Mawar

Mawar
Bab 24 Juwita 2


__ADS_3

"Mawar apa sekarang kamu menyukai anak baru ini, sepertinya masih lebih tampan aku dibanding dia, lihatlah tubuhnya sedikit kerempeng dibanding aku," ucapnya menghina Steven.


Jari telunjuk Juna menyentuh bahu Steven dan sedikit mendorongnya, teman-temannya yang lain tertawa mengejek karena Steven tidak bereaksi apapun.


"Ma mau apa kamu Juna, lebih baik urusi pacarmu dan jangan ganggu kami," seru Mawar dengan gugup.


"Pacar yang mana aku tidak merasa aku memiliki pacar tuh, atau jangan-jangan kamu sedang cemburu kamu ingin menjadi pacar aku, begitu?"


"Nggak! Siapa yang mau jadi pacar kamu, seandainya di dunia ini sudah habis lelaki dan  hanya tinggal kamu lebih baik aku hidup sendiri selamanya," ucap Mawar.


'kurang ajar dia telah menghinaku habis-habisan di hadapan banyak orang begini, tunggu saja Mawar akan kubuat kamu bertekuk lutut di bawahku, dan kamu akan merasakan kenikmatan yang tiada tara.'


"Jangan munafik Mawar, aku beberapa kali melihatmu mencuri pandang ke arahku, jadi aku yakin kalau kamu punya perasaan padaku" ucap Juna dengan penuh percaya diri.


"Jangan terlalu percaya diri jadi lelaki, apa kamu tahu jika kami telah berpacaran," ucap Steven sembari menarik tangan Mawar lalu memeluknya.


Mawar menelan salivanya mendengar pernyataan Steven kapan mereka pacaran ini hanya akal-akalan Steven belaka, Mawar mendelik menatap Steven yang memainkan sebelah matanya.


"Kalian berpacaran tidak mungkin," tatap jumlah dengan penuh  selidik.


"Kenapa tidak mungkin... kamu lihat kami selalu bersama, jadi ada kemungkinan bukan, jika kami telah berpacaran... kenapa kamu merasa seolah kamu sedang frustasi mendengarkan kami sedang berpacaran,"


Steven mendekatkan wajahnya ke arah Juna lalu berbisik kepada lelaki itu, "apa kamu berfikir ingin menjadikan dia sebagai kekasihmu jangan bermimpi karena dia adalah milikku."


"Ayo Mawar tidak ada gunanya meladeni mereka," tarik Steven kepada tangan Mawar lalu mereka meninggalkan tempat itu.


Teman-teman Juna saling berbisik mereka mengatakan jika Juna kali ini kalah telak dan tidak bisa menjadikan seorang Mawar miliknya. Juna yang selama ini selalu mendapatkan keinginannya kali ini harus mengaku kalah.


Juna mengepalkan tangannya kuat wajahnya merah padam menahan amarah, baru kali ini dia harus mengalah... tidak! dia tidak boleh mengalah masih banyak cara untuk menjadikan Mawar miliknya seutuhnya.

__ADS_1


"Aku bukan orang yang mudah menyerah apa yang aku inginkan pasti akan aku dapatkan begitu juga dengan malam dia akan aku dapatkan," gumam Juna.


Genggaman tangan Steven yang memegang erat tangan Mawar sejak tadi diperhatikan olehnya, Mawar seperti tersihir dia mengikuti setiap langkah Steven yang menuntunnya ke dalam kelas.


"Maaf," ucap Steven yang langsung melepaskan tangan Mawar.


"Tidak apa-apa aku tahu kamu bermaksud menolongku, terima kasih,"


Keduanya duduk di dalam kelas sembari menunggu guru datang, Melisa dan teman-temannya hanya memperhatikan mereka dari jarak jauh, mereka duduk di bagian belakang sedangkan Steven dan juga Mawar keduanya duduk tepat di hadapan meja guru.


Melisa menancapkan ballpoint yang dia genggam tepat mengenai meja yang ada di hadapannya, kenapa kini Mawar harus memiliki teman. teman yang melindunginya, ini tidak bisa dibiarkan dia harus melakukan sesuatu agar Mawar sendiri lagi seperti dulu.


Keempat Gadis itu saling berbisik di belakang entah apa yang mereka rencanakan untuk mencelakai Mawar.


****


Priska menyandarkan tubuhnya yang lemas dia tidak percaya apa yang telah dilakukannya kini harus merenggut kebahagiaan putrinya di masa depan.


"Apa saat membeli anda tidak bertanya kepada penjualnya apa saja efek sampingnya? dan yang saya lihat saudari Juwita mengkonsumsi obat tersebut melebihi dosis yang dianjurkan sehingga berakibat fatal bagi dirinya," ucap dokter.


Priska bingung bagaimana dia menjelaskan nanti kepada anaknya, Apa yang harus dilakukan apabila harus berbohong dengan menyembunyikan semua kebenaran ini, agar anaknya itu tidak sedih terus-menerus.


"Kalau begitu saya permisi dokter," ucap Priska sedih.


Juwita harus kehilangan rahimnya, di masa depan dia tidak akan bisa memiliki anak lagi, apa yang harus dia katakan kepada putrinya itu jika nantinya itu menjadi masalah di keluarganya.


Beban berat yang harus Priska pendam, tapi semua ini akan menjadi bumerang jika nantinya kehidupan rumah tangga putrinya itu menuntut kehadiran anak.


Priska kembali ke ruang rawat Juwita, di tatapnya tubuh anak sulungnya itu yang masih terbaring lemah di atas tempat tidur, perlahan mata Juwita terbuka orang yang pertama kali dia lihat adalah mamanya.

__ADS_1


"Ma...," panggilnya.


"Ada apa sayang, bagaimana kondisi kamu apakah sekarang kamu merasa lebih baik?"


Tangan Juwita bergerak perlahan dia meraba perutnya dia tidak merasakan apapun lagi seperti saat dia mengidam.


Matanya beralih kepada sang Mama yang masih berdiri di dekatnya, "Ma apa anak itu sudah tidak ada di perutku lagi?"


"Sudah tidak ada sayang kita berhasil menyingkirkannya dan sekarang kamu tidak perlu takut nenek akan membencimu," sahut Priska sembari menggelengkan kepalanya.


"Tapi bagaimana jika nenek tahu aku di rumah sakit,"


"Itu mudah... Mama akan bilang jika kamu terkena DBD, jadi harus menginap di rumah sakit. Mama yakin nenek akan percaya dengan perkataan mama, sudahlah kamu tenang saja yang terpenting pulihkan dulu kondisi tubuhmu," ucap Priska meyakinkan Juwita.


Bibirnya keluh, dia tidak bisa mengatakan yang sebenarnya kepada Juwita saat ini... sebab kondisi kesehatan Juwita sedang tidak baik, jadi informasi mengenai Juwita dia tunda dulu sampai kondisi Juwita benar-benar pulih.


'maafkan mama ya yang harus menyingkirkanmu dari perut, tapi ketahuilah jika aku menyayangi mu, kehadiran mu di dunia ini membawa malah petaka, sedangkan mama...mama tidak berani menanggung resiko yang begitu berat yang akan menimpa dirimu maafkan Mama jika mama harus berbuat demikian kepadamu.' ucap Juwita dalam hati.


Priska memilih duduk di sofa sembari menunggu anaknya, sejauh ini semua berjalan dengan aman jadi Priska tidak perlu was-was ataupun khawatir apa yang telah dilakukannya bocor ke mamanya.


"Mah papa mana? Apa dia tidak datang menungguku, lalu Nenek apa dia tidak melihatku disini?" tanya Juwita.


"Papa tadi di sini dia baru saja pulang kalau nenek kamu tahu sendiri kondisi kesehatannya dia pasti sangat mencemaskanmu di rumah, Bukankah kamu adalah cucu kesayangannya,"


Priska menyandarkan kepalanya pada sandaran sofa pikirannya mengingat kembali saat dia berbincang dengan dokter.


"Anda tahu bukan jika anak anda mengkonsumsi obat pelu ruh kandu ngan, harusnya anda tahu resiko yang didapat jika meminum obat tersebut dalam dosis yang tinggi,"


"Atau anda sendiri yang memesan obat itu untuk Putri anda?" tuduh dokter itu.

__ADS_1


__ADS_2