Mawar

Mawar
episode 40


__ADS_3

Gaffin memarkirkan mobilnya di depan rumah Mawar dan Hanako, ia berencana akan menginapa malam ini dan akan kembali besok menemui pak Harris yang masih berada di hotel untuk membahas perkejaan.


Gaffin mengkerutkan dahi saat mendengar Mawar dan Hanako tertawa dari luar.Ia juga mendengar suara tawa seorang pria membuatnya ia bertanya-tanya siapa gerangan yang membuat Mawar tertawa lepas seperti itu.


Ia memencet bel dan tak lama Hanako membuka pintunya.


"Gaffin, mama kira kamu tidak akan datang" ujar Hanako saat melihat kehadiran Gaffin.


"Gaffin berencana ingin menginap di rumah mama" sahut Gaffin.


"Ya sudah kalau begitu, ayo masuk cepat udara di luar cukup dingin"


Setelah menutup kembali pintu, Hanako menuntun Gaffin masuk ke dalam rumah untuk bergabung dengan Mawar dan Evan yng sedang mengobrol di ruang tamu. Gaffin memasang wajah tidak suka saat melihat Mawar yang begitu akrab dengan seorang pria, hatinya tiba-tiba panas melihat Mawar yang begitu dekat dengan pria tersebut. Ingin rasanya ia menarik pria itu dari tempatnya yang kini duduk disamping Mawar.


"Gaffin aku kira kamu tidak kesini" ujar Mawar saat melihat kehadiran Gaffin dan mamanya.


Gaffin tidak menjawab dan lebih memilih duduk dihadapan Mawar dan Evan sambil menatap tajam ke arah Evan.


"Ia akan menginap di sini" sahut Hanako.


"Oh benarkah" tanya Mawar.


"Iya, mama tinggal sebentar ya.Ada yang ingin mama kerjakan dulu" Hanako kemudian meninggalkan mereka bertiga yang suasananya tiba-tiba menjadi canggung saat kedatangan Gaffin.


"Ehemm" Evan berdehem memecah keheningan yang tiba-tiba tercipta saat kecanggungan yang terjadi. "Perkenalkan aku Evan, aku temannya Hima.Kau siapa? rekan kerja Hima ya?" Evan memperkenalkan dirinya dan mempertanyakan siapa Gaffin dengan mengulurkan tangannya pada Gaffin


Gaffin membiarkan tangan Evan dan tidak menerima uluran tangannya, ia tersenyum meremehkan.Ia ternyata tidak tahu siapa Gaffin yang kini berstatus sebagai calon suami wanita yang ia sebut teman itu.


"Aku Gaffin dan aku bukan rekan kerja Mawar, tapi aku calon suaminya" ujarnya sedikit menyombongkan diri.

__ADS_1


"Oh benarkah" tanya Evan sedikit terkejut, tapi berhasil ia kendalikan.Ia tidak menyangka jika Mawar ternyata sudah memiliki calon suami. Tapi dia kan masih calon belum jadi suami, jadi dia masih punya kesempatan bukan, itulah yang kini Evan pikirkan.Menurutnya sebelum janur kuning melengkung ia masih punya kesempatan.Dia bukannya ingin merebut, tapi tidak ada salahnya kan berusaha.Jika ia berhasil maka itu adalah keberuntungannya dan jika tidak berarti mereka benar-benar tidak berjodoh.


"Selamat ya" Evan tersenyum sambil menatap Gaffin yang tetap memasang ekspresi dingin dan sinis padanya.


Mawar yang menyadari itu pun berusaha membuat suasana kembali mencair, sungguh benar-benar tidak nyaman berada dalam situasi seperti ini.


"Oh iya Gaffin, dia ini salah satu mahasiswa Indonesia yang kuliah di Jepang.Ia sering berkunjung kesini.Kau tahu saat pertama kali ia datang ke daerah ini ia sempat dikira pencuri karena mondar-mandir di depan toko orang" Mawar mencoba menceritakan kembali kejadian lucu yang menimpa Evan saat pertama kali datang sehingga membuatnya tertawa lepas beberapa saat yang lalu.Ia harap dengan menceritakan kejadian itu suasana canggung itu dapat berakhir, tapi sepertinya yang ia harapkan tidak terjadi.Gaffin tetap menatap tajam ke arah Evan, membuatnya bingung harus berbuat apa lagi.


"uhmm Hima, aku sebaiknya pulang dulu ya. Ini sudah malam dan besok aku akan datang lagi" Evan menyadari tatapan tidak suka Gaffin padanya dan dia juga tidak punya kesempatan mendekati Mawar malam ini, dan ia bertekad besok ia akan melanjutkannya karena ia tahu Gaffin pasti akan kembali pergi untuk menyelesaikan pekerjaannya.


"Ya sudah hati-hati ya" sahut Mawar, sedangkan Gaffin tidak peduli.


Evan beranjak dan berdiri dari duduknya dan melangkah keluar, Mawar pun ikut berdiri dan ingin mengikuti Evan yang sudah lebih dulu.


"Kau mau kemana" tanya Gaffin sambil mencegah Mawar dengan memegang tangannya.


"Aku mau mengantar Evan di depan" ujar Mawar.


"Tidak usah di antar, ia tahu jalan keluar" sahut Gaffin dengan nada kesal dan ketus, membuat Mawar mengkerutkan dahi bingung.


"Jangan seperti itu Gaffin, kita harus menghormati tamu. Kamu tunggu di sini sebentar ya, aku mau kedepan dulu" Mawar kemudian melepaskan pegangan Gaffin, ia tidak menghiraukan Gaffin yang memanggilnya.Hal itu membuat Gaffin benar-benar kesal.


******


"Aku pulang dulu ya, salam buat tante Hanako nggak sempat pamit" ujar Evan yang kini berada di depan rumah bersama Mawar.


"Iya akan aku sampaikan, hati-hati di jalan ya"


Evan tersenyum mendengar Mawar yang perhatian padanya.

__ADS_1


"Ya sudah aku pulang dulu ya"


Mawar mengangguk dan Evan meninggalkan halaman rumah itu.


Mawar masuk setelah Evan sudah benar-benar keluar dari halaman rumahnya, ia kemudian masuk dan melihat Gaffin yang sudah memasang wajah cemberut.


"Kamu kenapa sih" tanya Mawar menghampiri Gaffin dan duduk di sampingnya.Gaffin tidak menjawab dan bahkan seperti malas melihat Mawar.


Tak mendapat jawaban akhirnya Mawar memutuskan meninggalkan Gaffin yang menurutnya seperti anak kecil. Namun belum sempat ia melangkah meninggalkan Gaffin, ia tersentak karena Gaffin yang menariknya tiba-tiba hingga ia kini duduk di pangkuan Gaffin. Mawar yang merasa tidak nyaman dengan posisi mereka sekarang dan ia mencoba berdiri, namum di tahan oleh Gaffin yang langsung memeluknya erat.


"Gaffin kamu kenapa sih" tanya Mawar mencicit, sekarang ia benar-benar tidak bisa mengontrol detak jantungnya yang berdetak sangat kencang, karena perlakuan Gaffin serta posisi mereka yang terlalu dekat dan intim.Bahkan ia yakin Gaffin juga dapat mendengarnya.


"Aku tidak suka kau dekat dengan pria lain, hatiku panas saat melihat itu" ujar Gaffin masih dengan memeluk Mawar.


"Aku tidak punya hubungan apa pun denganya, lagi pula sebentar lagi kita akan menikah" Mawar menelan ludah saat menyebut kata 'menikah' di akhir kalimatnya.


"Tetap saja aku tidak suka"


"Ya sudah aku akan menjaga jarak dengan dia ataupun dengan pria lain, tapi sekarang lepaskan aku.Aku tidak nyaman dengan posisi kita sekarang, apalagi jika mama melihat kita, kan malu" Mawar melihat sekeliling memastikan mamanya tidak melihat mereka dalam posisi seperti itu.


"Aku tidak peduli, lagi pula aku calon suami dan mama kan sudah merestui kita dia pasti mengerti" ujar Gaffin mendongkakan wajahnya menatap Mawar yang kini pipinya telah memerah, yang membuatnya tidak tahan untuk menciumnya.


"Biar tambah merah" ujar Gaffin gemas.


Pipi Mawar tambah memerah karena mendapat ciuman tiba-tiba dari Gaffin.


"Ga...Gaffin apa-apaan sih" ujar Mawar yang tiba-tiba gugup dan salah tingkah akibat perlakuan Gaffin.


Gaffin malah terkekeh melihat Mawar yang salah tingkah, menurutnya itu lucu.

__ADS_1


Saat Gaffin asik menggoda Mawar yang berubah kesal akibat Gaffin yang tidak berhenti menggodanya, sebuah suara menghentikan aktifitas mereka.


"eeheemm" seketika Mawar dan Gaffin berbalik dan menemukan mamanya yang kini menatap mereka.


__ADS_2