
Edrick mulai menyentuh wajah Mayra dengan lembut sampai wanita ini bisa nyaman dengan sentuhan yang dia berikan, dan benar saja Mayra mulai menyukai sentuhan Edrick walau dia susah payah untuk mengikuti kegiatan Edrick.
Mayra terus menikmati apa yang dilakukan Edrick, Edrick mencoba menatap Mayra saat wanita ini sudah menerima sentuhannya. Dia juga sangat senang Mayra bisa menerima dirinya, sentuhan Edrick berpindah ke tengkuk Mayra yang sangat menggoda.
Setelah puas bermain di bagian wajah Mayra, dia berpindah ke bagian tempat favoritnya. Mayra yang merasakan ada sesuatu yang masuk ke bagian tubuhnya mulai terbawa suasana.
Dia tau kalau Edrick mencoba memainkan tubuhnya, sentuhan pria lain mulai membuatnya nyaman dan hangat karena ini pertama kalinya dia di sentuh oleh lelaki.
Mayra yang awalnya menahan suara kenikmatan kembali bersuara dengan kencang, saat Edrick mencoba menghentikan kegiatan barusan, Edrick mencoba masuk ke dalam tubuh Mayra yang ditutupi dengan piyama.
Sentuhan itu terus bergerak saat mendapatkan sesuatu yang dia sukai, dua bukit itu berhasil dia rajin walau ukurannya melebihi kapasitas ukuran tangannya.
Edrick mencoba memainkan dua bukit itu secara bergantian sampai Mayra merasakan kenikmatan yang luar biasa, sentuhan yang diberikan pria ini sangat luar biasa membuatnya seakan-akan terbawa situasi yang menegangkan.
Mayra merasa tenang saat Edrick menghentikan kegiatan barusan, tetapi saat dia mulai mengontrol nafas pria ini mulai bereaksi dengan cepat dan lihai. Mayra seakan terperosok di dalam kandang harimau yang sedang kelaparan, itulah yang dirasakan Mayra yang menjadi santapan harimau tersebut.
Edrick mencoba memainkan benda kesukaannya membuatnya Mayra mengerang terus-menerus, erangan Mayra sangat seksi di telinganya membuat hawa nafsu itu semakin tingkat.
"Stop Edrick pelan-pelan." desis Mayra yang merasakan kalau sentuhan Edrick mulai meracau pikirannya.
Edrick tidak peduli dengan suara Mayra yang sedikit memohon itu, yang dia pedulikan sekarang hanyalah jiwa laki-laki yang selama ini dia tahan. Hari ini jiwa itu muncul di saat bersama dengan Mayra, perempuan yang baru dia temui tetapi dia berhasil masuk ke gawang yang selalu dijaga Mayra.
Sentuhan Edrick mulai terguncang pikiran dan tubuhnya, apalagi pria ini selalu hebat saat membuatnya terbang ke angkasa. Ingin rasanya dia meminta pria ini untuk bertemu lebih awal, mungkin saja dia sudah merasakan namanya kenikmatan yang seperti ini.
Mayra memeluk leher Edrick, saat pria ini mencoba menyentuhnya lagi dan lagi. Ia tidak tau sudah berapa lama Edrick menyentuh tubuhnya, dia yakin pria ini bukanlah manusia melainkan mahkluk astral yang memiliki tenaga tiga kali lipat dari manusia.
"Edrick stop aku tidak sanggup lagi." ucap Mayra yang tidak kuat menahan rasa nikmat yang dia rasakan sekarang.
"Nikmati saja sayang pasti kamu akan terbiasa dengan ini." kata Edrick yang menatap Mayra.
Edrick kembali menyentuh Mayra membuat wanita yang sekarang menikmati sentuhannya, mencoba berpikir waras. Karena pria ini selalu melanjutkan kegiatan panas itu lagi, apalagi Edrick semakin lama semakin gesit dengan kegiatan yang sekarang pria itu lakukan.
"Pelan-pelan Edrick."
__ADS_1
"Tahan sayang aku akan membuatmu menyukai ini." balas Edrick yang terus menerus menyentuh Mayra, walau wanita ini terus meminta Edrick menghentikan aksinya.
Mayra sudah mulai terbiasa dengan sentuhan Edrick, dia malah mulai menyukai sentuhan yang pria ini berikan. Dia tidak tau apakah dia sekarang mulai menyukai stamina pria ini, atau pria ini sangat hebat saat bermain di atas ranjang.
***
Edrick tersenyum saat melihat wajah cantik Mayra, dia tersenyum bahagia saat semalam bermain dengan Mayra. Apalagi wanita ini mulai terbiasa dengan sentuhan yang dia lakukan.
"Mayra, saya akan membuat kamu tetap di sisiku. Saya tidak mau kamu dimiliki orang lain, karena semua tubuh kamu hanya milikku seorang." batin Edrick terus menatap wajah Mayra yang masih tertidur.
Mayra mencoba membuka mata, penglihatan pertama yang dia lihat adalah Edrick. Lelaki itu tersenyum melihat dirinya bangun.
"Gimana tidur kamu nyenyak?" tanya Edrick membuat Mayra tersenyum dan mengangguk.
"Kamu mau kemana?" tanya Edrick yang melihat Mayra ingin turun dari ranjang.
"Aku mau mandi."
"Kamu yakin bisa sendiri?" kali ini Edrick sangat cemas dengan Mayra, dia tidak tau apakah Mayra sanggup dengan tubuhnya itu.
"Tidak usah aku bisa jalan sendiri."
"Kamu yakin?" Mayra mengangguk dengan cepat, karena dia tidak mau merepotkan pria itu.
Edrick sangat gemas dengan penolakan Mayra, sudah tau sakit masih bilang tidak sakit. Akhir Edrick menggendong tubuh Mayra, membuat Mayra berontak.
"Lepaskan aku Edrick aku bisa sendiri." protes Mayra saat tubuhnya diangkat oleh Edrick dengan mudah.
"Bisa sendiri gimana, kamu jalan aja susah gitu segala bilang bisa sendiri. Yang ada kamu tidak akan sampai ke kamar mandi." balas Edrick, akhirnya Mayra diam tidak protes lagi.
Kali ini Edrick hanya memandikan saja tidak bermain seperti kemarin, akhirnya dia mengajak Mayra makan bersama di ruang makan. Semua orang yang melihat mereka terasa senang, apalagi Nara dia sangat bahagia melihat tuannya bahagia seperti itu.
"Makan yang banyak supaya energi kamu terasa lebih kuat." ucap Edrick yang mengambil lauk untuk diberikan ke piring Mayra.
__ADS_1
"Sudah cukup Edrick piringku sudah banyak lauk yang kamu berikan."
"Tidak apa-apa Mayra. Sekarang makan jangan banyak protes." titah Edrick membuat Mayra tidak bisa berkutik dengan perkataan Edrick.
Dia tersenyum melihat Mayra mengikuti perintahnya, ia sangat bangga mendapatkan wanita seperti Mayra. Mulai sekarang dia akan terbiasa dengan kehadiran Mayra, sampai dia melupakan julukan pria liar.
Dulu dia sangat menyukai wanita seksi untuk memuaskan hasratnya, tetapi sekarang tidak lagi. Semenjak ada kehadiran Mayra dia sudah melupakan itu, dan dia mulai disibukan akan sosok Mayra.
"Kalau kamu butuh apa-apa bilang sama aku ya." ucap Edrick yang menatap Mayra dari dalam mobil sebelum wanita itu keluar.
"Ya, aku akan menghubungi kamu kalau aku membutuhkan kamu."
"Baiklah, kamu belajar yang pintar jangan pikirkan orang lain apalagi pria lain. Ingat kamu sudah milik aku sekarang Mayra."
"Ya aku tau. Sudah aku masuk ke kelas dulu kamu hati-hati di jalan." ucap Mayra membuat lelaki itu mengangguk.
Sebelum Mayra turun Edrick menarik tangan Mayra untuk mendapatkan santapan pagi, ia mencium bibir Mayra dengan lembut sampai Mayra membalas ciuman yang diberikan Edrick.
"Sudah turun nanti telat kuliahnya." Mayra membuka pintu mobil, setelah melihat Mayra masuk ke dalam barulah dia kembali menyetir mobil.
Seminggu berada di rumah Edrick ia sudah mulai bernafas lega, karena pria itu mulai mempercayai dirinya dengan syarat tidak boleh genit dengan pria manapun.
Mayra merasa keberatan dengan peraturan yang diajukan Edrick, tapi mau gimana lagi dia harus mengikuti perintah yang diberikan Edrick. Dia tidak mau mengkhianati kebaikan pria itu yang ada hutang budi yang selama ini dia lakukan hanya sia-sia.
Mayra mulai mengikuti semua pelajaran yang diberikan dosen, saat itu juga Edrick semakin bekerja keras untuk wanita yang sekarang tinggal di rumahnya. Tidak ada satupun orang yang mengetahui Mayra, hanya dia sendiri yang menyimpan Mayra di rumahnya.
"Apa kalian mau menambah ide lagi selain ide yang saya berikan barusan?" tanya Edrick kepada rekan kerjanya, semua karyawan di sana pada menatap satu sama lain.
Tidak ada satupun orang yang bisa melawan Edrick yang ada merekalah yang menjadi imbasnya, Edrick menatap mereka semua saat mereka tidak berani membuka suara.
"Saya beri kalian waktu untuk memberikan ide untuk bisnis kita ini bukan malah diam aja, kalau kalian ada ingin yang mau ditambahkan silakan. Saya tidak akan protes atau mengancam kalian seperti dulu lagi." kata Edrick membuat mereka semua kebingungan dengan sikap bosnya.
Baru pertama kalinya mereka melihat perubahan Edrick, biasanya bosnya ini tidak ingin dari mereka melakukan isi hatinya tapi sekali bosnya mulai membiasakan dirinya untuk bicara seperti itu.
__ADS_1
Salah satu di antara mereka mengangkat tangan membuat Edrick menatap karyawannya dengan tatapan tegas, "Apa bapak yakin keputusan kami? Saya takut kalau bapak tidak menerima ide yang kita berikan ke bapak."
"Jangan takut keluarkan saja isi hati kalian, saya akan menerimanya kalau ide kalian itu bagus untuk perusahaan ini." balas Edrick membuat semua karyawan tersenyum senang mendapatkan jawaban dari bosnya.