Mayra, Wanita Jalang Nomor Satu

Mayra, Wanita Jalang Nomor Satu
Izin? Atau Menghilang!


__ADS_3

Mayra tidak menanggapi lagi perkataan Edrick, dia juga sudah melanjutkan sarapannya kembali. Saat mereka asik sarapan Edrick lebih dulu menghentikan sarapan itu dan memilih menatap Mayra.


"Beberapa bulan ini saya tidak bisa temani kamu di rumah, saya harus mengurus perusahaan yang berada di luar kota. Jadi kamu harus tetap di sini kecuali kampus, kamu boleh pergi kemanapun asalkan izin dengan saya."


"Saya tidak mau kamu melakukan sesuatu di luar tanpa sepengetahuan saya."


"Izin? Atau Menghilang? Kamu bicara seperti itu seakan ingin menghilang dari kehidupan ini, apa kamu merasa aku ini tahanan sampai izin ke kamu."


"Saya tahu perjanjian tetap perjanjian, balas budi tetap balas budi. Wanita simpanan tetap wanita simpanan jadi buat apa kamu izin sama saya, kamu berhak melakukan apapun di luar sana begitupun dengan saya. Jadi, saya tidak peduli kamu mau apa yang terpenting perjanjian kita tetap disepakati."


Mayra mengambil tas yang dia simpan di samping, lalu beranjak dari kursi untuk pergi ke kampus. Sedangkan Edrick masih di sana menyaring perkataan Mayra, yang diucapkan Mayra benar kenapa dia harus meminta izin ke wanita itu.


Wanita itu bukan pacar sungguhan apalagi istrinya, jadi dia berhak kemanapun tanpa sepengetahuan dia. Tapi entah kenapa dia seakan menganggap Mayra penting di hidupnya, apa mungkin dia merasa ada sesuatu sampai sekarang belum dia ketahui.


Seperti Cinta! Apa cinta itu sudah ada dihatinya, sampai dia tidak mau meninggalkan Mayra sedikitpun. Ia juga merasa takut kehilangan wanita itu, apalagi kalau perjanjian itu selesai pasti dia tidak akan bertemu Mayra lagi.


Tiba di sana Edrick sudah sangat disibukan dengan pekerjaan, mulai dari pertemuan sampai berkas kerja sama yang dikirimkan sekretaris pribadinya. Pria itu sangatlah gagah dan berwibawa, dengan pakaian kantor membuat kesan ketampanannya berkali-kali lipat dari biasanya.


Dia juga sangat pandai bicara untuk menarik orang supaya bisa bekerja sama dengannya, apalagi masalah musuh dia ahli dalam bidang apapun itu. Sedangkan Mayra tidak mengetahui tentang Edrick, yang dia tahu hanyalah balas budi.


Saking sibuknya dengan pekerjaan dari arah luar terdengar suara ketukan pintu, tanpa melihat ke arah orang tersebut. Orang itu masuk dan melihat Edrick begitu sibuk.


Datanglah seorang wanita yang begitu cantik dan seksi, dia sengaja berpenampilan seksi supaya bisa menarik perhatian Edrick. Tetapi pria itu malah asik dengan pekerjaan.


"Edrick."


"Hem." balas Edrick tanpa pedulikan wanita yang baru saja datang, tanpa melihat orang itu ia sudah tahu kalau wanita itu wanita bayarannya.


"Apa kau sangat sibuk sampai tidak melihat ke arahku." ucap wanita itu membuat Edrick memutuskan untuk menatap wanita tersebut.

__ADS_1


Wanita itu tersenyum saat pria ini selalu mengikuti keinginannya, "Jangan ganggu saya... saya masih punya kesibukan lebih baik kamu pergi dari ruangan saya. Jangan sampai saya meminta satpam untuk mengusir kamu."


"Ih!! kamu ini kenapa, kenapa kamu malah mengusirku dari sini. Aku datang ke sini untuk bersenang-senang sama kamu, bukan di usir begitu Edrick." kata wanita itu, Edrick menghela nafas mendengar tingkah laku wanita ini.


"Sudahlah jangan banyak bicara, cepat katakan mau kamu apa di ruangan saya." tutur Edrick membuat wanita itu tersenyum, lalu langkah wanita itu berjalan menuju Edrick.


Perempuan itu masih sibuk melangkahkan kaki sampai kaki itu berhenti tepat di depan Edrick, "Apa sekarang kamu tidak bermain denganku sebentar saja, biasanya kamu selalu memanggilku untuk bermain."


Edrick menatap wanita ini dengan jengah, ia melihat tangan wanita itu berada di wajahnya saat wanita ini berhasil membuat dirinya harus melihat wanita ini.


"Tidak! Saya sudah punya wanita lain untuk saya sendiri, jadi saya tidak butuh jasa kamu lagi." mendengar itu perempuan tersebut menarik tangannya dengan kasar, dia tidak tahu apakah di mata Edrick ia sudah tidak penting lagi.


Wanita itu berusaha sabar dan melipat kedua tangannya dengan tatapan matanya terus tertuju pada Edrick, "Itukan di rumah. Lagian juga kamu sedang di luar, buat apa dia peduli tentang kehidupan kamu. Mau kamu melakukan apapun dia tidak akan peduli dengan kamu tuan Edrick."


***


Edrick kembali melihat ke arah wanita itu, yang diucapkan wanita ini benar lagian juga Mayra tidak tahu dia di luar seperti apa. Buat apa dia pedulikan wanita itu, tujuan dia membawa Mayra untuk memuaskannya bukan menjadi kekasih sungguhan.


Wanita itu tersenyum mendengar ucapan Edrick, wanita itu mulai mendekat ke arah Edrick yang masih duduk di kursi kebanggaannya. Ia lebih dulu memulai sebelum Edrick menyentuhnya, Edrick yang merasakan gerakan perempuan ini ia sama sekali tidak merasakan apapun.


Walau banyak cara wanita ini untuk meningkatkan gairahnya, tetap saja gairah di tubuhnya tidak merespon sedikitpun apalagi tubuhnya. Sedangkan saat dia bermain dengan Mayra, hasratnya lebih cepat keluar dibandingkan wanita ini.


Edrick dengan cepat menghentikan kegiatan wanita ini, ia mendorong tubuh wanita ini supaya menjauh dengannya. Membuat wanita itu kesal dengan kelakuannya.


"Kamu ini kenapa aku lagi berusaha memuaskan kamu Edrick, kenapa kamu malah mendorongku." ucap wanita itu dengan kesal.


"Sudah cukup silakan kamu pergi, servis yang kamu berikan tidak mempan di tubuhku." kata Edrick yang merapikan penampilannya kembali.


Wanita itu keluar saat pakaiannya sudah dia rapikan, Edrick tidak tahu kenapa hasratnya tidak keluar malah tidak merasakan apapun. Sedangkan saat bermain dengan Mayra ia merasakan sensasi yang luar biasa, belum menyentuh tubuh Mayra saja dia sudah dibuat kepanasan melihat wanita itu.

__ADS_1


Edrick memutuskan untuk pergi menemui sekretaris pribadinya, dia segera pergi menemui klien di luar perusahaan. Sudah banyak perusahaan lain ingin bekerja sama dengannya, walau banyak saingan dengan perusahaannya tetapi dia tetap menjadi pemenangnya.


Sedangkan di tempat lain Mayra sangat sibuk mencatat materi kuliah yang di jelaskan dosen di depan, tapi Frans malah asik menatapnya tanpa mencatat materi yang diberikan dosen.


"Frans kau mau aku bawakan palu yang besar supaya aku bisa memukul kepalamu." ucap Mayra dengan pelan tanpa menatap Frans.


"Tidak ada palu yang ukurannya besar May, semua palu ukurannya sama rata seperti aku dengan kamu." Mayra menghentikan menulisnya lalu dia menatap Frans dengan kesal.


"Cepat nulis atau aku pukul kau sekarang juga." pekik Mayra membuat pria itu terkekeh melihat Mayra mulai kesal.


"Baiklah, aku akan sibuk mencatat materi yang di berikan dosen." balas Frans membuat Mayra tertawa pelan melihat tingkah laku pria ini.


Mayra memutuskan kembali setelah selesai mata kuliah, ia melihat seisi rumahnya terasa kosong. Hanya terdapat banyak pekerjaan yang bertugas membersihkan rumah sebesar ini, dia tidak tahu kenapa pria itu memilih rumah sebesar ini.


Sedangkan Edrick hanya tinggal sendiri, tapi ia tidak tahu dimana keluarga pria itu. Ingin rasanya dia mengetahui tentang keluarga Edrick tapi ia tidak mungkin mengatakan sejujurnya, kalau pria itu tahu yang ada dia seperti penasaran dengan keluarganya.


"Non." panggil seseorang yang membuat Mayra membuka mata saat dia sibuk memejamkan mata diruang tamu.


"Ada apa, bi?" tanya Mayra yang sudah menatap wanita itu.


"Non mau bibi siapkan sarapan."


"Nggak usah bi nanti aku akan buat sendiri, bibi lanjutin pekerjaan bibi aja."


"Baiklah non." wanita itu pergi meninggalkan Mayra diruang tamu, ia memutuskan untuk ke kamar melanjutkan kegiatan barusan.


Keesokan paginya Mayra memutuskan untuk sarapan sendiri, hari ini hari liburnya karena dia sama sekali tidak memiliki jadwal kuliah apapun. Jadi ia memutuskan untuk di rumah, tapi ia merasa bosan di rumah sendiri tanpa orang yang menemaninya.


Mayra selesai sarapan ia memutuskan untuk pergi jalan-jalan, karena hari ini hari liburnya jadi dia memutuskan untuk pergi ke sesuatu tempat. Dimana ia akan menghabiskan waktu tanpa pria itu, biasanya Edrick selalu memintanya untuk memuaskan pria itu.

__ADS_1


Tapi sekarang dia terbebas dari jeratan pria itu, Mayra melihat banyak sekali wanita cantik di mall besar ini. Mereka sibuk jalan dengan pria berduit, Mayra yang sedang duduk melihat ke arah mereka.


Mayra mengecek handphone saat saldo rekeningnya mau habis, "Kalau kaya gini terus aku tidak bisa membeli apapun yang aku mau, aku emang butuh uang tapi kalau aku terus minta ke Edrick pasti pria itu akan kesulitan. Walau Edrick tidak keberatan kalau dia meminta uang, lagian juga uang dia banyak buat apa takut kehabisan."


__ADS_2