
Sejak Andika dan Tasya masuk ke dalam gedung perusahaan sampai mereka masuk ke dalam ruangan Andika, semua orang yang bertemu dengan mereka berdua terus menatap mereka dengan tatapan sulit diartikan.
berbeda dengan andika yang tidak memperdulikan tentang hal itu, tasya justru kepikiran dan bertanya-tanya penyebab semua karyawan Andika melihatnya dengan tatapan seperti itu.
"Mas, kira-kira mereka semua pada kenapa ya?" Tasya duduk di kursi depan meja Andika.
"Kenapa apanya, hmm?" Andika menjawab pertanyaan Tasya dengan pertanyaan juga sembari membuka laptopnya.
"Apa kamu dari tadi engga merasa mas? Kalau semua pekerja kamu itu melihat ke arah kita dengan tatapan yang aneh"
"Apa iya seperti itu? Tapi aku tidak merasa sama sekali, dan aku juga melihat mereka semua sama seperti biasanya"
"Ish, kamu mah mas! Masa engga merasa ada yang aneh sih, padahal semenjak kita bertemu karyawan kamu di pintu masuk dia sudah menatap kita dengan aneh loh mas"
Andika yang malas mempermasalahkan hal itu tidak menjawab lagi perkataan Tasya dan membuat Tasya menjadi kesal, bahkan Tasya juga sampai memasang wajah cemberutnya.
Tidak lama kemudian Mario masuk dengan nafas yang tersengal-sengal, seperti orang yang baru selesai lari maraton dan membuat Andika langsung membuka suaranya lagi.
"Tuan, sebelumnya maaf saya tidak mengetuk pintu terlebih dahulu saat masuk ke sini tuan. Saya ke sini karena terburu-buru, sebab seluruh pekerja sedang membahas tentang KDRT yang nyonya Tasya lakukan pada tuan" Mario menjelaskan dengan suara yang terbata-bata karena dia masih mengatur nafasnya.
Tasya yang mendengar langsung membulatkan matanya, sedangkan Andika masih tetap fokus pada laptopnya. "KDRT? Kenapa mereka bisa mengatakan hal itu?"
"Saya juga kurang tau nyonya, tapi saat tadi saya tanyakan pada mereka dan mereka bilang katanya ada beberapa orang yang melihat pipi tuan Andika merah seperti bekas tamparan nyonya" Mario yang penasaran mencoba melihat ke arah pipi Andika.
"Pipi mas Andika memang bekas saya tampar tadi, tapi itu bukan karena saya ingin melakukan kekerasan pada mas Andika. Sebenarnya bekas tamparan itu ada, karena tadi....." Tasya tidak melanjutkan perkataannya lagi, karena Andika meminta Tasya dan Mario berhenti membicarakan hal itu.
Tasya awalnya protes ceritanya pada Mario di potong begitu saja oleh Andika, tapi beberapa detik kemudian Tasya akhirnya menghentikan protesnya karena melihat tatapan tajam Andika dan sekarang dia hanya diam saja sembari memperhatikan Andika yang sedang mulai mengetik kembali di laptopnya.
__ADS_1
"Rio, apa pekerjaan kamu sudah selesai semuanya? Lalu apa dokumen yang saya minta juga sudah selesai? Kalau sudah tolong kamu bawa ke sini sekarang ya!" Andika bertanya tanpa mengalihkan sedikit pandangannya dari laptop di hadapannya.
Mario langsung menundukkan kepalanya dan menggeleng pelan. "Maaf tuan, untuk dokumen itu saya belum menyelesaikannya karena semalam saat sampai di rumah saya langsung tertidur tuan"
"Kalau begitu lebih baik kamu selesaikan dokumen itu segera! Tapi sebelum itu kamu suruh mereka semua berhenti membicarakan tentang istri saya, kalau tidak saya akan memecat siapapun yang berani membicarakan tentang hal itu lagi"
"Baik tuan, saya akan laksanakan perintah anda sekarang juga" Mario membungkukkan badannya dan langsung pergi dari ruangan Andika.
Setelah Mario pergi Andika langsung melihat ke arah Tasya sembari memberikan senyumannya, Tasya yang melihat Andika tiba-tiba berubah langsung memasang wajah bingungnya sembari menggaruk tengkuk lehernya yang tidak gatal.
"Untuk istriku sayang, daripada kamu sibuk mengurus permasalahan yang tidak penting seperti itu. Lebih baik kamu mengurus bulan madu kita, karena semalam kamu tertidur saat kita membicarakannya"
"Eum, tapi kamu kan lagi kerja mas. Masa mau membahas tentang bulan madu sekarang sih, nanti yang ada kamu jadi engga fokus lagi"
"Sedari tadi aku belum memulai pekerjaan ku, tapi dari tadi aku mencari tempat-tempat yang kemarin menurut ku bagus" Andika memutar laptopnya menghadap Tasya.
"Gimana kalau yang ini saja mas?" Tasya memutar kembali laptopnya ke arah Andika dan menunjukkan tempat yang di pilihnya.
"Apa ada tempat lain lagi? Sepertinya tempat ini kurang cocok dengan kita berdua"
"Tempat lain ya? Kalau begitu gimana sama yang ini mas?" Tasya menunjukkan dua tempat lainnya.
"Eum, yang kedua itu juga kurang bagus. Coba kamu cari yang lain lagi ya"
Tasya menggaruk tengkuk lehernya sebentar dan kembali membalikan laptop ke arahnya, dia juga langsung mencari tempat yang lainnya sembari terus menggerutu dalam hatinya.
Setelah mendapatkan beberapa tempat lainnya, Tasya langsung menunjukkannya kembali ke Andika. Tapi sayangnya semua tempat itu juga di tolak oleh Andika, hal itu jadi membuat Tasya bingung.
__ADS_1
"Bukannya ketiga tempat itu yang tadi mas andika tunjukkan pada ku ya, tapi kenapa semuanya dia tolak dengan berbagai alasan" ucap Tasya dalam hatinya.
"Bahkan tempat lainnya juga dia tolak, lalu aku harus cari tempat yang bagaimana lagi?" Tasya menambahkan perkataannya sembari meletakkan menopang dagunya.
"Gimana? Sudah ketemu tempat ya bagus?" Andika menutup map yang ada di depannya.
"Belum mas, aku masih bingung kamu mau tempat yang bagaimana. Soalnya dari tadi semuanya kamu tolak terus, bahkan sekarang hanya tinggal satu tempat yang menurutku bagus mas"
"Coba aku lihat tempat yang tadi kamu bilang bagus itu"
Tasya langsung menunjukkan rekomendasi tempat yang terakhir pada Andika. "Hanya itu saja mas, gimana menurut kamu?"
Beberapa saat Andika hanya diam saja sembari menaikan satu alisnya dan melihat ke arah layar laptopnya, melihat hal itu Tasya sedikit ragu kalau Andika akan menyukai tempat yang dia tunjukan itu.
"Tempat ini ya? Eum, boleh aku juga suka tempat ini. Kalau begitu kita ke sana saja, dan untuk hotelnya apa kamu juga sudah menemukan hotel terbaik di tempat ini?"
Tasya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban dan langsung menunjukkan hotel terbaik yang berada di tempat itu, bahkan hotel itu juga dekat dengan berbagai tempat yang akan mereka butuhkan nantinya.
Setelah mereka berdua setuju dengan tempat itu Andika langsung kembali memanggil Mario untuk mengurus semua persiapan mereka berdua, termasuk tiket pesawat dan memesan kamar hotel.
"Berarti persiapan bulan madu kita sudah selesai ya mas, apa sekarang aku bisa pergi bersama Rara mas?"
"Tidak! Aku ingin kamu tetap di sini untuk jadi penyemangat ku, karena aku masih belum bersemangat bekerja"
"Seharusnya dia tidak perlu datang ke sini saja kalau sedang tidak bersemangat" Tasya terus menggerutu dalam hatinya.
Sembari menunggu Mario datang ke ruangannya, Andika melanjutkan pekerjaannya dengan sesekali Andika melihat ke arah Tasya dan memberikan senyumannya.
__ADS_1