
Pikiran kacau yang menggangu hidupnya membuatnya tidak berdaya, ia sekarang berada di sebuah club malam yang buka 24 jam. Club yang selalu menemaninya bersama dengan minuman yang ia pesan, entah sudah berapa banyak botol yang ia pesan.
Tetap saja minuman ini tidak berarti untuknya, begitupun dengan kehidupannya yang sudah sangat hancur. Melihat masa lalunya datang saat masa kecilnya sudah dihancurkan oleh satu wanita yang disebut 'ibu'.
Botol itu dituang ke dalam mulut, botol yang selalu menemaninya malam ini sangat menyenangkan sampai ada seorang wanita datang menghampirinya.
"Hai, kamu sendirian aja mau aku temani." ucap wanita itu yang sudah berada di dekat Edrick, tapi Edrick dengan cepat menghentikan wanita itu dengan kasar.
Sampai wanita itu pergi meninggalkan Edrick yang masih candu dengan botol minuman, sedangkan di tempat lain Mayra sangat khawatir melihat jam dinding yang terus bergerak. Sudah lebih dari satu jam ia menunggu kedatangan Edrick, tapi pria itu tidak datang juga.
Sudah berapa kali ia menghubungi pria itu tapi tidak ada jawaban, tidak hanya itu saja pesan yang dia kirim tidak di balas. Sebenarnya apa yang terjadi dengan pria itu sampai tidak membalas pesannya.
Mayra memutuskan untuk mencari Edrick, tapi saat sampai di depan pintu ia melihat pria itu kembali dalam keadaan mabuk.
"Kamu kenapa mabuk seperti ini. Aku sudah bilang sama kamu jangan terlalu banyak minum itu tidak baik untuk kesehatan kamu." oceh Mayra segera membantu Edrick keruang tamu.
"Sepertinya dia lagi ada masalah sampai seperti ini." ucap Mayra yang sudah meletakan Edrick di sofa panjang, tidak lupa ia melepaskan jas dan sepatu yang masih menempel di bagian tubuh.
Mayra yang ingin mengambil selimut tiba-tiba saja ada tangan yang menahannya, sambil mendengar ocehan dari bibir Edrick.
"Jangan tinggalkan aku May. Aku kesepian, aku kedinginan May." racau Edrick yang terus mengigau terus.
Akhirnya Mayra memutuskan untuk menunggu diruang tamu, ia menyelimuti tubuh Edrick menggunakan jas kantor. Tidak lupa dengan sentuhan hangat yang Mayra berikan.
***
Semalaman Mayra menunggu Edrick bangun tapi dia juga yang ketiduran di samping pria ini, Edrick yang merasakan kepalanya pusing melihat ada seorang wanita yang menggenggam tangannya. Ia tersenyum melihat siapa wanita itu, tanpa dia duga ternyata Mayra yang merawatnya.
"May, terima kasih kamu sudah berada di sampingku May. Aku tidak tahu kalau tidak ada kamu hidupku akan hancur." batin Edrick yang terus-menerus menatap Mayra saat tidur.
Mayra yang merasakan ada pergerakan segera bangun, dia melihat Edrick menatapnya dan ia dengan cepat memberikan minuman pereda mabuk.
"Ini diminum dulu." Mayra membantu Edrick bangun dan menuntun Edrick untuk meminum minuman yang dia buat.
__ADS_1
"Gimana sudah enakan? Apa ada yang tidak enak di tubuh kamu." ucap Mayra saat gelas itu diambil dari tangan Edrick.
"Makasih May. Aku sudah membaik walau masih terasa pusing."
"Nggak apa-apa kamu istirahat aja, nanti aku akan minta Nik untuk tidak masuk kerja." kata Mayra saat melihat wanita ini begitu mengkhawatirkannya.
"Kamu khawatir sama aku, May?" tanya Edrick secara tiba-tiba membuat Mayra menatap pria yang berada di atas sofa.
"Gimana aku gak khawatir sama kamu, kamu tiba-tiba datang dalam keadaan mabuk. Dan kamu membuatku susah saat telepon kamu tidak dapat dihubungi."
"Aku gak tahu kalau gak ada aku gimana nasib kamu di luar sana dalam keadaan mabuk seperti itu." Edrick merasa ada kehangatan dalam dirinya saat melihat Mayra mengoceh seperti itu.
Mayra satu-satunya wanita yang membuat hatinya tersentuh, tidak ada lagi wanita yang akan mau merawatnya tanpa mendapatkan imbalan. Apalagi saat melihat dirinya dalam keadaan mabuk, pasti wanita di luar sana akan mendapatkan kesempatan atau keuntungan untuk mendapatkan uang dengan cara tidur bersama.
"May, aku laper." ucap Edrick kembali saat melihat Mayra sibuk mengambil jas dan sepatu kerja.
Mayra menatap lelaki itu kembali, "Ya sudah kamu mandi dulu nanti aku siapkan kamu sup."
"Sudahlah jangan manja gini, kamu gak malu dilihatin Nara. Kamu ini udah besar kenapa kelakuannya seperti bayi." oceh Mayra yang tidak suka dengan sikap manja Edrick.
"Mereka tidak akan peduli May, mereka punya kesibukan masing-masing jadi mana sempat melihat kita." urai Edrick yang tidak mau kalah dengan Mayra.
Mayra memutuskan untuk mengalah, dia tidak mungkin berdebat terus dengan pria ini. Yang ada tidak akan selesai kalau ribut terus, Mayra dengan telaten merawat Edrick sampai pria ini sembuh total.
"May." panggil Edrick saat melihat Mayra mau siap-siap kuliah.
"Astaga apalagi." ucap Mayra mencoba menahan amarah saat melihat Edrick mulai bertingkah kembali.
"Kamu mau kemana?" tanya Edrick yang melihat penampilan Mayra sudah rapih.
"Kemana lagi kalau bukan kuliah." jawab Mayra dengan nada ketus.
"Kamu jangan kuliah May. Kamu di rumah aja." kata Edrick yang terus menggoyangkan tangannya ke udara, membuat Mayra kewalahan dengan sikap manja Edrick.
__ADS_1
"Oke, hari ini aku tidak kuliah. Aku akan jaga kamu di sini sampai kamu sembuh total, setelah sembuh baru aku masuk kuliah kembali." tutur Mayra dengan terpaksa mengikuti kemauan Edrick, karena dia melihat wajah pria ini seperti memohon.
Edrick tersenyum senang mendengar ucapan Mayra, dia sangat senang bisa berduaan lagi dengan wanita ini. Mayra membawa Edrick duduk di sofa sambil menonton film, Edrick yang melihat Mayra sibuk menonton film tiba-tiba ia ingin tiduran di pangkuan Mayra.
Mayra yang melihat Edrick berada di pangkuannya menatap pria itu, sedangkan Edrick yang di tatap seperti itu hanya tersenyum manis. Mayra tidak peduli lagi dengan sikap Edrick, yang terpenting film yang dia tonton berhasil membuat dirinya fokus.
Sedangkan Edrick yang berada dipangkuan Mayra terus mencium perut rata Mayra, saat tangannya mulai nakal mencari kenyamanan di sana. Mayra yang merasakan tangan jahil Edrick masuk ke bagian tubuhnya merasa geli, apalagi pria ini mulai membuatnya panas dingin.
"Hentikan Edrick. Jangan lakukan itu di sini, kamu gak malu kalau nanti orang lain melihat kelakuan kamu ini." ucap Mayra yang mencoba menahan tangan jahil Edrick.
Edrick menghentikan aksinya dan memilih menatap Mayra, "Mereka tidak akan peduli May. Dia mana mungkin peduli dengan aktivitas bosnya, yang ada mereka akan tutup kuping melihat kelakuan majikannya."
"Ya sudah diam dulu aku lagi fokus nonton." protes Mayra yang memukul tangan nakan Edrick, tapi pria itu tidak peduli malah dia semakin menjahili Mayra yang sibuk menonton.
"Edrick... Augh..." desis Mayra yang merasakan tangan nakal Edrick mulai meraba tubuhnya, apalagi merasakan kalau bibir pria ini mulai mencari kehangatan di dalam pakaian.
"Kecilkan suara kamu May nanti mereka akan mendengar suara indah mu itu." bisik Edrick dengan pelan membuat Mayra menahan suara ******* yang paham keluar kembali.
Mayra mulai tidak fokus dengan film yang berada di layar televisi, ia malah terfokus dengan kegiatan yang diberikan Edrick. Pria ini benar-benar keterlaluan di saat seperti ini, Edrick membuatnya mendesah.
Gimana kalau ada yang lewat dan mendengar suaranya, pasti dia akan malu kalau sampai mengetahui aktifitas panas ini. Mayra berusaha menahan suaranya saat Edrick mulai membuka celana yang dia pakai.
Celana pendek itu dibuka oleh Edrick saat Mayra mencoba membantu Edrick membukanya, laki-laki ini mulai memasukan tangannya ke dalam untuk menyentuh bagian sensitifnya. Mayra sangat menikmati permainan yang diberikan Edrick, sampai dirinya mencoba membantu Edrick bermain.
Edrick tersenyum puas saat Mayra membantunya, wanita ini sangat tahu apa yang dia butuhkan. Jadi tidak butuh waktu lama untuk membuat Mayra kembali basah, tetapi Edrick sangat pandai membuat Mayra tidak keluar lebih dulu.
"Ahh... augh..." desah Mayra yang merasakan kenikmatan permainan yang diberikan Edrick, untung saja sofa yang mereka duduki terbilang tinggi.
Jadi tidak ada satupun yang melihat kegiatan mereka, Edrick meminta Mayra menaikan pakaiannya supaya dirinya mudah untuk menyentuh bagian yang paling dia sukai.
Kepala Edrick masuk ke baju Mayra untuk mencari bagian favoritnya, benar saja kalau Edrick mulai meraba tubuhnya yang paling atas membuat tali pengikat dua gunungnya terlepas. Edrick mulai menggunakan tangannya secara bergantian, saat Edrick mencoba meremas bongkahan bulat sintal itu.
Sedangkan Mayra terus mendesah sampai tidak kuat dengan suara yang ingin dia lepaskan, akhirnya suara kenikmatan itu lepas begitu saja. Dia sudah tidak peduli lagi dengan orang lain, yang dia pedulikan hanyalah pelepasan nafsu yang diberikan Edrick.
__ADS_1