
Mayra masih belum sadar kalau di sampingnya sudah ada Edrick, Mayra kembali membuka mata saat ia masih melihat ke arah depan. Lalu saat ia ingin meregangkan kedua tangannya ia memilih melirik ke arah samping, alangkah terkejutnya melihat sosok lelaki yang membuat detak jantungnya ingin copot.
"Kenapa kau kaget begitu seperti melihat hantu." ucap Edrick yang tidak merasa bersalah sama sekali saat melihat Mayra terkejut karena ulahnya.
"Kau... Kau kenapa ada di sini? Kenapa kau tidak bilang kalau sudah berada di sampingku." urai Mayra membuat lelaki itu melirik Mayra.
"Karena melihatmu tidur ngorok di bandara sangatlah langkah, makanya aku tidak membangunkan kamu." Edrick memilih berdiri dari tempat duduk, tanpa memperdulikan Mayra lelaki itu sudah meninggalkannya.
"Hei! Tunggu." Mayra bergegas menghampiri lelaki itu yang sudah meninggalkannya, selama mereka berada di dalam mobil keduanya saling diam tanpa ada yang berani bicara sedikitpun.
Tapi Mayra tidak sadar kalau Edrick terus memperhatikannya saat dirinya terfokus melihat pemandangan dari dalam mobil.
"Kau sangat suka melihat luar dari pada melihatku?" Mayra mengerutkan kening saat mendapatkan pertanyaan dari Edrick, pria ini sangatlah menyebalkan.
Kenapa dia harus kembali, seharusnya tak usah kembali membuatnya muak dengan perilaku pria ini.
"Kenapa kau menatapku begitu? Apa wajahku sangat kau benci sampai membuatmu kesal." ujar Edrick membuat Mayra menghembuskan nafas lalu memutar kedua matanya dengan malas.
"Ya! Karena kau sangat menyusahkan ku." gumam Mayra pelan, membuat Edrick terkekeh saat mendengar ocehan Mayra.
Mobil yang membawa mereka tiba di sebuah rumah yang sudah lama ditinggalkan oleh Edrick, keduanya keluar dari mobil begitupun dengan supir pribadi Edrick yang sibuk mengambil barang bawaan bosnya.
"Selamat datang tuan!" ucap para pekerja yang bekerja di rumah Edrick.
Dengan wajah datar itu membuat siapapun takut melihatnya, tidak dengan Mayra dia sudah terbiasa dengan ekspresi muka yang dimiliki Edrick.
"Hei! Kenapa kamu lebih dulu jalan dari pemilik rumah."
"Kau saja yang lelet." jawab Mayra dengan malas saat dia lebih dulu melangkah, sedangkan Edrick terus mengikuti langkah kaki Mayra.
"Sepulang kuliah kau jangan kemana-mana ada hal yang ingin aku katakan padamu." kata Edrick membuat langkah kaki Mayra terhenti saat langkah itu mau menaiki tangga.
"Hem." Mayra melanjutkan langkah menuju kamar untuk mengambil perlengkapan kuliah.
__ADS_1
Hari ini Mayra mendapatkan klien yang terbilang ganas, lebih dari laki-laki yang pernah dia temui. Lelaki ini memintanya untuk datang keruangan pribadinya, akhirnya Mayra segera menghampiri lelaki itu dan benar saja lelaki itu sudah menunggunya.
"Kau yang bernama Mayra?" tanya lelaki itu yang melihat penampilan Mayra dari ujung kaki sampai atas.
"Ya! Kenapa?" lelaki itu menurunkan kedua kakinya yang dari tadi berada di atas meja, lalu lelaki itu kembali terfokus dengan Mayra.
"Berapa bayaran yang ingin kamu mau untuk membuatku puas?" tanya lelaki itu yang sedikit meremehkan wanita di hadapannya.
"Kenapa? Kau meremehkan ku?"
"Tidak! Hanya saja kau ini tidak seperti wanita jal@ng yang pernah aku temui, kamu hanya seorang mahasiswi yang berprofesi seperti wanita murahan untuk mendapatkan uang."
"Lalu... Kalau kau menganggap ku wanita lemah tidak pandai merayu laki-laki, kenapa kau menghubungiku untuk datang ke tempatmu." ujar Mayra yang sedikit menantang lelaki itu, ia ingin membuktikan kalau pria itu salah.
Karena dia bukan wanita lemah yang menganggap enteng perkataan laki-laki, walau dia hanya seorang mahasiswi tetapi dia sangat pandai membuat lelaki takluk dengannya. Begitupun dengan pria di depannya ini, dia belum tahu saja kalau dia bisa membuat seluruh tubuh pria itu lumpuh.
"Bagaimana tuan mau di coba?" ucap Mayra yang melihat lelaki itu lalu dia melipat kedua tangannya saat tatapan matanya terus menatap lelaki di depannya.
"Baiklah, saya pilih kamu. Tapi kalau kamu gagal saya tidak akan membayar kamu."
***
Ini sangat di luar dugaannya, wanita yang dipilih untuk memuaskannya sangatlah berbeda. Wanita ini sungguh luar biasa, awalnya dia sempat meremehkan wanita ini tapi saat bermain dengannya dia tidak ingin meremehkan wanita ini lagi.
Ini sangat luar biasa, yang dikatakan wanita ini benar kalau taktik bermainnya sampai membuatnya mati tidak berdaya. Apalagi wanita ini sangat pandai memilih tempat yang membuatnya bergairah.
"Gimana tuan apa tuan sudah percaya dengan perkataanku?" tanya Mayra yang sudah menyelesaikan aktivitas panas mereka, dan sekarang dia lagi sibuk merapikan penampilan.
"Kau benar kamu itu wanita berbeda saya suka dengan kegiatan kita barusan. Aku akan mentransfer uang ke rekeningmu dengan jumlah besar." kata lelaki itu yang sibuk dengan layar handphone.
Mayra segera mengambil handphone saat mendapatkan notifikasi pesan, ia tersenyum saat uang yang pria ini transfer melebihi kesepakatan di awal. Dia sangat beruntung mendapatkan uang sebanyak ini dan membuat transaksi mereka selesai.
"Kalau sudah selesai saya pergi dulu tuan."
__ADS_1
"Apa kau tidak bisa bermain lebih lama lagi dan saya akan menambah lebih dari itu." Mayra menatap lelaki itu saat seluruh tubuhnya sudah sangat rapih.
"Tidak bisa tuan. Kesepakatan di awal harus di tentukan, anda tidak bisa melanggar kesepakatan yang aku berikan. Jadi transaksi kita selesai sampai di sini, kalau gitu saya pergi dulu tuan." lontar Mayra saat lelaki itu masih memperhatikan Mayra pergi, sedangkan Mayra sudah menjauh dari kamar.
Awalnya pria itu ingin bermain di ruangan pribadi, karena pria itu mengatakan ruangan ini kedap suara tapi dia tidak mau menganggap karyawan di sini memandangnya rendah. Jadi dia memutuskan berpindah tempat, tempat yang berada di lantai paling atas yang terdapat tempat khusus tanpa ketahuan siapapun.
Mayra sekarang menuju ke perusahaan yang dikirim alamat oleh Edrick, pria itu memintanya untuk datang ke perusahaan seorang diri. Ia memutuskan datang dengan penampilan yang sedikit berbeda, melihat kedatangan Mayra seluruh karyawan di sana pada memandangnya rendah.
Apalagi wanita yang berada di depan, mereka semua pada melihat dirinya. Mulai dari penampilan bawah sampai wajahnya, mereka pada berbisik pelan saat melihat wanita yang berpenampilan kampungan.
"Misi mba. Saya ingin bertemu dengan pemilik perusahaan ini." ucap Mayra yang sudah berdiri di tempat resepsionis.
"Wanita kampung seperti kamu buat apa datang menemui bos. Apa kau tidak tahu kalau kau tidak pantas menginjak tempat ini."
Dua wanita yang berada di sana juga mengangguk secara bersamaan, saat salah satu resepsionis mengatakan seperti merendahkannya.
"Memangnya kenapa kalau aku berpenampilan seperti ini, apa menurut kamu... kamu itu wanita cantik dan seksi yang bisa ditaklukkan oleh pemilik perusahaan ini? Lihatlah dirimu sendiri wanita penggoda." kata Mayra yang tidak mau kalah dengan wanita di depannya.
"Kamu..." Mayra sedikit menjauh dari sana, ia malah menghubungi Edrick saat lelaki itu belum kunjung tiba.
Mayra yang sudah tidak mau berurusan dengan ketiga wanita itu lagi, mulai datang mencari gara-gara dengannya. Mayra menatap ketiga wanita itu yang sudah berdiri di hadapannya.
"Kenapa kamu masih ada di sini. Bukannya saya minta kamu untuk keluar dari perusahaan ini."
"Ya benar. Kamu tidak pantas datang ke sini, penampilan kampungan aja bangga datang ke perusahaan dan segala mencari bos pemilik perusahaan. Memangnya kamu kenal dengan bos kami?" tanya wanita berambut ikal dengan bibir merah menyala.
Mayra yang melihatnya saja sangat muak, apalagi ribut dengan ketiga wanita ini. Mayra memutuskan untuk mengabaikan ketiga wanita itu, dan dia lebih memilih memainkan handphone saat pesan yang baru saja dia kirim di balas oleh Edrick.
Mayra yang sudah mengetahui letak keberadaan Edrick, melangkah ke tempat Edrick dan meninggalkan ketiga wanita itu yang terus menahannya. Untung saja dia bisa melawan jadi dia dengan mudah membereskan ketiga wanita pengganggu itu.
Mayra masuk ke dalam lift, ia menekan tombol paling atas. Lift itu bergerak menuju tempat dimana dia inginkan, tidak butuh waktu lama lift itu terbuka. Di sana dia melihat ada satu ruangan khusus yang sangat sepi, Mayra segera keluar dari lift dan mencari ruangan Edrick.
"Pria itu mengatakan ruangan paling ujung yang terdapat tulisan CEO." ucap Mayra yang terus melangkah mencari ruangan Edrick, setelah lama mencari akhirnya ruangan itu ketemu.
__ADS_1
Mayra berhenti saat melihat ruangan yang sempat dia cari, "Apa ini ruangannya. Sudahlah lebih baik aku masuk."