
Selesai kampus Mayra bergegas keluar dari kelas, dia tidak sengaja mendengar namanya di panggil dan ia melihat seorang laki-laki berlari kearahnya.
"Mayra." teriak lelaki asing yang membuat langkah kakinya terhenti.
"Kamu Mayra?" tanya lelaki itu yang sudah menghentikan langkahnya sejajar dengan posisi Mayra.
"Ya! Kamu siapa? Kamu mengenal saya?" tanya Mayra yang melihat pria asing datang kepadanya.
"Saya Frans satu jurusan sama kamu, saya teman SMP kamu yang dulu pernah di buli dan kamu membelaku." ucap lelaki itu membuat Mayra mengikat masa lalunya.
Seketika Mayra sadar akan perkataan pria ini, dia sekarang sudah mengingat kejadian di masa lalunya.
"Wah, aku tidak menyangka kamu sudah banyak berubah ya. Aku kira kamu masih sama seperti dulu ternyata kamu jauh sekali perbedaannya." urai Mayra membuat Frans tersenyum dengan ucapan Mayra.
"Makasih Mayra, berkat kamu aku banyak berubah. Mungkin kalau aku tidak ketemu kamu aku tidak akan berubah seperti ini."
Mayra mengangguk saat membalas perkataan Frans, "Kamu mau pulang May?" tanya Frans yang berhenti saat Mayra menghentikan langkah kakinya.
Dia menatap Frans saat pria ini menawarkan tumpangan, "Tidak usah Frans aku udah di jemput."
"Sama siapa?"
Mayra tersenyum saat melihat mobil Edrick sudah terparkir di sana, lelaki itu turun dari mobil menghampiri Mayra yang sibuk berduaan dengan pria asing.
"Sudah selesai kuliahnya?" tanya Edrick yang sibuk menatap Mayra tanpa melihat kearah lelaki yang berdiri di samping Mayra.
"Sudah."
"Ya sudah pulang yuk." sebelum Mayra mengikuti Edrick dia kembali melihat Frans.
"Frans aku balik dulu ya."
"Ya May hati-hati di jalan." Mayra mengangguk lalu dia kembali melangkah bersama dengan Edrick.
"Dia siapa?" Edrick tiba-tiba saja bersuara saat beberapa jam suasa di mobil tidak ada yang membuka mulut.
Mayra melirik Edrick yang masih sibuk menyetir, "Dia siapa?"
"Gak usah bodoh May, saya tidak buta dan saya tidak mudah di tipu oleh kamu."
__ADS_1
"Siapa juga yang menipu kamu, sayakan tidak tau maksud ucapan kamu."
"Laki-laki yang sempat berduaan sama kamu di kampus." ucap Edrick dengan nada cetus, Mayra terkekeh melihat wajah Edrick yang menahan cemburu.
"Kamu cemburu?"
"Tidak."
Mayra mengangguk dengan jawaban Edrick, dia kembali terdiam saat Edrick mulai kesal dengan sikap Mayra.
"Mayra jangan buat saya marah sama kamu, saya bicara baik-baik sama kamu. Saya tidak mau melakukan sesuatu sama kamu."
Mayra tersenyum mendengar perkataan Edrick, lalu dia kembali menatap Edrick. "Baiklah aku akan menjawabnya. Pria itu teman kampusku, dia satu jurusan sama aku makanya dia menegurku."
"Kamu yakin cuman teman kuliah bukan yang lain."
"Ya! Kamu ini kenapa cemburu gitu, aku sudah bilang sama kamu aku tidak akan dekat-dekat dengan pria manapun kecuali kamu. Jadi, jangan berpikir macam-macam tentangku, oke."
"Oke! Tapi aku tidak mau kalau kamu dekat dengan pria manapun."
"Ya, aku paham." Edrick tersenyum tanpa sepengetahuan Mayra, dia sangat senang kalau Mayra mulai mengikuti perintahnya.
"Kamu mau jalan-jalan?" tawar Edrick membuat Mayra tersenyum senang saat mendengar perkataan Edrick.
"Kamu yakin mau mengajakku jalan-jalan?"
"Ya May. Kalau kamu mau aku akan membawa kamu kemanapun sampai kamu senang."
"Baiklah."
***
Mayra membawa Edrick ke salah satu tempat favoritnya, tempat dimana yang tidak pernah diinjak sama sekali oleh Edrick. Pria itu melirik Mayra saat melihat tempat yang mereka kunjungi.
"May, kamu yakin mau ke tempat itu?"
"Ya, emangnya kenapa kamu tidak mau."
"Bukan gitu aku rasa tempat ini tidak cocok untuk kamu May, apa kamu mau kita pindah lokasi aja yang lebih nyaman dari tempat ini." kata Edrick yang belum turun dari mobil, dia juga sesekali melirik Mayra.
__ADS_1
"Sudah kamu ikut aja, kamu sudah janji mau bawa aku jalan-jalan. Hari ini kamu tidak boleh menolak perintahku."
"Baiklah." dengan terpaksa akhirnya Edrick mengikuti kemauan Mayra, mereka berdua turun dari mobil ke salah satu panti asuhan.
Dimana ada banyak anak-anak kecil yang berkeliaran di sana, Edrick yang bukan tipe menyukai anak kecil datang ke tempat seperti ini bersama dengan Mayra yang sangat menyukai anak-anak.
Sejujurnya dia tidak ingin datang ke tempat ini, karena dia tidak pernah bertemu anak-anak. Jangankan anak-anak mendengar suara tangisan bayi saja sudah mengganggu hidupnya.
"May kamu mau kemana lagi?" kali ini Edrick terus mengekori Mayra dari belakang, dia juga merasa tidak menyukai tempat yang berbau anak kecil.
"Aku mau menemui ibu panti kamu jangan kebanyakan protes." Edrick masuk ke sebuah ruangan yang sudah di sambut hangat oleh pemilik panti.
Mayra tersenyum melihat pemilik panti asuhan, dia merasa bahagia bertemu ibu panti lagi setelah sekian lama dia tidak berkunjung.
"Siang Bu. Ibu gimana kabarnya?" tanya Mayra dengan marah dan di sambut dengan ramah pula.
"Ibu baik nak. Ini siapa?" tatapan ibu panti itu mengarahkan Edrick yang berjauhan dari tempat mereka berdua.
"Dia temanku Bu." balas Mayra membuat ibu panti itu mengangguk, akhirnya Mayra di ajak bicara berduaan dengan pengurus panti dan pemilik panti asuhan.
Sedangkan Edrick tidak suka ikut nimbrung dengan ketiga wanita itu, dia malah sibuk bermain handphone di depan pintu. Walau jaraknya sedikit jauh tapi dia tidak peduli, yang terpenting dia tidak mendengar apapun tentang pembicaraan ketiga wanita itu.
Selesai berbicara Mayra membawa Edrick menemui anak-anak, Edrick menolak dengan tegas saat tangannya di tarik paksa oleh Mayra. Dia tidak mau berurusan dengan anak kecil, Edrick menunggu dan melihat Mayra dari kejauhan.
Saat dia sibuk memandangi Mayra dari kejauhan saat asik bermain dengan anak-anak, tiba-tiba saja pemilik panti asuhan menghampiri Edrick.
"Kamu beruntung sekali bertemu dengan Mayra, dia itu wanita baik dan cantik. Mayra sering sekali datang ke tempat ini, katanya kalau melihat anak-anak hatinya terasa bahagia."
"Dia bilang sama ibu dia sangat merindukan ayah kandungnya, saat masih bayi dia belum pernah melihat wajah ayah kandungnya makanya dia menyukai tempat ini. Kamu beruntung mendapatkan Mayra, kamu harus menjaganya jangan sampai kamu menyakiti hatinya."
"Ibu percaya sama kamu kalau kamu bisa menjaga Mayra, ibu tinggal dulu ya kalau aku butuh apa-apa bilang aja sama ibu." tutur ibu panti tersebut, barulah ibu itu pergi meninggalkan Edrick sendiri.
Yang dikatakan ibu panti itu benar kalau dia sudah mulai menyukai Mayra, awalnya dia ingin menjadikan Mayra wanita simpanan tapi malah niat itu terkubur dalam-dalam.
Saat Mayra datang dia tidak menganggap Mayra wanita simpanannya lagi, dia malah menganggap Mayra wanitanya. Sebisa mungkin dia akan membuat Mayra tinggal di sisinya, tanpa ada seorangpun yang bisa memisahkan mereka berdua.
Setelah puas Mayra berpamitan kepada pemilik panti, dia dengan Edrick pulang kepada mereka semua membuat Edrick tersenyum melihat anak kecil mendekatinya.
Baru kali ini dia tersenyum bahagia melihat anak kecil tersenyum kearahnya, "Katanya kamu tidak suka anak kecil kenapa dari tadi kamu senyum-senyum terus."
__ADS_1
"Aku tidak tau kenapa aku seperti ini Mayra, aku rasa perkataan kamu benar kalau anak kecil sumber kebahagiaan. Makasih ya kamu sudah bawa aku ke tempat itu, aku senang banget bisa ketemu sama kamu dan bermain sama mereka." tutur Edrick yang melirik Mayra, Mayra tersenyum dan mengangguk dengan ucapan Edrick.