
"Kenapa kalian tidak meminum teh yang mama buatkan lebih dulu? Padahal mama buatkan khusus untuk kalian berdua loh"
Miranti memasang wajah sedihnya agar Andika merasa tidak enak karena sudah meminta Tasya untuk tidak meminum teh buatannya, tapi sayangnya Andika tidak memperdulikan hal itu dan malah sibuk menikmati tehnya.
Walaupun Andika tidak merespon apa-apa, tapi Miranti tidak mau berhenti dan terus-menerus protes tidak terima. Bahkan sekarang dia sampai mengatakan kalau Tasya tidak menghargai usahanya yang sudah berbaik hati dengannya.
Ferdian yang tidak ingin nantinya masalah akan bertambah panjang kalau Andika sampai mulai berbicara, makanya sebelum Andika membuka suaranya Ferdian sudah lebih dulu menghentikan Miranti agar tidak mengatakan apapun lagi yang bisa memancing kemarahan Andika.
"Oh, jadi papa sekarang lebih milih belain Tasya dibandingkan mama?" Miranti menatap Ferdian dengan wajah kesalnya.
"Papa bukan belain siapa-siapa mah, tapi papa hanya tidak ingin kalau mama terus mempermasalahkan hal sepele seperti ini. Jadi papa minta tolong sama mama untuk berhenti mempermasalahkan hal ini, apalagi sampai bilang seperti itu pada Tasya"
Miranti bangun dari posisi duduknya dan mulai berbicara kembali, sembari melihat ke arah Tasya. "Semua yang aku katakan itu benar mas, kalau Tasya memang tidak pernah diajarkan untuk menghargai orang lain oleh mamanya yang sudah meninggal itu. Mungkin karena dia sudah lebih dulu meninggal kali ya jadi belum sempat mengajarkannya, tapi kenapa sih kamu terus membela anak itu"
Padahal Andika sudah ingin mengatakan sesuatu pada Miranti, tapi Ferdian sudah lebih dulu menamparnya saat mendengar perkataan Miranti. Akhirnya Andika memutuskan untuk menenangkan Tasya yang sedang menahan air matanya sembari mengepalkan tangannya dan menundukkan kepalanya.
"Kamu berani menampar aku hanya karena anak itu mas? Kamu tunggu saja nanti akan aku balas nanti!" Miranti langsung pergi meninggalkan ruang tamu untuk pergi ke kamarnya.
Setelah Miranti pergi Ferdian langsung berkali-kali meminta maaf pada Andika dan Tasya atas nama Miranti, tapi Andika tidak menghiraukannya dan masih tetap fokus pada Tasya.
"Tasya, Andika... Sekali lagi papa benar-benar minta maaf ya atas perlakuan dan perkataan mama Miranti tadi, kalau saja tadi papa lebih cepat datangnya pasti kalian tidak bertemu dengan Miranti" Ferdian menatap Tasya dengan ekspresi wajah menyesal.
__ADS_1
"Sudahlah, kali ini perlakuan istri anda terhadap Tasya sudah tidak bisa di toleransi lagi. Padahal kami berdua ke sini datang baik-baik untuk berpamitan, tapi malah mendapat perlakuan seperti ini hanya karena kami tidak meminum teh itu" Andika menatap Ferdian dengan tatapan tajamnya.
"Berpamitan? Memangnya kalian berdua akan pergi kemana?"
"Kami berdua akan berangkat ke Jepang untuk bulan madu pah, jadi aku dan mas Andika ingin berpamitan lebih dulu sama papa dan minta papa untuk mendoakan keberangkatan kami ke sana pah" Tasya yang merasa hatinya sudah terasa tenang akhirnya kembali membuka suaranya untuk menjawab pertanyaan papanya.
"Begitu ya, kalau gitu papa doakan semoga acara bulan madu kalian berjalan lancar dan kalian bisa pergi dan kembali ke sini dengan selamat. Kapan kalian akan berangkat?" Ferdian memberikan senyumannya pada Tasya.
"Dua hari lagi sih pah, tapi Tasya dan mas Andika sepakat untuk memberitahu papa lebih cepat karena takutnya kami lupa pah"
"Iya kamu benar, daripada nantinya kamu lupa dan papa cari kamu dimana-mana kan" Tasya mengangguk pelan sembari tersenyum.
Ferdian yang masih ingin bersama dengan anaknya sebelum mereka pergi bulan madu selama tiga hari mencoba menahan Tasya untuk pulang dan meminta Andika memberikan waktu untuknya dan Tasya, tapi sayangnya Andika tidak mau memberikannya dan tetap ingin membawa Tasya pulang bersamanya.
Tasya tidak ada pilihan lain selain mengikuti perkataan suaminya itu dan mengatakan pada papanya kalau nanti dia akan sering-sering melakukan panggilan video dengan papanya, supaya papanya bisa melihat Tasya dan mengobati rasa rindunya walaupun tidak secara langsung.
...****************...
Saat ini Tasya dan Andika sudah berada di mobil dan sedang perjalanan pulang ke apartemen, tapi sejak meninggalkan halaman rumah papanya. Tasya hanya diam saja dan tidak banyak bicara dia juga berbeda sekali dari sebelumnya, saat tadi mereka berangkat ke rumah Ferdian.
Melihat Tasya seperti itu Andika hanya diam saja dan membiarkan Tasya untuk beberapa saat, karena dia sudah tau penyebab Tasya menjadi pendiam. Alasannya sudah pasti karena Tasya sedih, sebab Andika tidak mengizinkan dirinya untuk lebih lama bersama dengan papanya.
__ADS_1
Sebenarnya Andika melakukan hal itu juga bukan karena ingin menjauhkan Tasya dari Ferdian, dia sengaja melarang Tasya karena dia tidak ingin istrinya sampai bertemu dengan Miranti dan di tambah juga dengan Raisa.
"Kamu marah sama mas ya? Karena tadi mas engga berikan izin untuk mu" Andika akhirnya membuka suaranya sembari fokus menyetir.
"Engga kok mas, aku engga marah sama kamu. Lagian aku juga engga punya alasan untuk marah sama kamu, karena kamu suami yang baik banget" Andika tersenyum tipis saat mendengar perkataan Tasya.
"Kalau kamu tidak marah, lantas kenapa dari tadi kamu diam saja?" Andika sengaja bertanya pada Tasya dan berpura-pura tidak mengetahui apapun.
Tasya langsung panik dan berpikir keras untuk memberikan alasan untuk Andika. "I-itu tadi... Karena aku lagi berpikir siapa lagi orang yang belum aku kasih tau keberangkatan kita mas, iya karena itu aku diam saja mas"
"Oh begitu ya, lalu siapa lagi yang belum kamu kasih tau?"
"Rara sama manager mas, soalnya aku juga perlu kasih tau manager untuk mengambil cuti dan kasih tau Rara supaya dia engga ganggu kita untuk nanya keberadaan ku"
"Oke, kalau begitu kapan kamu ingin menemui mereka berdua? Untuk kasih tau rencana kita ini, apa mau sekarang saja?" Andika menoleh sebentar ke arah Tasya.
"Engga perlu menemui mereka secara langsung lah mas, biar nanti aku kasih taunya lewat telpon saja setelah sampai di rumah. Soalnya aku ingin cepat sampai dan istirahat yang banyak, biar nanti bisa jalan-jalan di tempat bulan madu kita" Tasya memberikan senyumannya pada Andika.
"Ya sudah kalau mau kamu seperti itu, kita pulang saja ya" Tasya mengangguk pelan walaupun tidak dilihat Andika.
Mereka melanjutkan perjalanan dengan suasana sunyi lagi, tapi kali ini Andika terus menggenggam tangan Tasya dan begitu juga dengan Tasya yang terus melihat ke arah Andika yang sedang fokus menyetir.
__ADS_1