
Ku lirik kasur ada rembesan darah keluar, apa Juwita sudah kegugu ran, ku coba menggeser tubuh Juwita, putriku itu pingsan.
"Juwita... Nak bangun lah," tepukku pada pipinya.
Ku pegang pergelangan tangannya, detak jantungnya begitu lemah sekali.
Ini tidak benar, Juwita harus di bawa ke rumah sakit.
"Mas... Mas Abdillah, cepatlah ke kamar Juwita mas," teriakku dari lantai atas.
Mas Abdillah yang mendengar teriakanku segera berlari ke lantai atas.
"Ada apa Priska?" tanya ibu sedikit kuat dari lantai bawah.
"Juwita pingsan Bu," sahutku.
"Kenapa Juwita bisa pingsan ma?" tanya mas Abdillah.
Tak mungkin aku menjelaskan yang sebenarnya, yang penting sekarang Juwita harus di tangani dulu.
"Jangan banyak tanya mas, ayo kita bawa Juwita ke rumah sakit,"
"Ya sudah iya," sahutnya dengan mengangkat tubuh Juwita.
Mas Abdillah melangkah cepat dan hati-hati saat menuruni anak tangga, ibu mencegah sebentar sebelum akhirnya mengijinkan kami pergi.
Dia begitu menyayangi Juwita, pasti dia sangat sedih melihat keadaan Juwita saat ini.
Mobil melaju menuju ke rumah sakit, begitu tiba langsung saja mereka membawa tubuh Juwita ke IGD.
"Jelaskan padaku apa yang terjadi sebenarnya Priska?" ucap mas Abdillah memecah keheningan diantara kami.
"Mas...,"
"Aku mau tau keadaan anakku Priska, aku yakin kau tau sesuatu, aku melihat lumayan banyak darah di atas kasur tadi dan aku rasa itu bukan darah menstruasi,"
"Mas... Soal itu... Aku tak bisa menjelaskannya, kita tunggu saja dokter dulu, kita do'akan saja Juwita baik-baik saja,"
"Baik, kamu hutang penjelasan padaku," ucapnya marah.
Tak lama dokter keluar dengan wajah yang ntah... Apa yang terjadi apa putriku baik-baik saja dan bayi itu telah tiada.
Mengapa dokter hanya menatap aku dengan pandangan yang sulit aku gambarkan, apa yang terjadi pada Juwita saat ini.
__ADS_1
"Dokter, bagaimana keadaan putri kami?" seru mas Abdillah mendekat.
"Kita bicara di ruang dokter saja,"
Kami mengikuti dokter yang merawat Juwita hingga ke ruangannya, lalu di persilahkan duduk dan kami menunggu dia dengan perasaan cemas.
"Maaf ibu, apa ibu tau obat yang di konsumsi oleh putri ibu?" tanya dokter padaku.
Tentu saja aku tau, karena aku yang membelinya tapi tak mungkin aku katakan padanya di hadapan suamiku.
"Ti tidak dokter, memangnya apa yang di konsumsi anakku dokter?" tanyaku dengan berpura-pura tidak tau.
"Anda yakin, obat yang di minumnya berakibat fatal padanya, sehingga kami harus melakukan tindakan pencegahan atau putri anda harus melayang nyawanya,"
"Memangnya apa yang di konsumsi anak saya dok?" tanya mas Abdillah penasaran.
"Kami sudah memeriksanya dan ada obat pelu...,"
"Dokter lalu bagaimana keadaan anak kami sekarang?" potong Priska.
Tidak ada yang boleh mengetahui keadaan Juwita yang sedang hamil, apalagi ibu aku tak mau dia mengusir aku dan Juwita, itu tidak boleh terjadi.
Mas Abdillah menatap marah padaku karena aku memotong penjelasan dokter dengan pertanyaan.
"Bapak, ibu tolong di perhatikan dengan baik untung saja kami masih bisa menyelamatkan..."
"Apa dok!!!" potong Priska sebelum dokter menyelesaikan perkataannya.
"Priska, bisa tidak jangan memotong ucapan dokter, aku ingin mendengar dengan jelas penjelasannya.
"Maaf mas." cicitku.
Dia menatapku dengan wajah memerah menahan amarah, aku harus tenang agar mas Abdillah tak banyak pertanyaan lagi, tapi dokter tadi mau mengatakan apa ya, apa janin itu selamat atau... Sebaiknya aku bertanya padanya jika mas Abdillah sudah pulang nanti.
"Kamu itu ya Priska kenapa memotong perkataan dokter dan tidak membiarkan dokter berkata kepadaku, apa kamu sengaja? apa ada yang kamu tutupin dariku?" tanya Abdillah dengan tatapan tajam.
"Nggak ada mas nggak ada yang aku tutupin dari mu,"
"Awas aja kalau sampai aku tahu kamu berbohong kepadaku kamu akan tahu akibatnya," ancam suaminya.
Priska hanya mengangkat bahunya, dia tak peduli dengan ancaman suaminya itu hanya isapan jempol belaka karena suaminya tidak akan mungkin meninggalkannya.
****
__ADS_1
Keyla baru saja pulang dan langsung membanting tas yang dijinjingnya di atas meja begitu saja.
Mawar mengerutkan keningnya melihat tantenya itu duduk sambil manyun tanpa bersuara sedikitpun.
"Ada apa Tante kok cemberut begitu?"
"Tante kesel tau nggak sih hampir saja tante mengatakan jika Juwita itu sedang dalam keadaan hamil namun sepertinya Priska menyadari jika tante mengetahui hal tersebut dia selalu mencegah tante untuk berkata yang sebenarnya,"
"Biarkan saja tante nanti kan ada masanya tidak perlu tante yang berkata semua akan terlihat pada akhirnya," sahut Mawar datar.
"Tapi tante ingin membuka lebih cepat pandangan mama agar dia tahu cucu yang selama ini disayangnya telah mencoreng aib di wajahnya,"
"Bukankah tante yang selalu mengajarkan keburukan jangan dibalas dengan keburukan, balaslah dengan sebaliknya keburukan dibalas dengan kebaikan, aku sudah dicap buruk sedari awal oleh nenek jadi tidak mungkin hanya karena masalah ini nenek berpaling dari Juwita kepadaku tante, sudahlah kita tidak perlu mengurusi kehidupan mereka biarkan saja semua mengalir apa adanya,"
Mawar merubah posisi duduknya menyamping dia melihat ke tantenya dan ingin berbicara.
"Tante, mulai besok aku akan bekerja di rumah keluarga Jung, mereka membutuhkan tenaga kerja dan kebetulan rumahnya tidak jauh dari sini jadi menurutku aku akan melepaskan pekerjaan laundry dan menerima pekerjaan di rumah tersebut,"
"Apa kamu yakin mau bekerja disana? Tante sih terserah kamu Jika kamu nyaman ya sudah yang terpenting jangan sampai pelajaranmu terbengkalai kamu harus tetap prioritaskan sekolah daripada pekerjaan,"
"Siap tante," Mawar mengangkat tangannya meletakkan di pelipis.
"Ya sudah kalau begitu tante ke kamar dulu, ibumu apa dia sudah makan?"
"Eum, aku sudah menyuapinya tadi dan sekarang dia sedang tidur,"
"Baguslah kamu anak yang baik Mawar semoga suatu hari nanti kamu akan merasakan kebahagiaan yang tidak pernah putus," do'a Keyla.
"Aamiin."
Keyla mengacak-ngacak rambut Mawar kemudian berlalu menuju ke kamarnya.
Keesokan paginya Mawar berangkat sekolah bersama dengan Steven, kemarin Steven sudah berjanji padanya akan menjemputnya agar mereka bisa pergi bersama.
Steven baru saja tiba di depan rumah mawar Gadis itu juga sudah menunggu Steven untuk menjemputnya, diberikannya helm untuk digunakan oleh Mawar.
Roda dua itu membawa mereka menuju ke Jalan raya, ada perasaan gugup pada diri Mawar yang timbul sebab dia baru pertama kali dekat dengan lawan jenis.
Tiba di sekolah banyak pasang mata yang memperhatikan mereka berdua meskipun cuek dia turun dari motor dan melepaskan helm yang digunakan Mawar.
Lalu keduanya berjalan beriringan menuju ke kelas.
"Sepertinya ada yang lagi kasmaran nih," cegah Juna bersama dengan antek-anteknya tepat di hadapan Steven sembari menatap dengan pandangan mengejek.
__ADS_1
Steven tidak menjawab dia hanya menatap Juna dengan wajah serius.