Mawar

Mawar
episode 37


__ADS_3

Mawar menelan ludahnya dengan susah payah ia benar-benar kesal pada Gaffin yang selalu menggodanya dan sekarang ia di hadapkan pada dua pilihan yang menurutnya sulit.


"Ayo jawab kamu maunya dimana" tanya Gaffin lagi.


Mawar menghindari tatapan Gaffin yang membuatnya tambah gugup, ia juga kehilangan akal untuk mencari alasan menghindar dari dua pilihan yang menurutnya malah menguntungkan Gaffin.


"Baiklah kalau begitu aku cium bibir kamu aja" Gaffin memutuskan sepihak dan dengan cepat menarik pinggang Mawar agar lebih dekat dengannya.


Mawar yang mendengar penuturan Gaffin dan langsung melototkan matanya, apalagi Gaffin yang tiba-tiba menariknya agar lebih dekat dengannya.Bahkan dia harus menahan tubuhnya agar tidak sampai menabrak dada bidang milik Gaffin dengan tangan yang kini sudah berada tepat didada Gaffin.


Ia langsung menutup matanya rapat saat Gaffin mendekatkan wajahnya pada Mawar, ia bahkan dapat merasakan hembusan nafas hangat Gaffin yang menerpa wajahnya. Detak jantungnya pun sudah tidak karuan bahkan ia menahan nafas.


Tak lama ia merasakan Gaffin mengecup hidung dan bukannya bibirnya, membuatnya langsung membuang nafas yang sempat ia tahan.Tapi sekarang jarak mereka terlalu dekat dan itu membuatnya sedikit tidak nyaman.


Gaffin tersenyum menatap Mawar yang wajahnya memerah sangat manis saat melihatnya pada jarak sedekat ini "kau tenang saja aku tidak akan kurang ajar mencium bibirmu tanpa seijinmu, menurutku aku akan bebas menciummu saat kau resmi menjadi istriku" ujar Gaffin tanpa melepaskan Mawar.


"Ba..baiklah..eehheemm, baiklah kalau begitu kau bisa melepaskanku kan sekarang" Mawar berucap sambil mengalihkan pandangannya dari Gaffin, ia sungguh tidak sanggup melihat langsung mata Gaffin yang pasti akan membuatnya tambah deg-degan dan gugup.


Gaffin melepas Mawar dan Mawar langsung menjauhkan dirinya dari Gaffin, saat ini ia hanya ingin pergi dari tempat itu sungguh rasanya seperti ia sulit menemukan udara di dalam kamar itu.


"Ya sudah kau pergilah istirahat" Gaffin mengacak rambut Mawar lembut


Mawar tak membuang kesempatan tersebut dan langsung melangkah secepat mungkin, namun saat ia sudah berada di depan pintu Gaffin kembali memanggilnya.


"Mawar" panggil Gaffin namun Mawar hanya berhenti tanpa membalikan badan, "jangan lupa mimpikan aku ya" lanjutnya.


Setelah itu Mawar langsung membuka pintu untuk segera keluar dari kamar Gaffin.Saat ia sudah berhasil di luar dan kembali menutup kamar Gaffin ia menarik nafas dalam-dalam seakan ia baru saja keluar dari tempat yang tidak memiliki udara.

__ADS_1


Dia memegang dadanya dan dapat merasakan detak jantungnya yang masih deg-degan, ia menarik nafas dalam kembali mencoba menetralkan detak jantungnya yang deg-degan karena Gaffin. Namun sialnya ia tidak berhasil dan mengumpat dalam hati 'dasar berondong sialan'


.


.


.


.


.


.


.


.


Mawar terbangun dari tidurnya kerena merasakan ada yang sedang meniup-niup wajahnya, ia perlahan membuka mata dan melihat seseorang sekarang berada di hadapannya dan setelah lebih jelas ia langsung bangun mendudukan diri.


"Kenapa kau bisa masuk" tanya Mawar, ia melirik jam yang ternyata masih menunjukan pukul dua pagi.Mata yang semula susah payah ia buka karena mengantuk kini terbuka jelas.


"Memangnya apa yang tidak bisa aku lakukan, jika hanya membuka pintu kamarmu itu hanya hal kecil bagiku" ujar Gaffin yang kini duduk di tepi ranjang menghadap Mawar.


"Terus apa yang kau lakukan disini, ini masih jam dua pagi.Memangnya kamu tidak tidur" tanyanya heran.


Gaffin mengangguk mengiyakan "aku tidak bisa tidur, bolehkah aku tidur bersamamu?" tanyanya yang membuat Mawar melototkan mata dan ngantuknya tiba-tiba menghilang.

__ADS_1


"Kenapa kau tidak tidur dengan pak Harris saja, itu kan lebih baik"


"Aku tidak mau aku maunya tidur sama kamu, aku janji nggak bakal macam-macam kok" ujar Gaffin dengan nada memohon.


"Tapi Gaffin...." Gaffin langsung menyela omongan Mawar.


"Waktu itu kau juga tidur di kamarku dan kita pernah tidur bersama dan di ranjang yang sama juga"


"Ya...iya, tapi waktu itu kan berbeda.Waktu itu aku sangat lelah dan langsung terlelap saat bertemu kasur selain itu kau juga tidak membangunkanku untuk pindah atau kau berinisiatif pindah sementara di kamarku.Tapi kau malah memilih tetap tidur"


"Aku mohon Mawar, aku mimpi buruk lagi.Apa kau tidak kasihan padaku" Gaffin memasang tampang sedih yang justru membuat Mawar mengkerutkan kening geli dan bukannya kasihan.


"Kau seperti anak kecil dan sangat manja"


"Ayolah aku mohon, aku tidak akan tidur satu ranjang denganmu juga kok"


Mawar menghela nafas berdebat hanya akan membuat waktu istrahatnya terbuang percuma, lebih baik ia mengalah agar semua ini berakhir.Lagi pula seperti yang Gaffin katakan bahwa mereka tidak akan tidur seranjang.


"Ya sudah terserah kau" ujar Mawar kesal dan membuat Gaffin tersenyum senang.


"Kau mau kemana?" tanya Gaffin saat melihat Mawar yang turun dari ranjang membawa satu bantal.


"Aku mau bawa ini di sofa"


"Kamu tidak usah pindah, aku ajah yang tidur di sofa"


Mawar memutar bola jenggah "ini memang buat kamu, memangnya ini buat saya.Enak benar kamunya" ujar Mawar dan langsung melangkah menuju sofa meletakkan bantal.

__ADS_1


"Hehehehhe kirain" Gaffin hanya terkekeh sambil mengaruk tengkuknya yang tidak gatal.


Setelah meletakkan bantal untuk Gaffin di sofa, Mawar kembali merebahkan diri untuk tidur, begitulah pula Gaffin ia juga menyusul Mawar menuju alam mimpi.


__ADS_2