
Entah sudah berapa jam ia terus digempur oleh Edrick, yang ia tahu kalau dirinya sudah lama berada di ruangan Edrick tanpa ada orang lain yang datang. Akhirnya gempuran kenikmatan itu dihentikan, Mayra yang merasa sudah sangat kelelahan melihat Edrick tidak memiliki kelelahan sedikitpun.
Baginya Edrick tidak merasakan lelah saat melakukan hubungan panas, lihat saja pria itu dengan santainya melangkah untuk mengambil pakaian yang sudah tidak ditemukan keberadaannya. Akhirnya Edrick meminta asisten pribadinya untuk membawakan baju untuknya dan untuk Mayra.
Nik datang saat ia masuk, dirinya hanya melihat bosnya sendiri. Sedangkan bosnya itu memintanya untuk membawakan pakaian wanita, apakah di ruangan bosnya ada orang lain selain dia.
"Kenapa kamu masih berdiri di sana, cepat bawakan pakaian yang kamu bawa itu. Dan letakan pakaian itu di sofa, kalau sudah selesai silakan kamu pergi dari ruangan saya." tutur Edrick tanpa memberikan kesempatan Nik untuk bicara.
"Baik tuan." pria itu meletakan pakaian yang diminta Edrick, sedangkan Mayra yang dari tadi bersembunyi di bawah meja segera menatap Edrick.
"Apa asisten mu sudah pergi?" tanya Mayra yang terus melihat Edrick dari atas, sedangkan ia berada di bawah.
Edrick menatap Mayra, "Sudah keluarlah." Mayra keluar dari persembunyiannya saat ia sudah kehilangan nafas di bawah sana, ia hanya memakai jas kantor yang dikenakan Edrick.
"Di sana sudah ada pakaian kamu, silakan kamu ambil dan bersihkan tubuhmu lebih dulu. Nanti aku akan datang kembali untuk menemui kamu." ucap Edrick yang menunjukan ke arah pakaian yang terletak di sofa.
"Lalu? Kamu?!"
"Aku akan mandi di tempat lain, saya tidak mungkin membiarkan kamu memilih mandi di bawah saat penampilan kamu seperti itu. Yang ada tubuhmu itu akan dilihat orang lain." balas Edrick dengan raut wajah tidak suka kalau tubuh Mayra di lihat orang lain selain dirinya.
"Baiklah." Mayra segera mengambil pakaian itu dan berlari ke arah kamar mandi, sedangkan Edrick sudah pergi menuju kamar mandi di tempat lain.
Edrick sudah kembali sekitar tiga puluh menit, sedangkan Mayra yang berada di dalam kamar mandi belum kunjung datang. Ia terus memperhatikan kamar mandi itu sampai mendengar air tidak terdengar lagi dari dalam.
Mayra membuka pintu kamar mandi setelah tubuhnya sudah memakai pakaian, ia keluar saat kepalanya masih ditutupi dengan handuk kecil. Edrick yang melihat Mayra keluar, meminta wanita itu untuk mengambil pengering rambut di laci mejanya.
__ADS_1
Mayra segera mengambil pengering itu dan melangkah ke arah Edrick yang berada di sofa, Edrick segera membuka handuk yang berada di kepala Mayra. Ia menggunakan pengering itu untuk diarahkan ke rambut Mayra, tidak lupa rambut panjang Mayra ditata rapih menggunakan jari tangannya.
"Rambut kamu wangi sekali May. Pantas saja saya suka dengan kamu, tubuhmu saja membuatku tergila-gila apalagi kalau saya menggempur mu lagi." ucap Edrick yang menggoda Mayra saat dirinya sibuk mengeringkan rambut.
"Apa kamu tidak ada capeknya melakukan itu lagi, aku saja sudah tidak kuat mengimbangi tenaga kamu itu. Yang ada tubuhku akan terpisahkan oleh tulang kalau dihajar terus sama kamu." protes Mayra dengan kesal.
Sedangkan pria itu malah terkekeh mendengar protes yang diberikan Mayra, selesai mengeringkan rambut Mayra ia mematikan pengering rambut itu, dan meminta Mayra untuk menghadap ke arahnya.
***
"Sudah selesai rambut kamu saya keringkan, apa kamu tidak memberikan hadiah untukku?" kedua bola mata Mayra sangat jengah mendengar Edrick ingin meminta imbalan, bukan sekedar imbalan semata melainkan sesuatu yang menakutkan.
"Jangan meminta imbalan apapun kepadaku, aku tahu apa yang kamu mau jadi jangan berharap untuk aku memberikan sesuatu kepadamu." tolak Mayra secara langsung tanpa berpikir lebih dulu.
"Ya sudah kalau kamu tidak mau memberikan sesuatu untukku, tapi aku tidak bisa menemani kamu selamanya May." mendengar ucapan Edrick membuat Mayra sedikit berpikir, dipikirannya seakan pria ini akan meninggalkannya.
"Aku bercanda May." Edrick tersenyum saat tangannya itu digunakan untuk mengacak rambut Mayra, dengan perasaan kesal Mayra memarahi Edrick saat rambutnya mulai berantakan lagi.
Edrick meminta supir untuk mengantar Mayra pulang, sebelum pulang Mayra sempat menatap Edrick begitu lama sampai menunggu supir datang.
Edrick yang merasa Mayra menatapnya segera menatapnya juga, "Ada apa? Apa kamu tidak rela meninggalkan kantor dan tidak bisa melihatku di sini."
Mayra dengan cepat memilih menatap ke arah lain, karena dia tidak ingin menatap pria itu lagi. Baginya Edrick sangatlah percaya diri, pria ini sangat menyebalkan melebihi Lion.
"CK, siapa juga yang mau melihatmu lama-lama di tempat seperti ini. Aku saja sudah bosan melihatmu lagi, dan menatap laki-laki yang terlalu tergila-gila dengan pekerjaan." seru Mayra yang menolak untuk tidak mengatakan kalau sebenarnya ia sangat menginginkan pria itu.
__ADS_1
Edrick tersenyum melihat Mayra terus menolaknya, ia juga merasa kalau Mayra sangatlah menggemaskan apalagi wanita ini berbohong dengan perasaannya sendiri.
"Baiklah, terserah kamu aja May." lalu Edrick kembali melihat handphone saat mendapatkan pesan dari supir pribadinya, "Lebih baik kamu pulang May, supir sudah datang buat jemput kamu di bawah."
Mayra mengangguk dengan cepat, lalu ia segera pergi meninggalkan ruangan Edrick. Dimana Edrick memilih meninggalkan pekerjaan untuk melihat Mayra, ia melihat Mayra dari ruangannya dan melihat kalau wanita itu sudah masuk ke mobil.
"Sebenarnya kamu sudah selesai dengan perjanjian kita di awal May, tapi entah kenapa aku tidak rela kamu pergi. Aku masih ingin melihatmu, aku tidak mau kehilangan kamu May. Apalagi sampai kamu benar-benar pergi dari hidupku, aku tidak tahu apakah aku bisa tanpa kamu atau tidak. Yang pasti aku sangat nyaman dengan keberadaan kamu." batin Edrick yang masih berdiri di jendela ruangannya.
Mayra sibuk melamun saat mengingat perkataan Edrick, ia tidak tahu apa yang dimaksud dari pria itu. Tapi seakan-akan pria itu ingin pergi darinya, di dalam mobil pikirnya terus menghantui ucapan-ucapan yang dilontarkan Edrick.
Tetapi ia juga tidak tahu kenapa pria itu bicara seperti itu, dia berharap kalau pikiran di otaknya ini segera menghilang. Sampai di rumah Mayra segera turun dari mobil, ia melangkah untuk masuk ke dalam rumah.
Rumah yang sangat luas dan ia hanya melihat para pekerja saja, tanpa melihat Lion yang berada di rumah ini. Tanpa pikir panjang lagi Mayra memutuskan untuk pergi ke kamar untuk istirahat, sedangkan Lion sibuk berada di tempat olahraga yang berada di lantai atas.
Lapangan basket yang selalu menemaninya sejak tadi, sampai ia tidak mendengar suara mobil dari luar. Saking sibuknya bermain basket Lion memutuskan untuk berhenti, dan memilih keluar dari lapangan.
Kaki jenjang pria itu melangkah ke lantai satu untuk menuju ke dapur, tiba di sana ia melihat Mayra sedang sibuk masak. Membuatnya berpikir sejenak, apakah wanita itu bisa memasak?
Itulah yang ada di dalam benaknya, tapi ia tidak yakin kalau wanita itu bisa memasak. "Perempuan seperti kamu bisa masak juga." ucap Lion saat tangannya itu sedang membuka kulkas, sesekali tatapan matanya melihat Mayra.
"Kalau tidak buat apa aku ada di dapur." Lion segera menutup kembali kulkas itu saat ia sudah mengambil minuman dingin, sedangkan ia membuka botol minuman yang berada di tangan.
Lion meletakan kembali minuman dingin itu dan kembali menatap Mayra, "Mauku bantu?" Mayra yang mendengar Lion ingin membantunya segera menatap ke laki-laki tersebut.
"Tidak usah yang kamu malah menganggu pekerjaanku saja." tolak Mayra dengan tegas, ia juga mau kalau pekerjaannya di bantu oleh orang lain.
__ADS_1
"Ya sudah kalau kamu tidak butuh bantuanku. Tapi aku akan menunggu kamu selesai masak, dan bisa mencoba masakan buatan kamu." Lion memutuskan untuk melangkah ke ruang tamu sambil menyalakan televisi, sedangkan Mayra sibuk di dapur.
Tiga puluh menit akhirnya masakan untuk makan malam selesai, Lion yang dari tadi berada diruang tamu tidak sengaja mencium bau masakan dari arah dapur. Tanpa mempedulikan televisi yang sedang menyala, ia memutuskan untuk ke dapur. Di meja makan sudah banyak sekali hidangan yang dibuat Mayra.