
"Kamu masih tidak mau mengatakan sesuatu tentang pekerjaan kamu ini?" pertanyaan itu membuat Mayra memberanikan diri untuk menatap Edrick, saat ia merasa ketakutan mendengar amarah yang keluar begitu saja.
"A-aku melakukan ini untuk hidupku. Aku tidak mau menyusahkan orang lain apalagi menyusahkan kamu." ucap Mayra yang sekarang sudah bisa menatap bola mata Edrick.
Edrick memutuskan untuk melepaskan tubuh Mayra, ia memilih meninggalkan Mayra di luar toilet tanpa menunggu Mayra yang masih ada di sana. Tetapi Mayra yang melihat kepergian Edrick langsung bergegas menyusul Edrick.
"Tunggu Edrick kamu mau kemana?" tanya Mayra saat ia berhasil menahan Edrick masuk ke dalam mobil.
"Kenapa? Kamu mau bilang apa tentang semua kebohongan kamu selama ini, apa kamu pikir aku ini bodoh yang selalu percaya sama kamu. Sekarang aku sudah tahu semuanya tentang kamu May, aku pikir kamu wanita baik-baik ternyata aku salah."
"Kamu sama seperti pel@cur yang menjual tubuhnya untuk mendapatkan uang." kata Edrick yang tanpa sengaja menghina Mayra di depannya.
Mayra yang mendengar ucapan Edrick seakan tidak terima, selama ini ia selalu menyembunyikan identitasnya tapi apa semuanya malah kacau balau. Ia melakukan ini untuk menghidupkan dirinya sendiri, walau sebenarnya ia merindukan ibunya.
"Ya! Aku emang pel@cur. Pel@cur yang sudah kamu beli, dan aku bisa sampai sekarang berkat kamu yang menolongku dari pria brengsek. Tapi apa tindakan kamu sekarang, kamu malah menghinaku wanita tidak benar. Apa selama ini kamu merasa benar karena mencoba merendahkan orang lain? Apa kamu tidak punya otak untuk berpikir kenapa aku bisa jadi seperti sekarang."
"Kalau kamu merasa paling benar aku akui kalau kamu emang paling benar dan paling segalanya. Tapi mulutmu itu sama saja sudah menyakiti perasaan orang lain, apa kamu tidak sadar kenapa aku bisa sampai di sini dengan tujuan yang kamu berikan untuk menepati kontrak perjanjian kita. Apa kamu lupa tentang itu?"
Edrick terlihat bagaimana dirinya membawa Mayra ke dalam rumahnya, dialah yang meminta wanita ini datang dengan menuruti semua keinginannya. Tapi malah dialah yang merendahkan Mayra dan mengatakan Mayra sebagai pel@cur.
"May aku tidak bermaksud seperti itu." kata Edrick melihat kalau Mayra malah tidak menatapnya.
"Cukup! Aku sudah capek dan muak sama kamu, selama ini aku terima perlakuan kamu ke aku. Mulai kamu jadikan kamu budak nafsu sampai kamu membawa aku ke rumah kamu dan membayar ku dengan uang."
Mayra diam sejenak sebelum ia kembali bicara, "Aku sudah capek sama sikap kamu selama ini, aku sudah tidak mau berada di rumah kamu lagi. Aku mau kamu lepaskan aku dari kontrak perjanjian kita dan kita sudah tidak ada status apapun lagi."
__ADS_1
Saat Mayra berbalik untuk pergi tiba-tiba saja Edrick kembali bersuara dan menghentikan langkah Mayra, "Silakan saja kamu pergi dari kehidupanku May. Asalkan kamu bisa membayar semua yang pernah aku berikan ke kamu selama kamu berada di rumahku."
Mayra mengepal tangannya saat mendengar kalimat yang dilontarkan Edrick kepadanya, lalu ia membalik tubuhnya untuk melihat Edrick.
"Baik aku akan mengabulkan keinginan kamu." balas Mayra, lalu ia mengeluarkan handphone dari dalam tas.
Di sana ia mengirimkan semua uang yang pernah diberikan Edrick, dari awal ia tidak pernah memakai uang pemberian Edrick. Ia malah menyimpan uang itu untuk di simpan tanpa dipakai sedikitpun, tidak hanya uang bulanan saja yang Edrick kasih. Semua fasilitas mulai dari biaya kuliah sampai semuanya sudah di bayar dengan uang.
Jumlah uang itu sudah dikirim oleh Mayra, Edrick yang mendapat pesan transfer dari Mayra menatap wanita di depannya. Ia tidak menyangka selama ini Mayra tidak memakai sepersen pun uang yang dia berikan, malah uang itu kalau dihitung-hitung jumlahnya hampir sama dengan apa ia jumlahkan selama ini.
"May, aku..."
"Cukup! Aku sudah memberikan semua uang yang selama ini kamu kasih ke aku, tidak hanya itu saja biaya lainnya selama di rumah kamu sudah aku kembalikan. Jadi, kamu tidak usah khawatir masalah itu, aku sudah tidak punya kontrak atau hutang dengan kamu." tutur Mayra lalu wanita itu pergi meninggalkan Edrick yang hanya membeku saat mendengar perkataan Mayra.
Mayra memutuskan untuk kembali ke rumah Edrick, ia dengan langkah cepat pergi ke kamar untuk mengambil barang bawaannya selama tiba di rumah ini. Tanpa menunggu kedatangan Edrick ia segera pergi dari rumah ini, rumah yang sudah menjadi kenangan.
Mayra masuk ke dalam mobil saat taksi online itu menunggu Mayra, ia meminta supir taksi itu untuk ke alamat rumahnya. Selama bekerja Mayra sudah menyiapkan rumah untuk ia tinggalkan bersama dengan ibunya, malam ini ia akan tinggal di rumah barunya barulah besok ia akan bertemu dengan ibunya.
Tidak dengan Edrick yang tidak percaya dengan apa yang ia lakukan ke Mayra, selama ini ia tidak pernah mempermasalahkan Mayra. Tapi malah dirinya yang menjadi petaka sudah menyakiti Mayra, sejujurnya ia tidak mau seperti ini tapi rasa emosi itu menggerogoti jiwanya sendiri.
Sampailah dimana ia berhasil menyakiti perasaan Mayra, wanita yang selama ini tinggal dengannya dan menjadikan wanita itu wanita simpanannya. Tapi sekarang ia malah menghancurkan semuanya.
"Maafkan aku May. Aku tidak sengaja menyakiti perasaan kamu, aku tidak mau melihatmu seperti itu May. Aku mau kamu tahu kalau aku sayang sama kamu, aku tidak pernah menganggap kamu wanita simpanan apalagi wanita pemuas nafsu."
"Aku salah sudah mengatakan kamu pel@cur, akulah yang menjadikan kamu wanita pel@cur untuk memuaskan ku." batinnya dalam hati yang sudah berada di bangku.
__ADS_1
Setelah pertengkaran itu Edrick kembali ke apartemen, tapi bayangan yang dikatakan Mayra terus melintas dalam benaknya. Ia juga tidak tahu kenapa sekarang hidupnya semakin berantakan, dan malah ia sudah menghancurkan semuanya.
Edrick memilih untuk keluar dari kamar, ia pergi ke dapur untuk mengambil minuman. Di sana ia melihat banyak minuman yang memang tersedia, Edrick mengambil satu botol minuman tanpa mengambil gelas. Ia membawa botol minuman itu ke ruang tamu.
Edrick menyalakan televisi, ia mengamati layar televisi itu saat tenggorokannya merasa kehausan. Ia membuka minuman itu dan di masukan ke dalam mulutnya tanpa menggunakan gelas. Air yang berada di botol masuk ke dalam mulutnya, dengan cepat minuman itu sudah ditelan dan masuk ke dalam tubuh.
Tapi Edrick mengira kalau minuman itu tidak mengandung alkohol yang tinggi, malah ia tidak sadar kalau kandungan alkohol yang berada di minuman itu cukup tinggi. Apalagi minuman ini tidak pernah diminum olehnya, walau ada acara ia lebih memilih mengambil jus tanpa minuman berbau alkohol.
Satu botol habis begitu saja, ia bergegas untuk mengambil dua botol dengan rasa yang sama. Edrick kembali duduk di ruang tamu dengan menikmati minumannya, entahlah sudah berapa kali ia terus meracau dengan kalimat melantur. Tapi ia sama sekali tidak sadar kalau akhirnya ia mulai terlelap dan mulai masuk ke dalam mimpi.
Nik yang baru saja tiba di apartemen Edrick, membuka pintu apartemen dan ia menggeleng kepala saat melihat bagaimana kacaunya bosnya ini. Ini pertama kalinya ia melihat bosnya kacau seperti ini, biasanya bosnya tidak pernah mengalami hal seperti ini.
Nik melangkah untuk membangunkan Edrick yang masih tertidur di sofa panjang, ia menyamakan posisi Edrick untuk mencoba membangunkan bosnya. Selama membangunkan Edrick, ia sama sekali tidak melihat kalau Edrick bangun malah pria ini hanya meracau tidak jelas.
"Pak! Bangun Pak! Ini sudah pagi. Bapak masih ada meeting di kantor." kata Nik mencoba membangunkan Edrick kembali, ia terus berusaha membangunkan Edrick sampai akhirnya ia menemukan satu cara supaya bosnya bangun.
Tanpa merasa takut sedikitpun Nik mulai menyiram tubuh Edrick dengan air secara langsung, tanpa menggunakan jari tangannya ke wajah Edrick. Tapi malah dengan cara inilah Edrick bangun.
"Kamu... kamu ini mau saya pecat, hah!" erang Edrick yang melihat Nik berada di hadapannya, dengan mengguyur tubuhnya menggunakan air satu gayung.
Seluruh pakaiannya sudah basah begitupun dengan sofa, Nik merasa tidak takut sama sekali dengan tatapan tajam yang diberikan Edrick. Baginya tatapan itu sudah tidak mempan lagi.
"Pak, saya minta maaf sudah lancang membangunkan bapak dengan air. Tapi hari ini bapak ada meeting dan bapak harus bersiap-siap untuk menemui klien."
"Hem." jawab Edrick dengan malas, ia juga tahu dengan jadwalnya. Tapi tidak harus membangunkannya seperti itu, kalau tidak membutuhkan sekretaris mungkin ia sudah memecat Nik dari kantor.
__ADS_1