
Kehidupan yang mereka jalani sudah sejalan dengan apa yang mereka rencanakan, Mayra merasa kehidupan yang ia jalani sekarang sudah lebih baik dari sebelumnya. Walau ia sudah tidak pernah bertemu dengan pria itu lagi, tetapi seakan ia sangat merindukan pria itu.
"Kenapa sekarang aku mulai merindukan Edrick. Apa ada yang salah denganku, kenapa pikiranku mulai mengarahkan ke pria itu." batin Mayra yang sibuk memandangi langit malam di dalam kamar.
Sedangkan Cantika melangkah ke kamar Mayra yang berada di lantai atas, ia tersenyum saat melihat Mayra sibuk melamun di dekat jendela.
"Bunda lihat kamu sering melamun. Ada apa? Apa ada sesuatu yang kamu pikirkan May?" Mayra melirik Cantika saat wanita itu sudah berada di dekatnya.
"Tidak Bun."
"Kamu yakin tidak lagi mikirin sesuatu? Atau jangan-jangan kamu lagi mikirin pacar kamu ya?" kali ini Cantika sangat lihai menebak apa yang ada di kepala Mayra, Mayra tersenyum malu dengan ucapan Cantika.
"Apa tebakan bunda benar kamu sedang mikirin pacar kamu?" kata Cantika yang tersenyum melihat putrinya sedang merasakan jatuh cinta.
"Tidak Bun, lagian juga aku mana mungkin punya pacar."
"Sayang, kamu ini anak bunda mana mungkin bunda tidak tahu isi hati kamu. Kalau kamu punya pacar kenapa gak kenalin dia sama bunda, bunda 'kan mau tahu siapa laki-laki itu." ucap Cantika dengan lembut saat kedua tangan Mayra di sentuh oleh tangan Cantika.
"Sudahlah bun aku tidak mau membahas pacaran terus, besok aku masih ada tugas kuliah jadi aku istirahat duluan bun."
"Baiklah kalau gitu bunda balik ke kamar, jangan lupa ya kamu harus kenalin bunda sama pacar kamu." Goda Cantika yang melihat Mayra sudah menutup kedua telinganya menggunakan bantal.
"Aku gak dengar bun." teriak Mayra yang masih terdengar oleh Cantika, Cantika terkekeh melihat tingkah laku putrinya.
Sedangkan di sisi lain Edrick mulai terbiasa tanpa Mayra, ia sudah putus asa mencari keberadaan Mayra. Ia pernah mencari Mayra ke tempat tinggalnya dulu, tapi wanita itu sudah tidak tinggal di sana. Jadi mulai sekarang ia sudah tidak mencari keberadaan Mayra lagi, yang dia lakukan sekarang hanya pekerjaan.
"Sayang, kamu hari ini lembur?" tanya Meta yang sibuk memakan roti.
"Hem." jawaban singkat itu sudah terbiasa di dengar oleh Meta, sudah tidak heran lagi kenapa suaminya selalu bersikap dingin.
"Ya sudah, tapi aku izin mau nginap di vila bersama dengan teman-temanku. Katanya sekalian ngumpul sama temanku waktu kuliah."
__ADS_1
"Hem." itulah yang terus dikatakan Bagas, sepertinya suaminya tidak peduli tentang kehidupannya.
Bagas selalu memperlakukannya seperti ini, walau ia tahu ingin tahu respon dari suaminya. "Tapi mas aku pulangnya gak satu sampai dua hari, apa kamu tetap masih mengizinkan aku untuk pergi."
Bagas memutuskan untuk menatap Meta, wanita itu selalu saja mencari gara-gara dengannya. Apa susahnya tinggal berangkat tanpa harus bilang, lagian juga dia tidak peduli tentang wanita ini.
"Terserah kamu aku tidak peduli." Bagas bergegas pergi dari hadapan Meta, matanya terus menatap kepergian Bagas sampai pria itu sudah sepenuhnya menghilang.
"Mas, sampai kapan kamu tidak peduli tentang pernikahan ini mas. Aku sudah gak sanggup mengambil hati kamu, mungkin aku bisa mendapatkan raga kamu tapi tidak dengan hati kamu."
"Aku sudah mencoba mendapatkan perhatian dari kamu tapi apa yang kamu lakuin sekarang, kamu malah tidak menganggap kehadiranku selama ini." batin Meta yang terus berkecamuk dengan pikirannya sendiri, ia juga sudah tidak tahu harus melakukan cara apa lagi untuk mengambil hati suaminya.
***
"Maksud bapak saya harus cari tahu tentang wanita yang tempo hari ketemu di restoran itu?" tanya laki-laki yang sudah bekerja lama dengannya.
Bagas mengangguk, "Ya! Saya mau kamu mencari informasi mengenai perempuan itu, saya yakin kalau wanita itu adalah anakku."
Bagas melihat sekretarisnya dengan tajam, ia sangat tidak suka kalau ada yang membantah ucapannya.
"Kamu ini bekerja dengan siapa sampai takut dengan istri saya. Kamu harus ingat kamu ini bekerja di kantor saya bukan bekerja untuk istri saya, jadi kamu harus mengikuti apapun yang saya perintahkan ke kamu." ujar Bagas dengan tegas.
"Maaf pak. Tapi kenapa bapak sangat tertarik dengan anak perempuan itu? Bapak dengan anak itu tidak ada hubungannya, apa bapak curiga kalau anak itu adalah anak kandung bapak selama ini bapak cari." tutur pria itu yang mengatakan kalau anak yang mereka temui di mall adalah anak dari bosnya.
"Sepertinya begitu, tapi saya tidak yakin dengan perkataan saya sendiri. Kamu ingat waktu itu kamu tidak membawa aku wanita bayaran?" sekretarisnya itu mengangguk saat ia mengingat kejadian yang sudah lama.
"Aku pikir wanita itu pemberian kamu makanya aku langsung melakukan itu sama dia, tapi saat kamu tidak membawa wanita bayaran aku sadar kalau aku sudah melakukan itu dengan orang lain." urai Bagas yang mengingat bagaimana ganasnya ia dulu menghantam wanita asing itu.
"Baiklah, kalau gitu saya akan menemukan informasi mengenai perempuan itu. Saya juga akan mencari tahu siapa wanita yang melakukan hubungan satu malam dengan bapak." Bagas mengangguk saat mendengar perkataan sekretaris pribadinya, lalu pria itu pergi ke tempat kerjanya.
Satu bulan pencarian akhirnya sekretaris pribadinya berhasil menemukan bukti informasi mengenai anak perempuan itu, anak perempuan yang pernah ia temui di mall bersama dengan sekretaris pribadinya.
__ADS_1
Bukti itu menyatakan kalau anak itu tinggal di sebuah perumahan kawasan elit, dia tinggal bersama dengan satu wanita yang ia tebak kalau wanita satunya adalah ibu dari anak itu. Mereka memiliki usaha toko bunga, dan anak itu sibuk kuliah sambil bekerja di sebuah bar.
Tentang informasi mengenai ibunya, ibunya bernama Cantika dan anaknya bernama Mayra. Cantika di masa mudanya bekerja di sebuah klub malam, Cantika memutuskan untuk tidak bekerja di tempat hiburan lagi karena ketahuan hamil.
Akhirnya Cantika memutuskan untuk merawat putrinya dan membuka usaha toko bunga, wanita itu memiliki seorang sahabat bernama Inez. Wanita itulah yang membantu Cantika dalam keadaan hamil, tapi ia tidak menemukan siapa laki-laki yang menghamili Cantika.
Dan anak yang dikandung Cantika adalah anak dari pria yang tidak bertanggung jawab, "Apa kamu sudah yakin dengan informasi ini?" Bagas beralih menatap sekretarisnya dan menanyakan apakah informasi ini sudah selesai di dapatkan semua.
"Sudah pak. Bukti itu sudah saya dapatkan dengan tuntas, hanya itu saja yang saya temukan."
"Apa kamu tahu alamat rumahnya yang sekarang?" kali ini Bagas sangat menginginkan alamat rumah wanita ini, ia ingin memastikan apakah bukti ini benar atau tidak.
Pria itu mengangguk saat mendapatkan alamat rumahnya, ia akan memastikan tentang dua wanita itu. Sejujurnya ia ingin bertanggung jawab atas perbuatannya dulu, kalau memang Cantika adalah wanita masa lalunya ia akan bertanggung jawab akan Mayra.
Selesai mengurus berkas kantor, Bagas memutuskan untuk menemui Cantika. Tepatnya ia mencari tahu keberadaannya, sekarang ia sudah sampai di alamat yang sempat diberikan oleh sekretaris pribadinya.
Walau bukan rumah mewah tapi rumah ini cukup bagus, "Pak. Apa bapak tidak mau menemui mereka?" tanya pria yang berada di kursi depan, Bagas menatap pria itu dari kaca spion.
"Kita tunggu saja di sini sampai pemilik rumah itu datang." lelaki itu mengangguk dan kembali menatap ke arah rumah itu, dan benar saja kedua wanita itu datang.
Bagas yang melihatnya segera turun dari mobil, ia melangkah untuk menemui pemilik rumah itu. Saat bel berbunyi ternyata pintu terbuka, ia melihat wanita cantik berambut panjang berwarna coklat yang membukakan pintu.
"Ada apa mas? Mas lagi cari siapa?" tanya wanita cantik itu, sejujurnya ia sangat terpukau akan kecantikan yang dimiliki wanita ini.
"Boleh saya masuk lebih dulu saya mau membahas sesuatu sama pemilik rumah ini." kata Bagas membuat wanita itu sedikit ragu dengan perkataan pria asing ini.
"Kamu tidak usah khawatir saya tidak akan menyakiti kalian, saya datang kemari untuk membahas sesuatu sama kalian." ucap Bagas yang berusaha menyakinkan wanita ini.
Mau tidak mau Cantika mengizinkan pria asing ini masuk, ia mempersilahkan duduk untuk dua laki-laki asing itu sedangkan ia pergi ke dapur untuk membuatkan minuman.
"Bunda." teriak seseorang dari luar, langkah kakinya terhenti saat melihat orang asing datang ke rumahnya.
__ADS_1