
Mawar duduk di tepi ranjang Gaffin sambil mengelus-ngelus rambunya.Sedangkan Gaffin berbaring dengan mata yang tertutup, tadi Gaffin menyurunya untuk mengelus-ngelus rambutnya sampai ia tertidur.Mawar sebenarnnya merasa risih dengan keadaan mereka saat ini.Mereka sekarang hanya berdua didalam kamar dan diatas ranjang yang sama, walaupun Mawar tidak ikut berbaring, tapi tetap saja tidak akan baik jika ada orang yang melihat mereka.
Mawar sebenarnya sudah berkali-kali mencoba keluar, tapi setiap kali tangannya ia lepas dari rambut Gaffin, Gaffin langsung membuka matanya dan menaruh kembali tangan Mawar di kepalanya.
Akhirnya ia menyerah dan menunggu Gaffin benar-benar tidur.Ia menguap beberapa kali dan saat ia melihat jam, sudah menunjukan pukul 01.49, hampir jam dua batinnya.Dan sepertinya Gaffin belum benar-benar tertidur. Ia sungguh tidak dapat menahan kantuknya lagi dan ia pun tertidur dengan posisi duduk.
Mawar terbangun karena mendengar suara orang yang terisak, dengan susah payah ia membuka matanya dan melihat ternyata Gaffin yang terisak.Keringat membasahi dahinya, apa ia mimpi buruk tanyanya dalam hati.Ia kemudian mencoba membangunkannya "Gaffin" panggilnya, namun Gaffin belum juga terbangun dari tidurnya.Akhirnya ia sedikit menguncang tubuhnya "Gaffin bangun" ujarnya mencoba membangunkannya.Dan usahanya berhasil, Gaffin akhirnya terbangun dan malah menatapnya dalam.
"Kamu tidak apa-apa" tanyanya memastikan.
"Tidak, aku baik-baik saja" jawab Gaffin sambil mendudukan diri "kau sebaiknya kembali ke kamarmu aku ingin sendiri" lanjutnya.
Mawar mengangguk tak ingin bertanya lebih tentang apa yang baru saja di mimpikan Gaffin sampai-sampai ia terisak dalam tidurnya.Ia kemudian melangkah keluar dari kamar Gaffin menuju kamarnya bersama Anis.
Mawar membuka pintu kamar yang untungnya tidak dikunci Anis, ia melihat jam dinding ternyata masih jam tiga lewat, ia masih sangat mengantuk dan memutuskan untuk kembali tidur.
Gaffin masih duduk terdiam dan mengusap wajahnya beberapa kali, ia selalu memimpikan hal yang sama yang membuatnya tak bisa tidur nyenyak.Mimpi yang berawal dari trauma masa lalunya.
Kepalanya terasa pusing mungkin karena efek ia minum tadi ditambah tidurnya belum nyenyak.Ia memutuskan untuk kembali tidur dan berharap mimpi itu tidak datang lagi.
.
.
.
.
.
.
.
********
Tidur Mawar terganggu dengan sinar matahari yang menerpanya.Ia berusaha membuka mata dan melihat Anis yang baru saja selesai mandi.Ia mengucek matanya dan duduk memperhatikan Anis yang sibuk mempersiapkan pakaiannya.Anis yang melihat Mawar hanya diam pun menegur "sana mandi" ujarnya dan kembali fokus.
Mawar menguap "masih ngantuk" sahutnya dengan mata yang ia paksa terbuka.
"Memangnya tadi malam kamu pulang jam berapa?" tanya Anis, karena semalam ia menunggu Mawar pulang, namun karena Mawar tak kunjung pulang dan dirinya juga dilanda mengantuk, akhirnya ia memutuskan untuk tidur lebih dulu.Dan saat ia bangun ia sudah melihat Mawar tidur disampingnya.
"Setegah dua belas" jawabnya, ia memang diantar pulang oleh Ivander dan sampai di penginapan pada jam itu.Tapi saat sampai di kamar jam tiga lewat, itu semua karena Gaffin yang menahannya.
"Berarti belum lama aku tidur dong" ujarnya.
Mawar hanya menganggkat bahu menanggapi Anis.
__ADS_1
"Oh iya Mawar, gimana semalam.Si Ivan seru, nggak" tanyanya antusias mendekati Mawar setelah memakai pakaiannya.
"Maksud kamu apaan sih"
"Maksud aku, si Ivan asik nggak diajak jalan sama ngobrol gitu" ujar Anis memperjelas pertayaannya.
"Jalannya yang asik, tapi ngobrolnya bikin kesal" ujar Mawar mengingat kejadian semalam.
"Kok bisa gitu" tanya Anis, sifat ingin tahunya muncul dan dia tidak akan berhenti sebelum menemukan jawabannya.
"Selama ngobrol dia nyubitin pipi aku sama ngacakin rambut aku, benaran bikin kesal"
Mendengar itu membuat Anis tersenyum dengan ekspresi wajah misterius ke Mawar, Mawar yang melihat itu menatapnya bingung.
"Uuhhmmm kayaknya dia suka deh sama kamu" ujarnya berpendapat.
"Sok tahu banget sih"
"Beneran Mawar, biasanya lelaki itu jika suka sama perempuan, mereka mengekspresikannya dengan mencubit pipi atau mengacak rambut perempuan yang ia sukai, itu dikarenakan ia gemas melihat perempuan itu" ujarnya seperti seorang ahli cinta.
"Sok tahu banget sih, kayak udah pernah pacaran aja"
"Iihhh nggak percaya, aku ini udah lima kali pacaran.Jadi aku udah paham sama yang begituan, memangnya kamu udah pernah pacaran" tanyanya balik
"Belum" jawab Mawar polos, ia memang selama ini belum pernah pacaran.Padahal sudah banyak teman SMA sampai kuliahnya yang mengajaknya pacaran.Namun, ia selalu menolak dengan alasan ingin fokus pada pendidikannya.Tetapi sebenarnya ia menyukai Akmal, kakak sepupunya sendiri.
"Pantas saja itu menjadi hal tabu bagimu" ujar Anis melebih-lebihkan dan malah membuatnya tambah tertawa dengan ucapannya sendiri.
Mawar memutar bola mata jenggah pada Anis yang tidak berhenti tertawa.
"Tau ahh, lebih baik aku mandi dulu" ujarnya dan Anis langsung menghentikan tawanya.
"Yaelah gitu ajah ngambek, nanti Ivan makin suka lo" ejaknya.
"Nyebelin" Mawar akhirnya meninggalkan Anis dan menuju ke kamar mandi, sedangkan Anis hanya terkekeh mendengar ucapan Mawar yang terdengar sangat kesal.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
*******
Mawar dan Anis sedang berada di lokasi proyek meninjau semua yang ada disana jika sudah sesuai dengan prosedur.
Ivander yang melihat keberadaan kedua wanita itu mendekati mereka "Hai nona-nona" sapanya saat sampai ditempat mereka.
Mawar dan Anis tersenyum menyambut kedatangan Ivander "hay juga" sahut mereka bersama menyapa balik Ivander.
"uuhhmm maaf soal semalam, bukan maksudku membuatmu kesal" ujar Ivander mengingat semalam ia selalu mengganggu Mawar sampai membuat kesal.
"Tidak apa-apa" sahut Mawar.
"Iya nggak apa-apa Ivan, ia juga senang banget bisa jalan bareng kamu.Tadi saja pas mau datang kesini ia bingung mau pake baju apa, katanya supaya menarik" Anis main nimbrung ajah dan membuat satu pukulan lolos mengenai bahunya.
"Kamu jangan asal ngomong dong Nis" ujar Mawar kesal.
Ivander hanya tersenyum mendengar penuturan Anis dan tingkah Mawar yang gelagapan saat Anis bicara yang bukan sesungguhnya tentang dirinya, ia tahu Anis hanya bercanda tapi ia bersyukur setidaknya ada orang yang mendukungnya untuk mendekati Mawar.
"Maafkan temanku ini Ivan, ia memang suka bicara sembarangan"
"Tidak apa-apa, aku mengerti kok. Oh ya kmu disini tinggal berapa hari lagi? "
"Tiga hari" jawab Mawar.
Ivander tersenyum, ini adalah kesempatannya untuk lebih dekat dengan Mawar "bagaimana kalau kita pergi jalan-jalan melihat-lihat daerah ini sebelum kau kembali, kau tenang saja kita tidak akan tersesat karena aku punya kenalan disini.Jadi dia yang akan menjadi penunjuk jalan selama kita menikmati keindahan daerah ini"
Mawar sebenarnya tidak mau, tapi ia bingung harus menjawab apa.Ia tidak enak menolak permintaan lelaki itu, karena bagaimana pun lelaki itu sudah sangat baik padanya.
"Dia sudah ada janji denganku selama tiga hari kedepan, jadi ia tidak bisa kemana-kemana" itu Gaffin entah dari mana datangnya, tapi sekarang ia sudah bersama mereka.
Mawar menoleh dan mendongkakkan kepala menatap Gaffin yang entah sejak kapan sudah berada disampinnya tapi saat ia tidak mau memikirkan hal itu, ia hanya ingin berterimah kasih pada kehadiran Gaffin karena telah menyelamatkannya dari ajakan Ivander.Bukan cuma Mawar Anis dan Ivander pun terkejut dengan kedatangan Gaffin yang tiba-tiba.
"Iya kan" tanya Gaffin sedikit menunduk ke arah Mawar, Mawar langsung mengganguk "i..iya, aku sudah punya janji dengan tuan Osmond" ujarnya yang membuat Ivander kecewa.
"Oh seperti itu ya, tapi yang semalam juga menyenangkan.Lain kali saat aku kembali dan menyelesaikan pekerjaanku disini, aku akan mengajakmu jalan-jalan" Ivander belum mau menyerah mendekati Mawar, mungkin sekarang belum bisa.Tapi setelah pekerjaannya selesai ia akan melanjutkan tekadnya untuk mendekati Mawar.
Mawar hanya mengangguk sebagai jawaban.
Gaffin yang mendengar itu menatap Ivander tak suka.Saat Gaffin ingin bicara, ia dihentikan dengan kedatangan asistennya.
"Tuan, ibu anda menelpon" ujarnya kemudian memberikan ponsel itu pada Gaffin.
Gaffin meraih ponsel itu "aku angkat telepon dulu ya" pamitnya yang langsung diangguki ketiganya.Ia kemudian melangkah pergi, namun baru beberapa langkah ia kembali berbalik dan berkata "Oh ya Mawar, terima kasih semalam kau sudah menemaniku tidur" dan setelah mengatakan itu ia melanjutkan langkahnya.Meninggalkan Mawar yang kini wajahnya memerah karena ucapannya.
Sedangkan Anis dan Ivander menatapnya dengan penuh tanda tanya.Apalagi Anis, matanya seakan meminta penjelasan dari semua yang Gaffin baru ucapkan.
__ADS_1
Mawar rasanya ingin mengubur dirinya saat itu juga, bagaimana Gaffin membeberkan kejadian semalam.Ia menarik kembali niatnya untuk berterimah kasih pada kehadiran Gaffin yang menyelamatkannya dari ajakan Ivander.