Mawar

Mawar
Bab 18 benih-benih Cinta


__ADS_3

Semua itu terlihat kontras, karena anggota wajah Mawar terpahat sempurna di permukaan kulit Mawar yang putih dan glowing meski dia tak menggunakan bedak mahal.


Untuk sejenak, Steven sangat terpukau dengan kesempurnaan ciptaan Tuhan itu. Tapi, lagi-lagi Steven mengembalikan kesadarannya dengan memukul keningnya.


"Aku tidak boleh jatuh cinta," gumam Steven membentengi dirinya.


"Aku akan menjaga cinta ini, cinta ini cuma milik Jesica Lim, suatu hari nanti aku akan kembali ke Korea bertemu dengannya. Jesica gadis yang sangat baik pada ku dan orang tuaku, dari pertama kali kami kenal Jesica selalu bisa membuat aku dan keluarga nyaman bersamanya.


"Iya aku takkan menghianati Jesica, dialah cinta pertamaku dan terakhirku, aku hanya kagum dan kasihan saja pada Mawar, dia gadis yang baik tapi selalu mendapatkan perlakuan tak baik dari orang sekitar."


Steven pun memandang Mawar yang masih pingsan, "Mawar... bangun Mawar..." Steven mengguncang bahu Mawar. Namun, Mawar masih tak mau bangun.


Steven pun mendekatkan wajahnya ke telinga Mawar. Nampak jelas kelopak mata indah Mawar terpampang jelas di dekat mata Steven yang bibirnya siap berbicara di telinga Mawar.


"Bangun... Kalau kamu nggak mau bangun ntar aku cium nih... Atau sengaja ya pengen di cium aku...," Steven berbisik lembut di telinga Mawar.


Mawar langsung menarik dirinya! Mawar bangun tiba-tiba dan langsung duduk. Steven dan Mawar memegang kepala masing-masing karena kepala mereka saling terbentur.


"Kamu! Apa yang kamu lakukan?! Kamu sengaja ya mau ambil kesempatan dalam kesempitan?" ujar Mawar begitu semangat meskipun kepalanya sakit.


Steven pun mengusap pelipisnya yang nyeri, "Siapa juga yang mau ambil kesempatan disaat kamu pingsan! Ogah aku, tadi aku cuma mengancam, abisnya kamu pura-pura pingsan terus!"


"Aduuh..." Steven masih memegang pelipisnya yang merah.


Mawar menggeleng cepat, "Aku nggak percaya! Tadi aku dengar dengan jelas kamu bilang mau cium aku kalau aku nggak sadar!" Mawar jengkel dan menimpuk kepala Steven dengan kotak obat yang ada di dekatnya.


"Idih! Mawar kamu ini kasar banget sih, jadi orang! Main timpuk-timpuk aja!" Steven merebut kotak obat dari tangan Mawar.


"Salah sendiri gangguin aku, makanya jangan begitu lain kali, jadi nggak akan aku timpuk,"


"Hist!" Mawar menimpuk kepala Steven lagi dengan ballpoint yang ada di atas meja, "Nyebelin kamu, Steven! Mentang-mentang aku pingsan kamu macem-macem sama aku!" ucap Mawar memberenggut.


"Ini kepala di fitrahi loh, kamu sembarangan aja main timpuk, aku aduin ke mama, kamu pasti kena semprot!" Steven mengacungkan jempol terbalik. "Kamu itu orang cuma jatuh dari kursi kok bisa pingsan,"


"Cuma, kamu bilang?! Kamu bilang kejatuhan kursi itu CUMA?!" Mawar mengangkat tangannya ke udara akan memukul Steven tapi di urungkan nya.


Namun, niat Mawar gagal karena gerak Steven lebih gesit untuk menangkis tangan Mawar. Steven menatap kedua bola mata Mawar begitupun sebaliknya mereka saling menatap cukup lama.


"Nggak bisa mukul! Week! Mawar melati semuanya indah, jangan kasar jadi cewek!" Steven menjulur-julurkan lidah mengejek.


"Kurang asem kamu, Stev!" Mawar merangkak menghampiri bantal kecil yang terletak di kakinya dan hendak dia lemparkan pada Steve yang mengejeknya.


Mawar kesal melihat steven yang tertawa terpingkal-pingkal seolah menertawainya. Dan tanpa basa-basi lagi, Mawar pun mengangkat tangannya ke udara, dan bersiap akan melakukan sesuatu pada Steven yang selalu saja mencari ribut dengannya.


"Mawar! Tak laporkan polisi kamu, Mau! Ini KDRT namanya Mawar!" candanya.

__ADS_1


"Laporin aja ke polisi! Biar kamu juga tak laporin karena sudah berbuat mesum kepadaku!" Mawar memberenggut kesal. Mawar pun menangis dengan mata yang di kucek-kucek seperti anak kecil sembari mengeraskan suaranya membuat Steven kebingungan.


Steven menoleh kesana kesini takut ada yang datang dan memergoki mereka berdua di ruang UKS apalagi Mawar sedang menangis pasti orang akan salah paham.


"Maaf, Mawar. Iya-iya, udahan nangisnya ya." gumam Steven. Ia pun meninggalkan Mawar yang masih menangis.


Mawar memandang kesal tubuh Steve yang sudah keluar dari tempat itu dan ntah mau kemana, "Bukannya di tenangin malah pergi ntah kemana. malah nyelonong gitu aja! Gak sopan bocah itu!" ucap Mawar kesal.


'ngeselin banget, tapi aku bersyukur karena Steven mau berteman dengan ku, tak seperti mereka yang selalu mengolok aku, Steve dia tak banyak ingin tau seluk beluk keluarga ku.'


Tiba-tiba, Steven datang dengan membawa sesuatu di tangannya, "Nih!" Steven menyodorkan sebatang coklat dan minuman yang di belinya di kantin sekolah.


Mawar mengangkat wajahnya yang sudah tak karuan. Sebatang coklat dan minuman dingin kini sudah berada tepat di depan Mawar, Mawar belum mengambilnya dia hanya menatapnya dalam diam.


"Apa itu, Steven?" lirih Mawar seraya mengusap air mata. Sebagian wajah Mawar sudah tak terlihat karena tertutup rambut yang semerawut.


"Ini coklat, kali aja mood kamu setelah makan ini membaik! Siapa bilang batu bata!" Steven duduk di tepi ranjang tepat di samping Mawar.


"Makan dulu, Mawar coklatnya! Aku belum makan, aku juga mau! Jangan di habiskan sendiri." pekik Steven.


Mawar menggeleng dengan cepat, "aku nggak mau makan! Aku nggak nafsu makan! Apalagi di bagi dua, enak aja kalau niat ngasi itu ya nggak usah di harepin lagi di bagi," Mawar nggak bisa membagi coklat itu.


"Ya Allah, Mawar. Bener-bener kamu ini kaya bocah. Udah tua tapi makan masih di suapi?"


"Bodo amat kamu mau bilang apa, steven! Pokoknya aku udah gak nafsu makan semenjak kenal sama kamu! Kamu itu super nyebelin," ucapnya dengan bibir mengerucut.


"Nih, makan!" Steven menyodorkan coklat itu di depan wajah Mawar dengan membuang wajah kesal. Mawar sedikit terkejut ketika Steven mau menyuapinya.


"Steve! Kalau nyuapi itu ke mulut! Bukan ke mata!"


Steve, mengernyitkan alis. ia tolehkan kepalanya untuk melihat Mawar, Steve pun hampir saja tertawa karena suapannya ternyata salah sasaran menuju mata Mawar..


"Biarin mata Mawar makan juga! Biar gak nangis terus! Cengeng! Aaaaaa ...!" Steve menurunkan sendok itu menuju bibir Mawar .


"Gimana rasanya? Enak kan? Steven mengangkat kerah bajunya.


"Idih! GR! Biasa aja!!" Mawar berdusta.


"Ah, masa?!" Steven mengambil sisa coklat lalu ikut memakannya juga.


"Aaaaaa ....!" Mawar membuka mulutnya lagi.


"Idih! Enak kan? Itu mau lagi, berarti moodnya udah bagus!" Steven tertawa.


Tiba-tiba, Steven membenarkan rambut Mawar yang ada beberapa helai menempel di pipi. Mawar pun merasa terkejut ketika Steve memegang pipinya.

__ADS_1


"Rambutmu kaya sarang walet, Mawar! Njelimet! Sini tak rapihi!" Steve meletakan coklat di atas kasur, lalu ia mengambil sisir dan ikat rambut Mawar yang tadi Steve lihat ada di ruangan itu.


Dalam mulut yang sedang mengunyah, Mawar bingung melihat gerak gerik Steven, "Mau apa kamu, Steve?!"


"Gak usah cerewet!"


Setelah itu, steven menyisiri rambut Mawar yang sangat berantakan, "Gak usah GR, Mawar! Risih aja aku lihat rambut modelan kaya begini! Persis kaya sarang walet!"


"Emang walet punya sarang?!"


"Tau, ah!" Steven pun telah selesai menyisiri rambut Mawar sampai rapi. Setelah itu, Steven pun mengambil ikat rambut berbandul Hello Kitty yang ia letakan di dekat ranjang.


Tapi sebelum Steven memasangkan ikat rambut itu, Steven menyempatkan diri untuk menyuapi Mawar lagi. Tentu tangan kiri Steven menggenggam rambut Mawar yang sudah siap diikat, sedangkan tangan kanan Steven mengenggam coklat untuk menyuapi Mawar makan.


Ada rasa deg-degan aneh yang sedang Mawar rasakan. Baru kali ini ada orang lain yang memperlakukannya seperti itu. Bahkan ini kali pertama dia rasakan saja belum pernah menyisir dan mengikatkan rambut Mawar seperti Steven. Rasanya benar-benar aneh namun Mawar terus mengunyah karena perutnya sangat lapar.


"Dah, siap!" Steven pun meletakan sisir tadi ketempat semula. Steven berbalik badan dan memandang wajah Mawar dengan cepolan rambut yang membuat bahunya nampak jenjang dan bertambah elegan.


"Nah, kalo gitu kan, kamu jadi tambah jelek! Sip!" Steven mengacungkan ibu jari.


"Semprol kamu, Steve!" Mawar melempar tubuh Steven dengan ballpoint namun tak sampai kena.


"Masih berani lempar?!" Steven melotot, "Makan sendiri kamu, Mawar!" Steven melipat tangannya di perut dan membuang muka.


"Tega kamu, Steve! Aku mau cokelat nya." Mata Mawar berkaca-kaca.


Plak!


Steven menepuk dahinya, "Ya Allah, Mawar! Matamu itu ada bawang gorengnya, apa?! Dikit-dikit mewek, dikit-dikit mewek! Cengeng!" Steven mendekat dan duduk lagi di tempat semula.


"Ya udah ayo, cepetan! Aaaaaa ...!"


"Aaaaam ...!"


Mawar sangat bahagia di perhatikan, sungguh dia tak ingin melewatkan momen indah yang baru dia rasakan.


**


Setelah berjibaku dengan menyuapi Mawar yang sekarang sedang kekenyangan, tak terasa hari sudah sampai di siang hari. belum. sekolah telah berbunyi, pertanda jam pelajaran telah usai.


"Mawar aku pulang ya, sampai ketemu besok."


Steven pulang dan begitu tiba di rumah dia segera berlari kecil menuju ke lantai atas kamarnya.


Steven yang baru saja selesai mandi tiba-tiba menumbangkan tubuhnya di atas kasur yang di sampingnya terdapat foto Mawar yang sedang melamun

__ADS_1


Steven menyipitkan matanya untuk memandang Mawar. Steven tau pasti di kamarnya tidak ada foto Mawar lalu mengapa bisa sekarang ada foto Mawar di kamarnya, bagaimana bisa...? Steven menggelengkan kepalanya, itu bukan foto Mawar, ternyata itu foto kucing.


__ADS_2