi dia lagi? Model kaya begini di taksir, aku sih mau. Kerempeng banget lagi badannya. Enteng mbuanget ngangkatnya kaya ngangkat guling!" Steven menggerutu kemana-mana.
****
Setelah tubuh Mawar mendarat di atas kasur UKS, Steven mulai bingung. Harus dengan cara apa ia menyadarkan Mawar?
Steven melangkah maju, mundur lagi. Melangkah lagi, mundur lagi. Begitu seterusnya hingga melewati waktu sekitar 2 menit.
Steven mencari minyak angin atau sejenisnya yang beraroma terapi namun sepertinya Mawar tak memiliki benda semacam itu. Di UKS pun hanya terdapat beberapa obat pertolongan pertama saja dan tak ada apapun lagi.
Steven geledah lemari dan semua laci UKS, namun tetap saja, Steven tak menemukan apapun. Petugas UKS sedang tidak masuk karena sedang sakit.
"Kemana minyak telon atau minyak angin di letakkan? Apa di sembunyikan oleh petugas UKS?" gumamnya.
Hingga akhirnya steven pasrah, ia duduk di tepi ranjang tempat Mawar berbaring. Steven perhatikan wajah Mawar yang terpahat indah, Steven menyipitkan mata dan penasaran ingin melihatnya dari jarak yang lebih dekat.
Kepala Steven maju dan mengamati bentuk wajah Mawar yang mirip bule.
__ADS_1
Steven melihat, kelopak mata Mawar bergerak sangat indah dengan hiasan bulu mata panjang yang melentik. Hindungnya pun terpahat sempurna, sepertinya Tuhan sedang merasa bahagia ketika sedang memahat hidung Mawar.
Apalagi bibirnya, bibirnya begitu kecil, merah dan menggoda tanpa polesan lipstik. Sedangkan alis Mawar, alisnya sangat rapi dan tebal meskipun tanpa di gambar dengan pinsil alis.