Mencintaimu Tanpa Karena

Mencintaimu Tanpa Karena
Untuk Pertama Kalinya


__ADS_3

Hari ini Tasya sudah di perbolehkan pulang ke apartemen oleh dokter, karena kondisinya sudah jauh lebih baik dan rasa pusingnya juga sudah hilang. Tapi sayangnya Andika sedang ada meeting dadakan, jadi dia tidak bisa mengantar Tasya kembali ke apartemen.


Walaupun Andika tidak bisa menemani Tasya pulang, tapi dia sudah meminta Mario untuk menjemput dan mengantar Tasya ke kantornya. Karena hari ini Andika ingin Tasya menemaninya bekerja dan pulang bersama, jadi dari rumah sakit Mario langsung membawa Tasya ke perusahaan milik Andika.


"Nyonya dan Tata bisa masuk ke dalam lebih dulu, nanti saya akan menyusul setelah memarkirkan mobil tuan"


"Baiklah, kalau begitu kami duluan ya Mario"


"Iya nyonya silahkan"


Tasya langsung pergi membawa Tata masuk ke dalam gedung kantor Andika, Saat dia menekan tombol lift Tasya baru ingat kalau dia lupa menanyakan dimana letak ruangan Andika pada Mario. Sayangnya waktu Tasya ingin kembali ke tempat Mario lagi untuk menanyakan ruangan Andika, Mario sudah melajukan mobilnya lagi ke tempat parkiran khusus milik Andika.


Tidak ada satupun orang yang bisa Tasya tanyakan tanyakan, karena loby kantor Andika benar-benar sepi dan bahkan resepsionisnya juga sedang tidak ada. Tidak mungkin juga Tasya hanya diam saja di depan lift dan menunggu sampai Mario datang, oleh karena itu Tasya memutuskan untuk mencari keberadaan ruangan Andika berdua dengan Tata saja.


"Kenapa gedung ini begitu luas sih? Aku bingung harus mengambil jalan kemana lagi" ucap Tasya dalam hati yang mulai merasa sedikit ragu dengan jalan yang diambilnya.


"Tante, apa tempatnya masih jauh?" Tata melihat ke arah Tasya sembari terus mengikuti langkah Tasya.


Tasya langsung menoleh ke arah Tata "Tante juga engga tau sayang masih jauh atau tidak, karena ini pertama kalinya tante ke sini"


"Jadi tante belum tau om Andika ada dimana ya?" Tasya langsung mengangguk pelan.


Beruntungnya tidak jauh dari tempat Tasya dan Tata berada terlihat ada sebuah ruangan, Tasya langsung berjalan ke arah ruangan itu dengan berharap akan ada seseorang yang berada di sana agar dia bisa bertanya dan segera menemui keberadaan Andika.


Saat mereka berdua sampai ternyata ruangan itu adalah dapur perusahaan dan di sana juga ada seorang wanita paruh baya yang sedang membuat kopi, Tasya langsung menghampiri wanita itu dan bertanya dengan sopan letak ruangan Andika berada.


Wanita itu langsung menawarkan dirinya untuk mengantar Tasya ke ruangan Andika, karena kebetulan beliau juga ingin pergi ke sana untuk mengantarkan kopi yang di minta Andika untuk tamunya.

__ADS_1


Tasya dan Tata berjalan di belakang wanita itu untuk mengikutinya, tapi karena di dalam ruangan Andika masih ada tamu jadinya Tasya memutuskan untuk menunggu sampai Andika menyelesaikan urusan pekerjaan dulu baru dia akan masuk ke dalam ruangan Andika.


Setelah wanita itu masuk ke dalam ruangan Andika Tasya membawa Tata duduk di kursi yang berada di dekat meja sekertaris Andika "Tata, tidak apa-apa kan kalau kita duduk di sini dulu? Sembari menunggu om Andika selesai"


"Iya tante engga apa-apa kok" Tata memberikan senyumannya pada Tasya dan di balas senyuman juga oleh Tasya.


Di saat Tasya dan Tata sedang asyik bercanda, seorang perempuan yang umurnya terlihat lebih muda dari Tasya datang menghampiri mereka berdua dan langsung marah-marah. Sedangkan Tasya yang tidak tau kesalahannya dia apa, hanya diam saja dan mencoba menjelaskan keberadaannya di sana.


Andika yang kebetulan berada di sana juga setelah mengantar kliennya pergi langsung menghampiri sekretarisnya dan Tasya, untuk menanyakan permasalahan apa yang sedang mereka bahas sampai-sampai membuat keributan dan bahkan membuat Tasya yang penyabar menjadi ikut marah.


"Ada masalah apa ini?" Andika berdiri sembari memasang ekspresi wajah datarnya dan memasukkan tangannya ke dalam saku celananya.


Berbeda dengan sekertaris Andika yang langsung membungkukkan badannya setelah melihat Andika, Tasya malah memasang wajah kesalnya sembari melipat kedua tangannya di depan dadanya.


"Pak Andika! Maafkan saya atas keributan ini, tapi semua keributan ini yang memulai adalah wanita itu" Sekertaris Andika menunjuk Tasya dengan jari telunjuknya.


"Memangnya apa yang dia lakukan? Sampai membuat mu marah-marah seperti itu padanya"


"Apa orang yang ingin duduk di kursi kamu termasuk istri saya, harus meminta izin lebih dulu dengan mu?"


"Kalau bapak dan istri bapak tidak perlu meminta izin terlebih dahulu"


"Kalau begitu kenapa kamu memarahi istri saya saat duduk di sana? Bukankah dia berhak memilih duduk dimana saja?"


Perkataan Andika langsung membuat sekretarisnya itu membulatkan matanya dan menoleh ke arah Tasya yang masih memasang wajah kesalnya pada sekertaris Andika.


"Maafkan saya pak, saya benar-benar tidak tau kalau ini istri bapak"

__ADS_1


"Kenapa kamu minta maaf pada saya? Seharusnya kamu minta maaf pada istri saya"


Sekertaris Andika langsung memutar badannya menghadap Tasya dan membungkukkan badannya untuk meminta maaf, Tasya yang melihat itu menghela nafasnya dan memberikan maafnya dengan syarat sekertaris Andika harus membiarkan orang lain duduk di kursinya.


"Lain kali jaga sopan santun mu dan kalau ingin menyuruh orang lain untuk pergi dari kursi mu itu harus secara baik-baik, paham?"


"Iya pak saya paham"


"Bagus" Andika langsung menggenggam tangan Tasya dan membawanya masuk ke dalam ruangannya.


Saat masuk ke dalam ruangan Andika, Tasya benar-benar terkejut karena ruangannya lebih besar dari pada ruangan ayahnya. Andika langsung mengajak Tasya dan Tata duduk di sofa bersamanya, tidak lama kemudian Mario datang dan membuat tatapan Andika menjadi tajam.


Mario yang melihat tatapan Andika seperti itu langsung menundukkan kepalanya dan meminta maaf pada Andika, walaupun dia sama sekali tidak mengetahui apa kesalahannya.


"Kenapa kamu meninggalkan istri saya sendiri? Bukankah tadi saya meminta kamu mengantar Tasya sampai ruangan saya? Tapi kenapa kamu malah meninggalkannya? Gimana kalau istri saya sampai terluka lagi?"


Andika terus memarahi Mario, bahkan dia juga menceritakan saat tadi Tasya dimarahi oleh sekretarisnya karena masalah yang sepele.


"Maafkan saya tuan, saya salah karena tadi saya pergi memarkirkan mobil anda terlebih dahulu dan mengurus masalah parkiran anda yang digunakan orang lain tuan. Sekali lagi saya minta maaf tuan, nyonya"


"Sudah, sudah jangan di perpanjangan lagi masalah ini ya mas. Lagipula sekarang aku sudah berada di sini dan tidak terluka sama sekali" Tasya menggenggam tangan Andika agar dia menyudahi marahnya pada Mario.


"Ya sudah... Kali ini kamu saya maafkan, tapi jangan sampai hal ini terulang kembali"


"Baik tuan saya pastikan tidak akan terulang kembali"


"Kalau begitu kamu bisa kembali bekerja, terima kasih sudah menjemput istri saya"

__ADS_1


"Sama-sama tuan, saya permisi dulu nyonya" Tasya menganggukkan kepalanya sembari tersenyum.


Setelah Mario keluar dari ruangan Andika, Andika meminta Tasya dan Tata untuk menunggu sebentar karena dia akan melanjutkan pekerjaannya yang tinggal sedikit lagi. Tasya langsung mengiyakan perkataan Andika dan akan menunggu suaminya, begitu juga dengan Tata yang menyetujui permintaan Andika untuk menunggu.


__ADS_2