Mayra, Wanita Jalang Nomor Satu

Mayra, Wanita Jalang Nomor Satu
Wajah Itu...


__ADS_3

Kedua laki-laki yang kehilangan arah itu berada di ruang tamu, keduanya sibuk dengan pikiran mereka masing-masing. Hanya terdapat keheningan di antara mereka, sampai dimana ada suara deringan telepon mengganggu keheningan tersebut.


"Kalau kalian tidak menemukan keberadaannya kenapa kalian malah menghubungiku." ucap Edrick saat orang itu ketakutan dengan nada yang dilontarkan Edrick.


"Tidak usah minta maaf lakukan saja pekerjaan kalian. Sampai kalian tidak berhasil menemukannya saya pastikan kalian mendapatkan bayarannya." ucap Edrick yang sengaja memberikan ancaman kepada ketua yang memimpin anak buahnya.


Lion yang mendengar amarah Edrick menatap pria itu, lalu Edrick mematikan panggilan tersebut dengan raut wajah kesal.


"Kenapa wajah lu seperti itu, apa selama ini tidak ada yang melayani lu sampai muka lu menyeramkan gitu." lontar Lion sengaja membuat emosi Edrick semakin bertambah.


"Bukan urusan lu." jawab Edrick dengan nada ketus.


"Bang." ucap Lion yang memulai membuka suara lagi, saat ini emosi Edrick sudah sedikit mereda.


"Hem."


"Gua waktu itu ketemu papi sama mami di London."


"Lalu?" balas Edrick saat tatapannya mulai serius dengan pembicaraan yang diberikan Lion.


"Mereka meminta gua untuk menerima perjodohan itu."


"Maksud lu papi sama mami mau menjodohkan lu?" tanya Edrick yang melihat kalau Lion hanya bisa mengangguk.


"Terus? Apa lu menerima perjodohan mereka." Lion menggeleng, seketika Lion menceritakan semuanya saat ia ada di London.


Edrick mulai berpikir dengan nama mantan pacar adiknya, sebenarnya ia pernah bertemu dengan mantan pacar Lion tapi itu sudah lama. Walau sebenarnya ia sangat tidak suka dengan Lionel, tapi ia yakin kalau wanita itu bukan wanita baik-baik.


"Bagus dong kalau lu nolak perjodohan itu jadi lu gak usah sama dia lagi, lagian juga gua gak setuju sama perjodohan itu apalagi sama mantan pacar lu." ucapan Edrick membuat Lion menatap Edrick saat pria itu seperti mengenal mantan pacarnya.


Melihat tatapan sang adik Edrick memutuskan untuk mengangguk, "Gua pernah ketemu mantan pacar lu saat dia melakukan kerja sama dengan gua, tapi gua gak suka aja sama mantan pacar lu itu. Dia melakukan segala cara untuk mendapatkan apa yang dia mau, yang bikin gua jijik dengan wanita itu. Ia malah berusaha menggoda gua di saat kita sudah menjadi partner kerja."


"Masa sih bang Lionel seperti itu."

__ADS_1


"Ya. Dia juga dengan senang hati melakukan apapun untuk melayani gua supaya ia mendapatkan keuntungan yang lebih besar."


Seketika Edrick menepuk pundak Lion membuat mata lelaki itu menatap ke arah tangannya, "Seharusnya lu beruntung udah dijauhkan oleh wanita itu, makanya lu berhak menolak perjodohan itu. Lu tenang aja nanti gua bakal bicara dengan papi sama mami soal perjodohan konyol itu, biar mereka tahu kelakuan Lionel selama ini."


"Yang benar bang lu mau bantu gua." Lion memeluk Edrick saat kakaknya ini mau membantunya, ia sangat beruntung mendapatkan seorang kakak seperti Edrick.


Lion melepaskan pelukannya dan menatap wajah Edrick, "Makasih bang udah mau bantu gua. Gua yakin pasti mami mau dengar ucapan lu."


"Sama-sama. Udah lu jangan pikirkan lagi masalah lu ini, lebih baik lu istirahat besok gua masih ada pekerjaan." ucap Edrick kepada Lion, melihat Lion sudah tidak bersama dengannya lagi ia kembali ke kamar.


***


Cantika meminta Mayra untuk menjaga toko bunga, sekarang ia sedang berada di pusat keramaian kota. Di sanalah ia mencari bahan untuk usahanya, karena toko yang ia jalani sekarang semakin hari semakin ramai pembeli jadi ia memutuskan untuk mencari ide untuk tokonya sendiri.


Di saat berada di tempat keramaian mereka berdua tidak sengaja saling berpapasan tanpa mengenal satu sama lain, di samping Cantika ada seorang laki-laki yang berada di toko yang sama. Laki-laki itu menatap ke arah Cantika saat ia mendengar suara wanita, pria itu terus melihat Cantika sampai wanita itu pergi dan ia segera mengikuti wanita itu.


"Dimana wanita itu? Kenapa jalannya cepat sekali." ucapnya yang melihat ke arah sekitar, tapi ia tidak menemukan jejak wanita yang baru saja ia temui.


Dia tidak yakin kalau wanita itu adalah wanita di masa lalunya, ia pernah bertemu wanita itu saat asisten pribadinya mengantarkan ia ke salah satu klub malam. Ia sangat sibuk dengan semua pekerjaan, jadi ia memutuskan untuk memesan kamar.


Dia pikir asisten pribadinya membawakan ia wanita bayaran, jadi ia memanfaatkan keadaan malam itu untuk menuntaskan hasratnya. Tapi ia segera pergi setelah bersenang-senang dengan wanita bayaran yang dikirim oleh asisten pribadinya.


Tetapi saat malam itu ia pernah bertanya kepada asisten pribadinya kalau pria itu tidak pernah membawa wanita bayaran, ia cukup heran kenapa dia bodoh sekali menjelajahi tubuh wanita yang bukan menjadi wanita bayarannya.


Makanya ia mencoba mencari tahu keberadaan wanita yang pernah ia tiduri itu, tapi sampai sekarang ia tidak bisa menemukannya. Dan saat ia sibuk mencari keberadaan wanita asing itu, kedua orang tuanya memintanya untuk menerima perjodohan antar bisnis.


Mau tidak mau seorang Bagaskara menerima perjodohan itu, walau sebenarnya dia ingin menolak perjodohan yang disepakati kedua orang tuanya. Akhirnya pernikahan itu berjalan sempurna dengan keinginan orang tuanya, tetapi ia tidak pernah menyentuh istrinya walau ia tahu kalau sang istri sedang hamil.


Dia menjamin kalau anaknya yang sekarang bukan anaknya melainkan anak dari selingkuhan istrinya, tidak mungkin anak itu tiba-tiba ada tanpa ia sentuh. Jadi ia membiarkan anak itu lahir dengan syarat yang sudah mereka sepakati bersama.


"Daddy." panggil seseorang saat ia masih sibuk melamun, pria itu berbalik dan melihat ke arah wanita yang memberikan senyuman ke arahnya.


"Kamu kenapa ada di sini. Bukannya Daddy tidak memintamu datang untuk menyusul." kata pria itu saat melihat putrinya datang.

__ADS_1


"Ya memang tidak ada tapi aku yang mau, lagian daddy lama cari barangnya makanya aku susul daddy." pria itu mengangguk saat mendengar ucapan putrinya, lalu ia meminta wanita itu untuk kembali ke mobil.


Perempuan cantik itu adalah Lionel anak tirinya, putrinya ini tidak tahu kalau sebenarnya ia bukan ayah kandungnya. Saat mereka berada di London untuk melakukan perjodohan, ia sama sekali tidak datang malah digantikan oleh kakak dari sang istri.


Sejujurnya ia tidak mau ikut campur masalah kehidupan kedua wanita itu, tapi mau gimana lagi ini sudah menjadi jalan cerita kehidupannya.


"Dad. Daddy kenapa diam aja." ujar Lionel yang menyadarkan dirinya dari bayangan masa lalunya.


"Bukan urusanmu Lionel." ketus Bagas yang tidak suka kalau Lionel bicara dengannya, seketika Lionel terdiam dengan suara tinggi yang dilontarkan Bagaskara.


Tiba di rumah keduanya keluar dari mobil, mereka di sambut dengan hangat saat keduanya masuk ke dalam rumah mewah. Di sana sang istri tersenyum saat melihat kedatangannya bersama dengan Lionel.


"Kamu sudah pulang, sayang?" tanya wanita cantik yang sudah menjadi istrinya.


"Hem." Bagas yang menjawab seadanya malah melewati kedua wanita itu, ia bergegas meninggalkan wanita itu untuk masuk ke dalam kamar.


"Mi, kenapa daddy tidak suka sama aku ya. Kenapa aku merasa kalau aku bukan anak daddy sama mami." kata Lionel yang melihat ke arah maminya, Almeta tersenyum saat menatap wajah Lionel.


"Itu perasaan kamu aja mungkin daddy kamu lagi capek makanya seperti itu." balas Almeta yang menyakinkan Lionel, karena ia tidak mungkin memberitahu putrinya kalau sebenarnya Lionel bukan anak kandung Bagas melainkan anak dari selingkuhannya.


"Sudah kamu jangan sedih gitu, lebih baik kita makan mami sudah buat makanan kesukaan kamu."


"Yang benar mi."ucap Lionel yang wajahnya menampakan kesenangan saat maminya membuatkan makanan favoritnya, Almeta mengangguk dan ia segara membawa Lionel ke meja makan.


"Oh ya Lionel apa kamu mau mami jodohkan lagi sama pria lain selain anak teman mami?" tanya Almeta yang tiba-tiba saja bersuara saat posisi Lionel sedang menikmati puding buatan Almeta.


"Aku tidak ingin melakukan perjodohan lagi mi." balas Lionel yang mengingat bagaimana Lion menolaknya malam itu, seakan ia merasakan jadi Lion saat ia menyakiti Lion saat dia memilih pria lain.


"Kenapa? Bukannya kamu sangat antusias saat melihat anaknya teman mami."


"Mami tidak tahu kalau Lion adalah mantan pacarku, mungkin kalau mami tahu yang sebenarnya mungkin mami akan kecewa denganku." batin Lionel yang sibuk mengaduk puding.


"Lionel." ucap Almeta lembut saat ia menyentuh tangan putrinya, lalu Lionel memberikan sebuah senyuman.

__ADS_1


__ADS_2