
"Jangan takut Juwita jika kamu nggak melakukan apapun," ujar Keyla.
"Key... Sejak tadi aku diam tapi kau makin menyudutkan anakku, jika kau tak diam maka kau akan aku beri perhitungan,"
"Uuhhh!! Takut," ejek Keyla.
"Sebenarnya ma, tujuan aku datang kesini untuk memberitahukan jika...,"
"Tante...," cegah Juwita.
Kening Keyla menyipit menatap Juwita yang tak sopan memotong pembicaraannya.
"Sudahlah Key lebih baik urungkan niatmu, lebih baik kamu pulang urusi mbak mu yang sakit itu," ucap Priska.
"Suatu hari mbak Priska pasti akan mengalami apa yang di alami oleh mbak Maya, kita lihat saja nanti, dan saat itu tiba mbak pasti akan hancur..."
"Hahaha kamu lucu Keyla, itu adalah sesuatu yang mustahil terjadi padaku," ucapnya pongah.
"Ck, jangan jumawa mbak... Apa yang di rasakan oleh mbak Maya dan Mawar selama ini sebentar lagi akan mbak rasakan!" ucap Keyla dengan nada suara naik satu oktaf.
"Teruslah kamu bermimpi Keyla, karena aku akan tertawa di atas ucapanmu," sahut Priska percaya diri.
"Aku pamit ma, dan jangan kaget jika sebentar lagi mama mendapatkan kabar tidak baik dari orang yang paling mama sayang selama ini." Keyla membalik badan lalu meninggalkan rumah itu.
Juwita meremas ujung bajunya, matanya berkaca-kaca karena dia tau apa yang di ucapkan oleh tantenya itu benar adanya.
Sampai kapan dia bisa menyembunyikan hal itu dari semua orang, ketika perutnya semakin besar pasti semua orang akan curiga padanya.
Keyla memilih pulang sedangkan Juwita berlari kecil menuju ke kamarnya yang berada di lantai 2.
"Priska, tidak biasanya Keyla bersikap seperti itu, aku rasa ada sesuatu yang telah terjadi di rumah ini hanya saja dia tidak mau memberitahukan secara gamblang," ucap Abdillah.
"Biarkan saja dia bicara apa mas, Keyla sekarang memang begitu. mulutnya sudah seperti cabai sejak dia selalu membela Maya dan juga Mawar," acuh Priska dengan omongan suaminya.
Juwita meraung ketika dia sudah mengunci pintu kamarnya, tapi tangisan itu dibekapnya dengan bantal agar tidak ada yang mendengar suaranya.
Lelaki yang dicintainya dan diharapkannya menjadi pendamping hidupnya setelah mereka melakukan hubungan terlarang, kini telah meninggalkannya bersama dengan wanita lain.
Dilemparkannya bantal dan apapun yang ada di hadapannya yang bisa dijangkau dengan tangannya, Juwita bahkan menjambak rambutnya sendiri.
Juwita semakin frustasi setelah mengingat ucapan-ucapan Keyla tadi dia tidak ingin berakhir seperti tantenya Maya ibunya Mawar.
Terlintas di benak Juwita untuk menggugurkan kandungan, ditariknya ponsel yang tadi tergeletak di atas nakas lalu dia browsing mencari cara untuk menggugurkan kandu ngan.
Begitu menemukan caranya dia berniat untuk segera mengeksekusinya, membeli bahan apa saja yang diperlukan untuk memperlancar keinginannya itu.
Juwita segera menghapus sisa air mata yang menempel di pipinya, lalu menghembuskan nafas agar dia bersikap dengan tenang tidak mengundang kecurigaan orang-orang di rumah itu.
Juwita menuruni anak tangga setelah meraih tas selempang kecil yang dia sandang di bahunya.
"Sayang kamu mau kemana," tanya Abdillah yang duduk di ruang keluarga sembari membaca koran lalu mendengar suara hentak kaki yang menuruni anak tangga.
"Mau keluar bentar pa ada urusan penting," sahutnya.
"Ya sudah kalau begitu kamu hati-hati ya."
__ADS_1
Juwita mengangguk dan berlalu dari rumah itu untuk membeli nanas muda di pasar.
"Semoga saja ini berhasil, agar aku tak perlu malu dan orang tuaku tak perlu tau." gumamnya pelan.
****
Di sekolah
Mawar berjalan menuju ke kelas tapi di jalan dia di lempar tepung yang mengenai tepat kepalanya hingga membuat kepala dan tubuhnya penuh dengan tepung.
Hahahaha
"Ada adonan yang mau di goreng euy," ejek salah satu diantara mereka.
"Wah wah wah... Anda kehabisan bedak ya nona Mawar makanya mau bedakan menggunakan tepung ini,"
"Cukup!!!" bentak Mawar.
"Apa loh! Berani lo ngelawan... Ho mentang-mentang kemarin di tolongin oleh pangeran tampan jadi sekarang ngelunjak," ucap Melisa dengan menekan rahang Mawar kuat.
"Lepas Mel, kamu sudah gila...! ucap Mawar dengan gigi menyatu menahan nyeri di wajahnya.
" Lepas!!!!" tepis Steven baru saja tiba tapi melihat pemandangan yang melukai matanya.
Tangan Melisa terlepas dan tubuhnya terdorong mundur, Steven menarik Mawar ke belakang tubuhnya, seolah melindungi gadis malang itu.
"Jangan jadi pahlawan kesiangan Steven, pergi kamu!" ujar Melisa.
"Kalian jika terus menerus membully Mawar, aku pastikan kalian mendapatkan ganjaran setimpal," ancam Steven.
Permainannya tertunda dan dia harus menyingkir dari sana.
Melisa menendang tong sampah, membuat dia meringis menahan sakit pada bagian kakinya.
Melisa dan kawan-kawan duduk sembari melihat ke arah Mawar dan Steven yang sedang berduaan.
"Dia semakin melunjak semenjak ada Steven yang selalu membelanya, lagian Steven ganteng-ganteng begitu kok mau ya sama Mawar, masih jauh lagi kita-kita lebih cantik daripada Mawar," seru Mega yang sedang berdiri dengan kedua tangan terlipat di dada.
"Harusnya salah satu dari kita bisa memikat Steven agar dia bisa memihak ke kita, jadi apapun yang kita lakukan pada Mawar tidak jadi masalah," usul Ilana yang sejak tadi dia mendengarkan apa yang mereka bicarakan.
"Usul kamu bagus tapi sayang sedikitpun Steven tidak ada yang melirik kita, aku semakin tertantang ingin sekali membuat dia bertekuk lutut di bawahku," ujar Melisa.
"Hush... Juna Mau dikemanain neng?" tegur Nana.
"Diselipin sebentar, ntar kalau Steven udah bisa ditaklukin baru deh nempel lagi sama Juna,"
Hahaha
"Do'i bakalan sakit hati kalau kamu bersikap demikian, ntar bisa-bisa sana sini kamu nggak akan dapat satupun," kata Mega.
"Jadi gimana dong... kalau Steven tetap nempel sama Mawar yang ada kita nggak akan pernah bisa ganggu dia lagi,"
"Btw sekarang ini Mawar tinggal di mana sih?" tanya Ilana.
"Nggak tahu dan nggak mau tahu mungkin tinggal di kontrakan kumuh kali!" acuh Melisa.
__ADS_1
"Eh Mel semalam aku lihat tuh pacar kakak kamu sama gebetan lain loh, dan aku juga lihat kalau kakak kamu itu lagi bertengkar sama pacarnya itu, yang sadisnya pacarnya itu membela wanita lain bukan kakak kamu," ingat Mega saat dia baru saja pulang bersama dengan orang tuanya dari acara keluarga.
"Biarin aja bukan urusan gue... lagian si Juwita itu anak kesayangan jadi apapun yang terjadi padanya akan ada banyak orang yang membelanya biarkan saja!"
Mega mengangkat kedua bahunya lalu tidak mengingat lagi apa yang ingin dia ceritakan kepada Melisa tentang Juwita.
Mereka berbincang-bincang untuk acara mereka hari ini yang akan dilakukan di rumah Mega.
Steven membawa Mawar ke kelas, dia sungguh sangat prihatin dengan apa yang di alami Mawar.
"Apa kamu baik-baik saja?"
Mawar hanya menjawab dengan anggukan.
"Bagaimana tawaranku waktu itu Apa kamu masih bekerja di laundry tersebut? Apa kamu tidak tertarik untuk bekerja di rumahku?"
Mawar menatap Steven yang kini duduk di hadapannya. Sepersekian detik mata mereka saling bertaut, lalu Mawar mengalihkan tatapannya.
"Apa ibumu orang yang baik? Maaf... maksudku apa ibumu tidak cerewet seperti ibu-ibu yang lain apalagi aku ini teman sekelasmu bisa jadi dia ilfil melihatku," sahut Mawar.
"Ck, ibuku adalah wanita yang berhati lembut dia itu ramah baik hati tidak sombong dan rajin menabung,"
Mendengar hal itu senyum mawar terkembang, Steven yang melihatnya pun ikut tersenyum Ini pertama kali dia melihat mawar tersenyum dengan tulus.
"Kamu cantik kalau tersenyum," ucap Steven spontan.
Mawar terkejut mendengar ucapan Steven, dia diam dengan mata membulat menatap Steven agar segera meralat ucapannya,"
"Iya bener kamu cantik kalau sedang tersenyum, apa saya salah bicara demikian. kok kayaknya kamu menuntut saya untuk meralatnya,"
Mawar menunduk lalu dia menjadi salah tingkah dan menyelipkan anak rambut pada daun telinganya.
"Besok aku akan datang... semoga saja mamamu mau menerima aku bekerja di sana,"
"Beliau pasti menerima kamu apalagi kamu itu cantik, baik hati, yang pastinya kalian itu sangat cocok jadi selain kamu membantunya di rumah, dia akan menjadikan kamu teman untuk dia shopping,"
"Aku tidak sepantas itu, sejak tadi aku mendengar kamu menyebutkan kata cantik, jangan terlalu memujiku nanti aku bisa terbang tinggi ke langit ketujuh dan saat aku sudah melayang! Eh kamu menjatuhkanku serendah-rendahnya auto mengsadkan," seru Mawar.
Baru kali ini Mawar berbicara panjang kali lebar, biasanya dia lebih banyak diam karena tidak pernah berinteraksi dengan teman sekelas yang lain.
Semua teman sekelasnya menjauhinya atas perintah Melisa, jika mereka tidak menurutinya maka mereka yang akan menjadi bulan-bulanan dari geng tersebut.
"Sebenarnya besok kamu datang tapi kenapa tidak nanti saja, pujianku itu nyata kok sebenarnya kamu itu memang cantik dan kecantikan kamu itu sangat natural sekali," sahut Steve.
"Steve... Apa boleh aku bertanya sesuatu kepadamu?" tanya Mawar.
"Tanya saja,"
"Kenapa kamu baik sama aku di saat semua orang menjauhiku, apa kamu tahu aku ini anak haram loh! ibuku melahirkanku tanpa seorang suami yang artinya aku tidak memiliki ayah,"
Steven menggeser tubuhnya lalu menjawab, "Setiap manusia tidak bisa memilih dia terlahir dari siapa dan bagaimana caranya, semua itu sudah menjadi takdir. Jadi jangan pernah berkecil hati,"
Ucapan Steven seperti angin segar yang menerpa wajah Mawar, baru kali ini ada orang yang menerima statusnya bahkan dia ingin menangis saat mengingat kembali apa yang dikatakan oleh Steven.
"Terima kasih karena kamu mau menjadi satu-satunya teman aku."
__ADS_1
"Ck, Lebay!!!"