
"Kamu gimana kabarnya? Sudah lama ya tidak ketemu kamu lagi. Oh ya bang Edrick terus mencari keberadaan kamu, mungkin kalau bang Edrick tahu dia akan senang melihat kamu di sini." kata Lion yang terus memperhatikan Mayra.
Sejujurnya Mayra tidak tahu harus mengatakan apa kepada Lion, dia juga tidak mengerti kenapa Edrick sibuk mencari keberadaannya. Bukankah kontrak kerja sama mereka sudah selesai, jadi buat apa pria itu mencarinya.
"Kalau gitu May aku hubungi bang Edrick saja. Pasti dia senang bisa melihat kamu lagi." ujar Lion, lalu pria itu mengeluarkan handphone membuat Mayra dengan cepat melarang Lion untuk menghubungi Edrick.
"Aku mohon sama kamu jangan bilang apapun sama Edrick kalau aku magang di kantor ini. Aku tidak mau merepotkan Edrick apalagi membuatnya kesusahan gara-gara aku." kata Mayra membuat Lion menyetujui permintaan Mayra.
Akhirnya mereka berdua sepakat tidak memberitahu Edrick, begitupun dengan Lion yang berjanji untuk tidak bicara apapun tentang Mayra. Apalagi sampai Edrick tahu tempat tinggal Mayra, mungkin pria itu akan melakukan segala cara untuk membawa Mayra kembali.
"Makasih ya Lion kamu sudah tidak memberitahu keberadaan ku. Aku tidak mau sampai Edrick tahu alamat rumahku apalagi aku bekerja di kantor cabangnya." ucap Mayra yang menatap Lion sibuk menghisap rokok di balkon.
Lion menghisap rokok itu dan kembali melihat Mayra, "Santai aja May lagian juga aku tidak mungkin ikar janji sama kamu, tapi May aku takut kalau nanti persembunyian kamu akan ketahuan oleh Edrick. Apa kamu tidak mau memberitahu keberadaan kamu?"
Lion mendengar kalau Mayra menghela nafas sepertinya wanita ini sangat berat untuk memberitahu keberadaannya, "Masalah itu biar aku yang mencari solusinya, aku tidak mau kamu ikut campur masalah ini yang penting kamu sudah mau membantuku."
Lion tersenyum saat wanita di sampingnya memberikan senyuman manis kepadanya, selama Mayra ada di kantor cabang Lion sama sekali tidak mengetahui keberadaan Mayra, walau Edrick selalu bertanya kepadanya tentang Mayra tapi ia selalu menjawab tidak mengetahuinya.
Dia sebenarnya tidak mau membohongi abangnya tapi ia juga tidak mungkin mengkhianati Mayra sebagai teman.
"Lu kenapa lagi melamun seperti ayam yang dapat giliran untuk di potong." kata Lion yang meledek Edrick, Lion terkekeh saat Edrick mengamuk mendengar ucapannya.
"Lagian lu dari kemarin ngelamun mulu gua jadi takut kalau lu sikapnya seperti barusan." ucap Lion yang memilih mengambil remote televisi.
"Lu yakin gak tahu keberadaan Mayra?" kali ini tatapan Edrick menuju Lion yang sibuk menonton film, "Lion gua lagi bicara sama lu bukannya ditanggapin malah dicuekin."
"Gua 'kan udah bilang sama lu gua gak tahu keberadaan Mayra, lagian lu kenapa cari dia mulu. Bukannya lu udah gak suka lagi sama dia, 'kan lu juga yang membuang dia gitu aja tanpa lu sadar kalau tindakan kasar lu itu nyakitin perasaannya."
"Ya itu gua tahu. Makanya gua mau minta maaf sama dia, tapi sampai sekarang gua belum bisa menemukannya." tutur Edrick dengan raut sedih, Lion yang melihat itu merasa tidak tega tapi ia tidak mungkin memberitahu keberadaan Mayra.
__ADS_1
"Maafin gua bang, bukannya gua gak mau bilang sama lu tentang keberadaan Mayra. Tapi gua udah janji sama dia untuk tidak memberitahu keberadaannya." batin Lion yang memperhatikan Edrick lalu ia kembali menonton film.
***
Dua bulan Mayra magang di kantor cabang, Mayra bisa dengan tenang menjalani kehidupannya bersama dengan ibunya. Sekarang kehidupan sudah mulai stabil, sedangkan laki-laki yang sempat datang ke rumah sudah tidak bertemu lagi. Walau ia sangat penasaran siapa dua lelaki asing itu, tapi ia juga sudah tidak peduli lagi.
Hari ini Edrick akan mengecek satu persatu kantor cabang yang berada di Indonesia, semua kantor cabang sudah di kunjungi oleh Edrick tinggal kantor yang ada keberadaan Mayra. Wanita itu juga tidak mengetahui kalau Edrick akan menggantikan Lion, karena ia meminta Lion untuk mengurus kantor yang lain.
Awalnya Lion menolak untuk mengecek perusahaan yang berada di luar negeri, tapi ia melakukan segala cara untuk Lion pergi. Setelah berhasil akhirnya Lion memutuskan untuk pergi, dan dia juga berharap kalau Mayra tidak bertemu dengan Edrick.
"B-bukannya itu Edrick. Kenapa dia ada di kantor ini?" batin Mayra yang tidak sengaja melihat kedatangan Edrick, Mayra memutuskan untuk kabur dan melakukan cara supaya tidak menampakan keberadaannya.
"Oh ya saya minta data kantor ini dan cepat kirim data itu keruangan saya segera." kata Edrick kepada wanita yang berdiri di samping Nik.
"Baik pak. Saya akan meminta anak magang untuk mengantarkan datanya." urai wanita itu, lalu Edrick dan juga Nik pergi keruangan.
Wanita itu segera mencari Mayra tapi ia tidak menemukannya, lalu ia tidak sengaja melihat Mayra sibuk bersembunyi di balik lemari besar.
"Eh ibu. Ibu kenapa bisa ada di sini? Ibu mau sesuatu biar nanti saya panggilkan OB untuk mengantar pesanan ibu, atau saya saja yang pergi."
"Seharusnya saya yang bilang itu sama kamu, buat apa kamu ada di sini May. Di sini bukan tempat kerja kamu malah kamu bersembunyi di belakang lemari."
Mayra menggaruk kepala yang tidak merasa gatal, tapi ia juga tidak tahu harus bilang apa kepada bosnya ini.
"Oh ya May, barusan pemilik perusahaan ini datang dia ingin meminta data kantor cabang. Bukannya semua data ada di kamu semua, jadi saya minta kamu segera berikan data itu keruangan bos." perintah wanita di hadapan Mayra, lalu Mayra menunjuk jari telunjuk ke arahnya.
"Saya Bu?"
"Ya siapa lagi kalau bukan kamu." dengan terpaksa Mayra mengikuti perintah yang diberikan bosnya, Mayra segera melangkahkan kakinya menuju ruangan pemilik perusahaan ini.
__ADS_1
Sampailah Mayra berada di ruangan bos, sebelum masuk Mayra sempat mengatur nafas. Barulah Mayra membuka pintu itu saat sumber suara dari dalam mengizinkannya masuk ke dalam.
"Permisi pak, ini laporan data yang bapak minta." ucap Mayra yang meletakan laporan itu di atas meja bos.
"Baiklah, letakan saja di sana biar nanti saya yang akan mengecek laporannya." kata Edrick yang masih sibuk dengan layar komputer.
"Baik pak." Tetapi saat Edrick mendengar suara yang sangat ia kenali ia memutuskan untuk menghentikan pekerjaannya, dan ia lebih fokus dengan wanita yang membawa berkas.
"Mayra." ucap Edrick yang melihat Mayra ada di hadapannya, tidak hanya Edrick saja yang terkejut melihat keberadaan Mayra, Mayra pun sama dengan Edrick.
Pertemuan ini sama sekali tidak pernah mereka banyangkan, tapi baginya dunia terasa sempit untuk keduanya. Buktinya saja keduanya dipertemukan kembali dan Mayra sebagai karyawan magang sedangkan Edrick pemilik kantor cabang ini.
"Ya pak. Ada yang bisa saya bantu lagi?" tanya Mayra yang bersikap seperti karyawan dan bos, sedangkan Edrick terkekeh melihat Mayra bersikap formal seperti barusan.
"Kenapa kamu ketawa memangnya aku sedang ngelawak." ucap Mayra yang tidak sengaja gaya bicaranya seperti orang saling mengenal.
"Ma-maafkan saya pak, saya tidak bermaksud bicara seperti itu." kata Mayra gugup dengan kedua matanya sesekali melirik Edrick.
"Sudahlah May jangan bersikap formal lagi, lagian kita sudah saling mengenal kenapa kamu bersikap seperti itu." ujar Edrick dengan tersenyum senang saat ia bisa melihat Mayra kembali, "Gimana keadaan kamu sekarang? Apa semuanya baik-baik aja."
Mayra memberanikan diri untuk menatap Edrick lalu ia menjawab dengan menganggukan kepala, "Baguslah kalau kamu baik-baik aja, aku ikut senang melihat kamu ada di sini dan bisa bertemu sama kamu lagi."
Tidak hanya Edrick saja yang bahagia melihat keberadaannya, Mayra sama seperti Edrick tapi Mayra bersikap biasa saja tanpa kelihatan kalau dia sangat merindukan pria di depannya ini.
Tepat jam makan siang Mayra melihat ruangan kerjanya sudah kosong, sedangkan dari arah yang sama seorang laki-laki datang menghampirinya.
"Kamu tidak istirahat, May?" tanya Edrick yang berada diruangan Mayra.
"Loh kamu kenapa ada di sini, nanti kalau ada orang yang melihat kamu gimana. Pasti karyawan di sini heboh melihat bos kantor ini datang untuk menemui karyawannya sendiri." urai Mayra yang terus memperhatikan sekitar, ia juga merasa takut kalau ada orang yang melihatnya.
__ADS_1
"Kamu tidak usah khawatir May mereka sibuk cari sarapan, lagian siapa juga yang peduli pada kita berdua. Kalaupun ada gosip mengenai kita aku akan memecatnya." ucapnya dengan tegas membuat Mayra merasa ketakutan dengan ancaman itu.