
Selama ini Mayra selalu menjadi budak nafsunya saja, apalagi wanita ini selalu menuruti apa yang dia inginkan. Jadi, ia harus curiga bagaimana terhadap wanita ini. Walau sebenarnya ia sudah membeli wanita ini dan menganggap sebagai balas budi karena ia sudah menolong Mayra.
Tapi apakah dia salah kalau dirinya tidak menganggap Mayra hanya budak nafsunya saja melainkan seorang wanita, wanita yang selama ini ia anggap rasa nyaman dan sayang. Apakah wanita ini tahu kalau sebenarnya ia tidak menganggap seorang budak melainkan kekasih.
Ia tidak habis pikir kenapa pria ini selalu menuduhnya yang tidak-tidak, apakah selama ini selalu dianggap seperti itu sampai Edrick menganggapnya wanita pemuas nafsu laki-laki.
"Kenapa kamu diam saja bukannya kamu sekarang lagi menuduhku dan mengatakan kalau aku ini wanita pemuas nafsu laki-laki." perkataan Mayra mampu membuatnya sadar akan tindakannya.
Selama ini memang ia menganggap Mayra wanita pemuas nafsu, dan dia tidak pernah menganggap Mayra sebagai wanita baik-baik. Walau sebenarnya dia mau tahu apa yang dilakukan Mayra selama dirinya tidak ada.
"Bukan itu maksudku May... Aku hanya ingin tahu saja selama aku tidak ada di samping kamu, kamu kemana aja." ucap Edrick yang kembali menjawab ucapan Mayra, ia juga tidak ingin kalau wanita ini salah paham.
"Oke, kalau gitu sudah selesai pembicaraan kita. Lebih baik kamu kembali ke aktivitas kamu sendiri dan aku kembali ke dunia asalku." urai Mayra yang meminta Edrick untuk keluar dari kamar.
Mendengar itu Edrick memutuskan untuk pergi, dan ia kembali melakukan apa yang dikatakan Mayra. Saat keluar dari kamar Mayra ia melihat Lion berada di ruang tamu, pria itu malah sibuk bermain game sambil makan cemilan.
"Sejak kapan lu ada di sini? Bukannya lu mau kembali ke rumah mami, papi." tutur Edrick yang duduk di samping Lion, lalu ia merebut cemilan yang berada di pangkuan Lion.
"Mereka berdua lagi sibuk mengurus bisnis, lagian juga percuma gua ada di sana kalau gak ada teman ngobrol." balas Lion yang masih fokus dengan game.
Edrick mengambil stik game yang menganggur di sana, ia kembali bermain dengan Lion secara ia sangat merindukan permainan ini. Selama mereka bermain game tiba-tiba saja Edrick teringat dengan pesan tak dikenal itu, dan ia segera menanyakan hal itu kepada Lion.
"Selama gua sibuk kerja apa lu pernah melihat Mayra ke tempat lain?" tanya Edrick tiba-tiba membuat Lion mengerutkan kening, walau tatapannya masih ke layar game.
"Maksud lu jajan di luar gitu?" tanpa menoleh pun Lion mengetahui kalau kakak sepupunya ini mengangguk, ia memilih menghentikan gamenya dan fokus dengan pembicaraan yang dikatakan Edrick.
__ADS_1
"Kalau menurut gua Mayra tidak kaya gitu bang, dia aja setiap hari ke kampus. Masa lu gak tahu kesehariannya selama ini, bukannya lu selalu minta gua antar Mayra ke kampus ya." kata Lion yang menatap Edrick saat cemilan itu berhasil ia ambil.
"Dia gak pernah cerita gitu sama lu." ucapnya membuat Lion menggeleng, sebenarnya ia tidak tahu kemana Mayra pergi. Tapi selama Edrick tidak ada ia selalu meminta Mayra untuk memuaskannya sehabis itu dia tidak tahu lagi.
"Kenapa bang? Lu curiga kalau Mayra jajan di luar selain jajan sama lu." ucap Lion yang secara tidak langsung bicara seperti itu, lalu Edrick yang mendengar itu menatap Lion.
***
"Gua gak tahu pasti apakah kecurigaan gua benar atau gak terhadap Mayra, tapi gua yakin kalau Mayra tidak seperti apa yang gua pikirkan selama ini." kata Edrick yang sedikit ragu dengan perkataannya.
Saat itu juga tangan Lion menepuk pundak Edrick lalu kakak sepupunya menatap ke arahnya, "Gua yakin itu cuman perasaan lu aja bang, kalau emang cewek lu kaya gitu dia sudah dari dulu melakukan itu. Tapi buktinya malah dia lebih fokus sama lu bukan sama pria lain."
Edrick diam sejenak saat kalimat yang diucapkan Lion melintas di otaknya secara rapih dan tersusun, ia kembali mengingat apa yang selama ini ia lakukan dengan Mayra. Mana mungkin Mayra melakukan itu, sedangkan ia tidak pernah melihat Mayra melakukan itu kecuali dengan dirinya.
"Ya sudah bang gua pergi ke kamar dulu ya. Kalau lu butuh apa-apa bilang sama gua aja, gak usah lu pikirin apa yang diucapkan orang lain. Yang tahu Mayra diri lu sendiri bukan orang lain." barulah Lion memutuskan untuk pergi.
"Kamu mau ngapain bawa aku ke kamar. Bukannya urusan kita sudah selesai, kita sudah sepakat kalau perjanjian itu sudah selesai." ucap Mayra dengan kesal lalu Lion meminta Mayra untuk mengecilkan suara.
"Ya aku tahu, tapi ada satu hal yang ingin aku tanyakan sama kamu."
Melihat kerutan yang terdapat di dahi Mayra membuat Lion menghela nafas, lalu pria itu memilih duduk di ranjang dengan menatap Mayra.
"Bang Edrick curiga kalau lu suka main dengan pria lain selain dia, kayanya dia menyembunyikan sesuatu sampai ia tanya sama gua tentang lu."
"Dia bilang apa sama lu?" tanya Mayra penasaran dengan apa yang mereka bahas di bawah sana, karena ia sempat melihat Edrick menghampiri Lion di bawah.
__ADS_1
"Dia curiga kalau lu suka jajan di luar. Makanya dia tanya sama gua apakah gua pernah melihat lu jajan di luar selain jajan sama dia."
Apa separah ini Edrick mencurigainya, biasanya pria itu tidak pernah bersikap seperti ini. Apa ada sesuatu yang membuat Edrick bersikap seperti ini.
Lion berdiri dari tempat duduk dan memilih menghampiri Mayra yang masih melamun di pintu, "Lu gak usah khawatir May gua yakin lu gak seperti itu, lagian juga lu bukan wanita yang suka jajan ke kemana-mana selain abang gua dan gua." kata Lion yang menyentuh kedua pundak Mayra.
Tapi Lion tidak tahu kalau apa yang dicurigai Edrick itu benar, selama ini ia suka jajan di luar untuk mendapatkan uang. Tetapi ia juga tidak mungkin cerita sama mereka berdua tentang masalahnya.
"May." panggil Lion membuat Mayra menatap Lion yang sedang menatapnya.
"Sudah lebih baik lu istirahat nanti malam gua bakal ngajak lu jalan-jalan." ucap Lion yang mendapat anggukan dari Mayra.
Malamnya Lion mengajak Mayra jalan-jalan, mereka berdua masuk ke dalam mobil ke salah satu tempat yang bisanya menjadi tempat tongkrongan. Di sanalah mereka berdua tiba, dan memilih mencari tempat duduk yang kosong.
"Mau aku belikan sesuatu untukmu, May?" tawar Lion sebelum ia duduk di samping Mayra.
"Tidak usah Lion aku tidak mau apa-apa." jawab Mayra lalu Lion memutuskan untuk duduk di samping Mayra.
"Kau masih kepikiran masalah yang tadi?" tanya Lion yang tidak sengaja melihat Mayra memasang wajah sedih, ia juga tidak tega kalau melihat ekspresi wajah Mayra yang seperti ini.
Mayra menghela nafas dengan kasar, "Tidak. Aku hanya bingung aja kenapa Edrick bersikap seperti itu, selama ini aku selalu mengikuti kemauannya walau aku tahu aku ini hanya seorang budak yang dibeli olehnya."
"Aku juga sadar kalau aku tidak mungkin mengkhianatinya, kalau aku mau mungkin aku bisa melakukan itu. Dan aku pasti melakukan itu ada alasannya kalau memang aku selalu jajan di luar." Lion tidak tahu harus menanggapinya seperti apa, ia malah menyentuh kedua tangan Mayra untuk ia genggam.
"Sudah jangan kamu pikirkan lagi May, lagian juga bang Edrick pasti ada masalah di kantor makanya langsung menuduh kamu tanpa mencari terlebih dahulu." kata Lion yang menepuk-nepuk punggung tangan Mayra dengan pelan dan lembut.
__ADS_1
Sedangkan di sisi lain Edrick berada di tempat yang sama, mata lelaki itu melihat ke arah mereka berdua yang sedang berpelukan. Edrick yang melihat itu mencengkram stir mobil dengan kuat, lalu seluruh tubuhnya terdapat api panas yang terus membara saat melihat Lion dengan Mayra sedang berpelukan.
Ia juga tidak tahu kenapa sikapnya menjadi seperti ini, seakan-akan ia tidak menyukai Mayra disentuh oleh orang lain selain dirinya. Apakah dia sudah mencintai Mayra, apa memang dia tidak suka kalau barang yang dia miliki di ambil orang lain. Entahlah dia saja tidak tahu apakah dirinya benar-benar jatuh cinta atau tidak.