Mawar

Mawar
Bab 20 Takut Ketauan


__ADS_3

Huek... Huek...


Juwita sangat lemas sudah entah berapa kali dia bolak-balik ke kamar mandi untuk memuntahkan isi perutnya.


Dia masih kepikiran jika Mawar berkata kepada tantenya, lalu tantenya Keyla memberitahukan hal ini kepada neneknya.


Maka musibah besar akan terjadi di rumah itu.


Pagi ini ayahnya baru pulang dari luar kota setelah sebulan lamanya ada urusan kerja disana.


"Non Juwita di panggil nyonya besar, mereka sudah menunggu di ruang makan," seru bi Nani di balik pintu kamar.


"Iya bi sebentar lagi aku kesana," sahut Juwita.


Juwita mencuci wajahnya lalu dia memandang wajah pucatnya itu di depan cermin, dia harus memoles sedikit wajahnya agar tidak ada yang curiga.


Setelah dia memoles wajahnya barulah dia turun ke bawah untuk makan bersama keluarganya.


"Pagi sayang... Sulungnya papa cantik sekali, sebulan nggak ketemu kamu papa lihat agak kurusan," seru Abdillah ayah Juwita.


"Pagi pa... Mungkin karena sering begadang, makanya jadi kurus," sahutnya.


"Begadang...? Jangan lagi ya nak, itu nggak baik buat kesehatan, ayo duduk kita makan sama-sama," ajak Abdillah.


"Pa... Anak papa itu nggak cuma kak Juwita doang," ucapnya dingin.


Abdillah memandang Melisa lalu tersenyum pada putri keduanya itu.


"Iya... Anak papa kan dua, Juwita dan kamu Melisa, kalian itu berliannya papa,"


Priska yang senang melihat suaminya begitu perhatian pada anaknya, sebulan tanpa adanya suaminya di sampingnya membuat dia terbiasa sendiri dan selalu saja berkumpul dengan anggota arisan yang di naunginya.


"Sudah-sudah. Ayo duduk kita sarapan bersama," ucap nenek Asih menghentikan pembicaraan mereka.


Huek... Huek...


Juwita yang bergolak saat mencium wangi masakan membuat dia tidak bisa menahan dirinya.


Juwita bangkit dan berlari meninggalkan ruang makan menuju ke kamar mandi yang ada di ruang utama.


Tubuhnya berkeringat dingin menahan sesuatu yang mendorong untuk dikeluarkan tetapi itu susah dilakukannya.


Ting tong Ting tong


Bel berbunyi...


"Bi Nani tolong di buka ya," seru ibu Asih.


"Baik nyonya,"


Bi Nani berjalan tergopoh-gopoh menuju ke arah pintu, lalu membuka dan raut wajahnya berubah senang melihat anak majikannya pulang ke rumah.


"Non Keyla... Masuk non, semua ada di ruang makan, sedang akan sarapan... Non udah makan," ucap bi Nani.

__ADS_1


"Makasih bi, aku udah sarapan kok, mama juga di ruang makan kan?"


"Iya non,"


Keyla berjalan ke arah ruang makan dan saat bersamaan Juwita baru saja tiba dari kamar mandi.


Begitu melihat Keyla tubuh Juwita tak bisa bergerak, apa ini akhir dari hidupnya? Apa Mawar sudah memberitahukan semuanya pada Tante Keyla?


"Keyla, sini nak," ujar ibu Asih berdiri karena begitu senang.


Keyla maju sembari memperhatikan wajah Juwita yang sangat pucat.


Jantung Juwita serasa berhenti berdetak dia takut detik ini juga tantenya akan memberitahu hal itu kepada nenek Asih.


Sejak tadi hatinya terus berkata "bagaimana ini... bagaimana ini,"


"Duduk nak, kita sarapan sama-sama, ini mas mu baru pulang malam tadi," seru ibu Asih memberitahu putrinya bahwa menantunya itu ada di rumah.


"Apa kabar mas," kata Keyla berbasa basi pada Abdillah suami Priska kakaknya.


"Baik key...,"


"Juwita ayo duduk, perut kamu sakit ya...? Atau mau makan sesuatu yang lembek? Biar di buatin sama bi Nani," tawar Priska ibunya.


"Kamu sakit Juwita?" tanya Keyla.


"Ti... Tidak tante," sahutnya gugup.


"Kenapa kamu gugup begitu? Kayak ada sesuatu yang kamu tutupi dan takut ketauan," sindir Keyla.


Jantung Juwita serasa berhenti berdetak, apa Mawar sudah memberitahukan semuanya pada tante Keyla, pikirnya.


"Jangan banyak bicara Keyla, katakan tujuanmu datang," ucap Priska.


"Loh, emang Keyla tinggal dimana? Kenapa kamu bicara demikian," tanya Abdillah yang merasa ada sesuatu di antara kata-kata istrinya.


"Aku tinggal dengan Mawar dan mbak Maya mas,"


"Maksudnya di rumah belakang? Kok bisa?" Abdillah masih belum tau apa-apa dia kebingungan ternyata banyak yang terjadi selama dia tak di rumah.


"Aku mengontrak dengan mereka yang tidak munafik seperti orang yang tinggal di rumah ini,"


Kening Abdillah berkerut, dia semakin tak mengerti. Ntah apa yang terjadi hingga dia melewatkan sesuatu yang penting di rumah itu.


"Sudah...! Ayo duduk Keyla, mama rindu sama kamu, dan kamu Juwita kenapa berdiri terus?" potong nenek asih mengakhiri percakapan anak bungsu dan menantunya.


Keylapun duduk tepat di samping ibunya, Keyla melirik ke arah Juwita yang masih bergeming di tempatnya.


Tamatlah riwayatku pikir Juwita.


"Kita makan dulu, jangan ada yang bicara selama kita belum selesai makan," ucap nenek Asih memerintah.


"Ayo sayang duduk," seru nenek Asih pada Juwita.

__ADS_1


"Aku... Aku tak enak badan lebih baik aku ke kamar saja nek,"


Juwita hendak membalik badan tapi...


"Kamu nggak sopan Juwita, tante baru saja datang dan kamu main pergi saja, apa kamu takut Tante berbicara sesuatu pada semua yang ada disini tentang kamu?"


"Apa maksud tante bicara demikian,"


"Apa perlu tante menjawabnya, mungkin baiknya kamu sendiri yang memberitahukannya,"


"Cukup Keyla!! Sejak tadi aku lihat kau terus menyudutkan anakku, apa tujuanmu sebenarnya!! pekik Priska marah sembari menggebrak meja.


"Ini meja makan, kita mau sarapan disini, kanapa kalian bertengkar, Keyla, Priska dan kamu Juwita, ayo kalian duduk dan diamlah sebentar,"


"Juwita...,"


"Baik nek."


Juwita melangkah perlahan menuju meja makan, dia duduk di samping Melisa yang acuh sejak tadi.


Akhirnya mereka makan tanpa perdebatan lagi, Juwita mual mencium wangi masakan yang terhidang di atas meja, tapi sebisa mungkin dia menahan dirinya untuk tidak muntah.


Tubuhnya berkeringat dingin, tangannya meremas kuat baju yang dia kenakan, udara terasa panas membuat buliran keringat mengalir dari dahinya.


Keyla memperhatikan gadis itu sejak tadi, tapi dia tak bisa bicara sekarang jika tidak ingin mama nya marah.


Keyla sudah makan di kontrakan tadi tapi demi menghormati ibunya Keyla menuangkan sedikit nasi dan lauk ke piringnya.


"Aku udah selesai, kalau begitu aku berangkat sekolah dulu," pamit Melisa pada semuanya.


"Hati-hati Melisa, jangan sampai salah jalan kamu," ucap Keyla memperhatikan.


"Tersesat dong tante," sahutnya asal.


Keyla menautkan kedua tangannya diatas meja, lalu siku tangannya membentuk sudut 90 derajat dan di jadikannya sebagai tumpuan dagunya.


Semua sudah selesai sarapan, kini bi Nani membereskan meja dan isinya. Mereka hendak beranjak dan ini kesempatan Keyla pergi dari ruangan itu.


"Kalau kamu ingin bicara sebaiknya kita ke rumah keluarga, kita bicara disana, mau berdua dengan mama atau kau ingin kita semua disana," ucap nenek Asih.


"Tentu aku ingin semua ada di ruang keluarga, jadi semua akan mendengar apa yang akan aku sampaikan termasuk kamu Juwita, jangan pergi," cegah Keyla.


"Kalau kamu benar kamu tidak perlu takut, ayo kita semua bicara di ruang keluarga," ajak Keyla.


'kenapa Keyla sejak tadi terus saja menyindir anakku Juwita, apa ada sesuatu yang aku tak tau tapi Keyla mengetahuinya? pikir Priska.


"Maaf Key... Jangan terus menyudutkan putriku, atau kamu berurusan denganku,"


"Mbak... Juwita keponakan aku loh, kenapa memangnya kalau aku ingin mengajarinya, anakmu itu jangan di manjakan mbak, kalau nggak ingin ngelunjak,"


"Heh! Anakku adalah anak yang baik, tidak seperti keponakan kamu yang terlahir sebagai anak haram!"


"Memang Mawar terlahir karena kesalahan tapi sifat dan sikapnya..."

__ADS_1


"Cukup!!!" bentak nenek asih.


__ADS_2