
Saat ini Andika dan Tata masih menunggu dokter yang memeriksa Tasya keluar dari ruang UGD, Tata yang sudah tidak sabar menunggu terus-menerus menanyakan kondisi Tasya dan terlihat dari raut wajah Tata kalau dia sangat menghawatirkan Tasya.
Tata bisanya tidak pernah mengkhawatirkan orang lain sampai seperti itu, karena saat dia terluka tidak ada orang yang khawatir padanya. Tapi kali ini berbeda, walaupun Tata baru kenal dengan Tasya dia sudah sampai segitunya terhadap Tasya.
Beberapa saat kemudian dokter yang memeriksa Tasya tadi keluar dari ruang UGD, Andika langsung menghampiri dokter itu sembari menuntun tangan Tata karena hanya kabar tentang kondisi Tasya lah yang sejak tadi mereka tunggu-tunggu.
"Dok, bagaimana kondisi istri saya? Dia baik-baik saja kan dok?"
"Kondisi istri bapak baik-baik saja, sekarang bu Tasya juga sudah sadar dan bapak juga sudah bisa masuk ke dalam. Tapi agar ibu Tasya bisa istirahat dengan baik, saya menyarankan agar ibu Tasya di rawat inap selama satu hari dulu di sini pak" dokter itu memasukkan stetoskop yang di pegangnya ke dalam saku jubahnya.
"Baik dok, lakukan apa saja yang terbaik untuk istri saya, asalkan dia baik-baik saja"
"Baik, kalau begitu saya permisi dulu ya pak dan nanti akan ada suster yang datang untuk memindahkan ibu Tasya" Andika hanya menganggu dan dokter itu langsung melangkahkan kakinya.
Setelah dokter itu pergi Andika dan Tata langsung masuk ke dalam ruangan tempat tasya berada untuk menemui Tasya, tapi saat mereka berdua berada di dalam Tasya langsung menoleh ke arah mereka sembari tersenyum tipis.
"Gimana keadaan kamu? Apa sudah lebih baik?" Andika mengusap surai rambut Tasya sembari menatapnya.
"Masih sedikit pusing mas, apa dari tadi Tata sama kamu di sini mas?" Tasya menatap Andika dan Tata bergantian.
"Iya dari tadi dia bersama ku di sini, tadinya Mario sudah mengajaknya untuk pulang. Tapi Tata menolaknya dan bilang dia ingin tetap di sini sampai kamu sadar, karena dia sangat mengkhawatirkan kamu"
"Tante Tasya baik-baik saja kan?" Tata memegang tangan Tasya
"Iya sayang, tante baik-baik saja kok. Kamu sendiri gimana? Apa ada yang terasa sakit?" Tasya melihat ke arah Tata dengan tatapan khawatir.
__ADS_1
"Aku juga baik-baik saja kok tante, aku kan anak yang kuat" Tata langsung tersenyum agar dia bisa lebih meyakinkan Tasya kalau dirinya baik-baik saja, sedangkan Tasya membalas senyuman Tata padanya.
Sebenarnya saat tadi Tasya melihat Andika bingung untuk menentukan siapa yang akan dia selamatkan, ada ketakutan dalam diri Tasya kalau Andika akan menyelamatkan dirinya lebih dulu. Tapi sekarang akhirnya dia bisa merasa tenang, karena Tata baik-baik saja.
Pasti kalau Tata sampai kenapa-kenapa akibat perbuatan kakaknya tadi Tasya tidak akan bisa memaafkan dirinya sendiri, karena saat pertama kali bertemu dengan Tata dia ingin menjaga Tata setiap saat dan tidak akan membiarkannya terluka.
"Oh iya mas, apa Tata kamu sudah gantikan bajunya dan kasih susu hangat atau teh? Soalnya tadi dia juga lumayan lama di dalam air"
"Baju Tata sudah digantikan Mario tadi, tapi aku belum sempat memberikannya minuman hangat. Soalnya tadi engga mungkin aku pergi ke kafetaria dan tinggalin Tata sendirian di depan"
"Emangnya Mario kemana mas?" Tasya mengubah posisi tidurnya menjadi duduk dengan bantuan Andika.
"Mario sudah pergi, sejak aku memintanya melakukan sesuatu untuk membalaskan perbuatan Raisa pada kamu dan Tata"
"Engga usahlah mas! Engga perlu kita sampai balas, kalau nanti kita balas ka Raisa pasti akan tambah melakukan hal yang berbahaya lagi"
"Tapi mas, gimana kalau nanti tante Miranti juga ikut-ikutan Raisa dan membahayakan Tata?" Tasya menatap Tata dan Andika bergantian.
"udah kamu tenang aja ya! Masalah itu biar aku yang mengurusnya, yang terpenting kamu dan Tata jangan jauh-jauh dari ku"
"Iya deh mas terserah kamu aja, tapi jangan sampai semua rencana pembalasan ini membahayakan Tata ya mas" Andika hanya mengangguk sebagai jawaban.
Saat Tasya baru ingin menanyakan tentang masalah kaki Andika, tapi suster sudah keburu datang untuk memindahkan Tasya ke ruang rawat inap VIP dan membuat Tasya gagal menanyakan hal itu pada Andika.
Berhubung suster sudah membawakan kursi roda untuk mengantar Tasya ke ruangannya, jadi mau tidak mau Tasya harus menunda pertanyaan itu sampai waktu yang pas dan tidak ada yang mengganggu mereka dulu.
__ADS_1
Setelah sampai di kamar suster itu langsung pamit pergi lagi, sedangkan Tasya dan Tata langsung mengitari matanya ke setiap sudut kamar rumah sakit itu. Bahkan mereka berdua juga sangat terkagum-kagum, saat melihat kamar inap Tasya yang super luas.
"Wah! Mas, ini beneran kamar rumah sakit? Besar banget udah seperti hotel, aku bahkan belum pernah lihat ada ruangan seperti ini di rumah sakit" Tasya dan Tata mengedarkan pandangannya ke setiap sudut ruangan.
"Iya om, ruangan ini besar banget. Ini jauh lebih besar dari kamar Tata di apartemen, waktu Tata kecelakaan dan dirawat di rumah sakit kamarnya juga engga sebesar ini om. Bahkan Tata juga sama seperti tante Tasya, sama sekali belum pernah melihat ruangan sebesar ini om"
Andika langsung tersnyum sembari membungkukkan badannya untuk menyamakan wajahnya dengan Tata. "Tentu saja kalian berdua belum pernah melihat ruangan ini di rumah sakit manapun, karena ruangan ini hanya berada di rumah sakit ini saja dan juga jumlah ruangannya hanya ada tiga. Bahkan ini ruangan ini juga sudah dibeli oleh ke tiga pengusaha besar di dunia, salah satunya adalah om"
"Sebenarnya sekaya apa sih seorang Andika? Sampai-sampai semua ruangan yang dia gunakan harus khusus VIP dan sebesar ini" ucap Tasya dalam hati sembari melihat Andika yang sedang mengobrol dengan Tata.
Saat Andika melihat Tasya yang sedang melamun saja langsung menghampirinya untuk meminta Tasya agar kembali ke tempat tidur dan jangan banyak bergerak dulu, karena dokter meminta Tasya beristirahat agar rasa pusingnya bisa segera mereda.
Tidak lama kemudian suster masuk ke dalam ruangan itu untuk sekedar mengantar makan malam untuk Tasya, setelah suster itu pergi Tasya baru saja ingin mengambil makanannya tapi dia sudah keduluan oleh Andika.
"Biar aku yang suapin ya" Andika menyendok makanannya dan memberikannya di depan mulut Tasya.
Tasya membuka mulutnya dan Andika langsung memasukan makanannya ke dalam mulut Tasya suapan pertama, tapi setelah suapan ketiga Tasya meminta Andika berhenti menyuapinya.
"Mas, biar aku makan sendiri aja ya. Kamu tolong belikan makanan buat Tata saja mas, soalnya kasihan dia sepertinya sudah sangat lapar" Tasya melihat ke arah Tata yang sedang duduk diam di sofa begitu juga dengan Andika.
"Memangnya tidak apa-apa kamu makan sendiri?"
"Iya engga apa-apa mas, lagipula tangan ku ini kan baik-baik saja dan masih bisa digunakan"
"Ya sudah, kalau begitu aku tinggal dulu ya" sebagai jawaban Tasya menganggukan kepala, Andika juga langsung memberikan piring makannya pada Tasya dan pergi setelah mencium kening istrinya.
__ADS_1
Tidak lama setelah Andika keluar dari ruang rawat inap Tasya pintu ruangan itu kembali terbuka lagi, awalnya Tasya mengira itu suaminya yang kembali lagi tapi ternyata seseorang yang sudah lama tidak bertemu dengannya.