Mawar

Mawar
Bab 22 Jangan sampai seperti Maya


__ADS_3

"Tante Juwita sedang sakit, dia pingsan,"


Aku yang sedang memilih kangkung di gerobak sayur, seketika mengalihkan pandang ke arah kanan badan jalan dimana sumber suara berasal.


"Juwita...," Panggil ku melihat anak yang aku sayang dalam gendongan seorang lelaki yang aku kenal, Ruli namanya dia anak tetangga sekaligus teman sekolah Juwita dulu.


"Juwita kenapa Ruli, kamu apain dia hah!" ucapku marah.


"Eh, aku nggak ngapa-ngapain dia tante,   jangan salah paham,"


"Cepat bawa Juwita ke klinik buk Dewi, kita harus memeriksakan kesehatannya,"


Ruli mengangkat Tubuh Juwita, selain karena seumuran dengan Juwita, Ruli juga merupakan temen berantem baginya.


Ketika sudah sampai Ruli memerintahkan Bu Dewi untuk memeriksa kesehatannya, demi menghilangkan rasa gelisah di hati Tante Priska aku mengajaknya bicara.


"Bu, sebenarnya anak aku ini kenapa?" tanya Priska


"Saya cek dulu... Mana saya tau jika di berondong ingin tau keadaan nya terus.


Selanjutnya, perkataan ibu-ibu tak lebih dari sebuah dengung semata. Aku tidak peduli dengan spekulasinya, karena benakku sibuk memikirkan Juwita.


Mengabaikan belanjaan, aku bergegas lari mengekor di belakang Ruli. Aku harus membuktikan kalau ucapan Keyla waktu lalu tidak terbukti adalah kebohongan.


Butuh waktu setengah jam untuk sampai di praktek bidan. Halaman  lengang, hanya suara musik yang  terdengar mengalun pelan.


Aku berulang kali menghela napas, sebelum akhirnya mengetuk pintu Bu bidan.


"Masuk Bu, saya sudah memeriksanya dan saya rasa ada sesuatu yang terjadi pada Juwita,"


"Apa itu bu? Tolong cepat katakan," sahutku dengan tubuh panas dingin. Semoga saja tidak seperti yang sudah di katakan oleh Keyla, Juwita ku tidak begitu.


"Tapi ini hanya dugaanku saja, lebih baik anda periksakan Juwita ke rumah sakit karena disana lebih akurat,"


Aku mengernyit mendengar perkataan Bu bidan selanjutnya, dia masih ragu, syukurlah kalau begitu ini adalah kemungkinan yang baik jika putriku tak melakukan sesuatu yang merugikan dirinya sendiri.


"Tapi bu, menurut anda putriku kenapa?"


"Maaf loh bu, tapi jangan tersinggung ini hanya dugaan ku saja, sepertinya Juwita berbadan dua,"


'apa dia bilang... Berbadan dua, tidak mungkin bukankah dia saja tidak yakin, aku juga tidak yakin dengan ucapannya.'


Aku keluar dengan membawa amarah dan cemas yang membuncah. Otak berpikir keras, menerka-nerka iya atau tidak, aku harus segera membawa Juwita ke rumah sakit untuk di periksa secepatnya agar hati ini tidak bimbang begini.


"Kalau begitu saya akan membawa Juwita ke rumah sakit bu,"

__ADS_1


"Begitu lebih baik."


Beberapa orang membantu aku mengangkat tubuh kurus Juwita, anakku itu sekarang sangat pucat dan tubuhnya terasa dingin.


****


Tiba di rumah sakit, Juwita langsung di bawa ke ruang perawatan, di ambil darahnya untuk di periksa lalu dokter melakukan pengecekan menyeluruh pada tubuh anakku.


Ku pandangi tubuh kurus Juwita yang terbaring di rumah sakit, apa aku harus memberitahukan kepada orang rumah tentang keadaan Juwita?


Kupikirkan lagi, sepertinya tidak usah saja, biar aku yang menjaganya disini sendiri dan menunggu hasilnya.


Sampai sekarang Juwita belum juga sadar, sebenarnya apa yang terjadi pada anakku itu.


"Tante... Bagaimana kondisi Juwita?" tanya Ruli yang baru saja datang.


"Masih sama seperti saat kamu bawa," sahutku datar.


"Semoga Juwita tidak sakit serius tante," serunya dan aku hanya memandang wajah Ruli sepintas.


"Nyonya hasil lab nona Juwita sudah keluar, anda di minta dokter untuk keruangan nya!"  ucap seorang suster memberitahukan.


"Makasih suster,"


"Ruli, tante titip Juwita sebentar ya, Tante mau lihat hasil lab Juwita ,"


Aku berjalan menuju ke ruang dokter, di dalam hati aku berdo'a semoga Juwita tidak sakit serius.


Tok tok tok


"Masuk," terdengar kata perintah dari dalam.


Ceklek


"Ibu Priska silahkan duduk, agar kita membuka hasil lab dari putri anda,"


Ku tunggu dengan perasaan risau, dokter lama sekali membukanya. Mengapa tinggal buka dan jelaskan saja dia lama sekali, pikirku.


Dokter membaca kertas itu, wajahnya sebentar melihatku dan kembali lagi melihat pada kertas itu, ingin rasanya aku tarik saja dan melihat sendiri hasilnya.


"Dokter, katakan ada apa dengan putriku? Dia tidak sakit serius kan?"


Dokter menghela nafas, "Begini Bu, Juwita dalam kondisi ha... mil, dan dia sepertinya berniat menggugurkannya dengan cara mengkonsumsi nanas muda, itu menyebabkan kondisinya seperti ini sekarang,"


Deg

__ADS_1


Apa katanya... Ha... mil, tidak mungkin Juwita ku tak mungkin menyakiti perasaan ku.


Dokter menjelaskan kondisi Juwita saat ini dan hampir saja janinnya itu tak selamat.


Aku kembali ke ruang rawat Juwita, rasanya tubuhku lunglai tak berdaya, apa Keyla sebenarnya sudah tau tentang kondisi Juwita sehingga dia menyindir dan berkata menyinggung waktu itu.


Juwita terisak-isak, menekuk lutut dan memeluknya erat-erat.


Ku tatap tubuh Juwita yang membenamkan dirinya pada lututnya. Ruli menatap aku, aku memberinya kode agar dia keluar dengan sedikit menggeser kepalaku ke arah pintu keluar.


Ruli paham dan dia mengangguk.


Air mata menetes di pipi seiring langkah ku mendekati putriku, ku pegang pundaknya agar dia bisa menatap aku dan mengatakan siapa lelaki brengsek itu.


"Katakan pada mama Juwita, siapa lelaki itu?" Juwita semakin terisak mendengar pertanyaan ku.


"Jawab Juwita!!!" bentakku padanya.


****


"Mules, Ma," ujar Juwita dengan tatapan mengiba. Tangannya memegangi perut, bahkan menekannya kuat-kuat.


"Obatnya sedang bekerja Juwita, kamu harus menahannya, siapa suruh kamu bungkam soal lelaki itu hah! Andai kamu katakan siapa dia kita tak perlu melakukannya, kita tinggal minta dia bertanggungjawab saja padamu semua selesai," ucapku dengan nada naik satu oktaf.


Aku sudah membawa Juwita pulang dan tak mengatakan apapun pada semua orang di rumah termasuk suamiku.


Sebisa mungkin ku tutup rapat aib ini agar tak ada yang tau, aku tak ingin Juwita seperti Maya.


Juwita memegang perutnya, dia berguling di atas kasur, tubuhnya meringkuk menahan sakit yang pastinya luar biasa.


Aaaaa


"Mama tolong... Ini sakit sekali," jeritnya.


Ku dekati Juwita dengan cepat lalu membungkam mulutnya agar tak bersuara, jangan sampai orang di rumah ini mendengar apalagi mengetahui keadaan Juwita.


Obat pelu ruh kandu ngan yang aku beli online sedang bekerja, tapi mengapa lama sekali, kasihan Juwita menahan sakit begitu hebatnya terlalu lama.


Ku dekati tubuh Juwita ketika Ruli sudah menutup pintu dengan sempurna.


Keringat dingin bercucuran dari kening Juwita, wajahnya semakin pucat pasi, rintihannya perlahan menghilang tergantikan Juwita yang tak sadarkan diri.


"Juwita... Juwita...," panggilku sembari mengguncang tubuh anak sulung ku itu.


Tapi dia diam saja.

__ADS_1


Tidak ada pergerakan sama sekali, apa yang terjadi sebenarnya, Juwita pingsankah.


__ADS_2