
"Hai cantik! Sendiri aja." ucap seorang laki-laki yang sudah berada dihadapan Lionel, wanita cantik itu menatap lelaki di depannya dengan pandangan samar-samar.
Akibat minuman yang saat ini ia minum membuat penglihatannya tidak terlalu jelas, ia semakin tidak peduli dengan lelaki asing itu.
Lelaki itu mengambil minuman yang diambil Lionel, membuat wanita cantik itu menatap kearahnya.
"Kamu ini siapa? Kenapa kamu malah mengambil minumanku." ucap Lionel kepada lelaki di hadapannya.
"Wanita seperti kamu tidak boleh kebanyakan minum tidak baik untuk kamu. Lebih baik kamu ikut aku saja dari pada di sini." ucap lelaki itu yang menyingkirkan minuman yang ia pegang, lalu tanpa dia duga wanita asing ini mengangguk dan menyetujui perkataannya.
Tanpa basa-basi lagi, pria itu membawa tubuh Lionel ke salah satu kamar kosong. Kamar yang sudah di pesan olehnya. Ia membuka pintu itu menggunakan satu tangan, dengan tangan satunya terus membawa tubuh Lionel.
Dengan hati-hati pria itu menutup pintu itu kembali, lalu ia menguncinya terlebih dahulu sebelum dia meletakan Lionel ke ranjang. Pria itu tersenyum saat melihat wanita asing itu sudah berada di ranjang, dengan tubuh yang sudah tidak berdaya.
"Sayang sekali kalau kamu tidak dinikmati. Malam ini aku akan menikmati tubuhmu ini, dan kita bisa merasakan gairah panas duniawi yang belum kamu rasakan sebelumnya." ucap lelaki itu yang terus menyentuh wajah Lionel.
Sebelum memulai lelaki itu mendekatkan wajahnya ke wajah wanita ini, lalu tidak lupa dengan menghirup tubuh wanita cantik ini. Dia seakan beruntung mendapatkan wanita cantik ini, seakan dunia berpihak kepadanya tanpa menggoda wanita lagi.
Tanpa menunggu terlalu lama ia membuka seluruh pakaiannya dengan cepat, ia menatap kembali menatap wajah wanita yang dia bawa. Tangannya terus menyentuh wajah dan kulit mulus wanita asing ini, dan menciumi pipi wanita cantik yang masih tertidur.
Setelah puas memandangi wajahnya, ia segera menyerang wanita ini dengan ciuman lembut dan ganas. Keganasan yang dia berikan membuat wanita itu menyadari dan mengikuti irama yang ia mainkan.
Tidak terasa wanita asing ini malah membalas kegiatan panas ini, membuat dirinya semakin dibuat kenikmatan dengan suara ******* yang keluar dari bibir wanita ini. Malam yang penuh dengan kemenangan untuknya, bisa mendapatkan wanita asing dan mendapatkan sesuatu yang berharga bagi wanita ini.
Pria asing ini tidak menyadari kalau Lionel belum pernah disentuh dan dijelajahi seperti ini, apalagi sampai sejauh ini membuat Lionel masih merasakan rasa nikmat bercampur sakit di sekujur tubuhnya. Sampai tiba waktunya matahari sudah terik, lelaki asing itu sudah pergi dari sana sedangkan Lionel masih di atas ranjang.
Tubuhnya yang hanya diselimuti dengan selimut berwarna coklat, membuat mata wanita itu terbuka dan melihat keadaan sekitar dari penglihatan yang ia lihat sekarang. Lionel tampak terkejut dengan apa yang lihat sekarang, apalagi penglihatan pertama yang dia lihat adalah tubuhnya.
__ADS_1
Tubuh itu hanya ditutupi dengan selimut tanpa memakai pakaian apapun, sedangkan pakaiannya sudah ada di lantai. Membuat Lionel semakin kacau dengan apa yang terjadi pada dirinya, yang dia ingat hanya datang ke sebuah tempat diskotik yang cukup ramai. Setelah itu ia tidak mengingat apapun tentang kejadian semalam.
Lionel terus menggelengkan kepala saat ingatannya sepenuhnya tersadar, ia baru ingat bahwa ada seorang laki-laki mengajak pergi dan membuat dirinya menjadi seperti ini.
Mimpi buruk itu semakin membuatnya gelisah, bagaimana bisa ia melakukan hal menjijikan itu tanpa dia sadari. Dan itu semua terjadi pada dirinya di saat hidupnya semakin berantakan, Lionel memutuskan untuk pergi dari sana.
Dia tidak tahu harus melakukan apa lagi pada hidupnya, Lionel memutuskan untuk menyimpan rahasia ini kepada mominya. Ia tidak mau kalau mominya merasakan hancur saat mengetahui hidup putrinya tidak baik-baik saja.
Melihat putrinya kembali Meta dengan cepat menghampiri Lionel, "Kamu dari mana aja sayang, momi khawatir sama kamu."
***
Lionel terdiam menatap wajah Meta, wajah yang amat kekhawatiran itu saat bertemu dengannya. Bagaimana kalau wanita ini tahu apa yang terjadi pada dirinya, apa wanita ini akan menerimanya atau malah kecewa terhadap dirinya.
"Lionel, kamu kenapa melamun sayang. Momi sedang bicara sama kamu." ucapnya saat melihat Lionel tersenyum.
"Semalam aku pergi untuk menenangkan pikiranku mom." jawab Lionel yang seharusnya ia tidak berani membohongi mominya itu, tapi mau gimana lagi ia harus menyembunyikan kebenarannya.
Pertengkaran hebat kemarin membuat hubungan antara Meta dengan Bagas semakin renggang, keduanya sama-sama tidak saling sapa apalagi saling bertatap wajah. Lelaki itu tidak lagi tinggal di rumah melainkan tinggal disebuah apartemen yang sempat ia sewa.
Apartemen itulah yang akan menjadi tempat tinggalnya, Mayra diminta untuk datang menemui ayah kandungannya di kantor. Selesai mata kuliahnya selesai, Mayra memutuskan ke kantor Bagas.
Wanita cantik itu tiba di sebuah perusahaan yang cukup besar, ia menatapnya saja seakan takjub dengan kerja keras ayah kandungnya itu. Seakan ia tidak percaya kalau pemilik perusahaan ini adalah ayah kandungnya.
Mayra turun dari motor untuk masuk ke dalam, sebelum itu ia sempat menanyakan kepada resepsionis dimana ruangan Bagaskara. Akhirnya resepsionis itu memintanya untuk keruangan Bagas, tanpa menunggu lagi Mayra segera datang menghampiri ayah kandungnya.
Sebelum masuk Mayra tidak lupa mengetuk pintu itu, Bagas tersenyum melihat putri kandungnya datang lalu wanita cantik itu melangkah kearahnya.
__ADS_1
"Dady." panggil Mayra yang kini sudah di dekat Bagas walau masih di halangi dengan meja kerja Bagas.
"Ya sayang. Kemari dady mau bicara sama kamu." kata Bagas yang meminta Mayra untuk lebih dekat lagi, Mayra mengangguk dan melangkah menuju kearah Bagas.
Ia duduk di bangku saat lelaki itu sudah membawa bangku untuknya, Bagas terus memandangi wajah putri kandungnya yang selama ini ia cari. Dan sekarang putri kecilnya sudah tumbuh dewasa, apalagi wajahnya sangat mirip dengannya.
"Mau bantu dady mengurus perusahaan?" pinta lelaki di depannya ini, tetapi ia tidak tahu apakah bisa mengikuti permintaan ayah kandungnya.
"Kenapa kamu diam saja. Bukannya kamu anak kandung dady, seharusnya kamu yang akan mengurus perusahaan dady. Dan menggantikan dady mengurus bisnis, kamu tidak mau dengan permintaan dady yang satu ini?" kali ini Mayra tidak tahu harus menjawab apa, dia juga bingung harus apa tanpa memiliki bakat yang dia punya.
"Kamu tenang saja sayang dady akan mengajari kamu mengurus perusahaan, kamu tinggal belajar dan pahami apa yang dady katakan." ucapnya kembali saat kali ini tatapannya seakan serius, Mayra mengangguk setuju dengan keinginan ayah kandungnya.
Bagas tersenyum melihat putrinya menyetujui keinginannya, ia dengan telaten mengajari Mayra dengan teliti sampai wanita ini paham dengan maksud yang dia katakan. Ternyata dia baru sadar kalau Mayra adalah wanita yang cerdik dan pandai, baru sekali belajar wanita ini sudah paham maksud dari ucapannya.
Seakan-akan melihat dirinya waktu muda dulu, dia sangat suka dengan hal baru begitupun dengan Mayra. Putri kecilnya ini sudah tumbuh dewasa, cantik dan pintar. Itulah yang sangat ia senangi saat bersama dengan Mayra, wanita ini benar-benar mirip sekali dengan dirinya.
Walau wajahnya mirip dengan ibunya, tapi kelakuan dan sifatnya sama dengan dirinya. Hal seperti inilah yang ingin dia rasakan sejak dulu, dan sekarang hal seperti ini yang membuat hidupnya semakin berwarna.
Mayra yang merasa dadynya terus memandanginya memilih untuk melihat kearah Bagas, lelaki itu masih fokus dengannya tanpa sadar sepenuhnya.
"Dady. Dady kenapa melihatku seperti itu?" tanya Mayra yang membuat Bagas sadar akan tindakannya.
"Dady merasa kamu sama persis dengan dady semasa muda dulu, kamu ini sangat pandai dan pintar dalam hal apapun itu. Apalagi dady sangat suka dengan semangat kamu dalam belajar, dady yakin kamu pasti bisa mengurus perusahaan yang dady pimpin." kata Bagas yang tidak luput dari senyumnya, ia seakan bahagia di dekat Mayra.
Mereka berdua sama-sama melemparkan senyuman sampai waktunya ia mengantarkan Mayra pulang, "Dady tidak mau ketemu bunda dulu."
"Tidak usah sayang, kamu istirahat aja dady yakin bunda kamu sudah istirahat." balas Bagas yang masih menatap Mayra saat wanita ini sudah siap-siap untuk turun dari mobil.
__ADS_1
"Baiklah, kalau gitu aku pergi dulu. Dady hati-hati di jalan jangan ngebut bawa mobilnya."
"Ya sayang." Mayra turun dari mobil dan melihat mobil hitam itu sudah melangkah pergi barulah Mayra masuk ke dalam.