
"Apa dia orangnya?" pertanyaan itu melintas di benaknya saat ia melihat kedatangan seorang wanita yang sedang menatap ke arah mereka.
"Oh kamu sudah pulang." ujar Cantika yang membawa dua minuman dan melihat putrinya baru saja pulang kuliah.
"Bunda, mereka siapa?" tanya Mayra berbisik di telinga Cantika saat mereka sudah duduk bersama dua laki-laki asing di hadapan mereka.
"Saya tahu kalian pasti bertanya-tanya tentang saya, dan kenapa saya bisa datang ke rumah kalian tanpa kalian kenal." kata Bagas menatap wanita di depanku secara bergantian.
"Perkenalkan saya Bagaskara. Saya pemilik perusahaan yang ingin menawarkan anak ibu pekerjaan di kantor saya." mendengar ucapan bosnya membuat Nik tidak percaya dengan apa yang dikatakan Bagas, awalnya niatnya bukan seperti ini kenapa bosnya malah melakukan rencana lain.
"Maaf pak sepertinya bapak salah orang, anak saya sudah bekerja di sebuah bar. Bar itulah yang menutupi kehidupan putri saya, jadi saya tidak bisa menerima tawaran tuan." Cantika secara tegas menolak permintaan pria asing ini.
Bukannya Cantika tidak ingin menerima tawaran pria ini, tapi ia tidak mengenal pria ini bagaimana dia harus mempercayainya. Dia takut kalau orang ini ingin melakukan sesuatu kepada mereka, makanya secara langsung Cantika menolak tawarannya.
"Tapi Bu..."
"Begini tuan. Saya tahu tuan berniat baik kepada saya dan bunda saya, tapi tuan ini hanyalah orang asing di kehidupan kami. Secara langsung kami menolak atas permintaan kalian." tutur Mayra dengan tegas, tanpa basa basi lagi Mayra menatap lelaki itu dengan tatapan tidak suka.
Saat Bagas ingin bicara kembali Nik malah menahan, pria di samping Bagas mulai memberikan negosiasi kepada dua wanita di depannya.
"Begini nona, kami datang kemari bukan bermaksud mengganggu. Bos saya datang kemari ingin memastikan apakah putri ibu yang bernama Mayra adalah putrinya atau tidak, pasalnya non Mayra sangat mirip dengan tuan Bagas."
"Apa buktinya kalau saya putri bos kamu." ucap Mayra dengan menantang dua laki-laki asing ini.
Nik memberikan sebuah bukti untuk mereka, tetapi Mayra malah tertawa dengan pemberian Nik. Orang gila mana yang akan percaya dengan bukti aneh ini, lagian juga kenapa harus susah payah datang hanya mengatakan kalau dirinya adalah anak dari pria gila ini.
Sedangkan Cantika yang melihat bukti itu seketika terkejut dengan apa yang ia lihat, bagaimana bisa laki-laki di hadapannya bisa tahu tentang masa lalunya. Dan sekarang ia harus bagaimana mengatakan kepada Mayra kalau bukti ini adalah kebenaran.
"Kalau kamu tidak percaya kenapa kamu tidak tanyakan langsung kepada ibu kamu. Saya tahu ibu kamu pasti tahu semuanya tentang kamu." kali ini Bagas yang mulai lebih dulu, dan membuat mereka bertiga serempak melihat ke arah Cantika.
"Itu tidak benar. Saya tidak tahu maksud dari perkataan kalian, lebih baik kalian pergi dari rumah saya dari pada saya akan mengusir kalian dari sini." lontar Cantika yang seketika mengusir dua lelaki asing ini, dia juga mana mungkin mengatakan dengan jujur tentang masa lalunya.
__ADS_1
Lagian juga dia tidak akan sudi bertemu dengan pria yang tidak bertanggung jawab itu, kalau dia ingat-ingat hidupnya sangat berantakan sampai akhirnya pria ini datang mengaku kalau pria ini adalah ayah dari putrinya.
"Benar tuh pak lebih baik kalian pergi dari sini, dari pada nanti saya panggil warga untuk mengusir kalian."
Nik sempat melihat ke arah Bagas, bosnya malah mengangguk dan memutuskan untuk pergi dari sana. Nik yang sudah membawa mobilnya pergi jauh menatap Bagas.
"Pak, kenapa bapak memilih untuk pergi. Bukannya ini kesempatan emas untuk membuat mereka percaya." kata Nik yang melihat Bagas dari kaca spion dan bosnya itu hanya menatap ke arah luar.
"Masalah itu biar saya pikirkan kembali, lebih baik kamu fokus dengan menyetir saja."
"Baik pak."
***
"Dasar pria gila! Datang ke rumah orang bukannya membahas hal penting malah bahas hal konyol. Zaman sekarang sudah gak bisa dipercaya lagian, ya kan Bun?" tanya Mayra yang melirik ke arah Cantika, tapi bundanya malah melamun.
"Bunda." panggil Mayra membuat wanita itu sadar.
"I-ya. Ya sudah kalau gitu bunda istirahat dulu ya kamu jangan lupa istirahat."
"Gimana bang apa lu udah bicara dengan mami sama papi soal perjodohan itu?" tanya Lion yang melihat Edrick berada di ruang keluarga sibuk menonton film.
"Hem."
"Apa kata mereka? Apa mereka masih memaksa untuk melakukan perjodohan lagi?" tanya Lion yang penasaran dengan jawaban yang diberikan Edrick.
"Dia tidak akan melakukan perjodohan lagi sama lu, asalkan lu buktikan kalau lu bisa mendapatkan pacar bukan malah menyusahkan orang tua."
Mendengar itu Lion mendengus kesal, Edrick yang merasakan adiknya kesal terkekeh dengan tingkah lakunya.
"Mami selalu saja begitu. Udah tahu aku tidak mau melakukan perjodohan itu dan mencari sendiri kenapa harus melakukan hal konyol itu." ucap Lion dengan berbicara sendiri dengan menatap ke arah langit rumah.
__ADS_1
Bagas menepuk paha Lion cukup kencang membuat pemilik badan Meringis kesakitan, "Itu namanya papi sama mami khawatir sama lu dan mereka sayang sama lu, buktinya aja dia rela melakukan perjodohan ini untuk kebahagiaan lu."
"Ya emang benar. Tapi ini sudah zaman modern bang bukan zaman dulu yang melakukan perjodohan, kenapa mami sama papi tidak mengerti juga tentang anaknya. Malah melakukan perjodohan konyol itu, yang lebih parahnya lagi wanita itu adalah mantan pacarku." kata Lion membuat Edrick menggeleng kepala, baru pertama kalinya ia melihat adiknya sangat frustasi.
"Sudahlah jangan kau pikirkan lagi, lagian masalah ini sudah selesai jadi lu harus mencari cara untuk menyakinkan papi sama mami." urai Edrick, barulah ia memutuskan untuk pergi meninggalkan Lion yang sibuk di sana.
Edrick yang sudah masuk ke dalam kamar melihat kalender, melihat tanggal membuatnya tersenyum. Senyuman itu terus mengembang saat mengingat kalau sebentar lagi Mayra akan melakukan magang, dia akan mencari cara supaya Mayra bisa magang di perusahaannya.
Walau perusahaan pertamanya Mayra sudah mengetahuinya, tapi ia masih ada cadang yang lain supaya ia bisa bertemu dengan wanita itu. Tepat satu minggu Mayra mencari tempat magang, akhirnya ia menemukan perusahaan yang cocok dengannya.
Walau bukan perusahaan besar tapi ia sangat beruntung bisa magang di perusahaan ini, Mayra segera menuju ke tempat dimana ia berada. Di ruangan itu terdapat satu meja yang kosong, tempat itu memang sengaja di kosongkan untuk orang yang ingin magang.
Satu hari Mayra di sana ia sudah mendapatkan tugas, mulai dari tugas yang kecil sampai yang besar sekalipun. Tetapi Mayra tidak menyadari kalau perusahaan itu milik Edrick, sedangkan Edrick yang sibuk mengurus perusahaan utama tidak pernah melihat keberadaan Mayra.
Beberapa perusahaan cabang selalu diserahkan oleh Nik dan perusahaan tempat magang Mayra dipimpin oleh Lion, karena Lion sedang menghadiri pertemuan di luar kota jadi ia tidak sempat untuk bertemu.
Satu bulan Lion berada di luar kota akhirnya ia bisa kembali, sebelum kembali Lion sempat datang untuk mengecek keadaan perusahaan cabang yang ia tangani saat Edrick mempercayainya untuk mengurus perusahaan ini. Sampai di perusahaan Lion meminta seseorang untuk membawa berkas, berkas yang diminta Lion berada di tangan Mayra.
Mayra mengangguk saat karyawan lama memintanya untuk mengantar berkas yang diminta oleh atasan, karena yang dia dengar pemilik perusahaan ini sudah kembali jadi ia bisa tahu siapa bosnya.
Sebelum Mayra masuk keruangan bos ia sempat mengetuk pintu tersebut, "Masuk." mendengar sahutan suara dari dalam ruangan akhirnya Mayra membuka pintu.
Mayra terus melangkah ke arah meja bosnya, mereka berdua sama sekali belum menyadari kalau mereka di pertemukan kembali. Dan Mayra sudah berada di hadapan bosnya dengan pria itu tetap sibuk mengecek laporan kantor.
"Permisi pak, ini berkas yang bapak minta."
"Letakan saja di meja saya." jawab Lion, Mayra segera menyimpan berkas yang ia bawa di atas meja bosnya.
Tetapi saat Lion mulai menyadari suara yang amat ia kenali, Lion memberanikan diri untuk menatap karyawan magang yang berada di perusahaannya selama satu bulan. Keduanya kompak saat mereka baru menyadari kalau mereka bertemu kembali, begitupun Mayra yang terlalu shock dengan apa yang ia temui.
"Mayra."
__ADS_1
"Lion." keduanya sangat kompak dalam menyebutkan nama mereka, membuat Lion tersenyum saat ia baru tahu kalau Mayra magang di perusahaannya.
"Kamu magang di sini, May?" Mayra tersenyum dengan menganggukan kepala saat mendapatkan pertanyaan dari bibir Lion, ia juga tidak mengerti kenapa dia bisa masuk ke perusahaan ini.