
Mayra berhenti di depan rumahnya saat melihat ada sebuah mobil terparkir di depan rumah, ia memutuskan untuk melangkah untuk masuk ke dalam. Saat Mayra sampai di depan ia tidak sengaja berpapasan dengan wanita asing, wanita itu juga sempat melihatnya tetapi dengan cepat wanita itu memalingkan wajah.
"Bun. Barusan aku melihat ada wanita, apa barusan ada tamu?" tanya Mayra yang menghampiri Cantika yang sibuk duduk di sofa, ia menatap Mayra yang baru saja datang.
Cantika tersenyum melihat putrinya sudah kembali, "Wanita yang barusan kamu lihat dia anak dari ayah kamu. Dia datang kemari untuk meminta bunda dengan ayah kamu berpisah, malah dia berpikir kalau bunda selingkuhan ayahnya."
"Tapi bunda, bunda bukan wanita seperti itu. Kenapa wanita itu berpikir kalau bunda wanita simpanan." urai Mayra yang melihat wajah Cantika hanya menunduk, lalu wanita itu kembali menatap Mayra.
"Bunda tidak tahu May. Anak itu salah paham dengan bunda, dia pasti sangat membenci bunda dan ayah kamu."
Mayra tersenyum dengan menyentuh pipi Cantika dengan lembut, "Bunda tenang aja aku akan mengatasi semuanya, bunda jangan banyak pikiran aku akan mencari tahu kebenarannya." Cantika mengangguk saat Mayra memeluknya, ia merasa kalau hubungan di antara mereka semakin rumit.
"Sudah berapa lama kamu menjalin hubungan dengan selingkuhan kamu." kata Lionel yang sibuk duduk di sofa saat ia sedang menunggu kedatangan Bagas, saat melihat Bagas muncul ia segera memberikan sebuah kalimat untuk pria yang selama ini menjadi ayahnya.
Bagas berbalik dan menatap Lionel berada di sofa dengan kedua tangan di lipat apalagi kakinya itu sengaja di angkat, "Maksud dari perkataan kamu apa?"
Lionel tertawa saat mendengar pertanyaan yang dilontarkan Bagas, ia berdiri dari tempat duduk lalu tatapannya kini mengarahkan menatap wajah Bagas.
"Sudahlah jangan banyak basa-basi lagi. Aku sudah tahu siapa wanita selingkuhan kamu, jadi selama ini kamu menyembunyikan wanita selingkuhan kamu untuk menutupi aib kamu." kata Lionel yang menyendiri laki-laki di depannya.
"Jaga ucapan kamu itu Lionel, kamu tidak tahu yang sebenarnya." timpal Bagas yang tidak menyukai perkataan yang diberikan Lionel.
"Terus kenapa kamu menyembunyikan semuanya dari aku dan momi, hah? Apa kamu ingin berhubungan dengan selingkuhan kamu dan memilih meninggalkan kami berdua." Lionel semakin tidak bisa menahan gejolak api yang kini berada di tubuhnya, seakan ia ingin menghajar dan melawan pria di hadapannya.
__ADS_1
"Cukup Lionel kamu tidak perlu ikut campur masalah orang dewasa." tutur Bagas yang mencoba tidak terpancing emosi, bukannya hidupnya merasa tenang malah dia mendengar suara tawa dari Lionel.
"Apa menurutmu aku tidak berhak tahu hubungan kalian. Selama ini momi selalu menunggu kedatangan kamu, dan memberikan waktu untuk kamu supaya momi mendapatkan perhatian dari kamu. Tapi apa yang momi dapatkan dari kamu, kamu malah menyimpan selingkuhan kamu dan membeli rumah untuk mereka." lontar Lionel yang sedikit menyindir Bagas, tetapi Bagas dengan cepat menatap Lionel.
Yang awalnya ia tidak ingin terbawa emosi wanita ini, ia sungguh tidak bisa walau mendengar kalimat yang menghina Cantika di depan matanya. Ia menatap Lionel dengan kedua kakinya melangkah dengan menghampiri putrinya.
"Jaga ucapan kamu Lionel. Wanita itu bukan wanita selingkuhan tapi dia wanita yang saya cintai, dia juga yang selama ini saya cari sebelum saya bertemu dengan ibu kamu." ucap Bagas yang kini keduanya saling dekat dengan tatapan yang penuh dengan amarah.
***
"Kenapa kamu membelanya, hah? Kamu takut kalau keluarga kamu tahu tentang perselingkuhan kamu dan kalian dipisahkan secara kalian sudah menjalin hubungan haram." erang Lionel dengan tertawa yang menghina Bagas.
Di luar dugaan yang Lionel dapatkan dari Bagas, dia melihat bagaimana ayahnya melayangkan sebuah tamparan tepat di pipi kanannya. Itupun begitu kencang dan membekas, Lionel yang mendapat tamparan itu menatap Bagas dengan penuh amarah.
"Haha! Sekarang aku tahu kenapa kamu lebih memilih mereka dari pada aku dan momi, karena kalian ingin menikah penuh dengan kebahagiaan dan membuat kami hidup sengsara bukannya itu mau kamu?"
"Kenapa? Kenapa kamu tidak tampar lagi, hah? Tampar! Tampar sekalian. Supaya kamu puas dan kalian bisa hidup senang." pekik Lionel saat melihat bagaimana Bagas mengepal kedua tangannya, ia sengaja menahan marah itu supaya tidak menyakiti perasaan wanita ini.
"Cih, dasar kalian sama-sama murahan pantas saja kalian bisa menjalin hubungan haram itu. Kalian sangat cocok dijuluki wanita dan pria tidak tahu malu." Bagas kali ini tidak bisa menerima ungkapan yang keluar dari bibir Lionel, ia kembali menampar pipi Lionel dengan begitu keras sampai tamparan itu membuat sudut bibir Lionel berdarah.
Meta yang melihat adegan itu langsung menghampiri putrinya, "Kamu gak apa-apa, sayang?" tanya Meta yang melihat wajah Lionel mengeluarkan darah segar.
"Mas, kamu ini kenapa menampar anak kamu sendiri. Dia tidak salah mas, kamu kenapa tega sama putri kamu sendiri." ujar Meta yang melihat Bagas, saat wajah Bagas enggan menatap mereka berdua.
__ADS_1
"Mas." panggilan Meta membuat jantung Meta terlempar, karena suara tinggi yang Bagas berikan membuatnya menjadi pengecut.
"Karena kalian berdua tidak berguna. Oh ya satu lagi, aku tidak pernah menganggap Lionel anak aku karena dia bukan anak kandungku melainkan anak kamu. Dia anak dari selingkuhan kamu, seharusnya kamu sadar hal itu." ungkap Bagas yang membuat Lionel semakin terkejut dengan perkataan Bagas, sebenarnya ini ada apa? Kenapa dia tidak tahu apapun tentang orang tuanya.
Bagas melangkah meninggalkan dua wanita itu, sedangkan Meta membawa Lionel ke sofa untuk mengobati luka di bibir Lionel.
"Momi, kenapa dady bicara seperti itu. Kenapa dady bilang kalau aku bukan anak kandungnya, kenapa mom." ucap Lionel yang menggoyangkan tubuh Meta dengan terus melihat wajah Meta.
Mau tidak mau akhirnya Meta menceritakan semuanya, semua masa lalu yang menimpanya sebelum bertemu dengan Bagas. Lionel yang mendengar itu nampak tidak bisa berpikir jernih, karena baginya semuanya seperti mimpi. Dia tidak tahu harus mempercayai siapa, dan kenapa mominya malah menyembunyikan semuanya.
"Maafkan momi Lionel momi tidak bermaksud menyakiti perasaan kamu, momi tidak mau kamu bernasib sama dengan momi. Apalagi momi tidak ingin kamu bertemu dengan ayah kandung kamu." tutur Meta yang kali ini menyakinkan Lionel yang membuat putrinya percaya dengan ucapannya.
"Tapi kenapa momi menyembunyikan semuanya dari aku, kenapa mom. Pantas dady tidak menyukaiku karena aku bukan anaknya, jadi ini alasannya dady membenciku. Karena aku anak dari selingkuhan momi, dan kalian menikah karena pernikahan kalian cuman sebatas bisnis."
"Tapi kenapa mom?" sambung Lionel yang kini wajahnya menatap wajah Meta, ia tidak tahu kenapa wanita di hadapannya malah menyembunyikan semuanya.
Lionel memilih bangkit dari sana, ia memutuskan untuk pergi dari rumah itu membuat Meta terus memanggil nama Lionel.
"Maafkan momi... Maafkan momi." gumam Meta yang menatap pintu itu yang membuat putrinya pergi dari rumah, dan ia tidak bisa menahan kepergian Lionel.
Sekarang ia tidak tahu harus kemana lagi, ia sama sekali tidak mempunyai tujuan untuk pergi. Tapi kenapa kelurganya hancur, semuanya kenapa menjadi kehancuran baginya.
Lionel memutuskan untuk datang ke salah satu klub malam yang terbilang ramai, ia masuk ke tempat itu untuk menenangkan pikiran. Lionel memesan minuman kepada bartender yang sibuk membuat minuman.
__ADS_1
Lionel mengambil minuman yang dibuat bartender dan meneguk minuman itu sampai kandas, minuman yang membuat hidupnya akan tenang untuk malam ini. Tetapi dari kejauhan ada seorang laki-laki yang melihat kearah Lionel, lelaki itu cukup menatap Lionel karena baginya wanita seperti Lionel sangat menarik di matanya.
"Sepertinya dia sangat cocok untukku malam ini. Dan kayanya dia datang sendiri tidak bersama orang lain." batin pria itu yang terus memandangi Lionel dari kejauhan, lalu pria itu bergegas untuk menghampiri Lionel yang sibuk mabuk akibat terlalu banyak minum.