
Satu minggu kemudian tante dan om Mawar pulang ke Indonesia, Fandy dan Sinta tidak bisa ke Indonesia karena Sinta belum lama melahirkan anaknya.
Gaffin rencananya hari ini akan mengajak Mawar bertemu dengan kedua orang tuanya. Ia sudah membicarakan rencananya yang ingin melamar Mawar pada orang tuanya. Kedua orang tuanya setuju selama Gaffin bahagia dan sudah siap lahir batin, karena sebuah pernikahan bukanlah sesuatu yang di jadikan permainan. Harus ada kesiapan di antara dua belah pihak agar dapat menjalani pernikahan mereka dengan bauk di masa depan.
"Aku merasa deg-degan" Mawar memegang dadanya.
Gaffin tersenyum dan sebelah memegang tangan Mawar menenangkan, sedang tangan yang satunya memegang setir mobil. Tadi Gaffin menjemput Mawar dari rumahnya, Mawar tidak lagi tinggal di rumah tantenya dan hanya mamanya saja. Ini semua untuk menghindari papanya yang akan mencari msalah dengan menjauhkan Mawar dan Hanako. Sampai sekarang papa Mawar belum mengetahui kedatangan mantan istrinya itu, tapi cepat atau lambat papanya akan tahu.
Rencana hari ini Gaffin ingin memperkenalkan Mawar secara resmi sebagai calon istrinya, Mawar terus mengatur nafas dengan tangan yang tetap memegang dada yang berdenguk kencang. Ia benar-benar gugup pasalnya ini pertama kalinya ia akan bertemu dengan orang tua Gaffin. Rencananya setelah pertemuan Mawar dan orang tua Gaffin, Gaffin dan orang tuannya akan melamar Mawar secara resmi.
"Ayo" Gaffin membuka pintu mobil, menuntun Mawar keluar dari dalam mobil. Mereka sekarang telah tiba dikediaman keluarga Gaffin. Hal itu semakin membuat Mawar gugup dengan hati yang deg-degan.
Gaffin duduk di hadapan Mawar sambil meraih tangannya, ia menatap wanita yang ia sayangi itu dengan senyuman. Ia tidak menyangkah wanita yang ada di hadapannya ini akan benar-benar gugup. Ia memegang erat tangan Mawar untuk menenangkan.
"Kau tenang saja, mom dan daddy aku pasti senang. Lagi pula aku dari awal sudah bilang pada mereka. Jadi, kau tidak perlu khawatir memikirkan semua itu.Kamu harus yakin dan percaya kalau semua akan baik-baik saja"
Mawar *** tangan Gaffin kemudian menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlaham. Ia tersenyum memandang Gaffin dan mengangguk.
"Baiklah"
Mawar turun dengan Gaffin yang tidak pernah melepaskan tangannya dari jemari Mawar. Gaffin menuntun Mawar masuk di ke kediamanya.
Semua mata tertuju pada pasangan yang baru masuk itu, tampak begitu serasih dengan Gaffn yang memakai Blazer coklat dengan dalaman putih dan celana jins hitam yang sangat cocok dengannya. Sedang Mawar dengan dress selutut yang sederhana namun elegan berwarna peach itu sangat cocok dengan tubuhnya yang mungil.
Mawar mencoba memasang senyum terbaiknya walaupun gugup meliputi hatinya. Gaffin terus mengandeng erat tang Mawar untuk memberikan kekuatan dan juga ketenangan untuk menghadapi kegugupan yang melingkupinya.
__ADS_1
Mawar menatap ke arah dua perempuan yang sangat ia kenal, ya itu Ayumi dan ibunya, ada Keyla dan ada dua pasang suami istri yang ia kenal walau tidak pernah bertemu langsung. Ia dulu sering melihat mereka di televisi juga majalah-majalah. Wajah mereka bahkan tampak masih sangat muda, dan dia baru sadar bahwa ibu Ayumi mirip dengan wanita yang sedang memangku Keyla.
"Selamat malam semuanya" Sapa Gaffin saat sampai di hadapan mereka.
Ayumi tampak memandang sinis ke arah Mawar tak suka. Ia tidak menyangkah jika rencananya mendatangkan Yuki saat di jepang lalu tidak berhasil membuat Mawar dan Gaffin salah paham. Dan sekarang mereka makin mesra dan mereka akan segera melaksanakan pernikahan. Tapi Ayumi tidak hilang akal untuk menggagalkan semua itu, perempuan yang pantas untuk Gaffin itu adalah perempuan yang muda dari Gaffin bukan perempuan yang memiliki usia lebih tua dari Gaffin, bahkan cukup jauh.
Gaffin menuntun Mawar duduk di salah satu bagian sofa yang kosong di dalam ruangan keluaraga yang sangat besar dan luas itu.
"Jadi ini yang namanya Mawar" ujar ibu Gaffin
"Iya, mom" jawab Gaffin tersenyum bangga memperkenalkan Mawar di hadapan keluarganya.Sedangkan Mawar tampak tersenyum malu dan gugup.
Ayumi memutar bola mata malas melihat Mawar yang menurutnya sok cantik di hadapan orang tua Gaffin.
Mawar kemudian sedikit memajukan badannya dan mengulurkan tangan kepada orang tua Gaffin yang duduk di hadapannya.
"Pantas Gaffin ingin segera menikahimu, ia takut peremuan cantik dan baik sepertimu tidak ia dapatkan lagi jika sampai melepaskanmu" goda ayah Gaffin yang membuat pipi Mawar merona.
"Makasih om" Mawar tersenyum.
setelah itu ia beralih pada Lisa dan Ayumi "hai juga tante Lisa, Ayumi"
"Iya sayang, Gaffin beruntung mendapat perempuan seperti kamu" ujar Lisa tulus.
Mawar tertunduk malu "terima kasih tante" ia kemudian tersenyum pada Ayumi dan kembali duduk di samping Gaffin dengan baik.
__ADS_1
Keyla mendekat padanya dan memintah untuk di gendong. Semua orang di sana mengkerutkan dahi bingung, bagaimana bisa Keyla begitu akrab dengan orang baru kecuali Gaffin yang tampak biasa-biasa aja.
"Kak Mawar, temenin key main lagi" ucapnya dengan suara cempreng khas anak kecil.
"Iya, nanti kakak temenin" ujar Mawar pada gadis kecil yang kini sudah berada di pangkuannya.
"Kamu pernah kesini" tanya ayah Gaffin.
"Iya, dia pernah kesini" jawab Gaffin "waktu mom dan dad jegguk opah, aku bawa Mawar buat bantuin aku jagain Keyla" jelas Gaffin.
"Oh gitu" ibu Gaffin tersenyum simpul, anaknya ini bisa saja, sudah jelas-jelas pelayan di rumah ini banyak yang akan membantunya.
Ia memang tidak memperkerjakan pengasuh anak setelah peristiwa yang hampir memisahkan dia dan juga Keyla, tapi dia juga masih punya orang-orang terpercaya yang sudah lama bekerja dan setia padanya.
"Gimana kalau kita makan dulu" ujar ayah Gaffin.
"Iya, kami sudah mempersiapkan makan malam untuk menyambut tamu spesial" sambung ibu Gaffin sambil melihat ke arah Mawar yang kini menunduk malu dengan pipi yang merona "ayo Key sayang, sama mom. Kak Mawar mau makan dulu" Keyla langsung turun dari pangkuan Mawar dan menuju ibunya.
"Ya udah, aku juga udah lapar" Gaffin kemudian berdiri. Ia meraih tangan Mawar untuk ikut berdiri bersamanya.
Semua ikut berdiri dan akhirnya mereka pergi menuju meja makan.
Mawar mengkerutkan dahi, banyak sekali makanan yang ada di atas meja itu. Bahkan meja yang besar itu hampir penuh dengan makanan, ini bukannya pertama kali ia melihat makanan di atas meja. Hanya saja menurutnya itu sangat berlebihan. Berbagai macam makanan tersaji di atas meja dengan tampilan yang mengiurkan dan juga aroma sedap yang langsung memasuki indra penciuman mereka.
para pelayan di rumah itu membukakan kursi dan mempersilakan mereka untuk duduk.
__ADS_1
Mawar tersenyum dengan semua perlakuan itu, walaupun ia berasal dari keluarga kaya juga tapi ia tidak pernah di perlakukan berlebihan seperti itu. Dan mungkin juga karena selama ini ia selalu bersama dengan anak-anak panti asuhan yang membuatnya selalu bersyukur dengan apa yang Tuhan berikan padanya.