
Sebenarnya Lion meminta Mayra untuk menemani buat menemui seseorang, seorang wanita yang mengaku sebagai mantan kekasihnya. Walau dia sebenarnya tahu kalau ia lelaki brengsek, mana mungkin memiliki kekasih.
"Kau kenapa mengajakku ke tempat seperti ini. Bukannya tepat ini untuk orang yang mempunyai pacar." ucap Mayra yang sudah berada di tempat tujuan.
"Sudah kau diam saja. Aku meminta kamu datang bersamaku untuk menemui seseorang dan kamu bisa membantuku." urai Lion membuat Mayra mengerutkan kening dengan tatapan masih melihat Lion yang sibuk menikmati minuman.
"Kenapa kamu melihatku seperti itu? Apa aku salah memintamu untuk menemaniku, dan membantuku kalau aku kenapa-napa nantinya."
Mayra memutar kedua matanya dengan malas, bagaimana mungkin ia bisa membantu pria ini. Apakah pria ini sudah gila, sudahlah kalau nanti dia membantu pria ini ia akan meminta imbalannya.
"Hai, baby. Kamu sudah lama nunggu ya." ucap seorang wanita yang tiba-tiba saja datang ke meja mereka.
"Maaf ya aku lama datangnya." ucap wanita itu lagi saat wanita itu sudah duduk di dekat Lion.
Sedangkan Mayra yang melihat itu tidak merespon, ia malah asik dengan dunianya sendiri. Sedangkan wanita ganjen itu sudah mulai menempel di tubuh Lion, membuat Mayra yang melihat itu sungguh merusak pemandangan.
"Hem! Ini mau sampai kapan kalian seperti itu, apa kalian tidak bisa bermesraan di tempat lain. Aku yang melihatnya saja sakit mata apalagi orang lain." kata Mayra yang melihat mereka berdua, apalagi wanita yang berada di samping Lion.
Wanita itu menatap Mayra saat dirinya asik bermesraan dengan Lion, "Kenapa tidak kamu saja yang pergi dari tempat ini, apa kamu tidak lihat mereka semua. Gak hanya kita saja yang seperti ini banyak orang lain yang sama dengan kami."
Yang dibilang wanita ini benar kalau bukan mereka saja yang melakukan seperti itu, masih banyak orang yang sibuk berduaan dengan pacarnya. Sedangkan ia yang melihat kegiatan di tempat ini memutuskan untuk pergi.
"Kamu mau kemana?" tanya Lion yang melihat Mayra berdiri.
Dengan malas Mayra menjawab, "Aku mau pergi ke tempat lain saja, mataku lama-lama sakit mata melihat kalian bermesraan tidak tahu tempat. Kalau kegiatan kalian ini sudah selesai lebih baik pergi, dari pada nanti di usir satpam yang ada dibilang maling."
Mendengar ucapan Mayra membuat wanita itu bangkit dan kesal dengan sikap Mayra, Mayra tidak peduli saat emosi wanita itu sudah memuncak. Mayra memutuskan untuk ke tempat lain dari pada berada di antara mereka, yang ada hidupnya suram berada di tempat seperti ini.
Lion melepaskan wanita di sampingnya dengan kasar, tidak lupa dengan tatapan itu yang menatapnya dengan tajam.
__ADS_1
"Sayang, kamu kenapa menatapku seperti itu. Aku melihat kamu sudah ketakutan." tuturnya dengan nada manja.
"Sudahlah jangan banyak omong lagi, aku datang kemari bukan untuk melihatmu seperti barusan. Cepat katakan sebenarnya apa yang ingin kamu mau, dari pada buang waktuku saja di tempat seperti ini." urai Lion yang malas berlama-lama bersama dengan wanita ini.
"Lion, aku mengaku salah sama kamu. Sebenarnya aku melakukan itu karena aku cemburu melihat kamu dengan kekasih kamu, aku tidak mau melihat kamu bersama dengan wanita lain selain aku." ucap wanita itu yang beralih mengambil tangan Lion.
***
Lion yang melihat tangannya di sentuh segera melepaskan tangannya, "Tapi aku tidak peduli sama kamu, aku mencintai dia dari pada kamu. Dan status di antara kita tidak ada apa-apa, jadi kamu jangan berharap kalau di antara kita memiliki hubungan."
"Bagiku kamu hanya milikku seorang, asalkan kamu tahu cewek kamu itu sudah putusin kamu. Dan kita bisa sama-sama lagi seperti dulu, bukannya itu yang kamu mau bukan."
Perempuan itu mengerutkan kening melihat Lion tertawa, apa wanita ini sudah gila mengatakan seperti itu. Dengan rasa percaya diri wanita ini sengaja mengatakan hal yang membuat kewarasan menghilang.
"Jangan mimpi. Jangan harap kalau aku mau denganmu, asal kamu tahu dia putusin aku gara-gara ulah kamu bukan dia yang mau. Jadi, kamu jangan pernah kembali lagi. Atau kamu mau kalau aku laporin kamu ke kantor polisi, karena sudah menganggu ketenangan orang lain." Lion merasa kalau wanita ini sedikit ketakutan dengan ancamannya, tapi ia harus berhati-hati dengan wanita mulut ular ini.
"Kemana lagi wanita itu, kenapa dia tidak kembali juga." gumam Lion yang mencari keberadaan Mayra, sedangkan wanita yang dia cari sibuk berada di tempat perbelanjaan.
Kepergiannya membuat Mayra dengan mudah masuk ke pusat perbelanjaan, di mana ia bisa memilih sesuka hati di tempat lain. Mayra sudah mencoba berbagai pakaian tapi sampai sekarang belum sesuai dengan kriterianya.
Akhirnya setelah puas belanja Mayra memutuskan untuk makan, ia sudah tidak peduli lagi dengan pria itu walau dia melihat notifikasi yang masuk dari handphone.
"Perempuan repot juga kalau belanja, sudah berapa jam kamu keliling cuman dapat segitu." ucap Lion yang melihat Mayra baru saja pulang.
Pria itu menatap ke arahnya saat ia sibuk bawa belanjaan, Mayra tidak peduli dengan tanggapan Lion ia malah pergi gitu saja. Malahan Lion berharap kalau ia bisa ribut dengan wanita ini.
"Eh tunggu." ucap Lion dengan cepat menahan Mayra melangkah.
"Ada apa lagi? Bisa gak kamu gak usah ganggu, sudah datang tanpa diundang malah jadi pengacau di tempat orang." lontar Mayra dengan cetus dan kesal dengan keberadaan Lion.
__ADS_1
"Aduh cantik kenapa marah-marah mulu, gua datang ke sini mau tanya sesuatu sama lu. Dari tadi gua cariin lu kemanapun tapi handphone lu gak aktif, malah pesan yang gua kirim gak di balas."
"Oh jadi nomor gak di kenal itu nomor lu, gua kira nomor cowok aneh dan cowok gila yang selalu ganggu orang." Mayra menjawab dengan gaya sedikit mengejek.
"Enak aja. Gini-gini tuh gua ganteng dan disukai banyak wanita di luar sana, gak kaya lu cuman numpang hidup di rumah orang. Oh ya gua lupa kalau lu sudah di beli oleh abang sepupu gua."
Tanpa menjawab lagi Mayra memutuskan untuk pergi, ia sudah tidak ingin mendengar ocehan yang keluar dari mulut Lion. Pria ini sangatlah menyebalkan, apalagi pria ini suka sekali tebar pesona dengan tubuhnya itu.
"Eh, lu mau kemana?" tanya Lion dengan keras tanpa direspon sedikitpun oleh Mayra.
"Cowok gila! Seharusnya dia tidak usah tinggal di sini, lagian cowok rese itu kenapa masih ada di sini. Lama-lama gua muak lihat mukanya itu." oceh Mayra dengan kesal saat membayangkan Lion berada di dekatnya.
Sedangkan Edrick yang masih mengurus kantor berpindah melihat keberadaan Mayra, ia melihat Mayra sedang membaca buku sambil membuka laptop di atas kasur. Seketika bibirnya tersenyum melihat wajah Mayra yang sangat menggemaskan.
Selama ini ia sudah melihat perkembangan Mayra, mulai dari latihan ilmu bela diri sampai dengan belajar mengenai perusahaan. Ia berharap kalau Mayra menguasai semuanya, tapi wanita itu beranggapan kalau dirinya pria mesum.
"May, saya tidak tahu pikiran kamu tentang aku. Andai kamu tahu May kalau aku sangat menyukai keberadaan kamu, walau aku tidak tahu apakah kamu cuman alat pemuas nafsuku saja atau aku sudah jatuh cinta olehmu." batin Edrick dalam hati.
Itulah sisi lain Edrick, tidak dengan Mayra menganggap Edrick pria mesum. Mayra memutuskan untuk tidak memikirkan sesuatu yang berada di kelapanya, entahlah sudah berapa kali ia seperti ini yang terpenting pria itu tidak akan tahu dirinya.
Baru saja matanya terbuka ia dibuat shock saat melihat seorang laki-laki sudah berada di ranjang, pria itu tersenyum saat melihat Mayra sudah membuka mata.
"Ka-kamu. Kamu kenapa bisa ada di kamarku, bukannya kamu masih ada urusan di kantor kenapa bisa datang ke kamar." ujar Mayra yang sudah sepenuhnya melihat ke arah lelaki itu.
Sedangkan Edrick tersenyum melihat wajah Mayra, "Karena saya kangen sama kamu, dan saya sangat merindukan kamu May." kata Edrick yang sedikit memberikan sebuah gombalan.
"Sudahlah ini masih pagi jangan ngajak ribut, sejak kapan kamu ada di kamar? Dan sejak kamu belajar gombalan maut itu."
"Sejak kamu ada di rumah ini." jawab Edrick dengan enteng tanpa memiliki beban sedikitpun.
__ADS_1