
Mayra seperti ingin menjambak rambutnya sendiri saat gelombang kenikmatan itu terus datang, walau dia tahu kalau permainan Lion sangat ahli dibandingkan Edrick. Dia tidak bisa membedakan mana yang lebih lihai mana yang tidak, yang pasti kedua pria ini sama-sama bisa membuatnya merasakan gairah yang luar biasa.
Di bawah meja Lion semakin mempermainkan Mayra, ia ingin melihat bagaimana wanita ini merasakan gelombang kenikmatan itu. Walau dia tahu sebenarnya Mayra sudah tidak tahan dengan permainannya ini.
"Li-Lion apa yang kau lakukan... Mmpphhh..." desis Mayra dengan kencang, ia sudah tidak bisa menahannya lagi.
Ia sudah tidak peduli kalau nanti Edrick mendengarnya, yang terpenting suara kenikmatan itu sudah dikeluarkan. Permainan mereka masih saja berlangsung begitupun dengan Lion, Edrick keluar dari ruang kerjanya menuju ke tempat meja makan.
Di sana ia masih melihat Mayra yang masih nyaman duduk, "May, tumben banget kamu masih ada di sini biasanya sudah berangkat ke kampus." ucap Edrick yang sudah berdiri di belakang Mayra.
"Ya! Aku masih nyaman aja di sini, lagian juga ke kampus juga percuma kalau hanya satu pelajaran saja. Oh ya kamu sudah mengambil barang yang tertinggal?" Mayra mencoba bertanya walau ia tahu kalau dirinya tidak bisa bicara lebih lama.
"Sudah." jawab Edrick. Sebelum pria itu pergi Edrick mencium bibir Mayra dari arah belakang, ia membuat Mayra mendongak ke arahnya dengan mengikuti arah ciuman yang diberikan Edrick.
Hari ini dimana Mayra dihajar habis-habisan oleh dua laki-laki sekaligus, Mayra semakin mendapatkan kenikmatan yang luar biasa dari biasanya. Ini adalah kenikmatan yang tidak terduga sebelumnya, bermain dengan dua laki-laki sekaligus dalam satu hari.
Edrick menghentikan ciumannya dan tersenyum melihat tanda yang sengaja ia berikan untuk Mayra, setelah bermain dengan Mayra barulah Edrick pergi lagi dan berjalan ke tempat mobilnya berada.
Sedangkan di bawah meja Lion sudah menghentikan aksinya, ia segera bangkit dari sana dan segera bangun untuk duduk di bangku.
"Gimana permainanku apa kau menyukainya?" tanya Lion yang sudah puas dengan kegiatannya barusan, Mayra mengangguk saja karena ia sangat sibuk mengatur nafasnya.
"Apa bang Edrick menciummu barusan?" tanya Lion menatap Mayra lalu wanita itu mengangguk.
"Pantas keluarnya banyak. Sepertinya menyenangkan sekali kalau nanti kita bermain bertiga, apalagi kamu yang menjadi wanita pemuas nafsu kita berdua. Kira-kira bang Edrick akan menyetujuinya gak ya?" ucap Lion sedang memikirkan dan membayangkan kalau mereka bermain secara bersamaan.
"Kalian enak aku yang kewalahan menghadapi permainan kalian berdua."
__ADS_1
"Tapi seru juga May. Pasti bang Edrick tidak keberatan dengan ide mesum ku ini." urai Lion yang secara tiba-tiba sebuah pisau kecil di ambil dari tangan Mayra.
Lion segera menghentikan Mayra dengan meletakan pisau kecil itu, "Aku bercanda May."
Edrick selalu melakukan pekerjaan dan bertemu banyak manusia yang mau bekerja sama dengannya. Banyak sekali manusia yang nafsu akan kekayaan, apalagi ia melihat jelas kalau cara yang mereka lakukan sangatlah licik. Segala cara ingin mendapatkan keuntungan sendiri, tapi baginya ia tidak mungkin dibodohi apalagi melihat dengan jelas rencana licik mereka.
Hari ini Edrick sedang melakukan perjalanan untuk menemui klien, kliennya ini seorang wanita yang dihormati oleh kalangan bisnis. Apalagi wanita ini sangatlah pintar dan cerdas, sampai ia pernah mendengar beritanya kalau wanita ini bisa menipu orang yang ingin menipu dirinya.
Ada satu hal yang membuatnya menarik dari kliennya, wanita ini adalah mantan kekasih adik sepupunya. Yang berarti ia akan bekerja sama dengan mantan Lion, memang ia belum pernah bertemu dengan pacarnya Lion tapi Lion selalu menceritakan kekasihnya itu.
***
Edrick akhirnya bisa bertemu dengan kliennya ini, wanita pintar, cantik dan memiliki daya tarik tersendiri. Wanita inilah yang selalu dibicarakan oleh Lion, ia tidak tahu kenapa Lion selalu membicarakan wanita ini, yang pasti dia ingin tahu kenapa Lion selalu mengistimewakan perempuan ini.
"Selamat siang, tuan Edrick." ucap wanita yang baru saja tiba di sebuah restoran kecil, wanita itu juga membuka kacamata hitamnya.
"Siang. Selamat datang nona Lionel, terima kasih kamu sudah mau menyempatkan datang bertemu denganku sebagai partner kerjamu nanti." kata Edrick yang membalas uluran tangan dari Lionel, wanita itu tersenyum dan segera melepaskan tangan.
"Baik Lionel mari kita bahas saja kerja sama kita." ujar Edrick tanpa mau mendengar jawaban yang akan diberikan Lionel.
Keduanya sama-sama sibuk membahas apa yang harus mereka lakukan selama membahas pekerjaan, tapi tidak dengan Lionel malah wanita itu sibuk memandangi Edrick yang mendengarkan sekretaris pribadinya membahas maksud dari kerja sama mereka.
"Bagaimana nona Lionel apakah anda tertarik dengan kerja sama ini? Atau anda ingin menambahkan sedikit ide tentang kerja sama yang akan kita lakukan." Nik dan juga Edrick menatap Lionel yang sibuk memandangi Edrick, entahlah apakah wanita ini mendengarnya atau tidak.
Akhirnya Lionel sadar dengan lamunannya sendiri saat ia mendengar deheman seseorang, "Masalah kerja sama ini saya serahkan ke kalian saja, saya akan mengikuti apa yang akan kalian lakukan. Kalau nanti ada kesalahan dari kerja sama ini baru saya yang akan turun tangan."
"Oke, saya sepakat." kata Edrick yang langsung menyetujui ucapan Lionel, ia juga tidak membahas apapun lagi selain pekerjaan.
__ADS_1
Selain itu, Edrick memutuskan untuk pamit karena pekerjaan di antara mereka selesai. Tapi saat Edrick mau menyusul Nik tiba-tiba saja Lionel menahannya.
"Tunggu tuan Edrick, bolehkah saya bicara sebentar denganmu?" tanya wanita itu yang berharap kalau Edrick menyetujuinya, Edrick menatap wanita itu dan segera mengangguk.
Lionel tersenyum lalu ia segera mengikuti langkah kaki pria itu, mereka berdua masuk ke dalam mobil Lionel. Mereka berdua menuju ke salah satu cafe terdekat karena waktunya menunjukan jam makan siang.
Lionel berinisiatif untuk mengajak makan bersama walau ia tidak ingin bertemu dengan wanita lain selain Mayra, "Apa yang ingin kamu bicarakan kepada saya nona Lionel. Apakah pembicaraan kali ini penting atau ada masalah tentang pekerjaan?"
"Tidak ada." mereka berdua duduk saat sudah menemukan tempat, "Saya meminta kamu untuk menemani saya makan siang, lagian sebentar lagi kita akan menjadi panther kerja jadi menurutku hal seperti ini wajar. Supaya di antara kita tidak ada rasa canggung, benar begitu Edrick."
Edrick mengangguk tanpa bicara apapun, ia hanya sibuk menatap buku menu makanan yang baru saja diberikan oleh pelayan restoran. Edrick memesan beberapa makanan dan minuman, sedangkan Lionel mengikuti apa yang dipesan Edrick.
"Wah, ternyata kesukaan kita sama. Saya tidak menyangka tuan Edrick menyukai aneka makanan laut, kalau begitu saya bisa berbagi pengalaman mengenai hidangan laut." tutur Lionel berusaha mengajak Edrick bicara.
Tapi Edrick sama sekali tidak peduli yang hanya pria itu pedulikan hanyalah handphone, ia baru saja mendapatkan pesan dari Mayra kalau wanita itu baru saja membuatnya terkekeh.
"Tampan juga pria itu kalau sedang tersenyum." batin Lionel dalam hati saat ia melihat Edrick tersenyum saat melihat handphone.
"Senyuman kamu bagus juga Edrick, saya baru tahu kalau kamu sangat tampan kalau lagi tersenyum begitu." lontar Lionel membuat senyuman dari bibir Edrick menghilang, pria itu langsung menatap Lionel yang melemparkan senyuman.
"Terima kasih. Sepertinya kamu tidak berhak melihat saya tersenyum, karena hanya orang yang saya cintai yang bisa melihat senyum saya ini." balas Edrick dengan datar, ekspresi wajah yang diberikan Edrick sangatlah menyeramkan.
Karena ini pertama kalinya Lionel melihat laki-laki berwajah datar tanpa ekspresi itu, sebenarnya ia takut melihatnya tapi ia memberanikan diri untuk membuang rasa takut itu.
"Beruntung juga wanita yang kamu cintai itu, mendapatkan laki-laki seperti kamu yang jarang menampakan senyuman kepada wanita lain. Aku merasa wanitamu itu sangat beruntung mendapatkan kamu, dan aku sangat iri dengan wanitamu itu." kata Lionel yang terus menggoyangkan gelas yang sudah berisi minuman pesanannya.
"Bukan dia yang beruntung tapi aku. Dia wanita berbeda yang pernah aku temui, walau dia tahu sebenarnya dia sangatlah unik makanya saya bisa jatuh cinta dengannya." dibenaknya Edrick selalu membayangkan Mayra apalagi saat ia selalu menggodanya, tidak dengan Lionel yang merasa kesal melihat Edrick tersenyum sambil melamun.
__ADS_1
Mendengar pujian itu seakan dirinya tidak menyukainya, sebenarnya ia ingin tahu siapa wanita itu sampai pria seperti Edrick memuji wanita itu.
"Aku ingin tahu apa hebatnya wanita itu sampai Edrick memujinya terus, aku rasa dia lebih rendah dariku." batin Lionel yang segera melahap minuman itu kembali.