Mawar

Mawar
#GUS MUHAM


__ADS_3

Namanya Gus Muham...lebih tepatnya Muhammad Zainuddin, dia lumayan tampan, tidak terlalu tampan, tapi dia manis, tinggi, dan saat dia bicara begitu sopan, lembut dan menjelaskan keilmuannya.


Dulu dia sempat mondok di pesantren gontor, dan tebu ireng jombang, sejak kecil di pondok pesantren, kini dia sudah berusia dua pulu lima tahun, dia menjadi salah satu guru di Aliyah tempatku belajar.


Ada debaran aneh ketika dia yang mengajar, mungkin ada cinta yang terlarang untuk sekarang, Aku berharap nanti halal, hehehe...menghayal??? mungkin normal seusiaku mengalami jatuh cinta, entah mengapa Aku begitu berdebar saat dia yang mengajar, Aku bahagia dan selalu menantikan jadwal pelajaran darinya.


Dia begitu manis, tak pernah marah atau sekedar menggertak murid-muridnya, Aku ingat saat dia mengajar Nahwu, pelajaran paling sulit jika di pondok adalah Nahwu, mungkin itu strategi para guru, Gus Muham diberi bagian pelajaran Nahwu, agar pada santri semangat belajarnya, entah mengapa saat itu Aku mengantuk hebat, meski Aku melihat dengan jelas manusia manis di depanku, tetap saja Aku tertidur di kelas.


Semalam Aku mengahfal Alfiyah, Aku ingin setor dengan lancar, agar dapat nilai bagus, niat tak dapat di nyana, waktu pelajaran Aku malah tertidur


"Ada yang ngantuk berat nih, apa ada bantal?" semua teman-teman tertawa terbahak-bahak, Aku kaget dan langsung bangun seketika, Aku tak sadar Aku berada di kelas pelajaran Alfiyah Gus Muham, Nahwu-shorof haduw Aku ketiduran.

__ADS_1


"Ma'af Gus....saya tidak sengaja" Aku bicara terbata-bata Aku takut, malu, dan tentu saja sedih.


"Ilmu Nahwy diajarkan, di permudah di nadhomkan di dalam Alfiyah, niat ibnu Malik membuat Nadhom Alfiyah, beliau berniat agar Alfiyah lebih mudah di fahami, di mengerti, di cintai oleh generasi muda setelahnya, ya seperti kalian ini, beliau membuat Nadhom ini tidak tidur-tiduran, beliau serius, memohon pertolongan Allah, Saya harap kalian lebih serius, demi menghargai beliau, juga agar kalian lebih mudah memahami Ilmu-ilmu yang lain" Gus Muham tidak marah, tidak pernah Aku melihat dia marah, tapi mungkin dia kecewa denganku yang mengantuk ketika pelajarannya.


Aku selalu menangis di pondok, Aku selalu ingat dengan orang tuaku, saat Aku menangis teman-teman yang lain pasti langsung merangkul, seakan merasakan sakit yang ku rasakan.


Jama'ah dan mengaji selalu jadi prioritas di pondok, di Pondok Pesantren memang di wajibkan sholat lima waktu secara berjama'ah, apapun alasannya jama'ah tetap wajib kecuali jika halangan waktu haid bagi santri wati.


"Mawar indah, Gus....Ma...ma...ma'af Gus"


seakan kakiku tak berpijak di tanah saking takut dan groginya mengahdap beliau, tapi Aku terpaksa karena buku tersebut sangat Aku butuhkan.

__ADS_1


Biasanya saat keluar Pondok Pesantren, kami santri wati harus minta izin pada ibu nyai, tapi entah kenapa saat Aku yang meminta izin, Aku harus bertemu dengan Gus Muham, katanya Ibu Nyai keluar ada acara, dan jika meminta izin harus menghapat Gus Muham.


"Untuk apa izin keluar, apa ada yang penting?!"


"Ada Gus, membeli buku" Debaran jantungku semakin menjadi, tapi Aku harus bisa menguasai diri


"beli buku, disini tak ada kah?!"


"mboten Gus, habis padahal saya sangat bituh segera"


"Baiklah, tapi perginya jangan sendirian, wanita tidak di perbolehkan keluar seorang diri, harus ada yang menemani" oh ya Allah kata-kata Gus Muham membuatku GR, padahal Aku tahu itu hanya sekedar nasehat tapi Aku menerima dengan sedikit gede rasa.

__ADS_1


Andai Aku bisa kembali berkata ingin Aku berucap pada Gus Muham" Aku ingin sekali di lindungi, Aku akan merasa aman saat bersamamu, Gus...jagalah diri dan hatiku" tentu saja itu hanya ucapanku di dalam hatiku.


__ADS_2