Mencintaimu Tanpa Karena

Mencintaimu Tanpa Karena
Keinginan Andika


__ADS_3

Sudah hampir jam sembilan malam, tapi Andika dan Tasya belum juga ingin kembali ke apartemen karena mereka masih ingin berjalan-jalan berduaan sembari menikmati suasana dan angin di malam hari. Berhubung mereka belum pernah melakukan hal itu, makanya mereka ingin lebih lama untuk menikmatinya.


Saat Tasya melihat ke arah jalanan yang sudah jarang orang lewat di sana, Andika tiba-tiba menghentikan langkahnya dan berdiri di depan Tasya. Hal itu membuat Tasya jadi menabrak dada bidang Andika, walaupun begitu Tasya tidak marah pada Andika dan hanya menatapnya dengan ekspresi wajah bingung.


"Sayang, sebenarnya ada sesuatu yang ingin aku bicarakan dengan kamu"


"Eum... Ya sudah, kalau gitu sekarang kita kembali ke apartemen saja ya mas"


Andika langsung menggeleng pelan. "Kalau di apartemen ada Salsa dan Tata, jadi kita bicarakan di sini saja ya"


Tasya terdiam dan terlihat berpikir sebentar, sebelum akhirnya dia celingak-celinguk melihat sekeliling. "Kalau begitu kita bicara sambil duduk di sana saja yuk mas!"


Tasya menunjuk ke arah halte yang tidak jauh dari tempat mereka berdiri sekarang, sedangkan Andika hanya menjawab dengan anggukan kepala dan membawa Tasya ke halte itu sembari menggenggam tangannya.


"Jadi apa yang ingin kamu bicarakan dengan aku mas?"


"Tapi aku minta kamu jangan marah padaku ya, karena aku tidak berdiskusi terlebih dahulu dengan kamu" Tasya hanya menjawab dengan anggukan pelan kepalanya.


"Sebenarnya tadi mas sudah meminta Mario untuk mencari dan membuatkan janji dengan dokter kandungan untuk kita konsultansi, agar kamu bisa cepat hamil sayang dan beberapa menit lalu Mario sudah memberi kabar ke mas kalau dia sudah menemukan dokter terbaik. Jadi kamu mau kan pergi menemui dokter itu besok?"


Tasya lagi-lagi terdiam dan hanya menatap mata Andika saja, dia benar-benar tidak menyangka kalau Andika sudah sangat menginginkan anak darinya dan bahkan dia sampai repot-repot mencari dokter yang paling terbaik hanya demi Tasya.


Andika yang melihat Tasya melamun langsung mengibaskan tangannya di depan wajah Tasya. "Kenapa kamu diam saja? Apa kamu marah sama mas?" Andika langsung bertanya setelah Tasya tersadar dari lamunannya.


"E-engga kok mas, aku engga marah sama kamu dan aku juga mau ikut dengan kamu menemui dokter itu besok. Lagi pula aku juga ingin cepat-cepat jadi hamil dan punya bayi yang lucu, supaya apartemen kita tambah ramai lagi"


"Jadi kamu beneran engga marah sama mas?"


"Engga dong mas, lagian kenapa aku harus marah sama mas? Bukannya mas melakukan semua ini untuk kita berdua, jadi itu tidak masalah untuk ku mas"

__ADS_1


Seketika Andika langsung memeluk Tasya saat mendengar perkataan Tasya yang sangat memahami keinginannya itu, bahkan Tasya juga mendukung keinginan Andika untuk segera memiliki keturunan.


"Oh iya, ada satu lagi yang mas ingin kasih tau kamu" Andika melepaskan pelukannya pada Tasya.


"Tentang apa lagi mas?"


"Kalau kamu mau mas juga ingin membawa kamu untuk melihat beberapa rumah yang sudah di carikan oleh Mario dan karena mas ingin kamu yang memilih rumah itu, jadi apa kamu mau menemani mas melihat rumah yang akan kita beli?"


"Kapan kita akan ke sananya mas? Soalnya aku tidak enak kalau harus libur


"Sepulang dari rumah sakit saja bagaimana? Jadi kamu tidak perlu izin dan libur berkali-kali"


"Eum, boleh deh mas. Jadinya setelah pulang dari rumah sakit aku engga bingung lagi harus ngapain, karena kalau hanya berdiam diri saja sangat membosankan mas"


"Iya sayang, berarti besok kita pergi ke beberapa tempat. Kamu engga masalah kan sayang?" Tasya menggeleng pelan sembari tersenyum sebagai jawabannya.


Setelah pembicaraan mereka berdua selesai Andika kangen membawa Tasya kembali ke apartemen, karena udara di luar sudah mulai dingin dan Andika tidak ingin Tasya sakit nantinya.


Tata yang melihat Tasya dan Andika sudah kembali langsung berlari menghampiri mereka berdua, tapi setelah melihat Andika yang hanya melamun sembari senyum-senyum sendiri Tata langsung menatap Tasya dengan ekspresi bingung.


"Tante, om Andika kenapa?"


Tasya mengangkat bahunya sembari menggeleng pelan ke arah Tata sebentar dan langsung melihat ke arah Andika, karena dia juga tidak tau apa yang terjadi dengan suaminya. "Tante juga engga tau sayang"


"Mas... Mas Dika, kamu kenapa sih senyum-senyum sendiri kayak begitu?" Tasya menggoyang-goyangkan tangan Andika untuk menyadarkannya.


"Eh, i-iya sayang ada apa?" Andika menoleh ke arah Tasya sembari mengangkat kedua alisnya.


"Kamu kenapa melamun sambil senyum-senyum begitu mas? Apa kamu lagi membayangkan sesuatu yang menyenangkan?"

__ADS_1


"Tidak ada, mas tidak membayangkan apa-apa kok sayang"


Sebelum pergi Andika tersenyum sebentar ke arah Tasya sembari mengacak rambut Tasya yang di gerai, setelah itu dia langsung pergi ke kamar sembari senyum-senyum sendiri lagi dan membuat Tasya juga Tata bertukar pandangan karena bingung.


"Oh iya, Tata mau menginap di sini saja?" Tasya mengusap pipi Tata sembari tersenyum.


"Engga tante, Tata mau kembali ke unit Tata aja"


"Ya sudah kalau Tata maunya begitu, nanti kalau semisalnya Tata sudah ingin kembali ke unit. Tata bilang sama kak Salsa ya, biar nanti ka Salsa bisa anterin Tata"


Tata mengangguk pelan. "Tata kembali sekarang saja tante, soalnya Tata sudah mengantuk. Tata pamit ya tante"


"Iya sayang, selamat beristirahat ya"


"Iya tante, tante juga ya" Tasya langsung menganggukkan kepalanya.


Setelah Tata dan Salsa pergi, Tasya langsung menyusul Andika di dalam kamar untuk menanyakan kembali perihal lamunannya tadi. Tapi sayangnya saat Tasya masuk Andika sudah tertidur dengan lelap dan membuat Tasya tidak ingin mengganggunya, akhirnya Tasya hanya memainkan ponselnya sembari duduk di tempat tidur dan menunggu rasa kantuknya datang.


"Semoga secepatnya aku bisa kasih kamu anak ya mas, supaya kamu bisa tambah merasa bahagia lagi" Tasya bermonolog sembari melihat wajah dan mengusap pipi Andika dengan lembut.


"Kira-kira apa yang akan dokter kandungan lakukan ya agar aku bisa cepat hamil?" Tasya menambahkan perkataannya dan kembali fokus dengan ponselnya.


Sudah jam dua belas malam, tapi Tasya masih terus-menerus men scroll layar ponselnya walaupun dia sudah beberapa kali menguap karena sudah mengantuk. Sampai akhirnya dia menemukan sesuatu yang membuatnya takut dan ragu untuk pergi menemui dokter kandungan, bahkan rasanya Tasya benar-benar tidak ingin pergi.


"Apa aku bisa membuat mas Dika untuk membatalkan janji temunya ya?"


"Tapi sepertinya akan sulit untuk merubah keputusan mas Dika"


"Sudahlah lebih baik aku tidur sekarang, dari pada nanti aku menemukan hal lain lagi yang tambah membuat takut"

__ADS_1


Tasya meletakkan ponselnya di atas meja kecil di sampingnya dan langsung merebahkan badannya di samping suaminya itu dan memulai memejamkan matanya untuk ikut pergi ke alam mimpi bersama Andika.


__ADS_2