Mawar

Mawar
episode 48


__ADS_3

Gaffin tersenyum tipis mendengar pernyataan Ivander yang ternyata berniat baik padanya. Dia jadi merasa bersalah atas perlakuannya terhadap Ivander barusan.


"sebaiknya kita pulang saja, biarkan Mawar berpikir tenang" saran Ivander.


"Tapi aku... "


"Sudahlah. situasi saat ini tidak mendukung. Jadi kita akan cari cara dan waktu yang tepat untuk menemui Mawar dan menjelaskan semuanya padanya"


Gaffin akhirnya mengikuti saran Ivander. Ivander benar dia tidak boleh gegabah dalam situasi seperti itu. Dia harus membiarkan Mawar berpikir tenang agar rencana selanjutnya berjalan lancar.


*******


Keesokan harinya, Ivander kembali menghubungi Gaffin untuk bertemu. Kali ini dia ingin mengetahui apa yang sebenarnya telah terjadi di antara mereka berdua.


"Kau lama sekali, kau tidak sopan membiarkan orang yang lebih tua menunggu dan apalagi aku ini orang yang akan membantumu menyelesaikan masalah. Dan kau malah berbuat seenaknya" Keluh Ivander atas keterlambatan Gaffin.


"Yaaa maaf, kau banyak mengoceh seperti kakek-kakek" ejek Gaffin.

__ADS_1


Ivander menatap tajam kearah Gaffin, tapi Gaffin hanya membalasnya dengan tawa tanpa dosa.


Gaffin kemudian duduk dihadapan Ivander. Mereka kini berada di salah satu restoran. Mereka memilih tempat yang terpisah dari pengunjung lainnya.


"Ada apa kau ingin menemuiku" tanya Gaffin sambil mengambil minuman yang ternyata sudah dipesan oleh Ivander untuk mereka berdua.


"Apa kau tidak ingin dibantu? " tanya Ivander kesal. Gaffin seakan tidak menghargai usahanya mempersatukan mereka berdua. Apa Gaffin ingin dia menjadi saingannya untuk mendapatkan Mawar.


"Iya maaf, aku tadi terlambat karena ada masalah sedikit di kantor. Apalagi tanteku dan keluarganya kembali ke Jepang dan aku yang mengantar mereka ke bandara" jelas Gaffin.


Gaffin menghela napas dan tertunduk. Ivander semakin yakin kalau permasalahan mereka cukup serius. "Ceritalah, aku akan mencoba mencari solusi atas masalah kalian ini." ucap Ivander menyakinkan.


"Sebenarnya, aku mengenal Mawar sudah sejak lama. Bukan saat pengerjaan proyek yang dilakukan oleh perusahaan keluargaku dan omnya" Gaffin akhirnya mau bercerita.


"Jadi kau sudah pernah bertemu bahkan mengenalnya sejak lama? " tanya Ivander sedikit terkejut.


"Iya, aku bertemu denganya saat aku masih kecil dan saat itu dia masih SMA" senyum Gaffin terukir saat mengingat pertama kali pertemuannya dengan Mawar.

__ADS_1


"Terus apa yang terjadi, kenapa saat pengerjaan proyek itu Mawar seperti orang yang baru bertemu denganmu" tanya Ivander tak menyangka.


"Kau tidak usah bertanya dulu, dengarkan saja ceritaku agar semuanya cepat selesai dan kau bisa cepat membantuku untuk menjelaskan semuanya pada Mawar" ujar Gaffin.


"Iya.... iya"


"Ini.. " Gaffin menunjukan sebuah foto yang didalamnya banyak anak-anak dan juga ada Mawar.


Ivander menatap Gaffin seakan meminta semua penjelasan dari foto yang kini berada di genggamannya. Gaffin yang mengerti langsung kembali melanjutkan ceritanya.


" Ini foto yang di ambil saat aku masih berada di panti asuhan milik Om Akram, Om Mawar juga. Dan aku yang berada di samping Mawar itu" Gaffin menunjuk seorang anak lelaki yang berada tepat disamping Mawar.


"Ini kamu?" tanya Ivander. "jadi kau bukan anak Tuan Reihan? " tanya Ivander lagi


Gaffin mengangguk dan kembali menunjuk lagi salah satu anak di dalam foto itu.


" Dan ini adikku, Mario" tunjuk Gaffin pada anak yang berada paling depan.

__ADS_1


__ADS_2