
Bagas lebih menjauh dari Cantika, ia lebih menghampiri Mayra yang sibuk membaca majalah. Bagas tersenyum saat kepalanya melihat Mayra berada di sebelahnya, wanita itu masih tetap diam sambil memegangi majalah di tangannya.
"Kalau mau baca yang benar ini bukunya kebalik. Nanti orang melihatmu aneh saat mendekatimu." ucap Bagas saat ia mengubah buku yang ada di tangan Mayra, Mayra seketika dibuat malu dengan tingkah konyolnya sendiri.
Bagaimana bisa ia bersikap konyol seperti ini apalagi di depan ayah kandungnya, "Wah seru sekali kalian berdua, ini bunda sudah selesai bakar ikan untuk kalian."
Mayra mengubah posisinya saat mendengar suara Cantika, ia tersenyum saat melihat ikan yang dibuat Cantika. Tidak hanya Cantika yang merasa bahagia, Bagas merasakan hal yang sama dengan Cantika. Baru pertama kalinya ia merasakan kehangatan di dalam keluarga, dan ini adalah hal yang Bagas inginkan.
Semenjak menikah dengan Meta ia tidak pernah merasakan kehangatan seperti ini, semuanya berjalan dengan kehidupan masing-masing. Sedangkan Meta malah sibuk mencari cara untuk membuatnya jatuh cinta, tapi sampai detik ini ia belum merasakan cinta itu.
Setelah pertemuan kemarin, Bagas semakin dekat dengan Mayra apalagi dengan Cantika wanita yang sudah membuatnya jatuh hati. Sedangkan pernikahannya dengan Meta diambang kehancuran, karena wanita itu sibuk dengan dunianya sendiri. Apalagi Lionel dia malah memutuskan untuk pergi ke salah satu negara untuk melanjutkan pendidikannya.
"Sayang kamu sudah pulang." ucap Meta yang melihat suaminya datang, dan ia segera menyambut kepulangan Bagas.
Tetapi Bagas hanya merespon biasa saja, walau Meta berusaha untuk menjadi istri yang baik. Tapi hatinya tidak untuk istrinya, melainkan untuk wanita yang saat ini sudah menjadi bagian hidupnya.
"Sayang, mau aku siapkan makanan lebih dulu atau kamu mau mandi dulu." ujar Meta yang sudah berada di dalam kamar dengan Bagas, lelaki itu sibuk membuka pakaian kantor yang melekat di tubuhnya.
"Mas. Kamu kenapa diam aja aku tanya sama kamu, kamu mau mandi dulu atau mau aku siapkan sarapan untuk kamu." Meta kali ini berucap kembali dengan memandangi punggung suaminya.
Bagas melihat Meta dari kaca lemari, "Terserah." jawaban yang keluar dari mulut suaminya terasa dingin dan datar, ia merasa kalau Bagas berusaha menjauhinya.
"Yasudah aku siapkan kamu makanan nanti aku panggil kalau kamu sudah selesai mandi." Meta tersenyum kecut saat mendengar jawaban singkat dari suaminya, dia ingin sekali Bagas mengucapkan sebuah kalimat yang ingin dia rasakan.
Tapi itu tidak mungkin, karena Bagas tidak akan seperti itu. Selama menikah Bagas selalu bersikap dingin dan acuh, sedangkan dirinya sibuk mencari cara untuk membuat suaminya jatuh cinta.
__ADS_1
"Kamu kenapa mengizinkan anak kamu sekolah diluar negeri bukannya di sini masih ada sekolah yang bagus untuknya." kata Bagas yang memilih menghentikan sarapan dan lebih fokus dengan pembicaraannya.
"Dia lebih suka sekolah di sana mas. Aku tidak mungkin menghalanginya apalagi dia sangat suka dengan cita-citanya." balas Meta yang kali ini fokus dengan wajah suaminya.
"Besok minta anak kamu pulang, suruh dia kembali ke Indonesia. Aku mau dia mencari sekolah di sini saja tanpa jauh-jauh di negara orang, aku tidak suka kalau anak kamu itu terlalu dibiarkan begitu saja. Yang ada dia semakin membuatku kesusahan." Meta sama sekali tidak bisa menjawab atau membalas ucapan Bagas, ia cukup diam dengan sikap Bagas selama ini.
Mungkin dia akui kalau Bagas masih membenci Lionel, tapi apakah Bagas tidak bisa menyayangi Lionel seperti putri kandungnya sendiri. Walau dia tahu kalau itu tidak mungkin, karena selama menikah dialah yang membohongi semuanya termasuk keluarganya sendiri.
"Baik mas nanti aku akan beritahu Lionel." hanya itulah yang bisa Meta jawab, ia tidak bisa membela atau membalas perkataan yang sudah Bagas ucapkan.
***
Kepulangan Lionel membuatnya semakin curiga dengan sikap Bagas, dia merasa kalau suaminya menyembunyikan sesuatu darinya. Apalagi suaminya selalu jarang pulang dengan alasan bertemu dengan client di luar kota.
Akhirnya Meta berinisiatif untuk mencari tahu sendiri tanpa sepengetahuan Bagas, ternyata rasa curiganya terbukti jelas kalau suaminya sedang asik bersama dengan wanita lain. Suaminya sangat bahagia bersama dengan wanita itu, apalagi dengan satu wanita lain yang baru saja datang.
"Sebenarnya siapa dua wanita itu. Kenapa mereka terlihat akrab dengan Bagas, apa mereka memiliki hubungan di belakangku." batin Meta yang masih memperhatikan mereka dari kejauhan.
Sejujurnya hatinya merasa sakit melihat kebahagiaan yang berada di wajah Bagas, kebahagiaan itu tidak dibuat-buat seperti alami. Itupun sangat membuatnya iri karena dia tidak pernah mendapatkan kebahagiaan itu.
"Jalan pak." kata Meta kepada supir pribadinya, supir itu mengangguk dan melaksanakan tugas dari bosnya.
Cantika terus memperhatikan interaksi antara ayah dan anak, dia sangat senang melihatnya. Karena ini pertama baginya melihat Mayra bisa menerima Bagas, dia pikir kalau Mayra tidak akan menerima Bagas sebagai ayah kandungnya tapi ternyata Mayra semakin menyukai kehadiran Bagas di sisinya.
Bagas yang menyadari Cantika terus memandanginya, langsung menatap wanita itu dan di sana pandangannya langsung terputus saat Cantika menyadari tatapannya.
__ADS_1
"Mayra, kamu bisa menikmati ini sendiri dulu. Daddy mau bicara dengan bunda kamu." kata Bagas saat ini ia menatap Mayra putri kandungnya.
Mayra mengangguk tanpa menatap Bagas, Bagas membawa Cantika ke salah satu tempat yang jauh dari Mayra. Di sanalah mereka berdua berada, di tempat yang tidak terlihat dari pandangan orang lain.
"Kenapa kau mengajakku ke tempat seperti ini. Apa ada yang ingin kamu sampaikan?" tanya Cantika yang kini malah sibuk memandangi wajah Bagas, lelaki di depannya hanya tersenyum sambil melihatnya.
Tanpa berbicara lagi Bagas lebih memberikan sebuah hadiah untuk wanita cantik di depannya, hadiah terindah yang tidak mungkin Cantika lupakan. Sebuah ciuman yang kini Bagas lakukan untuk dinikmati bersama dengan Cantika, tindakan yang secara langsung membuat Cantika hampir terkejut dengan apa yang dilakukan Bagas.
Tapi dengan sendirinya ia mengikuti irama yang dilakukan pria ini, sampai dimana ciuman itu masih bertahan dan membuat keduanya sama-sama menikmatinya. Bagas lebih dulu melepaskan ciuman itu, dan kembali menatap wajah Cantika.
"Kalau saja aku lebih dulu bertemu dengan kamu dan anak kita aku tidak mungkin menerima pernikahan itu. Apakah aku bisa mendapatkan kamu kembali setelah aku sudah memiliki keluarga?" kalimat yang dilontarkan Bagas membuatnya terdiam.
Ia juga tidak tahu harus menjawab seperti apa lagi, dia tidak mungkin mengatakan kalau ia memberikan kesempatan untuk pria ini. Tapi ia teringat kalau Bagas sudah memiliki keluarga, dan status mereka tidak sebanding dengannya.
Cantika seketika menjauh dari tubuh Bagas, ia lebih melihat Bagas dari jauh yang awalnya tubuh mereka begitu dekat.
"Itu tidak mungkin Bagas, kita tidak bisa bersatu kamu hanyalah kamu dan aku tetap diriku. Aku tidak bisa bersanding dengan kamu, apalagi hidup kamu tidak seperti hidupku." tutur Cantika yang seketika ucapannya membuat mental Bagas merasa mundur.
"Kamu sudah lupa dengan apa yang aku ucapkan dulu, aku tidak menginginkan pernikahan ini. Pernikahan yang diatur oleh orang tua, aku juga tidak bisa menerima kehadiran istriku apalagi dia sudah membohongiku. Apa kamu yakin tidak mau menerimaku? Aku bisa melakukan apapun untuk kamu dan Mayra asalkan kamu mau berada di sampingku." lontar pria di depannya yang sekarang sibuk memandanginya sambil menggenggam kedua tangannya.
Cantika segera melepaskan tangan Bagas dari tangannya, lalu ia kembali menatap Bagas saat awalnya ia melihat ke arah tangannya.
"Aku tetap tidak bisa Bagas, kamu bisa saja menganggap Mayra sebagai putri kamu tapi aku tidak mungkin dianggap sebagai pasangan kamu. Kamu harus tahu dan kamu harus ingat kamu sudah menikah, walaupun pernikahan kalian tidak sama-sama suka tapi aku yakin ada cinta di hati istri kamu." ungkap Cantika dengan tulus saking tulusnya ia tidak bisa
menahan gejolak yang ada di hatinya.
__ADS_1
Bagas membuang nafasnya dengan pelan saat melihat kepergian Cantika, cukup berat untuk menyakinkan Cantika karena ini pertama kalinya ia merasakan berjuang demi cinta. Cintanya sudah ada di Cantika bukan di istrinya.