
"Kamu mau bawa aku kemana lagi?" tanya Mayra yang melihat Edrick melangkah dengan cepat.
"Menurutmu aku mau bawa kamu kemana?" kali ini Mayra dibuat bingung dengan pertanyaan Edrick, dia tidak tahu mau kemana pria itu membawanya.
Memangnya di cenayang yang bisa tahu kehidupan orang, dia seorang wanita simpanan yang dibeli oleh Edrick itupun dengan tujuan untuk membalas budi.
"Dasar pria Aneh." umpat Mayra dengan pelan.
Edrick membawa Mayra ke basement yang berada di pojok, karena posisi mobil mereka ada di paling pojok tanpa ada penerangan. Mayra masuk ke dalam mobil begitupun dengan Edrick, ia melihat tidak ada satupun orang yang berada di sana.
Mayra yang merasa mobil tidak jalan memilih menatap Edrick, "Kenapa mobilnya tidak jalan."
"Karena aku lagi malas menyetir."
"Kalau malas kenapa tidak minta supir untuk membawa mobil kamu."
"Aku tidak mau merepotkan mereka, biarkan mereka istirahat dan kita bisa bermain di sini." mendengar itu Mayra menatap tajam pria di sampingnya.
Yang benar saja masa iya dia bermain di tempa gelap seperti ini, walau tempatnya sepi dan sunyi tapi dia mana mau bermain di tempat seperti ini.
"Aku tidak setuju dengan ide licik mu itu. Lebih baik aku istirahat di rumah tanpa bermain denganmu." tolak Mayra dengan tegas, dia juga tidak mungkin bermain di dalam mobil.
"Ayolah May kita sudah lama tidak melakukan itu apa kamu tega melihatku seperti ini." ucap Edrick yang memasang wajah melas, membuat Mayra tidak berdaya dengan sikap Edrick.
"Baiklah. Tapi apa kamu yakin di sini aman." kata Mayra yang melihat keadaan di luar.
"Kamu tenang aja May di sini aman, lagian juga tempat ini bukan tempat asing bagi mereka yang mau melakukan itu May."
Yang dikatakan Edrick benar kalau tempat ini bukan tempat asing bagi mereka, apalagi dia pernah memergoki sepasang kekasih pada bercumbu di tempat seperti ini. Walau dia tidak peduli tapi ia sudah banyak melihat adegan yang seperti itu.
Edrick mengunci mobil dari dalam, untung saja kaca mobilnya gelap jadi dari luar tidak bisa melihat adegan mereka di dalam. Tanpa menunggu waktu lama lagi Edrick sudah menciumi wajah Mayra, awalnya hanya pipi dan kening sampai ciuman itu mendarat di bibir Mayra.
__ADS_1
Bibir yang sangat manis menurut Edrick, apalagi wanita ini sangat menggairahkan kalau sedang bercinta seperti ini. Edrick terus menciumi bibir Mayra dengan sangat dalam, sampai Mayra mengikuti irama dan gerakan yang diberikan Edrick.
Ciuman Edrick sangat brutal sampai Mayra kewalahan dengan tindakan pria ini, tapi karena Mayra sudah sangat ahli jadi dia bisa mengimbangi Edrick. Edrick berpindah menciumi leher jenjang yang dimiliki Mayra, kulit putih dan mulus itu membuat Edrick semakin candu dibuatnya.
Apalagi bagian tubuh Mayra yang satu lagi, dia seakan keenakan saat sedang bercinta dengan Mayra. Posisi Mayra sudah pindah di pangkuan Edrick, tidak lupa dengan kedua tangan Mayra yang terus melingkar di leher Edrick.
Adegan panas itu masih lanjut dengan begitu dalam, Mayra sampai mengikuti semua kegiatan yang diberikan Edrick. Keduanya sama-sama mendapatkan sensasi yang luar biasa, saat suasana dalam mobil itu terasa panas.
Tubuh keduanya sudah terbilang saling terbuka saat Edrick mencoba menikmatinya kembali, saking nikmatnya bercinta di dalam mobil membuat keduanya saling asik dalam adegan panas yang mereka lakukan.
Sedangkan di luar tidak akan tahu adegan yang mereka lakukan, berkali-kali mereka melakukan itu tidak ada satupun orang yang sibuk memperhatikan pertempuran yang mereka berbuat.
Sampai mereka tiba di rumah adegan panas itu masih berlanjut, kali ini Mayra sangat ahli dalam kegiatan panas yang dirinya mimpin sampai Edrick sangat menikmati sentuhan yang diberikan Mayra.
Entah sudah berapa kali keduanya saling mendesah mendapatkan kenikmatan satu sama lain, yang terpenting mereka sama-sama melakukan hal yang seharusnya mereka tuntaskan. Kamar yang semulanya sangat rapih dan bersih seketika berantakan seperti kapal pecah, ulah dari keduanya yang membuat kamar itu berantakan.
***
Baru kali ini dia bermain sangat kasar, sampai seluruh kamar menjadi tidak karuan lagi. Lihatlah seprai yang berada di ranjang, tidak tahu keberadaannya dan bentuknya seperti apa. Melihat itu semua membuat kepalanya terus menggeleng, tetap saja Edrick sangat senang saat mengingat kejadian panas yang membuat mereka sama-sama menikmati.
"May, saya tidak tahu apakah saya bisa seperti ini lagi sama kamu. Tapi kamu jangan pernah membenci saya May kalau suatu saat kamu melihat saya dengan wanita lain."
"Sejujurnya saya tidak ingin menyakiti kamu, tapi saya harap kamu tahu alasan saya melakukan ini sama kamu. Karena cuman kamu yang sangat saya cintai May, walau banyak wanita di luar sana yang menginginkan saya." batin Edrick yang terus memandangi wajah Mayra, tidak lupa dengan sentuhan lembut di wajah Mayra.
"Morning sayang." ucap Edrick dengan tersenyum saat melihat Mayra bangun.
"Morning too baby." Edrick segera menyerang Mayra dengan ciuman, kali ini ciuman itu tidak begitu brutal hanya lembut dan tersusun rapih.
"Ada jadwal kuliah hari ini baby?" tanya Edrick yang sudah bangun dari tidurnya, lalu dia melihat Mayra memeluk pinggangnya dengan manja.
"Ada. Sepertinya jadwal hari ini sangat padat sampai tidak bisa pulang tepat seperti biasanya."
__ADS_1
"Nggak apa-apa sayang, itu sudah menjadi tugas kamu menjadi seorang mahasiswi. Jadi, kamu harus melakukan tugas itu." Edrick masih setia dengan menyentuh kepala Mayra dengan lembut sesekali tangannya beralih ke wajah Mayra.
"Ya sudah sekarang kamu mandi aku akan siapkan sarapan untuk kamu." ucap Edrick yang mendapatkan anggukan dari Mayra.
Selesai sarapan Edrick seperti biasa mengantarkan Mayra ke kampus barulah dia pergi ke kantor, tiba di kantor dia melihat ada seorang penganggu yang selalu mengganggu kehidupannya.
Siapa lagi kalau bukan orang tua kandungnya, orang tua dengan tega meninggalkan anaknya di panti asuhan sendirian. Sedangkan wanita ini bersenang-senang dengan keluarga barunya, sejak saat itu dia sangat membenci wanita kejam ini.
"Edrick." panggil wanita itu saat melihat putranya datang, ia segera menghampiri pria itu saat Edrick memintanya untuk tidak menggangunya.
"Sayang ini mama. Apa kamu sudah tidak mengenali mama lagi." kata wanita itu kembali melihat Edrick tidak melihat ke arahnya.
"Mama?" ucapnya pelan membuat wanita itu mengangguk, "Mama? Kamu tidak pantas disebut mama. Mama saya sudah mati sejak dulu, dan kamu tidak berhak datang untuk menemui ku."
"Tapi nak... ini mama kamu, mama yang sudah mengandung dan melahirkan kamu." ucap wanita itu membuat Edrick yang muak mendengarnya segera membalikan tubuh menatap wanita di hadapannya.
"Ibu macam apa kamu yang tega membuang anaknya di panti asuhan, ibu macam apa yang melupakan anaknya sendirian di panti. Dan berharap kalau ibunya datang menjemput anaknya, tapi sampai saat itu seorang anak laki-laki sudah menganggap ibunya mati." erang Edrick yang sudah tidak tahan dengan emosi yang selama ini dia pendam.
Wanita itu langsung menggenggam tangan Edrick, melihat ada sebuah tangan yang menyentuhnya dengan cepat melepaskan. Ia segera memanggil satpam untuk mengusir wanita itu dari kantornya.
Dia tidak peduli dengan tanggapan orang lain, apalagi tanggapan karyawannya sendiri yang terpenting wanita ini keluar dari kehidupannya. Lelaki itu memutuskan pergi dari sana bersama dengan asisten pribadinya.
Melihat bosnya sangat terpuruk segera mengambil handphone, melihat asistennya ingin menghubungi seseorang langsung menahan dan memintanya untuk keluar.
Edrick yang melihat ruangannya kosong segera bangkit untuk melihat ke arah jendela, di sana ia masih melihat wanita tidak tahu diri itu keluar dan membuat sekujur tubuhnya terasa mati saat melihat wanita itu.
Belasan tahun tidak bertemu membuat hatinya terasa membenci wanita itu, wanita dengan tega membuangnya di panti asuhan tanpa dibawa kembali. Suatu saat dia melihat ibunya kembali saat dirinya memasuki usia belasan tahun.
Saat itu dia ingin menghampiri wanita itu, tapi saat itu juga hatinya hancur melihat ibunya sudah memiliki keluarga baru. Dan mulai saat itu ia sangat membenci seorang ibu, ibu yang pernah melahirkannya.
Kaca dari ruangan Edrick terasa terang untuk melihat dari luar, tapi saat dari luar melihatnya tidak ada yang terlihat. Sampai wanita itu pergi dari sana, ia berharap kalau dia tidak akan pernah bertemu kembali dengan wanita itu.
__ADS_1