
Edrick mengambil pergelangan tangan Mayra, Mayra yang melihat itu berusaha untuk menolak tetapi tenaganya tidak sekuat Edrick. Lelaki itu membawa Mayra masuk keruangan pribadinya, ia mengunci pintu dan meminta Mayra duduk di sofa yang berada diruangan kerja.
"Kamu diam di sini aku akan pesan makanan untuk kamu." perintah Edrick yang mengeluarkan handphone dari dalam saku celana kantor, ia mengirim pesan kepada seseorang untuk mencari sarapan untuknya dan untuk Mayra.
Edrick tersenyum saat melihat Mayra yang masih berada di sofa, ia duduk di samping Mayra dengan wanita itu sedikit menggeser sedikit tubuhnya.
"Apa yang kau lakukan." harusnya Mayra merasakan kalau Edrick bicara seperti itu, tapi ia merasa takut kalau kalimat itu dilontarkan lewat dari sebuah tatapan yang tajamnya.
Edrick sangat geram dengan sikap Mayra yang sama sekali tidak bergerak walau ia meminta wanita ini untuk mendekat, dengan cepat Edrick menarik pinggang Mayra membuat pemilik pinggang itu menatap lelaki di depannya.
"Ka-kamu mau ngapain Edrick? Di sini kantor jangan pernah macam-macam." ucap Mayra yang merasa gugup kalau melihat Edrick terlalu dekat dengannya.
"Kenapa? Kamu kenapa sekarang lebih mendengar pendapat orang lain, bukannya ini kantorku harusnya dia lebih menghargai keputusanku dari pada keputusan mereka." kata Edrick yang menjawab ucapan Mayra.
"Tapi sama aja kalau ada yang tahu atau yang lihat gimana, aku gak mau mereka salah paham dengan sikap kamu ke aku." urai Mayra yang berusaha melepaskan tangan Edrick dari pinggangnya, tetapi tangan Edrick sama sekali tidak berguming.
"Edrick tapi..." Mayra melebarkan kedua matanya saat melihat Edrick mencium bibirnya, ia berusaha untuk melepaskan ciuman itu tapi ia malah menyukai ciuman ini.
Baginya ciuman ini sangat ia rindukan, apalagi Edrick berusaha untuk memperdalam ciumannya. Mayra yang masih merasa shock belum bisa membalas, satu menit kemudian Edrick mendorong kepala Mayra untuk mengikuti gerakan yang ia lakukan.
Mayra mencoba mengikuti apa yang dilakukan Edrick, sampai dirinya merasa kalau sikap dan perilaku Edrick sangatlah berbeda dari biasanya. Apalagi pria ini masih setia dengan kegiatan panasnya, membuatnya merasa kesusahan untuk mengikuti tindakan Edrick.
"Mmpphh... Augh..." desah Mayra yang keluar begitu saja saat ia sudah menikmati permainan Edrick, sampai saatnya kegiatan panas itu terhenti saat mendengar suara pintu dari luar.
"CK, ganggu saja." kesal Edrick saat ia mau memulai kegiatannya lebih dalam lagi, Mayra terkekeh saat melihat wajah kesal Edrick.
Dengan raut kesal Edrick menghampiri pintu tersebut, dan dia melihat ada Nik yang membawakan pesanannya. Ia mengambil makanan itu lalu menutup kembali pintu, Nik merasa kalau jantungnya sudah tidak aman berada di dekat bosnya.
"Keterlaluan sekali dia, apa dia gak tahu kalau kegiatan barusan lagi enak dinikmati malah ganggu saja." oceh Edrick yang sudah duduk di sofa dengan meletakan makanannya di atas meja.
__ADS_1
"Sudahlah jangan marah lagi, lebih baik makan dulu kalau sudah makan aku akan kembali bekerja."
"Kau mau kembali bekerja dan meninggalkan aku di sini?" tanya Edrick yang menatap Mayra yang sibuk membuka bungkusan yang Edrick bawa.
"May. Apa kegiatan barusan tidak bisa dilakukan lagi?" kali ini Mayra melihat Edrick mulai manja dan memohon untuk melakukannya kembali.
"Tidak. Aku tidak mau melakukannya, aku mau makan kalau kamu tidak mau makan terserah kamu." akhirnya mau tidak mau Edrick mengalah, ia mulai menikmati sarapan bersama dengan Mayra.
***
Selesai jam makan siang Mayra memutuskan untuk kembali bekerja, ia mulai sibuk bekerja walau sebenarnya Edrick selalu memberikan pesan kepadanya. Tetapi ia malah mengabaikan pesan itu membuatnya tertawa sendiri.
"Enak juga ngerjain Edrick." batin Mayra dengan menampakan senyuman, membuat seorang wanita tidak terima melihat sikap Mayra.
Pulang kerja tepat pukul delapan malam Mayra sudah berada di luar gedung kantor dengan membawa sepeda motor, ia menginjak rem saat tiba-tiba sebuah mobil berhenti di hadapannya.
"Tidak usah pak saya bawa kendaraan." Mayra segera menolak tawaran Edrick tapi Edrick dengan sigap meminta Nik untuk keluar dan mengganti posisinya.
"Kamu bawa motor Mayra ke rumahnya, saya akan membawa Mayra ke rumah. Kamu jangan lupa jangan sampai lecet bawa motornya, nanti saya akan memotong gaji kamu selama dua bulan." tutur Edrick dari dalam mobil dengan memberikan sebuah ancaman, Nik menelan saliva-nya saat mendengar ancaman Edrick.
"Dasar bos yang semena-mena." gerutu Nik saat melihat mobil Edrick sudah pergi, lalu ia dengan cepat membawa motor beat ke alamat Mayra.
"Kenapa kamu bersikap seperti itu kepada Nik, bukannya dia sekretaris kamu. Seharusnya kamu melakukan dengan baik bukan kasar seperti barusan." kata Mayra yang melirik Edrick yang sibuk menyetir.
"Biarkan saja dia sekalian olahraga." balas Edrick lalu ia kembali menyetir begitupun dengan Mayra yang sibuk dengan pikirannya sendiri.
"Sudah sampai." Mayra melihat kalau rumah ini bukan rumahnya melainkan rumah Edrick, tapi kenapa pria ini membawanya kemari lagi.
"Pak. Bukannya ini rumah bapak, kenapa bapak malah membawa saya ke rumah bapak bukan ke rumah saya." ujar Mayra yang menatap Edrick yang sibuk melepaskan sabuk pengaman.
__ADS_1
"Sudah jangan banyak omong lebih baik kamu turun dan masuk ke dalam." Mayra dengan Edrick memutuskan untuk masuk, ia melihat rumah ini sama persis dengan dulu tidak ada yang berubah.
Apalagi rumah ini mengingatnya saat ia datang ke rumah ini, "Gimana apa kamu sangat merindukan rumah ini?"
Mayra tersenyum saat mendengar pertanyaan yang dilontarkan Edrick, "Lebih baik kamu istirahat di kamar kamu, aku janji tidak akan melakukan sesuatu sama kamu kecuali aku khilaf melakukannya."
"Dasar pria mesum." gumam Mayra pelan, lalu ia pergi ke salah satu kamar tempat dimana kamar ini pernah ia tinggalkan. Dan kali ini ia bisa merasakan kamar ini lagi, dengan pertemuan yang sangat lama.
"Ah.. Rasanya jauh berbeda saat aku kemari, tempat ini sama seperti dulu tidak ada yang berubah." ucap Mayra yang sudah berada di ranjang, ia juga meraba tangannya untuk menyentuh ranjang yang kini ia duduki.
Mayra memutuskan untuk masuk ke kamar mandi, selama di kamar mandi Mayra masih asik di dalam sampai Edrick masuk ke dalam kamar dan mengunci kamar. Ia tersenyum saat mendengar suara air dari dalam kamar mandi, sebelum Mayra keluar ia menunggu Mayra sambil mengerjakan pekerjaan kantor.
Mayra keluar dari kamar tetapi ia belum menyadari kalau Edrick berada di dalam kamar, ia mulai menggosok kepala menggunakan handuk kecil dan melangkah menuju lemari. Saat Mayra ingin membuka lemari ia berteriak melihat Edrick sedang menatapnya.
"Kenapa kamu bisa ada di kamarku." ucap Mayra yang segera menutup kembali tubuhnya menggunakan handuk.
"Ya karena kamar ini tidak terkunci jadi aku masuk saja."
"Tapi kamu bisa menunggunya di luar kenapa harus di dalam, kamu tidak tahu kalau aku sedang mandi." urai Mayra, Mayra merasa waspada saat Edrick mulai mendekat dan pria itu melangkah ke arahnya.
"Jangan dekat-dekat atau aku akan teriak." ancam Mayra yang berusaha untuk menjauh dari Edrick.
"Teriak aja lagian di rumah tidak ada orang cuman ada kita berdua." balas Edrick yang terus melangkah menuju Mayra, sampai akhirnya ia bisa membuat Mayra tidak bisa mundur lagi.
Karena tubuh wanita ini sudah terpentok oleh tembok, "Sekarang kamu tidak bisa menghindar lagi, jadi aku bebas untuk menyentuh kamu."
"Jangan malu gitu May lagian juga aku sudah melihat semuanya. Semua yang ada di tubuh kamu sudah aku lihat May, jadi kamu tidak usah malu lagi." Edrick membuka kedua tangan Mayra saat tangan wanita ini mencoba menutupi tubuhnya, lalu ia tersenyum saat tubuh Mayra masih mengunakan handuk.
"Jangan khawatir aku cuman mau lihat saja sekalian bantu kamu mengeringkan rambut, aku janji tidak akan menyentuh kamu." kata Edrick yang berusaha membuat Mayra percaya, akhirnya Mayra mempercayai ucapan Edrick.
__ADS_1