
Tiba di hotel orang tua Lion sangat kecewa dengan putranya, baru pertama kalinya melihat Lion menolak ucapan yang ia katakan. Dan ia sangat malu dengan sikap Lion, di depan temannya anaknya malah bersikap tidak menghormatinya.
"Sudahlah sayang jangan marah lagi, lihatlah wajahmu sekarang kelihatan tua." ucap suaminya yang sibuk membuka jas.
"Gimana aku tidak kesal lihatlah putramu itu dia sudah membuatku malu. Ini semua demi kebaikannya malah dia mengira kalau perjodohan ini dibuat oleh keegoisan kita. Apa dia pikir aku menganggap anakku seperti uang, dia itu benar-benar aneh sama seperti kamu." lontar wanita itu membuat pria yang sibuk membuka satu persatu pakaian membalikan badan untuk menatap sang istri.
"Dia bukan putraku saja melainkan putramu juga. Lagian aku aneh sama kamu sudah tahu putramu itu sudah besar malah membuat perjodohan seperti tadi, seharusnya kamu bilang dulu sama anaknya apakah dia mau atau tidak bukan malah memutuskan secara sepihak."
Wanita itu seketika berdiri saat mendengar ucapan suaminya, ia tidak terima kalau perbuatannya ini salah.
"Terserah kamu ajalah mas, aku sudah capek berdebat sama kamu. Gak kamu gak anak kamu sama aja, sama-sama keras kepala." ia menghela nafas saat melihat sang istri pergi, ya begitulah situasi rumah tangganya.
Kadang lucu saja kalau mengingat kenangannya dulu, tapi sekarang sudah jauh berbeda. Istrinya tidak pernah mendengar apa yang ia katakan, malah menganggap kalau wanita itu paling berkuasa. Jadi mau gak mau dialah yang mengalah bukan istrinya.
London tempat favoritnya dari kecil, tapi sekarang tempat ini membuatnya sangat membenci situasi kemarin malam. Kalau di ingat-ingat kenapa harus datang ke acara seperti semalam kalau ujung-ujungnya seperti ini.
"Andai mami, papi tahu kalau aku pernah pacaran dengan Lionel. Dialah yang melukaiku sampai aku melampiaskan rasa kecewaku dengan wanita bayaran. Tapi kalian memintaku untuk menerima perjodohan itu, mungkin kalian bisa menerimanya tapi tidak denganku."
"Aku sangat muak dengan situasi seperti ini, aku tidak bisa menerima wanita itu lagi." batin Lion yang melihat pemandangan dari dalam kamar hotel saat ia sedang menikmati secangkir kopi hangat.
Lion meletakan cangkir itu di meja yang berada di dekatnya, ia mengambil jaket coklat yang dipadukan dengan bulu di kupluk kepala jaket tersebut. Ia memutuskan untuk keluar dari hotel, Lion berjalan ke pusat pemberhentian bus yang ada di London. Sekitar setengah jam ia tiba di tempat wisata favoritnya.
Jalan kota yang di tengah-tengah jalan terdapat air laut dengan pusat tertinggi menara di kota London, saat di malam hari tempat ini adalah tempat paling bagus untuk melihat pemandangan. Karena ia datang di pagi hari jadi ia hanya melihat orang berlalu lalang, dengan kendaraan yang melintas di jembatan tersebut.
"Kamu suka tempat ini juga." ucap seseorang yang begitu ia kenali, ia melihat kalau wanita itu kembali di hadapannya lagi. Saat ia memutuskan untuk tidak menemuinya atau melihatnya untuk yang kedua kalinya.
__ADS_1
"Cuaca di sini dingin juga enak kalau kita mampir ke cafe untuk sarapan."
"Aku sudah sarapan." balas Lion yang tidak begitu menyukai kedatangan Lionel.
Saat ini Lionel berada di tempat yang sama dengannya, entah mengapa kalau wanita ini seperti tahu keberadaannya. Apa wanita ini sengaja mencari tahu dimana keberadaannya, atau jangan-jangan Lionel tahu tempat penginapannya.
"Kamu lagi mikirin apa Lion? Kamu gak usah khawatir aku tidak mungkin mengikuti kamu, aku tidak sengaja bertemu kamu saat aku ingin menenangkan pikiran di tempat ini." ujar Lionel yang entah kenapa kalau wanita ini tahu apa yang sedang ia pikirkan.
***
"Mau temani aku cari sarapan?" ajak Lionel saat ini ia sibuk melihat Lion.
"Tidak. Lebih baik kamu cari sendiri aku tidak ingin kemana-mana." jawab Lion cetus saat Lionel sengaja mengikuti kemauan wanita itu.
Kalau pria itu malah pergi ke sesuatu tempat yang entah kemana pria itu mau pergi, sebenarnya ia ingin Lion kembali dengannya tapi itu tidak mungkin karena dia yang memulai lebih dulu. Ia sudah menyakiti perasaan pria itu sampai ia tidak tahu harus melakukan apa lagi.
Tidak dengan Mayra, ia sekarang sibuk untuk menemui ibunya. Tepatnya ia sekarang sudah di negara asalnya, dulu dimana ia memutuskan pergi untuk mengikuti semua perintah yang dikatakan Edrick. Tapi sekarang ia sudah bebas, sudah tidak ada lagi yang menahannya seperti dulu.
"Bunda." panggil Mayra yang melihat wanita yang ia rindukan sedang sibuk menata bunga, wanita itu yang tidak sengaja mendengar suara putrinya menghentikan pekerjaan dan memutuskan untuk balik badan.
Di sana ia melihat ada seorang wanita yang sedang tersenyum ke arahnya, saat ia lihat kembali kalau wanita itu adalah Mayra wanita yang ia rindukan selama ini. Kedua wanita itu saling berpelukan untuk melepas kerinduan satu sama lain.
"Kamu kemana aja sayang bunda kangen banget sama kamu." ucap Cantika yang sekarang sedang memeluk tubuh Mayra sambil mengelus pundak Mayra.
"Aku juga kangen sama bunda." urai Mayra yang kini pelukannya sudah terlepas, ia tersenyum saat melihat kalau ibunya baik-baik saja selama dia pergi.
__ADS_1
"Syukurlah kalau kamu baik-baik saja, bunda sempat khawatir sama kamu. Bunda pikir kamu tidak mau kembali tapi ternyata kamu datang untuk menemui bunda."
Mayra terus saja tersenyum melihat ucapan ibunya, ia juga sama seperti Cantika yang merindukannya juga. Untung saja kontrak perjanjian itu sudah selesai jadi ia bisa bertemu dengan ibunya, tapi ia juga tidak tahu gimana keadaan Edrick.
"May, kamu kenapa diam aja." ucap Cantika yang menyenggol lengan Mayra saat melihat kalau putrinya sedang melamun.
Mayra dengan cepat menggeleng lalu ia mengajak Cantika untuk menyiapkan pesanan, ia tidak mungkin menceritakan semuanya selama ia berada di rumah Edrick. Dia tidak mau kalau ibunya tahu bagaimana keadaannya, dan bagaimana bejatnya saat tidak ada ibunya.
Sudah satu minggu ini Edrick selalu menyibukan diri untuk bekerja, begitupun dengan Lion yang menyibukan diri untuk melakukan bisnis. Selama di London ia memutuskan kembali, tadinya ia ingin menetap di sana tapi setelah dipikirkan kembali. Ia malah lebih kembali dari pada bertemu dengan wanita itu.
Edrick selalu mencari cara untuk membuat Mayra kembali, tapi sampai sekarang ia tidak bisa menemukan keberadaan wanita itu. Hanya mencari satu wanita saja ia tidak bisa menemukannya, bagaimana mencari orang hilang mungkin satu abad baru bisa ketemu.
"Gimana apa kalian sudah menemukan keberadaannya?" tanya Edrick kepada anak buahnya, saat ini ia sedang menatap ketiga anak buahnya itu saat ketiganya belum berani mengangkat suara.
"Belum bos. Kami tidak bisa menemukannya." ucap salah satu anak buahnya, lalu mereka bertiga dibuat terkejut saat melihat amarah yang dilampiaskan Edrick.
Entah kenapa sikap bosnya sangatlah pemarah, biasanya bosnya ini bukan seorang pemarah tapi hanya gara-gara satu wanita menjadi gila seperti sekarang.
"Kalian kenapa cari satu orang saja tidak bisa gimana saya memerintahkan kalian untuk cari musuh. Kalian sama saja tidak berguna, buat apa saya menjadikan kalian anak buah saya kalau pekerjaan kalian seperti ini." erang Edrick yang amat murka, ketiga pria itu tidak berani melawan bosnya.
Mereka lama terdiam dan meminta maaf atas pekerjaannya, Nik yang baru saja datang meminta ketiga pria itu untuk pergi dan ia sekarang sedang berhadapan dengan Edrick.
"Lu tenang dulu bisa 'kan? Mereka sudah berusaha mencari keberadaan Mayra, kenapa lu malah marah-marah sama anak buah lu sendiri. Yang membuat Mayra pergi lu sendiri bukan mereka, jadi kenapa gak lu saja yang cari dia sendiri tanpa bantuan dari anak buah lu." ucap Nik membuat mata lelaki itu menatapnya dengan tajam, saking tajamnya sampai ingin membunuh musuh yang sudah melemah.
"Kalau gua tahu keberadaannya gua tidak mungkin meminta orang untuk mencarinya." jawabnya dengan kesal, tapi Nik malah mendiamkan sikap amarah yang diberikan Edrick.
__ADS_1