
Almeta masuk ke dalam kamar, dimana ia melihat suaminya sibuk di ranjang dengan laptop yang berada di pangkuan Bagas.
"Sayang, sepertinya kamu sibuk sekali. Apa kamu tidak mau ngobrol denganku?" ucap Meta yang segera menghampiri suaminya.
"Aku lagi sibuk jangan ganggu." balas Bagas yang tidak menatap Meta, ia malah menatap ke arah layar laptop.
Meta menghela nafas saat melihat sikap Bagas yang sangat dingin kepadanya, ia pikir sikap Bagas hanya sementara tapi nyatanya sifat itu masih sama sampai Lionel dewasa.
"Bagas, selama kita menikah kenapa kamu tidak mau menyentuhku. Apa tubuhku ini terlalu menjijikan untuk kamu sampai kamu muak denganku." kata Meta yang masih menatap Bagas, Bagas yang mendengar ucapan Meta menghentikan pekerjaannya.
"Saya tidak bisa menyentuh kamu karena saya tidak cinta sama kamu, walau pernikahan ini sudah berjalan dengan keinginan kedua orang tua kita. Tapi aku tidak bisa menjadi suami untuk kamu apalagi menyentuhmu, aku tidak akan melakukan itu tanpa cinta." tutur Bagas yang memutuskan untuk beranjak dari ranjang, lalu laptop yang ia pegang di letakan kembali.
"Tapi kamu bisa mencintai aku kalau kamu mau membuka hati kamu untuk aku." ucap Meta yang tiba-tiba saja menghentikan langkahnya.
Kedua mata Bagas melirik Meta tapi tidak sepenuhnya, "Tetap saja aku tidak bisa menyentuhmu tanpa memiliki rasa cinta, walau aku tahu kalau pernikahan ini bukan keinginan kita berdua. Tapi aku masih memiliki rasa tanggung jawab untuk rumah tangga ini."
Selesai mengatakan itu Bagas pergi dari kamar, Meta yang bisa terdiam saat mendengar setiap kalimat yang diucapkan suaminya. Mungkin Bagas tidak mencintainya tapi ia sudah mencintai Bagas, dulu sebelum mereka menikah ia sudah mencintai Bagas.
Saat orang tuanya ingin menjodohkannya dan melihat siapa yang akan menjadi suaminya, ia sangat beruntung mendapatkan seorang Bagaskara. Tapi nyatanya hatinya bukan untuknya melainkan untuk orang lain, wanita yang ada di masa lalu Bagas.
Tepat makan malam Bagas tidak berada di meja makan melainkan ke salah satu apartemen, dimana ia bisa hidup tenang di apartemennya sendiri tanpa diganggu oleh siapapun. Sedangkan di meja makan itu hanya terisi oleh dua orang wanita saja yang sibuk menikmati sarapan.
__ADS_1
"Mi, daddy kenapa gak ikut makan malam bersama. Bukannya daddy dari tadi tidak turun ke bawah, Mi." kata Lionel yang memilih menatap Meta lalu ia kembali menikmati makanannya.
Benar saja saat pertengkaran itu ia belum melihat keberadaan Bagas, ia langsung menanyakan itu kepada asisten rumah tangganya. Mereka bilang kalau suaminya sudah pergi entah kemana tanpa bilang apapun kepada mereka.
Sudah sepuluh tahun ia menjalani pernikahan seperti ini, Bagas sama sekali tidak pernah mau makan bersama dengannya. Itupun kalau orang tua mereka datang baru suaminya mau makan bersama. Tapi saat tidak ada orang tua ia seperti biasa makan sendiri tanpa ditemani oleh Bagas, apalagi saat mengandung Lionel.
Bagas sama sekali tidak peduli kepadanya apalagi kepada Lionel, yang pria itu pikirkan hanyalah pekerjaan tanpa memikirkan perasaannya. Rasa sedih, kecewa selalu ditutupi tanpa sepengetahuan Lionel. Mungkin kalau putrinya tahu Lionel akan kecewa sama seperti dirinya.
Pulang dari kampus Mayra memutuskan untuk pergi ke salah satu mall terbesar di kota, ia datang untuk mencari buku mata pelajaran kuliah. Selama Mayra sibuk berjalan dan melihat berbagai toko yang berada di mall, Mayra sempat berpapasan dengan seorang laki-laki.
Laki-laki itu memutuskan untuk mencari makan setelah bertemu dengan klien di mall, "Aduh perutku bunyi. Harusnya aku makan dulu baru cari buku." gumam Mayra yang terus memegangi perut.
Mayra memutuskan untuk pergi dari Gramedia dan mencari tempat makan, Mayra mencari tempat duduk saat ia selesai memesan menu makanan. Dia tidak sadar kalau meja mereka saling berhadapan, walau meja mereka di awasi dengan meja yang lain tapi tidak kemungkinan untuk Bagas melihat ke arah Mayra.
***
Bagas tersenyum saat melihat cara makan Mayra, dia seperti melihat dirinya saat masih muda sama seperti dengan wanita itu. Tapi ia merasa kalau anak itu sama persis dengannya, apalagi saat kelaparan seperti itu.
Sekretaris Bagas sangat heran kenapa sikap bosnya, ia mencari tahu kenapa bosnya bisa tersenyum seperti itu. Dan akhirnya ia menemukan pelaku yang membuat bosnya tersenyum.
"Pak. Kenapa bapak melihat ke arah wanita muda itu? Apa bapak mengenal wanita itu?" tanya sekretaris Bagas saat ia masih memperhatikan Mayra dari jauh.
__ADS_1
"Saya tidak tahu. Tapi saya seperti melihat diri saya sendiri, seakan anak itu adalah saya yang saat menyukai makanan yang cocok di lidah. Dia itu persis sekali dengan saya apalagi wajahnya, apa mungkin anak itu adalah anakku." tutur Bagas saat ia melihat ke arah sekretaris pribadinya.
"Kenapa bapak bicara seperti itu. Bukannya bapak sudah mempunyai non Lionel kenapa bapak beranggapan kalau anak itu adalah anak bapak."
"Karena saya yakin kalau dia anakku dan dia sama persis denganku" jawab Bagas dalam hati saat tatapannya masih melihat Mayra.
"Kamu dari mana? Kenapa jam segini kamu baru pulang." ucap Meta yang melihat suaminya baru pulang ke rumah, ia memutuskan pulang karena mencari dokumen kantor.
"Saya sibuk mengurus pekerjaan di kantor." jawab Bagas saat ia terus melangkah keruangan kerja.
"Sibuk? Apa sepenting itu pekerjaan kamu dari pada aku mas. Aku ini istri kamu bukan wanita pajangan yang kamu pajang di rumah."
Bagas tidak peduli dengan ocehan yang diberikan Meta, ia hanya fokus mencari berkas kantor yang sempat tertinggal. Meta yang kesal dengan sikap Bagas langsung menarik tangan Bagas, dan melihat kalau pria itu sangat marah dengan tindakannya.
"Kamu ini apa-apaan Meta. Aku sudah bilang sama kamu jangan ganggu, sehari aja jangan kacau hidupku terus. Kamu gak punya waktu sampai kamu kacau kehidupan orang, hah!" seru Bagas yang menatap Meta dengan marah.
"Gimana aku gak usik hidup kamu sedangkan kamu sibuk sama dunia kamu sendiri. Kamu ingat mas kamu sudah menikah, aku ini istri kamu bukan malah kamu anggurin gitu aja."
Bagas menatap Meta dengan seksama sampai ia berani untuk lebih dekat dengan wanita di depannya, "Kamu ingat ya Meta kamu ini cuman seorang istri yang menikah atas kemauan kedua orang tua kita bukan kemauan kita. Jadi aku harap kamu tahu batasan itu sampai kita bisa menjalani kehidupan kita masing-masing."
"Maksud kamu apa, mas." ucap Meta lantang saat langkah kaki Bagas terhenti, Bagas balik badan saat mendengar ucapan Meta.
__ADS_1
"Maksud aku... aku ingin mengakhiri hubungan ini kalau kamu masih saja berisik atau menggangguku lagi." Bagas pergi setelah mengatakan itu saat itu juga hati Meta merasa sakit saat mendengar ucapan suaminya sendiri.
"Mau sampai kapan kamu menganggap ku seperti ini mas. Aku ingin mendapatkan cinta dari kamu bukan menjalankan pernikahan seperti ini." batin Meta dalam hati saat ia melihat bingkai foto pernikahannya.