
Selesai makan Edrick memutuskan untuk pergi, tapi sebelum pergi ia melihat ke arah Lionel yang masih sibuk mengelap mulut.
"Saya rasa pertemuan ini sudah cukup, kalau tidak ada yang ingin kamu bahas lagi lebih baik saya pergi dari sini. Masih banyak pekerjaan yang harus saya lakukan." ucap Edrick yang segera mengambil handphonenya yang diletakan di samping.
"Apa boleh pertemuan kita hari ini bisa dilakukan kembali?" pertanyaan itu sontak membuat Edrick menoleh, dan menatap wanita itu dengan datar.
"Pertemuan kita bisa dilakukan saat membahas pekerjaan selain itu saya tidak bisa. Saya harap nona Lionel mengerti maksud saya." setelah bicara Edrick bergegas keluar dan berjalan ke arah taksi yang sudah menunggunya.
Sedangkan Lionel penasaran kenapa pria itu sangat susah ditaklukan, hanya Edrick yang bersikap dingin kepadanya. Semua pria yang ingin bekerja sama dengannya saja pada berusaha menggodanya.
Tapi pria itu tidak sama sekali melakukan itu, itulah yang membuat Lionel penasaran dengan Edrick dan juga penasaran siapa wanita yang membuat pria itu jatuh hati. Akhirnya Lionel memutuskan seseorang untuk mencari tahu siapa wanita itu, wanita yang berhasil mengambil hati pria itu.
Tidak butuh waktu lama sampai bertahun-tahun Lionel menemukan berita tentang Mayra, wanita yang berhasil membuat Edrick jatuh cinta. Melihat biodata Mayra membuat Lionel tersenyum, apa yang dilihat ternyata sesuai dengan harapannya.
"Ternyata wanita kecil ini hanya seekor ******. Tidak ada tandingannya denganku yang sudah banyak pengalaman." ucap Lionel yang fokus dengan biodata Mayra yang ia dapatkan.
"****** kecil ini sangat pandai menggoda pria, pantas saja Edrick terpikat olehnya. Kalau gitu akan aku buat menjadi wanita ini, supaya Edrick bisa takluk dengannya." batin Lionel yang menampakan senyum liciknya, lalu ia meletakan biodata Mayra di atas meja kerja.
Mayra memang seorang pemain tapi ia melakukan ini untuk mendapatkan uang, sedangkan ia ingin mencari ayah kandungnya yang tidak pernah ia kenali sejak kecil. Makanya ia berniat untuk melakukan hal kotor ini.
Lagi-lagi Mayra harus mengikuti kemauan Lion, pria yang sudah ia sepakati untuk melakukan apapun yang pria itu inginkan, dengan imbalan uang atau sejenisnya yang dia mau. Dan sekarang pria itu sedang membutuhkannya, tepatnya membutuhkan tubuhnya untuk memuaskan nafsu dari laki-laki itu.
Julukan ****** yang dia dapatkan memang pantas ia gunakan, walau sebenarnya ia tidak mau menggunakan kata menjijikan itu tapi mau gimana lagi ia harus melakukannya. Hubungan panas itu akhirnya dihentikan saat Lion mendengar suara dari Mayra, pria itu segera bangun dari tubuh Mayra dan memutuskan turun dari ranjang.
"Sepertinya cacing di perut kamu tidak bisa di kompromi May, malam ini aku biarkan kamu untuk istirahat sejenak. Nanti kalau aku butuh kamu lagi kamu harus melakukannya." ucap Lion yang menatap Mayra yang masih berada di atas ranjang.
__ADS_1
"Kamu di sana aja May nanti aku akan kembali untuk memberikan makanan buat kamu." ucapnya kembali lalu pria itu pergi setelah memakai piyama.
Lion berjalan menuju dapur dan segera membuatkan sarapan untuk Mayra, sedangkan saat Lion sibuk di dapur tiba-tiba saja Edrick masuk dan melihat Lion berada di dapur. Edrick merasa aneh dengan sikap Lion, tidak biasanya adik sepupunya itu berada di dapur.
"Tumben banget lu masak malam-malam begini, biasanya lu gak pernah datang ke dapur kecuali masalah perut lu doang." ucap Edrick yang membuka kulkas untuk mengambil minuman dingin.
"Ya begitulah bang. Gua lagi mau masak aja, lagian gua bosan masakan bibi." balas Lion saat pria itu masih sibuk mengaduk masakan.
Edrick mengangguk lalu ia membuka minuman dingin itu, lirikan Edrick tertuju pada masakan yang dibuat Lion. Adik sepupunya itu sudah selesai membuat makanan, kali ini masakannya itu sangatlah berbeda dari biasanya.
"Cuman satu aja untuk gua mana." kata Edrick yang menunjukan ke arahnya, karena ia melihat kalau masakan Lion sangatlah menggiurkan.
"Buat sendirilah lu kan bisa masak, masa iya gua yang masakin untuk lu." Lion pergi setelah mengatakan itu, pria itu membawa satu piring yang sudah ia buat sendiri.
***
Mayra yang melihat Lion datang menatap pria itu, lalu pria itu duduk di pinggir ranjang dengan membawa satu piring yang sudah Lion berikan.
"Silakan nikmati makanannya semoga aja kamu suka."
Mayra menatap makanan yang berada di piring lalu kembali menatap Lion, "Kamu yang buat ini?" tanya Mayra membuat Lion mengangguk.
Tidak butuh waktu lagi Mayra langsung memasukan sendok yang sudah berisi nasi itu, sendok itu ia masukan ke dalam mulut. Saat sendok itu keluar dari mulutnya, dan makanan yang sudah masuk ke dalam mulut ia rasakan. Mulutnya ini terus saja merasakan makanan yang dibuat Lion, ternyata rasanya tidak seburuk yang ia pikirkan.
Walau ada sedikit rasa asin dan pedas, tapi baginya ini sudah lumayan untuk di makan. "Gimana kamu suka masakan yang aku buat?"
__ADS_1
Mayra menatap Lion saat masakan yang dibuat Lion masih ia kunyah, Mayra hanya menjawab dengan anggukan saja walau sebenarnya ia ingin menjawab rasa dari masakan ini.
"Ya sudah habiskan makanannya aku mau ke bawah dulu, soalnya ada bang Edrick yang sudah berada di bawah sana." mendengar ucapan Lion Mayra segera menghentikan kunyahannya.
"Maksud kamu Edrick ada di rumah?" Lion dengan cepat mengangguk, "Ada apa? Kenapa kamu ketakutan seperti itu saat ada bang Edrick di rumah."
"Eh... Aku takut aja nanti Edrick tahu kalau aku ada di kamar kamu, apa yang akan aku katakan kalau sampai dia tahu aku ada di sini."
"Kamu tenang aja dia tidak akan tahu, nanti kalau dia tanya tentang kamu aku akan bilang kalau kamu tidak ada." Mayra mengikuti apa yang dikatakan Lion saja, setelah pria itu pergi Mayra melanjutkan makanannya lagi.
"Tumben lu bang pulang biasanya sibuk di kantor." ucap Lion yang sudah berada di samping Edrick yang berada di ruang tamu, pria itu sedang sibuk bermain PS.
"Gua bosan aja di kantor makanya gua mutusin untuk pulang ke rumah." jawab Edrick saat matanya masih ke layar game.
"Dimana Mayra? Gua belum melihat dia hari ini. Lu tahu kemana dia?" tanya Edrick yang sudah menghentikan gamenya lalu pria itu malah menatap Lion.
"Dia tidak ada di rumah, katanya dia mau nginap di rumah temannya. Gua gak tahu teman yang mana yang pasti cewek lu udah izin ke gua, dan dia bilang lu gak perlu khawatir dia baik-baik aja di sana." jawab Lion yang menghidupkan kembali game yang sempat dihentikan oleh Edrick.
"Sudahlah bang cewek lu udah besar dia juga ingin punya teman, makanya gua izinin aja kasihan bang kalau gak diizinin pasti dia sedih gak bisa ngumpul sama temannya." kata Lion yang sibuk main game, lalu ia meminta Edrick melanjutkan permainannya.
Untung saja ia bisa membodohi Edrick, coba kalau pria ini percaya ia sudah tidak tahu harus menjawab apa. Akhirnya kedua laki-laki itu sibuk bermain PS di ruang tamu, sedangkan Mayra selesai makan memutuskan untuk tidur.
Edrick memutuskan untuk pergi ke kantor lebih pagi dari biasanya, karena ada kendala di kantor untuk ia kerjakan. Sedangkan Lion yang melihat Edrick tidak di rumah memutuskan membangun Mayra.
"Mau aku bangunin May sudah bangun aja kamu." ucap Lion yang melihat Mayra sudah menuju ke ruang makan.
__ADS_1
"Tumben kamu saja yang berada di sana, dimana Edrick bukannya dia ada di rumah." ujar Mayra yang tidak melihat keberadaan Edrick saat ia sudah duduk di kursi.
"Biasalah namanya juga gila kerja pasti jam segini udah pergi ke kantor." Mayra hanya mengangguk saja dengan ucapan Lion, lalu ia lebih memilih mengambil sarapan.