Mawar

Mawar
Bab 16


__ADS_3

Steven yang baru saja masuk dan mendengar Melisa dan temannya mengejek Mawar tak berniat duduk hanya mengamati Mawar yang terus menulis di papan tulis.


Melisa kembali meremas kertas, Steven memperhatikan gerakan tangan Melisa lalu saat Melisa melemparkan remahan kertas tersebut ke arah punggung Mawar dengan cepat Steven menangkap remahan kertas tersebut.


"Jangan buat keributan dan biarkan dia menulisnya hingga selesai," kata Steven penuh penekanan.


Melisa dan teman-temannya berhenti, mereka memandang Steven yang tenang duduk ke bangkunya, dan hal itu membuat Juna emosional, itu karena Juna tidak suka di saingi.


Ya dia merasa tersaingi semenjak adanya Steven di kelas.


"Lanjutkan menulisnya Mawar, aku jamin tidak ada yang melempar kertas lagi, kalau sampai itu terjadi aku akan patahkan tangannya," ancam Steven.


Mawar mengangguk sebagai ucapan terima kasih, senyap begini semuanya terasa lebih baik.


Di tulisnya kembali soal yang di kirimkan oleh ibu Indri, beliau tak bisa masuk karena ada urusan keluarga yang tak bisa di tundanya.


Mawar baru saja selesai menulis, jika di dalam kelas mereka tak bisa mengganggu Mawar, maka perlu di lakukan di luar rumah!' pikir mereka.


Selesai menulis, Mawar kembali ke bangkunya, siapa sangka Steven mau membantunya, sungguh dia merasa tak bisa berbuat banyak, secara pria itu pendiam anaknya.


Sebentar saja Mawar mengerjakan tugas yang tadi dia tulisnya, begitupun dengan Steven dia menyerahkan bukunya ke Mawar begitu dia selesai.


Bel istirahat berbunyi kelompok Melisa belum juga menyerahkan buku tugas mereka, Mawar dilema antara menunggu atau mengantarkan buku tugas tersebut ke ruang guru.


Sudah menunggu hampir habis jam istirahat tapi Melisa dan temannya belum juga mengumpulkannya, maka Mawar mengantarkan buku tugas tersebut ke ruang guru.


Tok tok tok


"Permisi pak, saya mengantar buku tugas Bu Indri," kata Mawar.


"Masuk dan letakkan saja di atas meja Bu Indri, makasih ya Mawar... Semoga mereka semua pintar seperti kamu."


Mawar mengangguk dan membalik badan hendak beranjak dari tempatnya bertugas.


Mawar kembali ke kelas, di ambang pintu dia di tahan, bahunya di dorong agar dia keluar lagi.


"Mau sok jagoan, paling pintar begitu!" kata Nana dengan gigi menyatu menatap geram ke arah mata Mawar.


"Bu bukan begitu, hanya saja kalian pergi tadi sementara waktunya sudah habis," sahutnya.


"Ck, banyak alasan kamu."


Tangan Nana terangkat ke udara dan hendak melayangkan memberi tahu jika Mawar sudah keterlaluan dengan cara menamparnya.


Tapi seseorang menangkis dengan cepat bahkan mencengkeram erat tangan Nana hingga terlihat buku-buku jarinya.


Steven pria tampan itu membantu mawar kembali, dia bahkan seperti tameng yang tak ingin Mawar celaka.


"Lepaskan aku, anak baru... kamu jangan kurang ajar disini, kamu belum tau aturan disini bukan, tak perlu bersikap manis padanya, kau tau dia itu hanya seorang anak haram," ungkap Nana berharap Steven tak lagi membantu Mawar.

__ADS_1


Steven mendorong tubuh Nana hingga gadis itu hendak jatuh, kemudian dia membawa mawar masuk dan duduk di kursinya.


"Terima kasih Steven," seru Mawar.


Tidak ada jawaban tapi hanya anggukan sedikit, bahkan sangat tipis sekali.


Hati Mawar terasa berbunga-bunga karena di kelas itu kini ada seseorang yang dengan sukarela menolongnya. Mawar berharap Steven tulus melakukannya dan memang mau berteman dengannya bukan seperti orang lain yang baik sebentar kepadanya lalu berubah pikiran.


Bel pulang sekolah pun berdering Melisa dan teman-temannya yang lain meminta agar mereka segera ke markas untuk membicarakan sesuatu.


"Guys kita perlu bicara, ini penting kita ketemu di markas segera." Kata Melisa Dan disambut anggukan oleh anggota kelompoknya.


Mawar mendorong sepedanya keluar dari gerbang, Steven terus memperhatikannya dari balik helm yang sudah tertutup.


Mawar terus mengayuh sepedanya menuju ke jalan raya tetapi jalan itu berbeda dari sebelumnya membuat Steven menatap Mawar aneh dari kejauhan.


"Mengapa jalannya pulang berbeda dari sebelumnya." gumamnya.


Steven mengikutinya hanya sampai di pertigaan jalan... jalan menuju ke rumah Steven berbeda dengan arah yang kini sedang dijalani oleh Mawar sehingga Steven memilih untuk pulang ke rumahnya langsung.


"Aku pulang ma," kata Steven saat dia baru saja membuka pintu.


"Anak mama sudah pulang, capek ya... Ganti baju dulu gih baru makan siang, mama masak kesukaan kamu loh," seru Astrid menyambut anaknya pulang sekolah.


"Papa mana ma? Belum pulang?"


"Belum... Katanya ada utusan dari Jerman yang sedang berkunjung ke Indonesia, sehingga papa harus menemani mereka tour ke tempat yang mereka inginkan."


Steven mengangguk, dia mencium pipi kiri mamanya dan naik ke lantai atas untuk berganti pakaian.


Setelah berganti pakaian Steven pun turun mencari mamanya di ruang makan, ternyata mamanya duduk manis disana menantinya.


"Sayang... Ayo duduk dan makanlah,"


"Pasti masakan mama lezat seperti biasa," puji Steven.


"Kamu bisa aja,"


"Steven mama mau mencari orang untuk membantu mama membersihkan rumah, kamu bisa bantu mama carikan orang tidak," kata Astrid saat Steven memasukkan suapan nasi dan lauk ke dalam mulutnya.


"Mama lelah kalau ngerjain rumah sendiri, soal gaji mama akan membayarnya cukup mahal,"


"Nanti Steven coba bantu mama carikan orang, kenapa tidak ambil dari yayasan saja ma?" usul Steven.


Astrid menggelengkan kepalanya, "mama nggak mau ah, mama mau orang yang jujur dan dapat di percaya, nggak neko-neko apalagi genit,"


Steven tampak sedang berpikir lalu melanjutkan makannya.


"Aku sudah selesai ma, aku kembali ke kamar ya, nanti aku coba bantu mama,"

__ADS_1


"Makasih sayang."


****


Markas Melisa dan gengnya.


"Ini tak bisa di biarkan, lama kelamaan Mawar akan melunjak jika ada yang melindunginya, lagian Steven mau maunya melindungi anak haram seperti itu, apa bagusnya coba!!!" ucap Melisa geram tak terima dengan kejadian hari ini.


"Kamu coba pikat deh, siapa tau dia mau jadi kekasihmu jadi kamu bisa mengaturnya," usul Nana.


"Nah bener itu dari pada Juna yang gak memberi kejelasan sama elo," sambung Ilana.


"Ilana bener, kamu coba pikat deh Steven itu, selain lebih tampan dia dari Juna dia juga seorang anak tunggal dari diplomat dan mereka punya perusahaan mebel yang terkenal di Jakarta," kata Mega memberi dukungan.


"Usul kalian akan aku pikirkan, padahal kami sudah tenang dengan tidak adanya Mawar dan ibunya di rumah, tapi kelakuannya meresahkan ketika di sekolah,"


"Eh, kamu kok baru bilang kalau dia sudah tak tinggal lagi di rumah nenek elo," kata Mega.


"Lupa Mega... Mereka di usir oleh nenek dan sekarang ntah tinggal dimana bersama Tante gue," sahut Melisa.


****


Rumah nenek Asih


Brak


Brak


Brak


"Siapa yang kunciin, buka pintunya." Pekik nenek Asih yang hendak keluar tetapi tidak bisa karena dia terkunci di dalam kamarnya.


Sementara itu Juwita sedang menikmati surga dunia bersama orang yang di cintai ya di kamarnya, dia tidak mendengar teriakan neneknya, sengaja dia mengunci dari luar agar neneknya tidak mengganggunya.


Brak


Brak


Brak


"Buka pintunya... Siapa yang di luar..." teriak nenek Asih.


Hening


Tak ada sahutan membuat nenek asih pasrah dan kembali ke ranjangnya, lalu duduk sembari merenung.


"Apa salahku, mengapa anak-anak ku begini, hanya Keyla yang bisa mengerti aku, tapi kini anakku itu telah pergi." gumamnya.


"Apa aku sudah keterlaluan kepada Maya?" gumamnya.

__ADS_1


__ADS_2