
Keesokan paginya Mayra sudah meminta supir taksi untuk mengangkat beberapa koper untuk di masukan ke dalam bagasi mobil, Cantika yang melihat Mayra sangat sibuk memindahkan koper dari kamar sampai lantai bawah membuatnya sedih.
Ini terakhir kalinya dia bertemu dengan Mayra, kedepannya dia tidak tau apakah bisa bertemu dengan Mayra atau tidak. Mayra yang sudah siap dengan semuanya melihat Cantika sibuk melamun.
"Bu!" panggil Mayra yang menghampiri Cantika yang sibuk duduk sambil melamun.
"Ibu kenapa?" tanya Mayra membuat Cantika memilih menatap Mayra.
"Tidak apa-apa nak."
"Ibu yakin tidak apa-apa?" tanya Mayra sekali lagi, karena tidak mungkin Cantika melamun terlalu lama sampai dirinya sibuk memindahkan koper dan Cantika malah sibuk melamun di ruang tamu.
"Bu! Aku tau ibu khawatir sama aku, tapi Bu aku bisa jaga diriku baik-baik. Aku sebisa mungkin akan beri kabar untuk ibu, jadi ibu jangan sedih lagi ya." ucap Mayra yang menyentuh kedua tangan Cantika.
Cantika tersenyum lalu mengangguk, dia juga segera memeluk tubuh Mayra dengan lembut saat itu juga Mayra membalas pelukan Cantika.
Pertama kalinya dia meninggalkan Cantika sendirian di rumah, ia juga tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya. Kalau dia jujur pasti ibunya akan marah besar, sedangkan Mayra sudah banyak menutupi banyak masalah mulai dari pekerjaan sampai berbohong sudah mendapatkan tempat tinggal.
Kedua wanita itu melepaskan pelukan, mereka saling melempar senyuman barulah Cantika mengantarkan Mayra ke depan karena supir taksi meminta Mayra untuk segera berangkat.
Sebenarnya yang menjemputnya ke rumah bukanlah supir taksi, melainkan supir pribadi yang diperintahkan oleh Edrick. Mayra masuk ke dalam mobil dengan melambaikan tangan kearah Cantika saat mobil itu sudah mulai pergi.
"Ibu aku janji setelah hutang budi ku lunas aku akan kembali." batin Mayra yang sudah menutup kaca mobil.
Selama di perjalanan Mayra memilih diam, sedangkan supir yang sibuk menyetir mobil terus menatap Mayra dari kaca spion. Tidak butuh waktu lama akhirnya mobil itu sampai, mobil hitam itu masuk di sebuah rumah yang begitu mewah dan megah.
Sangat berbeda sekali dengan rumahnya, mobil itu berhenti saat supir pribadi Edrick turun untuk membuka pintu mobil.
"Kita sudah sampai nona." kata supir itu, Mayra turun dari mobil dan dia sangat takjub dengan rumah yang ada di depan matanya.
Baru pertama kalinya Mayra melihat rumah semewah ini, baginya seperti mimpi datang ke rumah seperti ini dengan pakaian seperti pembantu.
__ADS_1
"Silakan nona masuk! Tuan udah menunggu anda di dalam." ucap salah satu laki-laki yang baru saja muncul di hadapannya.
"Kenalkan saya Nik. Orang kepercayaan tuan Edrick, saya diminta tuan Edrick untuk menyambut kedatangan nona. Mari nona saya antar nona ke tuan Edrick."
Mayra melangkah dengan beberapa art membawa koper, tanpa Mayra sadari ia terus melihat sekeliling rumah yang baru pertama kali dia injak. Bagi orang lain rumah ini tidak begitu mewah sedangkan baginya sangatlah mewah.
Mayra tidak sadar kalau dirinya menabrak punggung Nik, "Maaf tuan Nik." ucap Mayra yang merasa bersalah tidak memperhatikan jalan karena dia terlalu fokus dengan isi rumahnya.
Nik tidak menjawab apapun dia malah tersenyum lalu meminta Mayra melihat kearah Edrick, "Kamu kembalilah Nik! Dan kamu Mayra kemari-lah."
Mayra melangkah mengikuti perintah Edrick, awalnya dia duduk sangat jauh tetapi tangan Edrick terlalu kuat saat tangan kekar itu menarik pergelangan tangannya.
"Saya sudah katakan sama kamu jangan duduk berjauhan, saya lebih suka kalau kamu duduk di dekat saya."
"Maaf tuan." balas Mayra yang tidak berani menatap wajah Edrick.
Edrick begitu gemas dengan Mayra, ia mengangkat dagu Mayra dengan satu tangan. Barulah ia melihat mata polos, dan wajah cantik Mayra.
"Jangan nunduk gitu saya tidak suka kamu menunduk. Kalau kamu sedang bertemu seseorang seharusnya kamu pandangi matanya bukan malah mengalihkan pandangan kamu." kata Edrick membuat Mayra diam karena sibuk memandangi wajah tampan Edrick.
"Malam ini kamu harus temani saya ke acara pesta ulang tahun sahabat saya, jadi kamu harus tampil cantik malam ini."
"Baik tuan."
Edrick terus memandangi Mayra dari kejauhan sampai wanita itu benar-benar menghilang, sedangkan Mayra di antar ke kamar yang sudah disiapkan oleh Art.
Seorang wanita yang sudah lama bekerja di sana mengantarkan Mayra ke kamar, di sanalah Mayra melihat bagaimana kamar barunya yang sangat berbeda dari kamar dia sebelumnya.
"Nona kenapa melamun?" ucap pelayan wanita itu yang menyadarkan Mayra yang sibuk memandangi kamar barunya.
__ADS_1
"Hah? Tidak apa-apa Bu."
"Panggil Nara. Saya ketua pelayan yang sudah lama bekerja dengan tuan, jadi kalau nona butuh bantuan saya bilang sama saya aja ya."
"Iya Bu Nara."
"Baiklah kalau gitu saya pergi dulu." Mayra mengangguk tanpa menatap Nara, dia masih tidak percaya kalau kamar ini sudah menjadi kamar pribadinya.
Ini sungguh luar biasa, kamar sebesar dan seluas ini menjadi kamarnya. Mayra sangat senang dengan apa yang dia lihat, sejujurnya dia sangat malu tinggal di sini tapi mau gimana lagi dia harus mengikuti perintah dari Edrick. Laki-laki yang sudah menolongnya.
Malamnya Mayra sudah siap akan dibawa pergi oleh Edrick, ia tidak tau akan datang menghadiri acara apa. Apakah pesta ulang tahun biasa atau apa, dia belum pernah datang ke acara penting seribet ini.
"Apa Mayra sudah siap Nara?" tanya Edrick yang baru saja keluar dari ruang ganti pakaian, Nara mengangguk barulah wanita itu pergi dan mempersilahkan Edrick melihat penampilan Mayra.
Mayra sangat tidak percaya dengan penampilannya malam ini, seperti bukan dirinya yang ada di depan cermin. Gaun mewah ini sangat membuatnya tidak nyaman, apalagi ada belahan di bagian kakinya.
Edrick terus menatap penampilan Mayra tanpa berkedip, Mayra sangatlah cantik sampai dirinya terpesona dengan kecantikan yang dimiliki Mayra. Mayra yang sibuk menatap penampilannya tiba-tiba saja ada seseorang yang memeluk tubuhnya.
"Baby malam ini kamu cantik sekali." ucap Edrick yang sibuk memeluk tubuh Mayra, Mayra yang sadar akan pelukan itu sedikit terkejut dengan perlakuan manis yang diberikan Edrick.
"Ma-makasih tuan! Tapi saya tidak nyaman kalau dipeluk seperti ini."
"Oh maaf kalau saya membuatmu tidak nyama." Edrick segera melepaskan pelukannya, lalu dia melihat penampilan Mayra lewat dari cermin.
"Kamu jangan kaget gitu Mayra, anggap aja kamu lagi interaksi dengan sifatku. Nanti kamu akan terbiasa dengan kehidupan di rumah ini dan kamu juga terbiasa dengan sifatku ke kamu." kata Edrick membuat Mayra malu, karena ulahnya sendiri membuat dia di tegur seperti itu.
"Maaf tuan, kedepannya saya tidak akan mengulanginya lagi."
Edrick kembali menatap Mayra tanpa melihatnya lewat cermin, "Tidak apa-apa Mayra, saya anggap kamu belum terbiasa aja. Jadi kamu biasakan aturan saya dan aturan rumah ini ya, ayo kita berangkat sekarang aja."
__ADS_1
Mayra menerima tangan yang diberikan Edrick, awalnya tangan itu tidak ingin dia sentuh tapi pria ini memintanya untuk menyentuh tangannya.