
Tak hanya itu saja, Edrick semakin dibuat shock dengan apa yang ia lihat malam ini. Selama ini ia selalu percaya kepada mereka berdua apalagi Mayra, tapi malam ini mereka berdua sudah mengkhianatinya. Lihatlah tindakan mereka setelah berpelukan mereka malah berciuman di tempat umum.
Kalau untuk cium kening ia tidak jadi masalah, tapi kali ini ciuman itu berada di bibir. Keduanya sama-sama menikmati bibir mereka sampai-sampai keduanya sangat lihai melakukan itu.
"Selama ini kalian sudah membohongiku, aku bodoh sudah mempercayai kamu May. Dan aku juga bodoh sudah menitipkan kamu sama Lion." batin Edrick yang bersandar di kursi mobil dengan mata tertuju pada Mayra dan Lion.
Tanpa melihat lagi Edrick memutuskan untuk pergi, kepergian Edrick membuat mereka berdua melepaskan ciumannya. Lion menggunakan jarinya untuk menghapus jejak ciumannya, lalu ia tersenyum saat melihat Mayra.
"Gimana kamu sudah tenang?" tanya Lion membuat Mayra mengangguk.
"Baiklah kalau gitu kita pulang, takutnya bang Edrick nyariin kamu May." ucap Lion kembali membuat Mayra bangun dari tempat duduk dan mengambil tangan Lion untuk digenggam.
Sedangkan Edrick tidak kembali ke rumah melainkan ke apartemen, apartemen yang sempat dibelinya kalau malas pulang ke rumah. Tanpa basa basi lagi Edrick memilih masuk ke dalam kamar mandi, sedangkan air shower sengaja ia biarkan untuk membasahi seluruh tubuhnya.
Entah kenapa ia masih teringat kejadian dimana Lion berciuman dengan Mayra, seharusnya Mayra tidak menerima ciuman yang diberikan Lion. Tapi apa yang dia lihat malah Mayra menerimanya dengan senang hati, seakan-akan ciuman itu sudah terbiasa dilakukan.
"Tumben rumah sepi, dimana bang Edrick?" ucap Lion yang tidak melihat keberadaan Edrick.
"Mungkin dia sudah tidur atau sibuk bekerja." balas Mayra yang sudah mengetahui keseharian Edrick.
Benar juga, selama ini kesibukan Edrick hanya satu yaitu bekerja. Mana mungkin abang sepupunya memiliki kesibukan lain selain kerja, kalau mungkin ada pasti membahas pekerjaan. Akhirnya mereka berdua memutuskan untuk masuk ke dalam kamar.
Paginya Lion melangkah ke arah meja makan, di sana ia hanya melihat Mayra dan tidak melihat keberadaan Edrick.
"bi, bibi gak bangunin bang Edrick?" tanya Lion yang melihat asisten rumah tangga sibuk meletakan sarapan yang baru selesai dibuat.
"Loh den. Bibi dari kemarin sore tidak melihat tuan Edrick, bibi kira tuan lagi sama kalian." ucap bibi selaku asisten rumah tangga.
__ADS_1
Mendengar ucapan bibi membuat Lion bingung begitupun dengan Mayra, gak biasanya pria itu tidak ada di rumah biasanya selalu di rumah walau memiliki kesibukan. Setelah makan Lion mendapatkan pesan dari orang tuanya, orang tuanya memintanya untuk menemuinya.
Sedangkan orang tuanya masih berada di Landon, akhirnya Lion memutuskan untuk menyusul ke sana. Ia juga meminta Mayra untuk berada di rumah sampai Edrick datang.
Mayra lagi-lagi menghela nafas panjang, sekarang dia tinggal di rumah sendiri tanpa ada mereka berdua. Sekarang ia harus melakukan apa di rumah ini tanpa ada mereka berdua, akhirnya Mayra tersenyum saat mengingat pekerjaannya.
Mayra memutuskan untuk bekerja seperti biasa, selama ini pekerjaannya selalu lalai dengan sendirinya karena ia tidak mau melakukan pekerjaan kotor itu lagi. Jadi, sekarang ia hanya seorang karyawan yang bekerja sebagai pelayan minuman di sebuah bar di kota.
Mayra memutuskan untuk pergi bekerja, tibalah Mayra di tempat kerja dan mulai memakai pakaian kerja. Baginya pekerjaan seperti ini sudah biasa, apalagi banyak laki-laki yang datang untuk melihat kecantikannya.
Semenjak ia memutuskan bekerja di sebuah bar terbesar di kota, banyak pelanggan yang berdatangan untuk minum apalagi para lelaki pada menyukai pelayanan yang diberikan Mayra. Itulah yang Mayra rasakan sekarang, banyak lelaki pada menginginkannya dan mencoba untuk mencicipi tubuhnya.
Mayra dengan tegas menolak permintaan semua laki-laki yang ada di bar tempatnya bekerja, sudah banyak laki-laki yang ingin mencoba mencari perhatiannya tapi Mayra tetap diam tanpa membalas rayuan yang diberikan laki-laki.
***
Walau dia tahu kalau masalah itu tidak mungkin terselesaikan kalau tidak dituntaskan, tapi ia malah menghindar begitu saja tanpa menanyakan masalah yang melintas dalam benaknya. Ya begitulah Edrick, setiap ada masalah ia lebih menyukai menghindar dari pada menyelesaikannya.
Apalagi masalahnya tidak sampai di situ saja, ia malah mendapatkan sebuah pesan yang sempat membuatnya salah paham dengan Mayra. Tapi salah paham itu membuatnya yakin, kalau apa yang dia lihat adalah kebenaran.
"Apa yang akan direncakan orang ini, kenapa dia terus menerus mengirimkan foto mengenai Mayra." batin Edrick saat ia lebih memilih melihat handphone dan meninggalkan pekerjaan.
Ia terus mengabaikan pesan tersebut sampai di satu titik ia melihat kalau Mayra bekerja di sebuah bar, foto itu terdapat Mayra sedang mengantar minuman untuk para lelaki. Sedangkan wanita itu tidak pernah cerita tentang pekerjaannya.
Tapi sekarang wanita itu malah bekerja tanpa sepengetahuannya, Edrick menyimpan kembali handphone itu dan lebih mengabaikan apa yang dikirim dari orang asing ini. Walau sebenarnya ia ingin tahu siapa orang yang selalu mengirimkan pesan untuknya.
Akhirnya ia meminta Nik untuk mencari tahu dimana Mayra bekerja, tepatnya ia ingin mencari tahu sendiri apakah orang asing ini benar kalau Mayra bekerja di sebuah bar terbesar di kota. Sepulang kantor Edrick memutuskan untuk pergi ke sana, ia memesan tempat di paling ujung tanpa sepengetahuan Mayra.
__ADS_1
Yang dikirim orang asing itu benar kalau Mayra bekerja di bar, dimana ia melihat sangat jelas kalau Mayra selalu mengantarkan pesanan. Tapi yang anehnya lagi, banyak lelaki pada menyentuh dan menginginkan Mayra dengan cara menggoda.
"Tuan. Apa tuan tidak mau menemui nona Mayra?" ucap Nik saat tatapan Edrick sibuk memperhatikan Mayra dari kejauhan.
"Tidak perlu Nik. Saya datang kemari untuk menikmati hidup saya bukan memperhatikan wanita yang bekerja di tempat seperti ini." balas Edrick yang sama sekali tidak menatap ataupun fokus dengan Nik.
Nik kembali melihat Mayra yang terus digoda oleh laki-laki, "Tapi tuan, menurut saya pria di sini semakin agresif melihat penampilan Mayra yang seperti itu. Apalagi nona Mayra tidak membalas apa yang mereka lakukan."
"Abaikan apa yang kau lihat." itulah yang diucapkan Edrick saat Nik selalu sibuk berbicara, sedangkan Edrick sangat membenci orang yang banyak bicara.
Nik memutuskan untuk diam, tapi ia masih tidak percaya kenapa Mayra selalu melakukan pekerjaan seperti ini. Setiap bulannya ia selalu mengirimkan uang untuk Mayra, tapi wanita itu malah bekerja.
Edrick sama sekali tidak tertarik oleh siapapun, tetapi yang menjadi pusat perhatiannya adalah Mayra. Dengan santainya Mayra melakukan pekerjaan itu, walau sebenarnya ia sangat geram dengan tingkah Mayra.
Saat Edrick mau menghampiri Mayra tiba-tiba saja Nik berkata, "Jangan datang menghampiri nona Mayra tuan, yang ada nona Mayra akan tahu kalau tuan ada di sini."
Ucapannya itu membuat Edrick kembali ke tempat awalnya tanpa melakukan apapun, sampai waktunya tiba saat Mayra memutuskan untuk pulang dan ia meminta Nik untuk menunggu di dalam mobil. Mayra yang berada di dalam toilet sibuk merapikan penampilannya.
Sedangkan Mayra tidak tahu kalau sebenarnya ada laki-laki yang sibuk menunggunya di luar, selesai rapih Mayra memutuskan untuk keluar dari toilet dengan gerakan sangat cepat membuat Mayra terkejut dengan apa yang dilakukan Edrick.
"Ed-edrick." ucapnya dengan gugup dan melihat bagaimana tatapan Edrick saat melihat ke arahnya.
"Kamu kenapa bisa ada di sini?" tanya Mayra kembali tapi Edrick masih diam membisu tanpa bicara sedikitpun.
"Kamu masih tanya aku kenapa ada di sini?" Mayra menatap Edrick saat suara khas lelaki ini terdengar dari indra pendengarannya.
Mayra menutup kedua matanya saat mendengar benturan keras yang diberikan Edrick dari telapak tangan kekarnya itu, ini pertama kalinya ia melihat kemarahan yang dimiliki Edrick. Dan itu terlihat jelas saat ia mencoba melihat wajah Edrick.
__ADS_1